Review: “The Hunger Games: Catching Fire”

The Hunger Games: Catching Fire

Ada hal yang menarik ketika menyimak episode kedua dari perhelatan perlombaan besar di negeri bernama Panem ini; bagaimana jika  Simon Beaufoy dan Michael Arndt tunduk pada cerita di buku dan mengantar adegan pencambukan Gale tersebut seperti plot di bukunya sendiri? Gale dicambuk karena berburu kalkun bukan karena melawan Pemimpin Pertahanan. Hal seperti ini selalu menarik jika kita melihat adaptasi yang bukunya sempat kita baca. Kekreatifan penulis skenario untuk merajut detail minor dalam buku tanpa harus meninggalkan unsur secara keseluruhan akan muncul pada dua kesimpulan yang berseberangan; buruk atau lebih bagus. Dua media yang berbeda memang, namun dalam hal ini, penulis skenario mengubahnya dengan cermat hingga muncul senada dengan kesuraman yang ditonjolkan sekuel ini. 

Kisah berlanjut setelah Katniss Everdeen dan Peeta Mellark memenangi permainan mematikan yang kemudian erat dikaitkan dengan biji beri sebagai simbol pemberontakkan terhadap aturan yang dijunjung Presiden Snow. Dua sejoli tampil mesra di depan televisi (televisinya unik, memancar seperti lampu pijar), tak ubahnya harus berkutat pada bentuk akting semata. Katniss tidak mencintai Peeta, melainkan Gale. Kemenangan Katniss sebenarnya sebuah mimpi buruk. Meskipun hadiah dan rumah baru yang didapat memisahkan mereka dari penduduk lain sebagai orang terhormat, Katniss menyimpan ketakutan dan bayang-bayang pertandingan sebelumnya. Di lain hal, Katniss adalah sulut pemberontakan di mata Presiden Snow. Salah satu cara untuk meredam hal tersebut adalah dengan mengenyahkan sang pahlawan dengan cara yang terhormat. Memaksa para pemenang untuk bertarung kembali. Ibarat Olimpiade, Hunger Games kali ini seperti mengundang Alexander Popov, Michael Phelps, Steffi Graff, dan Susi Susanti untuk bertarung kembali.

Suzanne Collins, sang penulis buku, tumbuh dari keluarga militer dan ketertarikannya pada studi peperangan sebagian besar menjadi benang merah trilogi dari buku larisnya. Namun, hal yang menarik untuk disimak tentu bagaimana melihat fantasinya dimunculkan ke layar. Mungkin sama halnya ketika Quidditch ditampilkan untuk pertama kalinya di layar, bukan lewat deretan kata-kata di buku lagi.  Contohnya saja Capitol, yang kalau diandaikan pada masa sekarang seperti Jakarta—minus banjir dan macet, serta memiliki kolam air besar dikelilingi pencakar langit—maka District 12, katakanlah seperti daerah terpencil di pelosok Indonesia yang seketika menjadi sorotan karena dua remaja yang menjadi puja-puji dan inspirasi. Capitol terlihat seperti satu-satunya tempat para orang kaya. Termasuk juga satu-satunya tempat dengan pusat perkembangan mode. Pakaian dan trend yang kontras dengan district lain. Atau kalau boleh dibilang, Capitol adalah pencetus; muka lenong is the new black.

Hal tersebut di atas bisa kita lihat pada Effie Trinket. Elizabeth Banks mengagetkan memang ketika muncul sebagai Effie Trinket. Wig berwarna yang mencolok dan tersusun tinggi, hingga balutan busana unik (tanpa bermaksud mengatakannya aneh) yang dalam realita rajin dilakukan Lady Gaga menggandeng keunikan rumah mode Alexander McQueen.  Effie Trinket memang menjadi tempat bagaimana visualisasi ide dari Suzanne Collins tentang detail dan trend adibusana yang muncul di Capitol. Namun, menariknya, tidak seperti film pertama, kali ini sisi emosi dari Effie ditampilkan lebih banyak. Sosoknya ceria, namun kedekatannya dengan Katniss dan Peeta dari awal menjadikan Effie satu karakter yang menarik untuk disorot di seri ini.

Dari sisi premis, Hunger Games memang menarik, meskipun di awal nampak seperti versi remaja dari Battle Royale. Kesuksesan seri pertama tidak bisa dielakkan juga berkat seorang Jennifer Lawrence. Baru saja memenangkan Oscar. Mencuri hati pengguna internet dengan tingkah lakunya, dan kini seorang movie star. Lawrence membuat kita terikat pada Katniss. Dari nadanya berbicara, sorot matanya, hingga kontras seni peran di depan kamera untuk penonton di Capitol dalam kisah cinta dan senyum palsu. Pada satu kesempatan di film, adegan komedi di lift yang melibatkan Johanna Mason—diperankan dengan cemerlang oleh Jena Malone—Lawrence memunculkan sisi lain dari Katniss. Muka terkejut dan heran dengan rengusan bibir miring yang ia tampilkan menunjukkan bahwa Lawrence punya tingkat versatility yang lebar sebagai seorang penampil—meskipun argumen ketidakkonsistenan dengan karakter Katniss mungkin muncul.

Mari sekarang coba perhatikan kiprah Lawrence sebelumnya. Dalam Winter’s Bone, salah satu adegan yang paling saya sukai adalah ketika Ree mengantar adiknya ke sekolah, sementara raut wajah Ree nampak murung dan sedih ketika melihat remaja sebayanya bisa bersekolah sementara ia harus melindungi keluarganya. Dalam Silver Linings Playbook, Lawrence menggila sebagai Tiffany lewat adegan di restoran tersebut. Bahkan, pada ketidakbergunaan perannya sebagai kekasih cadangan dalam Like Crazy, Lawrence tidak melewatkan sejengkal momentum untuk membiarkan karakternya terlupakan. Demikian pada adegan lift di Catching Fire ini. Membuat saya tertarik melihat Lawrence dalam sebuah film komedi romantis sebagai sosok yang bersemangat atau happy-go-lucky. Mungkin akan seperti kenikmatan ketika melihat Kate Winslet menanggalkan jubah peran depresif dan muncul bersemangat seperti dalam Eternal Sunshine of The Spotless Mind, atau bahkan The Holiday.

Secara keseluruhan, Catching Fire memang bukan bentuk seni yang mumpuni. Namun, sebagai sebuah hiburan, memuaskan. Sekaligus mengukuhkan sosok sentral karakter perempuan yang jarang dimiliki tontonan mainstream layar lebar sekarang. Memang, sosok Katniss, masih mengikuti pakem seri popular sebelumnya; satu perempuan di kerumunan para lelaki. Namun yang satu ini tampil memimpin, cerdas, dan sorot matanya di penutup film tersebut menggertakkan amarah yang siap meledak. Tersulut kapan saja.  (B)

 

Advertisements

2 thoughts on “Review: “The Hunger Games: Catching Fire”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s