Top Ten Films of 2013

Ginger and Rosa

Dalam hitungan dua puluh delapan jam lagi, kita akan segera masuk ke tahun 2014, namun sebelumnya, beri waktu sejenak sebelum meniup terompet dan memandang takjub ke kembang api untuk menengok daftar sepuluh film yang menjadi favorit saya tahun ini. Seperti biasa, ini adalah film-film yang saya simak sepanjang tahun 2013, dengan jadwal rilis setidaknya mulai tahun 2012 kemarin.

Sebelum ke daftar sepuluh film tersebut, saya berikan dulu sepuluh film yang menjadi favorit saya namun kali ini belum berhasil merangsek ke dalam sepuluh terbaik.

Honorable Mentions:

Dua film yang bersaing menduduki posisi sepuluh sebenarnya adalah The Grandmaster dan Zero Dark Thirty yang akhirnya harus mengalah dengan film yang saya pilih di posisi sepuluh dalam daftar ini. Yang satu sebuah film dengan taburan gambar yang menawan, yang satu hadir dengan penuh ketegangan. Berbicara tentang film yang memacu adrenalin, saya menyukai Captain Phillips dan juga World War Z, menjadi dua film terbaik yang saya simak di bioskop tahun ini. Sementara dalam ketegangan yang sepi, Stranger by the Lake dan Stoker menghadirkan atmosfer itu dengan menarik. Satu film yang ingin sekali saya cintai adalah Before Midnight, namun tidak sampai pada kondisi tersebut meskipun beberapa lini dari film ini masih saya kagumi. Tiga film lainnya adalah The Hunt, The Paperboy, dan Ginger and Rosa dengan penampilan para pemainnya yang begitu menawan.

Dan sekarang, sepuluh film pilihan saya tahun ini adalah… 

[The Top Ten]

#10

Upstream Color

“UPSTREAM COLOR”

Directed by Shane Carruth 

Karena terkadang saya membenci film yang terlampau pintar, yang membiarkan penonton menyusun puzzle lewat gambar yang diberikan, karena, well, melelahkan. Namun, film ini memunculkan kebingungan tanpa harus memutus benang yang menghubungkan satu gambar ke gambar yang lain. Film terbaik tahun ini yang dengan apik bercerita lewat desain suara. 

#9

Stories We Tell

“STORIES WE TELL”

Directed by Sarah Polley

Karena siapa yang menyangka bahwa olok-olokan di meja makan bersama keluarga yang kerap dilontarkan saudara ternyata adalah sebuah kebenaran? Tepuk tangan yang riuh untuk Sarah Polley yang dengan manisnya menghadirkan kisah hidupnya menjadi bentuk yang bukan hanya sebuah cerita mengejutkan tentang hidup, namun juga sebuah seni, bagaimana dengan kesabaran di meja editing, Polley menghadirkan dokumenter yang menggugah hati.

#8

Spring Breakers

“SPRING BREAKERS”

Directed by Harmony Korine 

Karena, mungkin, nihilisme adalah hiburan terbaik di dunia ini. Atau kadang karikatur memang ada untuk diam-diam mengejek manusia itu sendiri. Kita tidak tahu apakah film ini menghadirkan sebuah pesan besar yang tersembunyi, entahlah. Namun, lihat, jarang kita diberi suguhan seperti ini. Sorak-sorai yang berpadu dengan dentuman musik keras. Kamera yang dengan sabarnya mengintai dan memotret dengan susunan warna yang menjadikannya salah satu fotografi terbaik tahun ini.

#7

The Place Beyond the Pines

“THE PLACE BEYOND THE PINES”

Directed by Derek Cianfrance

Karena saya masih tidak bisa mengingkari betapa mengagumkan paruh pertama film ini seperti jaringan otot yang kuat, menyembulkan energi maskulin tanpa henti. Meskipun sedikit terseok di paruh kedua, namun Cianfrance sabar menghadirkan cerita yang panjang tentang regenerasi. Tentang kehidupan yang tanpa kita sadari adalah reka ulang episodik.

#6

The Master

“THE MASTER”

Directed by Paul Thomas Anderson

Karena seringkali proyek ambisius menyembulkan rasa tak sedap ketika akhirnya disimak, tidak dengan film ini yang dengan telaten mengurai sebuah ide yang besar. Terlampau rumit kadang untuk ditelaah, namun begitulah sebuah magnum opus biasanya berbicara. Ah, begitu nikmatnya menyimak dua seni peran luar biasa yang tidak akan mampu dipisahkan satu sama lain. Seperti saudara kembar, seperti cerutu dan pemantik, seperti Joaquin Phoenix dan Phillip Seymour Hoffman.

#5

????????????

