Laughter and Nostalgia: Awya’s Top Ten Films of 2012

Oslo, August 31st

Sudah menginjak 2013 sekarang. Di hari pertama ini, saya umumkan sepuluh film pilihan saya di tahun 2012 kemarin. Seperti biasa, film-film yang saya simak dari 1 Januari – 31 Desember 2012. Secara general, tahun 2012 mengalami penurunan drastis dari jumlah film yang berhasil saya tonton. Awalnya sempat tidak akan mengulangi tradisi blog ini seperti tahun-tahun sebelumnya untuk memberikan rilisan sepuluh film pilihan maupun kelanjutan dari award bikinan blog ini. Namun kok jadi gatal juga ya setelah melihat daftar-daftar yang dirilis para blogger dan kritikus itu? Ya sudah akhirnya kembali lagi disusun.

Tahun 2012 ini, ada beberapa film yang saya suka, namun belum mampu masuk ke daftar ini. Ada beberapa film yang saya kagumi, namun diam di batas itu saja. Dalam artian belum masuk ke dalam ranah film yang saya cintai. Pada dasarnya film-film yang saya pilih di sini tentu berdiri pada pilihan subjektif, karena, hei, di sinilah letak menariknya sebuah daftar personal. Sebagai gambaran, di awal dekade saya memilih “Somewhere” sebagai yang pertama. Sedangkan “Certified Copy” menduduki singgasana teratas untuk tahun 2011. Untuk tahun 2012 ini film apa ya? Mari tengok honorable mentions-nya dahulu.

Honorable Mentions:

Ada empat belas film yang juga saya sukai namun belum sempat sampai ke sepuluh besar meliputi “Ted” dan “21 Jump Street” yang begitu kocak dan sebagai komedi yang membuat saya terbahak sepanjang film. Ada “Pitch Perfect” yang begitu asyik dan tentu mengingatkan dengan Glee. “Skyfall”, “The Bourne Legacy”, “The Avengers” dan “Prometheus” adalah blockbuster yang mencuri perhatian saya tahun ini. “Oslo, August 31st”, “Breathing”, dan “A Simple Life” adalah tiga film yang mengoyak emosi, terutama Deanie Yip yang begitu mengagumkan. “The Artist”“Tinker, Tailor, Soldier, Spy” dan “Once Upon a Time in Anatolia” meninggalkan kesan memesona, namun sayang saya belum sempat menontonnya kembali jadi hanya berkenan dengan memori, sedikit meredup. Satu film yang nyaris masuk sepuluh besar adalah “Bernie” dari Richard Linklater dengan penampilan Jack Black yang patut diingat.

Well, demikian film-film lainnya yang saya sukai. Mari lanjut ke sepuluh besarnya. 

[Top Ten]

#10

Holy Motors

“HOLY MOTORS”

Directed by Leos Carax

Karena dengan tidak bosan menghadirkan kejutan demi kejutan dari tiap perubahan yang dilakukan oleh si karakter. Ada senggama seksi nan aneh itu. Ada adegan mengunyah bunga itu. Ada kelompok pemain akordion yang mendengung dengan gempita. Ada Kylie Minogue yang mengalun merdu. A complete holy shit!

#9

The Interrupters

“THE INTERRUPTERS”

Directed by Steve James

Karena kamera dari Steve James dengan lihai menangkap setiap momen tanpa cela. Satu dengan yang lain menyimpan cerita yang begitu besar. Entah tentang suara seorang wanita yang peduli dengan remaja-remaja tersebut. Entah tentang seorang remaja yang tengah bergolak dengan masa depan; jika salah memilih bisa saja mati. Atau entah cerita yang lebih besar tentang ‘perang’ yang dengan menyedihkan mengundang bangkai. Begitu menyentuh, begitu inspiratif.

#8

Hugo

“HUGO (3D)”

Directed by Martin Scorsese

Karena dengan kocaknya menyorot wajah Sacha Baron Cohen di layar tersebut, mengawinkan teknologi 3D yang seringkali dipetieskan sebagian penikmat bioskop. Jika ada satu medium yang mampu menghadirkan antara seni dan kenikmatan menonton, Hugo adalah yang pertama saya rasakan. Gambar-gambar itu. Begitu menakjubkan.

#7

The Deep Blue Sea

“THE DEEP BLUE SEA”

Directed by Terence Davies

Karena dengan gemilang menunjukkan lakon mumpuni antara Rachel Weisz dan Simon Russell Beale. Tidak luput, adegan-adegan penuh momentum yang nampak cantik di layar menjadi sebuah kenikmatan menyimak fotografi malam yang dihadirkan. Momen mengesankan di rel kereta api tersebut dengan alunan merdu lagu yang syahdu. Bahkan, adegan ranjangpun terlihat begitu cantik.

