Top 10 Films of 2016

Hell or High Water

Apa benar tahun 2016 seburuk itu? Mari coba saya flashback pengalaman menyimak film di sepanjang tahun ini. Di awal tahun saya menyimak “The Revenant” yang mengantarkan Leonardo Dicaprio ke podium Oscar. Saya ingat menyukai pendekatan Alejandro Gonzalez Inarritu pada film ini yang sekilas mengingatkan dengan Terrence Malick, namun, belum cukup kuat masuk dalam daftar ini. Saya pun lumayan menikmati “Macbeth”, sayangnya selain penampilan Marion Cottilard yang gemilang, tidak ada pertimbangan yang bisa menyakinkan saya untuk memilihnya sebagai yang mengesankan tahun ini.

Setiap tahunnya, bagi saya, periode musim panas selalu menjadi waktu di mana dana pengeluaran banyak beralih untuk pembelian tiket bioskop. Tahun ini, musim panas tidaklah begitu berkesan bagi saya. Dengan nada bercanda saya menyebutnya The Year of Suudzon. Sebutan itu saya tuju pada dua blockbuster tahun ini, yang well kalau saja mereka, para manusia super ini, tidak keburu suudzon; entah dari premis “Batman V Superman”–masih ingat dengan Martha, Kawan?–atau “Captain America: Civil War” yang meninggalkan rasa sungguh tidak sedap, hasrat menonjok Steve Rogers dan Tony Stark semakin kuat seiring film berakhir. Saya mencintai The Winter Soldier, namun Civil War benar-benar menyebalkan.

Suguhan lainnya, saya menikmati “Deadpool”; menganggap “Suicide Squad”  tidaklah seburuk itu; “X-Men: Apocalypse” terkesan lewat begitu saja, namun oke lah; dan Valak mungkin lebih terkenal dari filmnya sendiri, namun The Conjuring 2 meskipun tidak seperti film terdahulunya, pantas untuk menjadi media penyaluran energi fun berteriak kencang di dalam bioskop. Di lain hal, saya malah menemukan kesenangan pada karya Tim Burton terakhir, “Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children”–bagi saya salah satu film underrated tahun ini. Kemudian ada Fantastic Beasts and Where to Find Them yang awalnya saya petieskan, siapa sangka malah menjadi film paling banyak saya tonton di bioskop.

Jika berbicara tentang kancah para auteur tahun ini, saya sempat menyimak “Billy Lynn’s Long Halftime Walk”, proyek super mahal dari Ang Lee, katanya akan menjadi bentuk film di masa akan datang. Namun , menyimaknya dalam bioskop yang tidak mendukung teknologi tersebut sungguhlah sia-sia. Terlihat tidak sinematis, di satu sisi, pun sebagai film yang tanpa embel-embel teknologi tersebut, Billy Lynn’s.. bukanlah film dengan cerita yang baru dan menarik. Robert Zemeckis hadir lewat “Allied”, mempertemukan dua movie star, sayangnya, ibarat kerupuk yang lupa disimpan dalam toples; melempem. Sementara “Passengers”…  really Tyldum?

Di penghujung tahun akhirnya saya menyimak “Rogue One:A Star Wars Story”, film paling saya tunggu sepanjang tahun, sayangnya tidak menemukan kesenangan yang saya rasakan ketika menyimak The Force Awakens. Well, maybe I just expected too much.

Mari sudahi rambling yang tidak bertuas ini dan beralih ke film-film yang paling mengesankan bagi saya tahun ini. 2016, was not that bad.

