10 Best Films of 2014

ilo ilo

Di hari terakhir di tahun 2014 ini seperti biasa menjadi hari untuk mengumumkan sepuluh film terbaik yang saya tonton sepanjang tahun ini. Jika melihat dari sepuluh film yang paling saya sukai tahun ini, dapat dilihat bahwa ada tema coming of age yang muncul. Selain itu, daftar saya kali ini diisi juga oleh satu film musim panas yang awalnya skeptis untuk menyimaknya, namun akhirnya malah menjadi film yang paling sering saya simak. Ada romansa unik yang berlangsung berabad-abad, ada kisah romansa di abad 20-an, ada kisah yang diangkat dari novel grafis, dan sebuah film yang menghadirkan kombinasi suara dan gambar dengan pintarnya sehingga memunculkan suasana menghantui. Namun sebelum sampai ke daftar tersebut, berikut beberapa film yang belum berhasil masuk di daftar terakhir…

Honorable mentions:

Lima film yang bertarung sengit untuk merangsek ke posisi sepuluh besar namun dengan berat hati harus mengumpulkannya di sini. Ada “What They Don’t Talk About When They Talk About Love” dari Mouly Surya yang tampil jenaka dan segar, “Clouds of Sils Maria” yang mengolah Kristen Stewart tampil mengesankan beradu dengan Juliette Binoche. Ada juga “Ilo Ilo” yang memotret kisah keluarga dan asisten rumah tangganya, tampil sederhana namun kaya dengan esensi. Ada “Listen Up Phillip” yang memiliki momen-momen terbaiknya ketika Elizabeth Moss muncul di layar, film tentang penulis yang sarat aksen mumblecore. Terakhir, “Blue Jasmine”, film yang saya simak di awal tahun dan hingga sekarang masih tersimpan sebagai salah satu tontonan menarik dengan penampilan mengagumkan dari Cate Blanchett.

Dan sepuluh film pilihan saya tahun ini adalah…

10 Best Films of 2014:

#10

The Tale of the Princess Kaguya

“THE TALE OF PRINCESS KAGUYA”

Directed by Isao Takahata

Karena nyaris satu-setengah dekade sejak film terakhirnya rilis, salah satu pencerita terbaik yang pernah ada, Isao Takahata, masih tetap hadir dengan tutur cerita yang menyentuh hati. Mengambil cerita rakyat dari negerinya, The Tale of Princess Kaguya menghadirkan gambar-gambar yang sederhana namun terlihat begitu cantik dengan cerita yang sarat nilai.

#9

Snowpiercer

“SNOWPIERCER”

Directed by Bong Joon-ho

Karena begitu mengesankan menyimak film ini hingga tak terhitung riuh tepuk tangan yang saya berikan tiap kali pintu kereta terbuka satu persatu akan semangat membara pemberontakan yang dilakukan. Sebuah alegori, kadang menyelip menjadi komedi yang suram, tanpa lupa menyentil ragam politik besar.

#8

We Are the Best

“WE ARE THE BEST!”

Directed by Lukas Moodysson

Karena berhasil menjadi satu-satunya film yang membuat saya tersenyum sepanjang durasi melihat keunikan tiga remaja putri di era 80-an ini. Tiga remaja putri ini yang dengan santainya membentuk band musik punk, dengan hanya satu sosok yang mengerti alat musik. “We Are the Best!” berhasil meramu sisi fun dari tema coming of age, bertutur dengan santai tentang konflik remaja dan masa-masa mulai saling menyukai.

#7

The Immigrant

“THE IMMIGRANT”

Directed by James Gray

Karena Gray dengan cermat melukiskan kisah dari sudut New York di awal abad 20 dengan palet warna gambar dan mood yang menawan. Sebuah melodrama percintaan dan ekploitasi, dipimpin oleh Marion Cottilard yang tampil mengagumkan. Film yang menghadirkan last shot terbaik sepanjang tahun ini.

#6

The Missing Picture

“THE MISSING PICTURE”

Directed by Rithy Panh

Karena dalam imajinasi saya tidak pernah sekalipun terlintas bahwa boneka mungil dari tanah liat mampu menjadi penghantar bagi narasi pada sebuah kisah kelam dalam sejarah negeri Kamboja sana. Tidak hanya sekadar boneka tanah liat yang dibentuk begitu saja, namun tiap boneka dengan cermat dikreasi untuk mewakili satu karakter, lengkap dengan narasi yang mampu membuat air mata mengalir.