#6

Margaret

“MARGARET”

Directed by Kenneth Lonergan

Karena menyembulkan sebuah drama yang ‘berantakan’ dengan penampilan tanpa cacat. Bertahan dalam perdebatan sengit di meja editing hingga hak kepemilikan yang seharusnya film kedua dari Lonergan ini sudah kita saksikan dekade lalu, 2006 silam. Anna Paquin tampil begitu memesona menunjukkan sosok remaja penuh semangat yang terjebak dalam situasi yang rumit; ia tampak penuh amarah, namun dikerubungi ketakutan dan rapuh di sisi lain.

#5

Damsels in Distress

“DAMSELS IN DISTRESS”

Directed by Whit Stillman

Karena Stillman begitu sabar dan berstruktur dalam menampilkan adegan jenaka tersebut. Tidak kalah menariknya barisan pelakon yang dengan terampil menghidupkan keseluruhan isi cerita yang jika diperhatikan, memerlukan barisan yang tidak bisa pincang satupun mengingat nada film keseluruhan yang begitu tidak biasa. Ha! Lihat pula nomor penutup yang begitu kocak.

#4

Postcards from the Zoo

“POSTCARDS FROM THE ZOO”

Directed by Edwin

Karena di balik setiap kesempatan Lana memandang ke arah kamera, ada nilai absurd yang dihadirkan, namun tidak pernah kiranya saya mengira jika film ini teramat jenaka. Saya langsung teringat dengan Roy Andersson sehabis melihat film ini. Antara Lana dan kebun binatang, antara pesulap dan dunia baru. Ada garis yang berhubungan tentang keterkungkungan yang digambarkan Lana dan binatang-binatang itu.

#3

Moonrise Kingdom

“MOONRISE KINGDOM”

Directed by Wes Anderson

Karena proyek dunia artifisial yang kali ini dihadirkan sutradara ini mengantarkan tawa yang begitu renyah selaras dengan adegan klimaks yang begitu kacau tak terlupakan. Satu bingkai ketika anak-anak tersebut terlalu dewasa. Satu bingkai ketika orang tua itu terlihat begitu kekanakan. Kisah cinta yang begitu uniknya.

#2

Weekend

“WEEKEND”

Directed by Andrew Haigh

Karena pillow talk tidak pernah ditampilkan semenarik ini. Mengingatkan dengan Before Sunrise/Before Sunset sejenakMeninggalkan kepedihan ibarat Brief Encounter rasanya.

#1

The Perks of Being a Wallflower

“THE PERKS OF BEING A WALLFLOWER”

Directed by Stephen Chbosky

Karena ada nostalgia dalam setiap jengkalnya. Ada kenangan yang ditampar lembut hingga ingin menangis mengingat kisah SMA dulu. Ada kejujuran yang dengan apik diperlihatkan sang penulis buku yang dengan piawai mengarahkan filmnya juga. Ada tiga pemain yang memesona. Lerman yang sempurna sebagai Charlie selaras dengan jiwa dalam buku. Miller yang mencuri perhatian dan kelak akan duduk sebagai calon bintang Oscar. Ada pula Watson yang dengan mulus menanggalkan jubah Hogwarts-nya. Saya sadar bahwa film lain di daftar ini lebih kompleks dan memiliki lini yang lebih sempurna, namun kembali lagi, this is the movie that gained my capital L …….LOVE! Oh, high school, how I hated and loved you at the same time.

Recap:

  1. The Perks of Being a Wallflower
  2. Weekend
  3. Moonrise Kingdom
  4. Postcards from the Zoo
  5. Damsels in Distress
  6. Margaret
  7. The Deep Blue Sea
  8. Hugo (3D)
  9. The Interrupters
  10. Holy Motors

***

Untuk 4th Annual AwyaNgobrol Awards akan segera dilanjutkan kembali. Pos pertama yang akan kalian baca adalah nomine untuk Best Supporting Actor. Ditunggu ya. 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Laughter and Nostalgia: Awya’s Top Ten Films of 2012

  1. Whoaaaa… Kok tumben bener cepat rilis daftarnya? Dan tumben juga banyak judul yang familiar.

    Great list. As always — walau banyak yang belum ditonton.

  2. Hih. Ini udah molor tauk. Taun kemarin kan rilisnya tanggal 27 Desember. Anyway, makasi paman. Ditunggu loh daftar versi situ. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s