Runners-up:

Sebelum menuju ke sepuluh terbaik, ada lima film yang bersaing sengit untuk merangsek masuk ke jajaran sepuluh terbaik, yang mungkin saja, di lain waktu, saya memilihnya masuk di sepuluh besar. Ada “Hail, Caesar!” dari Coen Brothers, sebuah surat cinta untuk studio Hollywood dengan keunikan yang mengingatkan akan karya Roy Andersson; Park Chan-wook mengurai sensualitas dan kecabulan lewat “The Handmaiden”; ada pula “Hell or High Water” yang memberikan suguhan tiga aktor dengan penampilan mengesankan dalam film yang terasa seperti saudara dekat dari “No Country for Old Men”; kemudian ada “Spotlight”, drama jurnalisme yang memang terasa minim letupan, prosedural, namun hadir dengan pintar dan penuh ketelitian, dengan barisan ensemble cast menawan; terakhir, ada “Your Name”, yang mengingatkan kita bagaimana magisnya storytelling dan imajinasi jika diramu dengan cermat

Berikut sepuluh film pilihan saya di tahun 2016 ini. 

[The Top Ten]

#10

the-club

“THE CLUB”

Directed by Pablo Larrain

Jika “Spotlight” terlihat sebagai bentuk yang pintar dan terkendali dalam menyajikan sisi gelap dari Catholic Church, maka “The Club” tak ubahnya saudara dekatnya namun yang ini terlihat lebih agresif dan penuh dengan amarah. Sulit untuk tidak merasakan opini personal yang ingin disampaikan oleh Pablo Larrain (tahun ini namanya melejit lewat “Jackie” dan “Neruda”) dalam film ini. Berkisah tentang rumah pengungsian pagi para pastor yang telah dibebaskerjakan karena perbuatan kriminalnya ini, terkadang muncul dengan adegan yang kejam, seperti amarah yang melebur.

#9

everybody-wants-some

“EVERYBODY WANTS SOME!!”

Directed by Richard Linklater

Setelah menjadi perbincangan lewat proyek 12-tahunnya dalam “Boyhood”, Richard Linklater kini hadir dengan suguhan low-key, berlatar beberapa hari sebelum liburan musim panas berakhir, di sebuah rumah tinggal bagi pemain baseball kampus. Dalam hingar-bingar pesta tiap malam, kejenakan bromance yang kental, saling menggoda lawan jenis; Linklater lihai menghadirkan studi tentang adolescence menuju adulthood tersebut.

#8

neon-bull

“NEON BULL”

Directed by Gabriel Mascaro

Terasa kental perpaduan antara otot maskulin berbaur dengan aroma hewan yang liar, musky. “Neon Bull” berkisah tentang Iremar, seorang koboi yang bekerja di arena pertunjukan Rodeo, namun sebenarnya impiannya menjadi perancang busana. Film ini dengan elegannya menyampaikan sisi hidup yang keras, dibalut aroma peternakan yang tebal, namun menyamarkannya lewat bau sensual parfum mewah; seperti Azzaro yang dipakai Iremar di tengah perternakan.

#7

the-fits

“THE FITS”

Directed by Anna Rose Holmer

Dalam durasinya yang begitu singkat–72 menit saja–“The Fits” tidak mengumbar banyak dialog, namun dengan cermat menggunakan ruang, gerakan, dan suara dalam menyajikan potret coming-of-age ini. Berkisah tentang seorang gadis berumur 11 tahun yang bergelut dengan olahraga tinju, namun tiba-tiba ingin meliak-liuk lincah setelah melihat kumpulan remaja seumurnya di kelas tari. Anna Rose Holmer dengan lihai menjalin kisah aneh namun nyata yang pernah terjadi pada sebuah tim cheerleader tersebut—serangan fisik tiba-tiba yang mirip gejala epilepsi, namun tidak pernah terbukti secara medis sebagai penyakit. “The Fits” menggunakan enigma tersebut dengan menawan untuk mengamati aspek muda tersebut, tentang penyesuaian dan pencarian diri.

#6

elle

“ELLE”

Directed by Paul Verhoeven

Salah satu film paling diperbincangkan tahun ini memiliki plot yang tidak heran membuatnya divisive; seorang wanita sukses pemilik perusahaan video game, puteri dari seorang pembunuh masal, suatu hari diperkosa oleh seorang penyusup bertopeng. Ide gila dari Seorang Paul Verhoeven bersanding serasi dengan persona Isabelle Huppert yang mencuri setiap lini, bahkan bisa dikatakan menjadi magnet paling kuat dari film ini.