#5

Edge of Tomorrow

“EDGE OF TOMORROW”

Directed by Doug Liman

Karena menjadi kejutan yang memuaskan pada musim panas tahun ini. Sebelum menontonnya, Edge of Tomorrow telihat ‘kadaluarsa’ dengan kisah penumpasan alien dan bintang Tom Cruise yang akan mengingatkan dengan film bertema alien sebelumnya. Namun, siapa kira jika film ini tampil sekilas seperti Groundhog Day bertemu War of the Worlds, dengan sentuhan komedi, karakter yang ternyata amat kaya untuk digali, dan mungkin menjadi satu film terkini yang dengan brilliant menghadirkan sisi Cruise sebagai sosok kebalikan dari film-film biasanya; ia pengecut, kadang jenaka, dan tampil rapuh. Film ini mengukir catatan sebagai film yang paling banyak menerima repeat viewing saya sepanjang tahun ini.

#4

Boyhood

“BOYHOOD”

Directed by Richard Linklater

Karena kerja keras Linklater mengerjakan film ini selama 12 tahun sudah sepatutnya untuk diapresiasi.  Di lain hal, sebagai penonton kita juga diajak untuk menjadi bagian dari tumbuhnya sosok anak-anak tersebut menjadi remaja dan sosok sang bapak dan ibu yang menua. Boyhood mungkin hadir dalam gambar yang sederhana, atau bahkan nyaris tanpa sisi provokatif, namun ia berbicara secara akumulatif. Ketika layar tiba-tiba menjadi hitam, ada kehilangan yang juga kita rasakan. Seperti momen tangis membuncah Patricia Arquette di penghunjung film berakhir, yang mengingatkan saya pada sosok Ibu, ketika saya mulai kuliah dulu.

#3

Only Lovers Left Alive

“ONLY LOVERS LEFT ALIVE”

Directed by Jim Jarmusch

Karena cerita sepasang vampir tidak pernah menarik minat saya sama sekali, namun Jarmusch mengemas sisi lain dan meramunya menjadi sebuah bentuk yang teramat jenaka, terkadang romantis, dan seksi. Duo Tilda Swinton dan Tom Hiddleston hadir pas sebagai sosok yang telah hidup di bumi berabad-abad lamanya, mengobrol tentang musik dan buku yang mereka sukai. Dan ending film ini seperti hadir asyik menjadi referensi film lain, seolah berteriak, “Hey, In the Mood for Love, watch me!”.

#2

Under the Skin

“UNDER THE SKIN”

Directed by Jonathan Glazer

Karena Glazer sekali lagi mengukuhkan kepiawaiannya menghadirkan atmosfer kengerian lewat suara dan gambar, menjadikan pengalaman tersendiri menyimak film ini. Repetisi dari adegan di film ini pun begitu menarik, bagaimana si sosok alien memakan manusia dihadirkan dengan gambar yang  boleh dibilang sebagai signature scene dari film ini.

#1

The Selfish Giant

“THE SELFISH GIANT”

Directed by Clio Barnard

Karena cerita seperti ini siapa sangka dengan teramat gemilang dikemas oleh Clio Barnard, film cerita pertamanya, setelah sempat mencuri perhatian saya lewat docu-drama The Arbor yang sempat saya hadiahi nomine Best Director. The Selfish Giant, nampak seperti potret kisah yang dengan cermat akan diracik oleh Ken Loach, namun Barnard tidak kalah terampil mengemas potret kemiskinan ini dengan sebuah tragedi yang membuncahkan emosi. Film terbaik yang saya simak sepanjang tahun ini.

Recap:

10 Best Films of 2014

  1. The Selfish Giant
  2. Under the Skin
  3. Only Lovers Left Alive
  4. Boyhood
  5. Edge of Tomorrow
  6. The Missing Picture
  7. The Immigrant
  8. We Are the Best!
  9. Snowpiercer
  10. The Tale of Princess Kaguya

***

SELAMAT TAHUN BARU 2015!

Advertisements

2 thoughts on “10 Best Films of 2014

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini http://www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s