AwyaNgobrol’s Best Films of 2012 (So Far)

Hey, kita sudah memasuki paruh pertama tahun 2012 ini dan sekarang saatnya AwyaNgobrol seperti biasa memilih lima belas film yang paling disukai sepanjang enam bulan pertama. Jika tahun kemarin untuk versi paruh pertama dan pamungkas memiliki jawara yang sama, yaitu Certified Copy tetap bersandar tanpa mampu digoyahkan di posisi puncak, bagaimana dengan tahun ini? Sebelum berkesimpulan jauh ke enam bulan ke depan dengan film-film yang makin menggiurkan, mari tengok film apa saja di enam bulan pertama yang berhasil memikat saya.

Ini dia: 

#15

“GOODBYE, FIRST LOVER”

Directed by Mia Hansen-Løve

Setelah The Father of My Children yang mendapat sambutan hangatMia kali ini menghadirkan kisah coming-of-age dua anak muda yang terpisah karena impian, cita-cita, dan keadaan. Terlihat naturalistik, meskipun beberapa momen terkesan kaku, namun begitu pas menyampaikan pesan yang diberikan judul filmnya.

#14

“SHAME”

Directed by Steve McQueen 

Meskipun tidak begitu menyukai paruh kedua dari film ini, namun McQueen tetap cermat menyampaikan kegalauan kegundahan seorang hiperseks dengan simbolisasi yang ditampilkan. Ada banyak momen yang menarik dengan tentu adegan tujuh belas tahun ke atasnya membanjir di sana-sini. MVP? Carey Mulligan!

#13

“WUTHERING HEIGHTS”

Directed by Andrea Arnold 

Sedikit meminjam energi romantis tak-romantis yang pernah digusung Brokeback Mountain, Andrea Arnold menceritakan kembali kisah kelam Emily Bronte ini dengan menghadirkan Heathcliff untuk pertama kalinya diperankan oleh aktor berkulit hitam—sesuai dengan penggambaran sosok tersebut di bukunya. Pergerakan kamera Robbie Ryan hadir sebagai salah satu yang paling memikat sejauh ini.

#12

“THE AVENGERS”

Directed by Joss Whedon

Pasti ada alasan mengapa kini meluncur menjadi film terlaris ketiga sepanjang masa. Barisan superhero disatukan, lengkap dengan ego yang tertampil dari setiap lini karakter yang sudah familiar, diserasikan dengan adegan jenaka hingga baku hantam yang memikat. Bam-bim-bum. Tidak sabar menunggu lanjutannya.

#11

“TAKE SHELTER”

Directed by Jeff Nichols

Sepertinya ada unsur threesome yang dihadirkan oleh The Tree of life-Melancholia-Take Shelter ini. Mereka memiliki tema yang saling mendukung. Di sini Jeff Nichols mengaduknya dengan aspek psikologis, menyulut adegan horor dengan nada yang suram. Michael Shannon dengan gemilang menghadirkan sisi ‘kegilaan’ yang sempat dicicipinya pada Revolutionary Road dulu.

#10

“JEFF, WHO LIVES AT HOME”

Directed by Jay Duplass and Mark Duplass

Seperti mumblecore kebanyakan, kisah dari Duplass Brothers ini bercabang entah hendak ke arah mana meskipun jelas judulnya mengacu pada seorang Jeff yang masih setia tinggal di rumah meskipun bukan ABG lagi. Setelah adegan kejar-kejaran yang mengingatkan pada Cold Weather, si ibu yang diam-diam memiliki penggemar rahasia, hingga Jeff dengan obsesi menggelikannya pada nama “Kevin’, film ini akhirnya menyimpul pada pesan sederhana yang tidak butuh teknik kamera canggih: keluarga.

#9

“MIRROR MIRROR”

Directed by Tarsem Singh

Awalnya jika mengacu pada trailernya, suatu kali saya kicaukan filmnya akan nampak ‘mengerikan’. Entah guilty pleasure atau bukan, karya  terbaru dari Tarsem Singh ini di luar ranah ekspektasi telah berhasil memikat. Memang jika dilihat dari konsensus banyak yang menyembelih dan memaki film ini. Namun, Singh menemukan sisi lain yang saya sukai: extravaganza visual dengan cerita tanpa malu ditempatkan di lapis kedua (baca: tidak serius hanya ingin terlihat fun) dengan katalog memikat dari Eiko Ishioka yang akan sulit ditumbangkan hingga akhir tahun nanti, sekaligus dilengkapi oleh penampilan Julia Roberts paling memikat sejak Erin Brokovich. Jika yang lain mengganggap homage Singh pada negeri asalnya–nomor goyang pinggul, jemari menjentik ala Bollywood tersebut–terlihat menggelikan, saya menyebutnya kejutan yang teramat menghibur. I believe, I believe, I believe …. in love! Love!

#8

“THINKER TAILOR SOLDIER SPY”

Directed by Tomas Alfredson

Nuansa dingin yang sempat terasa dalam Let the Right One In dibawa Kembali ke karya berikutnya dalam drama mata-mematai-siapa-mematai-siapa ini. Menghadirkan barisan pemain yang memukul rata tampilan terbaiknya  hingga sulit untuk memilah mana yang terbaik, namun satu yang tidak luput adalah energi kharismatik yang ditampilkan Gary Oldman; sepi, tampil memainkan sinergi raut muka dan intonasi dengan terampil. Oscar begitu pintar menominasikannya.

