Crème de la crème: Best Supporting Actress of the Decade (2000-2009)

Mari kita lanjutkan bahaan Crème de la crème kali ini dengan menghadirkan lima kontender sebagai yang terbaik di sepuluh tahun terakhir. Para aktris pendukung terbaik ini merupakan nama-nama yang mencuri perhatian saya selama ini. Sebelum lebih jauh, coba tengok dulu bahasan best supporting actor dan best costume design bagi yang masih asing dengan bahasan ini.

Sekarang, inilah dia lima aktris pendukung yang saya sukai di dekade 2000-an. 

Salah satu breakthrough performance terbaik sepanjang dekade sekaligus penampilan pendukung yang begitu mencuri perhatian. Hadirnya Amy Adams di barisan peraih nomine Oscar lewat peran lugunya sebagai Ashley tentu menghadirkan kegembiraan sendiri di ranah indie mengingat begitu kecilnya film ini, namun dukungan para kritikuslah yang berhasil mengantarkannya hingga meraih perhatian juri Oscar. Namun di atas itu semua adalah seorang Amy Adams yang melebur dalam sosok Ashley dengan sempurna pada pembentukan karakter; gestur lentur  tanpa nada sumbang yang menunjukkan sosok lugu, penuh ingin tahu, ekspresi tanpa titik ragu, sebuah karakter paling mengesankan dan meyakinkan sepanjang dekade.

  • Toni Collette in The Hours (2002)

Jika mengingat Oscar beberapa tahun silam, The Hours mengalami porsi kampanye yang sering didebatkan mengingat Nicole Kidman masuk di kategori lead actress ketika Julianne Moore dan Meryl Streep memiliki screentime lebih lama dan juga menjadi sentral cerita, ternyata mendapat kampanye di kategori supporting actress. Bagi saya mereka bertiga berbagi porsi sebagai co-lead. Lalu siapa pendukungnya? Jika saya membuat kategori khusus untuk penampilan cameo terbaik sepanjang sepuluh tahun, maka Toni Collette akan menjadi jawaranya. Dari kelima kontender di sini, penampilan Toni Collette sebagai Kitty adalah penampilan dengan screentime tersingkat namun begitu mengesankan dan tidak pernah saya lupakan jika mengingat The Hours. Ekspresi terkejut itu yang dibarengi dengan tingkah pecicilan macam karikatur ibu-ibu yang selalu ingin tahu berakhir pada adegan klimaks yang memunculkan bidikan mata bimbang; entah apa yang telah terjadi.

Begitu kesal melihat karakter Paltrow sebagai wanita cuek, masa bodo, kecanduan rokok yang menjelma dalam karakter kreasi Wes Anderson dengan uniknya. Begitu jika sebuah lakon berhasil mencuri hati; tiap kali mengingat The Royal Tenenbaums tidak luput untuk tergambar adegan Paltrow merokok dengan nikmatnya di kamar mandi tersebut.

  • Tilda Swinton in Michael Clayton (2007)

Tidak banyak yang bisa menampilkan seni lakon mumpuni dengan durasi minim seperti itu namun hadir lebih mengesankan daripada pemeran utamanya. Jika Tilda Swinton bersaing ketat dengan Nicole Kidman sebagai aktris terbaik dekade 2000-an versi saya, lakonnya di sini pulalah yang akan dipertimbangkan. Lihat bagaimana permainan emosi menjelang ending berakhir yang menyulut kita bertanya pada ekpresi yang dihadirkan, ada apa dengan wanita ini? Misteri itu dibuka lewat sambutan lakon menawan.

Jelas Ziyi menjadi bintang dari film ini hingga dari beberapa versi perannya sebagai Bai Ling dianggap lead, namun saya menempatkannya di supporting mengingat seluruh cerita berada pada narasi seorang Chow Mo-wan. Dalam 2046, Ziyi tampil begitu lincah sebagai penyanyi kabaret yang tinggal di kamar bernomor 2046. Gesturnya luwes, seksi dalam bungkusan cheongsam, seolah menjadi sisi berseberangan (atau lebih liar) dari karakter Maggie Cheung di In the Mood for Love.

Runners-Up:

  • Emily Blunt, “The Devil Wears Prada” (2006)
  • Rinko Kikuchi, “Babel” (2006)
  • Frances McDormand, “Almost Famous” (2000)
  • Helen Mirren, “Gosford Park” (2001)
  • Aryani Kiergenburg Willems, “Under the Tree” (2008)

Crème de la crème: Amy Adams (Junebug). Pemilihan Adams sebagai yang terbaik termasuk mudah bagi saya. Jika penjelasan di atas belum cukup, maka saya akan kembali menulis apa yang saya kutip di sini;

Hingga rasanya tak terhenti memikirkan seorang Ashley. Maka, simaklah keajaiban yang saya temui. Coba perhatikan line-reading yang sampai saat ini tak pernah terlepas dari ingatan saya:

Madeline: “I was born in Japan.”

Ashley: “…You were NOT.”

Seketika menyimak eskpresi itu ingin rasanya merampas Oscar dari tangan Rachel Weizs dan memberikannya langsung ke tangan Amy Adams.

***

*Ala-ala TV Series* Next week on Crème de la crème; you will be delighted to meet 5 best production designers of the decade.

Don’t miss it! Only on AwyaNgobrol; the only Indonesia’s one-stop film award blog that matters. #apeu

Advertisements

3 thoughts on “Crème de la crème: Best Supporting Actress of the Decade (2000-2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s