#5

love-friendship

“LOVE & FRIENDSHIP”

Directed by Whit Stillman

Whit Stillman merangkai dengan menawan novela Lady Susan ini dengan cermat, menggali sisi jenaka yang langka dieksplorasi oleh adaptasi Jane Austen sebelumnya. Seperti kemahiran Stillman sebelumnya dalam “Damsels in Distress”, film ini juga tidak kalah piawainya menghadirkan cinematic gag tiba-tiba yang dengan leluasa menyulut gelak tawa.

#4

IMG_1886.CR2

“THE LOBSTER”

Directed by Yorgos Lanthimos

Lewat “The Lobster”, Yorgos Lanthimos mengukuhkan posisinya sebagai sosok sutradara dengan kekhasan yang singular, plot nyeleneh dengan gelak tawa yang tidak terkendali. Tengok saja kali ini; bagaimana jika setiap manusia jomblo di bumi ini berubah menjadi hewan jika dalam 45 hari gagal menemukan pasangannya? Sebuah satir, awalnya mengolok-olok kaum single, namun ternyata menyorot hal yang lebih dari itu: tentang intimasi, potret hubungan manusia yang intrinsik dan kompleks.

#3

certain-women-2

“CERTAIN WOMEN”

Directed by Kelly Reichardt

Dalam “Certain Women”, Kelly Reichardt mengadaptasi cerita pendek dari Maile Meloy, kisah tiga wanita dengan profesi berbeda di Montana. Reichardt dengan gemilang menghadirkannya lewat kekhasannya meramu gambar; sepi, melankolis,  ibarat sebuah puisi tentang kesendirian. Para wanita di film ini; Laura Dern, Michelle Williams, Kristen Stewart, dan Lily Gladstone menjalin cerita dengan begitu piawai, membuatnya begitu menawan.

#2

son-of-saul

“SON OF SAUL”

Directed by László Nemes

“Son of Saul” berkisah lewat sudut pandang Saul, tahanan Auschwitz yang berusaha mencari Rabbi untuk menguburkan anaknya yang meninggal. Dalam debutnya ini, Lazlo Nemes tidak hanya mendobrak keklisean kisah Holocaust, namun juga menghadirkan pendekatan yang tidak biasa—nyaris sepanjang film disorot dalam bingkai close-up. Film ini begitu brillian menyuguhkan kisah horor dalam keseharian di Kamp Konsentrasi tersebut, namun juga menyentuh sisi emosional lain, bahwa meskipun dalam ketidakberdayaan untuk bertahan hidup, masih ada buih harapan dan kemauan untuk menemukan jalan keluar, meski dalam kemungkinan terkecil dan keniscayaan kematian.

 #1

things-to-come

“THINGS TO COME”

Directed by Mia Hansen-Løve

Jika sebelumnya lewat “Eden” dan “Goodbye First Love”, Hansen-Løve menghadirkan jatuh-bangun masa muda, kali ini, beringsut ke dalam kisah sosok wanita paruh baya, yang tiba-tiba secara beruntun mengalami kejatuhan dalam hidupnya. Satu hal yang selalu membuat saya kagum dan mencintai film dari sang sutradara adalah kejeliannya dalam menelusuri karakter, mengisahkannya dalam rangkaian episodik yang tekun. “Things to Come” bercerita tentang banyak hal, tidak pernah malu untuk memamerkan diri sebagai bentuk yang intelektual, kental dengan aksen politik, sarat dengan umbaran filosofi, namun di sini lain memotret kisah yang lebih besar tentang keluarga, cinta, pencarian diri, dan hidup itu sendiri. 

Recap:

10 Best Films of 2016

  1. Things to Come
  2. Son of Saul
  3. Certain Women
  4. The Lobster
  5. Love & Friendship
  6. Elle
  7. The Fits
  8. Neon Bull
  9. Everybody Wants Some!!
  10. The Club

***

Archives: Best Films 20152014 | 2013 | 2012 | 2011 | 2010

 

Advertisements

One thought on “Top 10 Films of 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s