“THE BLING RING”

Directed by Sofia Coppola

Karena berat memang rasanya jika orang sudah mulai beranggapan, “Oh sutradara favoritnya, pasti segala hal dielu-elukan”, mungkin memang, namun selama ini sulit rasanya tanpa mencintai karya seorang Sofia Coppola, bahkan Somewhere yang sepi dan minim letupan menjadi yang paling saya cintai tiga tahun silam. Mungkin, Sofia Coppola membuat film hanya untuk saya, mungkin. Jika memang benar begitu, biarkan dentuman musik dengan tiba-tiba muncul seperti film ini, slow-motion yang tanpa diduga (hei, Wong Kar-wai), atau seorang Emma Watson yang bersinar, mengilap, terang benderang mencuri cahaya dari segala lini. Saya mengagumi semua itu.

#4

Frances Ha“FRANCES HA”

Directed by Noah Baumbach

Karena film seperti ini kadang akan berakhir pada ranah klise, ah tentang kumpulan para hipster yang ingin hidup semau gue, tanpa uang, tanpa tujuan. Namun, Frances Ha yang ditulis dengan cermatnya oleh pemain utama dan sang sutradara lebih dari sekadar itu, bahkan kadang, membuat kita melihat Greta Gerwig adalah Frances Ha, begitupun sebaliknya. Tentang masa muda yang tak sepenuhnya muda. Tentang kebimbangan yang tak sepenuhnya bimbang. Tentang penemuan diri. Tentang tangis dan tawa. Tentang hidup.

#3

The Act of Killing

“THE ACT OF KILLING”

Directed by Joshua Oppenheimer

Karena saya ingat benar dulu ketika di penghujung September, TV pemerintah selalu memutar sebuah film yang tidak pernah tertarik saya simak atau teringat benar mengapa sebuah bab di buku LKS semasa SD dilewati oleh guru kala itu dengan alasan, “Bab ini tidak boleh diajarkan lagi di sekolah” yang membuat tercengung, “Kenapa ya?”. Dokumenter ini membuat kita mengingat kembali, menengok ke belakang apa yang terjadi kala itu. Mengerikan memang, tapi dengan kuatnya membuat kita tersadar bahwa memaafkan dan melupakan bukanlah sebuah hal yang mudah. Namun di sisi lain, monster tak ubahnya juga manusia. Lihat ketika kamera mengamati wajah tokoh utama di penghujung film berakhir; tangis itu, manusia itu.

#2

Anna Karenina

“ANNA KARENINA”

Directed by Joe Wright

Karena tidak ada yang perlu disesalkan jika orang menyebutnya “style over substance”. Tetap film ini, yang memuncaki daftar saya enam bulan lalu, masih, saya masih mencintainya. Saya ulang kembali, “… 900 halaman novel dirangkum dalam koreografi tari yang mengagumkan, tata artistik yang tidak terkalahkan, cinematic gag yang membunglonkan Wright sebagai Luhrmann, kereta api itu, pacuan kuda penuh drama, teater berganti, iringan musik, apa itu substansi jika langgam bisa semenawan ini?”

#1

Amour

“AMOUR”

Directed by Michael Haneke

Karena meskipun Haneke begitu terkenal mengobrak-abrik anatomi manusia, menelanjangi sisi tersembunyi dan menakutkan dari manusia tersebut,  tidak pernah menyangka bahwa kesan teror pada Funny Games, Cache, dan The White Ribbon akan tersaji dengan penuh derai airmata di film ini, membuat dinginnya film-film Haneke sebelumnya seperti diterpa tungku api. Oh My Dear, what a movie. Amour adalah sebuah film yang dengan mudahnya saya nobatkan sebagai masterpiece karena tiap jengkal adalah sebuah ketekunan; kamera yang dengan tekun memantau dua pelakon yang berbicara lewat gestur dan kelihaian memainkan sorot mata. Kita kemudian tidak menyadari bahwa sepanjang film nyaris setting film ini hanya berada di sebuah apartemen saja. Amour membuat saya termenung setelah menyeka butiran yang mengalir tanpa henti lewat sudut mata. Oh My Dear, what a movie.

Recap:

  1. Amour
  2. Anna Karenina
  3. The Act of Killing
  4. Frances Ha
  5. The Bling Ring
  6. The Master
  7. The Place Beyond the Pines
  8. Spring Breakers
  9. Stories We Tell
  10. Upstream Color

Dan… pos ini menjadi pos terakhir saya di tahun 2013. Sampai berjumpa tahun depan dengan rentetan AwyaNgobrol Awards yang  tahun ini memasuki tahun kelima (OMG!!).

Anyway, Happy New Year 2014, y’all!

Advertisements

2 thoughts on “Top Ten Films of 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s