Oops.

Hampir sebulan sudah saya menyimak film terbaru Batman ini. Sudah ada beberapa hal yang dibukukan dalam satu halaman Wikipedia untuk merangkum The Dark Knight Rises dalam kamus saya. Ada catatan yang saya ingat setelah mengecek timeline setibanya di kos sehabis melihat Bruce Wayne diakali Selina Kyle, terkejut dengan berita yang tersaji di layar ponsel, penembakan? Peristiwa memilukan penembakan beruntun di dalam bioskop (di Aurora, Colorado) itu seketika mengingatkan saya pada film Elephant dan yang paling anyar We Need to Talk About Kevin. Saya hanya bisa mengumbar pertanyaan klise ketika melihat foto penembak itu di CNN; apa yang ia pikirkan? 

Beberapa hari sebelum kejadian itu, ada cerita lain. Saya memantau saja dari pergerakan timeline yang sudah mengalahkan kecepatan media lain dalam mengabarkan peristiwa terkini.  Kala itu, pagi, timeline seperti bersahutan menjejerkan kata critics dengan backlash, ada apa sih?, pikir saya. Oh, jadi beritanya Rotten Tomatoes (RT) yang hobi mengumpulkan tomat segar ke dalam keranjang skor sebuah film dan tidak segan melempar tomat busuk ke muka sebuah film tersebut, naik pitam karena tingkah pengikutnya—sebutlah begitu—yang mengolok para kritikus pemilik kuasa untuk melempar tomat itu. Ancaman pembunuhan, begitu singkatnya yang mengarah pada kritikus Marshall Fine, orang pertama yang melempar tomat busuk ke wajah Bane.  (Entah, mungkin saja ia gemas sepanjang nyaris tiga jam film Batman ini tidak sempat menyampaikan bagaimana caranya si Bane makan. Barangkali).  Berhamburanlah sumpah serapah dari yang nyindir sopan hingga kelewatan—membawa nyawa orang. Ah, ancaman di internet saja dipikirin. Bukan begitu. Saya yang membesarkan blog ini, menerima ratusan komentar, menerima komentar negatif macam ‘ah sok tau lu!’ saja bisa kepikiran. Ya, setidaknya jadi menanyakan kembali, ada yang salah ya? Apalagi mendapat ancaman menyangkut nyawa. Jadi tidak heran jika pihak RT akhirnya mematikan fungsi komentar untuk sementara dengan berencana mengganti sistem komentar yang lebih relevan ke depannya (semacam harus login menggunakan Facebook terlebih dahulu).

Selang beberapa hari setelah itu, saya duduk di kursi bioskop deretan nomor tiga dari depan, bersiap melihat Batman selanjutnya setelah kegilaan Joker sebelumnya, sekarang apalagi yang ingin Nolan berikan. The Dark Knight Rises (TDKR), pada ingatan saya setelah keluar bioskop hingga saat ini mengetik, tetap sama; terlemah dari trilogi Batman ini.

TDKR dibubuhi dengan ornamen megah macam teknologi mahacanggih hingga plot yang lebih, sebut saja, rumit. Jika Nolan apik merangkai dimensi mimpi pada Inception, rumit meskipun para karakter rajin mengumbar penjelasan, ide dan kemasan yang disajikan, seempuk bolu manis. TDKR, lebih besar, urusan politik yang dihadirkan Nolan lebih grande ketimbang sebelumnya melucuti kegilaan Joker. Ada seruan kekecewaan pada pemerintahan, ada huru-hara, ada kelicikan  yang mengumbar twist (sayangnya tidak begitu menumbuk rasa kejut), Si Jagoan rapuh dan tidak berdaya, satu kota porak-poranda, wah ini besar sekali. Namun, anehnya yang terpikir tetap saja; kapan engkau muncul lagi Selina Kyle?

Saya begitu menyukai Selina Kyle. Anne Hathaway membawa tawa di balik setiap rayuan nakal yang dilontarkan, sebelum akhirnya memelintir lengan, membekuk lelaki dengan gesit. Khas superwowan yang tergambar seksi, ibarat perwujudan sketsa komik, berbanding terbalik dengan energi realitas yang ingin Nolan usung. Di situ letak menariknya. Ketika kita melihat Selina Kyle sebagai satunya napas jenaka di layar, Hathaway mengulur dahulu energi komik yang muncul, hingga akhirnya menemukan ranah riil. Dari tiap gestur lentur, sorot nakal tersebut, sekarang coba perhatikan bagaimana Hathaway menjauh dari guratan komik dengan presisi manusiawi; sorot mata iba dan bersalah yang tersembul ketika melihat Batman diremukkan Bane. Mengesankan.

Kemudian, saya pada akhirnya akan menjawab pertanyaan yang berjalan mondar-mandir tanpa henti sering ditanyakan, “Trus kalo diurutin, TDKR filmnya Nolan favorit nomor berapa menurut kamu?” Saya kemudian menghitung. Baru ada enam film dari Nolan yang saya simak.

Mungkin hanya bisa menjawab, “Sepertinya ada di urutan keenam.”

Oops.

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Oops.

  1. Menurut saya The Dark Knight Rises adalah yang paling bagus. Saya melihat lebih banyak plus ketimbang minus nya.

    Saya ngantuk nonton Batman Begins, Saya illfeel ma The Dark Knight yg terlalu kelam dan serasa seperti nonton film berat.

    Tapi the Dark Knight Rises berhasil menggabungkan penceritaan yg realistis dengan dunia comic batman yg kelam dan imajinatif. Saya suka itu. Saya gak sekalipun lelah pas nonton di Bioskop. Ada Catwoman, Robin, Manusia Super, Bat Wing (? itu ya namanya?) dan full action.

    Tapi … yah itu, kelemahan TDKR lebih terlihat ketimbang TDK dan banyak sekali fans Nolan yg kelihatan seperti “dipaksa nonton film anak2 yang ringan dan cheesy” ngamuk atau bahasa lebih sopan-nya kurang suka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s