#7

“TAKE THIS WALTZ”

Directed by Sarah Polley

Ada alasan tentunya mengapa Polley membidik filmnya dalam nuansa vivid—menyolok, memotret energi musim panas. Michelle Williams tampil menyegarkan, menjauh dari sisi wanita depresi yang sering menghantuinya. Kini tampil ceria, penuh tawa, seperti warna-warna menyolok yang hadir.

#6

“21 JUMP STREET”

Directed by Phil Lord ad Chris Miller

Salah satu komedi yang berhasil membuat saya tertawa konstan dari awal hingga akhir ini mungkin bisa dikatakan kejutan tersendiri ketika saya mengira akan tampil ala kadarnya seperti komedi setengah jadi yang rajin dibuat. Namun, duo sutradara Lord-Miller berhasil menampilkan sosok pahlawan tak-pahlawan yang akrab kita lihat pada komedi belakangan dengan resep bromance yang kental. Adegan kejar-kejaran di jembatan tersebut masih terkadang membuat senyum-senyum sendiri.

#5

“HUGO (3D)”

Directed by Martin Scorsese

Jika teknologi 3D sering menerima kutukan penonton, maka sebenarnya jika dihadirkan oleh orang yang tepat, selalu ada waktu yang tepat untuk mencintai teknologi 3D ini. Semakin mengingat kenikmatan menyaksikan Hugo di layar besar, semakin lekat kecintaan akan film ini. Siapa sangka wajah Sacha Baron Cohen bisa selucu itu dengan teknologi ini, huh?

#4

“THE INTERRUPTERS”

Directed by Steve James

Setelah menyentuh saya lewat Hoop Dreams, kini Steve James Kembali membuat tersentuh luar biasa pada dokumenter tentang kekerasan yang terjadi di jalanan Chicago ini. Adalah Ameena Davis, mantan anggota gang yang sering melakukan tindak kriminal kini muncul dalam sosok berbeda, memakai kerudung, berkeliling di jalanan dengan satu tujuan: menghalau anak muda agar bangkai mayat tidak lagi mengotori jalanan. Begitu menyentuh, begitu menyimpan harapan besar. Salah satu dokumenter yang patut untuk disimak.

Trivia: ada spanduk dengan Bahasa Indonesia pada salah satu momen di dokumenter ini. Jika sudah melihatnya, ada yang bisa menjelaskan spanduk apa itu?

#3

“WEEKEND”

Directed by Andrew Haigh 

Ibaratkan Before Sunrise/Before Sunset diperankan dua lelaki. Mereka bertemu, bercinta, mengobrol, berdebat, dan berpisah dalam kurun waktu yang singkat. Kapan terakhir kali pillow talk dihadirkan semenarik ini?

#2

“ONCE UPON A TIME IN ANATOLIA”

Directed by Nuri Bilge Ceylan 

Ceylan menghadirkan sentuhan Kiarostami pada karya terbarunya; lanskap dari kejauhan membanjiri fotografi. Belum pula jika melihat caranya memainkan cahaya, fotografi malam tidak pernah seindah ini. Di samping itu, Ceylan dengan angkuh memamerkan kepiawaiannya menghalau barisan pemain yang tidak pernah meleset satu nada sekalipun, saling sahut tanpa siratan amatir dari gestur dan mimik yang tertampil. Kemudian dialog jenaka yang juga ikut dia tulis, menjadikan ini film terbaiknya sejauh ini.

#1

“THE DEEP BLUE SEA”

Directed by Terence Davis 

Ada dua sutradara dengan nama Ter(r)ence yang saya sukai. Pertama Terrence Malick, kedua adalah Terence Davis yang begitu memikat saya lewat Distant Voices, Still Lives, mendendang syahdu dalam The Long Day Closes, kemudian memamerkan akting piawai Gillian Anderson pada The House of Mirth. Kali ini, Davis mengadaptasi medium teater ke dalam layar besar. Berhasil menampilkan Rachel Weisz yang mengesankan. The Deep Blue Sea bersanding dengan Once Upon a Time in Anatolia dalam menampilkan fotografi malam yang menawan.

Recap:

  1. The Deep Blue Sea
  2. Once Upon a Time in Anatolia
  3. Weekend
  4. The Interrupters
  5. Hugo
  6. 21 Jump Street
  7. Tinker Tailor Soldier Spy
  8. Take This Waltz
  9. Mirror Mirror
  10. Jeff, Who Lives at Home
  11. Take Shelter
  12. The Avengers
  13. Wuthering Heights
  14. Shame
  15. Goodbye, First Lover

Demikian untuk lima belas film terbaik bersi saya untuk paruh pertama di tahun 2012 ini. Besok saya akan mengumumkan nama-nama yang berhasil masuk ke dalam Best Performances of 2012 (So Far).

Advertisements

4 thoughts on “AwyaNgobrol’s Best Films of 2012 (So Far)

  1. yang ku suka ada tingker tailor soldier spy, shame , hugo, take shelter ,menampilkan karakter dengan begitu sempurna, terlebih michael shanon masih yang terbaik tahun ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s