Review: “Thor: The Dark World”

Thor The Dark World

Film kedua yang memadukan manusia dan kerajaan para dewa ini penuh adegan aksi dengan visualisasi Asgard yang indah. Namun siapa sangka jika momen terbaik terjadi dalam sepersekian detik yang singkat, momentum penuh kesopanan ketika sang dewa menggantungkan palu di gantungan baju dekat pintu, di rumah kekasihnya.

Menggelikan.

Bukan pula menggelikan dalam nada negatif. Bisa dikatakan, rasa masam yang saya cecap di film pertama berakar pada keringnya kadar komedi, karena ketika premis film begitu menggelikan—yang menjadi alasan kuat seorang teman enggan menontonnya karena campuran dua dunia yang berbeda tersebut terlihat aneh—sekalipun Jane Foster dalam logika film mencoba menjelaskan bagaimana lompatan dua dunia tersebut mampu terjadi, tetap tidak puas rasanya untuk menyetujui. 

Thor: The Dark World merupakan seri kedelapan dari franchise Marvel yang kalau setidaknya sudah menyimak setengahnya akan memiliki opini yang sama melihat sajian dari Thor kedua ini. Pemusnahan galaksi, penghancuran bumi, lengkap dengan penjahatnya yang nampaknya hidup hanya untuk menguasai galaksi.

Kadang tidak sadar bahwa sebenarnya sudah teramat kenyang dan hafal dengan pakem dari film superhero sekarang. Satu sosok jahat dengan pengikutnya yang tidak rupawan muncul untuk merusak bumi. Meleburkannya hingga nampak puing saja, kosong, gelap gulita, tak berpenghuni. Hingga kadang dibuat heran, apa si jahat ini punya sel psikis yang rusak hingga lebih ingin menguasai bumi dengan bentuknya yang hancur daripada, katakan saja, melihat bumi yang hijau dan biru? Apa si jahat ini tidak ingin kelak jika dia menguasai bumi bisa dengan leluasa duduk di taman bunga yang permai, melihat anak-anaknya berlari girang? Dua pertanyaan tadi terdengar sangat menggelikan karena kita berbicara fantasi dan pakem yang dibuat sejak dulu dan digemari.

Semenggelikan kisah Jane Foster yang sepertinya mengemban cinta platonis. Ia bahkan rela menunggu hingga dua tahun, mungkin, mengunjungi lusinan kencan yang berakhir kikuk, karena sebenarnya tengah tidak sabar bersua dengan pria kekar, pirang, berambut panjang yang menjadi pujaannya. Menyenangkan melihat Natalie Portman dalam peran yang bersemangat seperti ini, meski sayangnya Jane Foster sebagai karakter tidak akan mendapat porsi cukup berarti selain menjadi kutub magnet hati sosok Thor.

Hingga kemudian bertemu sosok Loki. Perseteruan Thor dan Loki merupakan sisi jual dari film ini. Loki tetap terlihat misterius, si jahat di film pertama, serta musuh Avengers lainnya, yang uniknya lebih diidolai penonton. (Tapi, entah mengapa sebagian waktu kemunculannya di layar harus terkungkung di dalam penjara?) Loki masih menjadi sosok si jahat yang dengan senyumnya menguak dua sisi yang perlu dipertanyakan. Tapi sudut matanya selalu menyerukan kerapuhan; atas hausnya dengan tahta atau entah hal yang tidak bisa didapatnya seperti apa yang dimiliki Thor (keluarga).

Well, kisah Thor kali ini akan masuk dalam daftar buku tahunan saya sebagai tontonan yang menghibur. Jauh dari sempurna memang, tapi hentakan tawa yang tiba-tiba dihadirkan membukukan nilai rapor yang tidak terlalu mengecewakan. Dan, psst, selalu sediakan gantungan baju di dekat pintu. Siapa tahu, kelak, Thor berkunjung ke rumah kalian. (B-)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s