TV Series: “Girls” Review and Recap (with Grade, Ep. 1-7)

Tidak perlu berbohong kalau salah satu alasan saya tertarik menyimak seri ini bukan hanya karena respon positif dari para kritikus (menduduki peringkat pertama sebagai seri baru terbaik versi Metacritic) dengan para pembencinya yang berbarengan hadir. Bukan juga sebenarnya karena ini dianggap versi muda dari seri sukses HBO lainnya, Sex and the City, karena saya sendiri belum pernah menyimak satu episode seri tersebut selain dua filmnya. Hingga pada satu kesempatan di bulan April saya berdiri di pojok ruangan sebuah Gramedia di Denpasar, di bagian majalah, membaca Newsweek. Tanpa sengaja mata tersandung pada sebuah artikel mengenai beberapa potret sadomasokis dalam film atau serial televisi yang menyertakan A Dangerous Method dan Secretary ke dalamnya, termasuk Girls juga. “Okay, this series must be interesting,” pikir saya kala itu. 

Pilot dari serial ini dimulai dengan adegan di meja makan sebuah restoran, mengenalkan kita pada sosok menjengkelkan bernama Hannah yang tanpa malu merengek bahwa dia masih menginginkan dukungan finansial orang tuanya, meskipun usianya telah memasuki periode produktif 20 tahunan, well-educated, pintar merangkai kata (baca: penulis), namun masih nyaman hidup tanpa pekerjaan dan dihantui oleh sewa apartemen yang tidak murah. Sampai di sini, mungkin ada yang sedikit tertampar atau tersenyum kecut jika sosok Hannah hadir sebagai cubitan lembut tentang hidup anak muda yang masih didukung orang tuanya. (Tanpa bermaksud personal, sebagai orang yang tinggal sendiri di Denpasar, berjarak tiga jam dari orang tua di kampung sana, masalah yang dialami Hannah sedikit familiar meskipun hal tersebut jauh dari sisi yang sama). Lena Dunham—yang menulis dan memerankan Hannah dengan begitu meyakinkannya telah mengawinkan dua jenis keterampilan yang jarang dimiliki orang—menghadirkan Hannah sebagai karakter yang ‘kaya’ karena ketika muncul sebuah keinginan untuk membencinya, ada satu sisi yang membuat kita mengumbar kata kasihan dengan keamburadulan hidup yang dia miliki. Biasa, anak muda pada fase labil–mungkin sering kita mendengar lelucon mengenai tingkah para ababil (abegeh labil) yang kadang luput kita ingat, mungkin dulu kita (orang yang sedikit sudah tua) tanpa sadar pernah menjalani proses tersebut pula.

Bertemulah kita pada sosok lain dalam Girls ini. Ada Marnie, roommate yang memiliki pacar anggota band, Charlie, sudah berpacaran bertahun-tahun, namun gampang tercium bahwa hubungan mereka tidak akan bertahan lama; debat tentang seks itulah, debat tentang rambut botak itulah, hingga hal-hal yang sepele lainnya. Di apartemen lainnya kita bertemu Jessa–Man, if I ruled the world I would hand out the Emmy to Jemima Kirke just because she’s fvqkzQhtjdyjkxste! (fvqkzQhtjdyjkxste = ZOMGAWESOME!)—sosok dengan aksen British mampu mengeluarkan kata-kata semasabodo orang yang tengah mabuk namun tanpa lupa membuat kita terbahak. Benar ada wanita seperti Jessa ini? Tentu saja ada (mungkin) di seberang sana. Entah kita harus percaya dia bisa hidup sesantai itu, namun jika melihat apa yang pernah ia jalani, keliling Perancis, sempat di Amsterdam, dan juga, ahem, Bali, menjadi gambaran sekilas tentang jiwa petualang yang dia miliki. Menariknya, Jessa terlihat keren pada dunianya sendiri sehingga memberikan kelas tersendiri; dia tidak memiliki akun Facebook dan tidak pernah mendengar Sex and the City sama sekali ketika sepupunya, Shoshanna—penggemar serial itu—membawa judul tersebut dalam obrolannya. Untuk beberapa menit saya sempat terpikir seperti pernah melihat aktris pemeran Shoshanna ini, Zosia Memet, hingga akhirnya teringat bahwa dia juga muncul di Mad Men sebagai teman Peggy Olson yang tomboi, free-spirited dan lesbian, sebuah karakter yang berbanding terbalik dengan yang dia perankan di sini.

Dalam Girls, Shoshanna menjadi tempat Lena Dunham untuk menghidupkan imajinya pada sosok gadis perawan dan buta pengalaman dibanding ketiga wanita lainnya. Pada episode keempat, cerita yang melibatkan Shoshanna menjadi salah satu yang membuat saya terbahak tanpa henti. Shoshanna bertemu Matt—dikisahkan pernah bertemu sebelumnya di summer camp—mereka mengobrol sebentar. Canggung. Menonton televisi dan berlanjut ke tempat tidur. Di sinilah kemudian adegan klise tentang keperawanan kembali dilibatkan—seperti yang kadang kita lihat dalam film coming-of-age yang sibuk mengorek-orek pencarian jati diri—namun, Dunham terlihat lihai menghadirkan dialog awkward yang jenaka. Bahkan ketika Matt dengan santainya mengakui bahwa dia aneh karena menyukai salah satu sensasi, malah terdengar lucu ketika sebaliknya Shoshanna mengeluarkan jurus mautnya: “aku masih perawan”, disambut dengan muka kecewa dari Matt. Pertanyaannya adalah apakah Shoshanna begitu polosnya hingga harus jujur begitu saja atau dalam satu hal, dia tahu jika Matt sebenarnya bukan lelaki yang tepat?

Dalam semua variasi cerita yang ada, maka tentu seri ini utamanya akan mengikuti kehidupan Lena Dunham Hannah (entah karena karakter Hannah begitu kuat atau memang Dunham sedang merekaulang kisahnya sendiri, mungkin jika kelak bertemu dia di di Brooklyn sana, saya akan menganggap Lena tak ada bedanya dengan Hannah; begitu sebaliknya). Ada Adam, ‘teman sepermainan’-nya Hannah di ranjang. Bukan pacar, bukan pula gigolo. Di cerita Adam-Hannah inilah muncul adegan yang dibahas oleh majalah Newsweek itu. Awalnya Adam nampak di mata saya sebagai karakter yang hanya akan muncul di tiga episode saja, namun ketika kemarin menyimak episode enam dan tujuh, terbukti bahwa Lena menyimpan rapat tiap karakternya hingga kadang ada sisi lain yang luput kita ketahui. Di episode keenam kita lihat Hannah mengalami adegan awkward denga seorang apoteker yang menyadarkan dirinya bahwa hanya Adam yang sepikiran tentang hal seks. Sementara di episode ketujuh, kita melihat Adam dalam kondisi berbeda; nampak masih gila namun kali ini asyik mengikuti dentuman musik di lantai dansa, memakai kemeja (uh, iya, ini pertama kalinya dia mengenakan baju!), ternyata dia seorang pecandu alkohol, dan pecinta buku. Spontan ketika mendapati dialog itu saya berpikir: buku apa kira-kira yang dia baca? David Sedaris? Haruki Murakami? Cormac McCharty? Jonathan Franzen? Leo Tolstoy? atau mungkin Jane Austen? Jika Dunham berbaik hati, boleh di episode berikutnya bongkar rahasia tersebut lebih detail.

Sekarang coba lihat adegan mendekati durasi terakhir pada episode ketujuh. Marnie berteriak dengan nada mengancam dari taksi. Hannah mendekati Adam. Adam berteriak ke arah Hannah, “Do you want me to be your boyfriend?!”. Kemudian musik mengalun menghadirkan satu shot ini; di dalam taksi ada Adam, Marnie, dan Hannah, serta sebuah sepeda, oke ini jenaka, tapi kemudian lihat yang terjadi pada Hannah; senyum paling bahagia yang pernah kita lihat sejauh ini. Priceless.

Layar mendadak hitam. Barisan huruf muncul. Bergantian dengan cepat. Terdengar dengan merdu; “These dreams under my pillow. In the twilight of these white nights.”

Girls Recap (with grade):

  • Ep. 1 (Pilot): B+
  • Ep. 2 (Vagina Panic): B
  • Ep. 3 (All Adventurous Women Do): A
  • Ep. 4 (Hannah’s Diary): A-
  • Ep. 5 (Hard Being Easy): B+
  • Ep. 6 (The Return): A
  • Ep. 7 (Welcome to Bushwick a.k.a. The Crackcident): A

(Photo Credit: HBO)

Advertisements

3 thoughts on “TV Series: “Girls” Review and Recap (with Grade, Ep. 1-7)

  1. Setuju soal episode 3 ama 7. lucunya kalo teringat2 bisa buat senyum2 sendiri (?)

    Episode 8 mana kakakkkk? tapi nanggung nih, kenapa ngga nunggu 10 episode nanti? apa ntar bakalan diupdate?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s