Momen Tenis Berkesan Dalam Film dan Secangkir Memori

Sebagai anak kampung yang tinggal di daerah terpencil di pedalaman daerah Bali, kadang saya tidak habis pikir kalau mengingat dulu begitu gilanya dengan olahraga tenis ini. Bukan, bukan pemain memang. Dulu waktu kecil saya sudah familiar dengan nama-nama pemain tenis macam Andre Agassi, Martina Hingis, hingga Jelena Jankovic yang saya ingat dulu begitu bersinar di usianya yang baru menginjak 17 tahun. Ingin sedikit menyombong, dulu waktu SMP pada pelajaran Bahasa Inggris, kebetulan waktu itu ada pertanyaan; Boris Becker itu pemain olahraga apa?, dengan begitu sombongnya saya nyeletuk, “Tenis!” yang kemudian dibarengi “Kok kamu tau sih?” dari seorang teman, kemudian saya balas dengan senyum bangga. (Catatan: percakapan sebenarnya terjadi dalam Bahasa Daerah Bali. :D). 

Dulu, sekitar 2 kilometer dari rumah saya, di dekat pantai, ada satu-satunya lapangan tenis yang sering digunakan oleh petinggi-petinggi pelabuhan. Jadi biasanya kalau di sore hari saya sering mengayuh sepeda untuk ceritanya menghirup udara pantai, biasanya akan berhenti untuk melihat mereka bermain tenis. Kegilaan saya pada tenis juga bisa dikatakan hal klise macam menonton pertandingan tenis di televisi sampai dinihari. Macam siaran ulang dulu ketika Andre Agassi menang di final Australia Open melawan Yevgeny Kafelnikov atau ketika Andre Agassi kalah dari Marat Safin di semifinal Wimbledon yang membuat saya membenci Si Safin habis-habisan. Kalau boleh dibilang masa kecil yang labil macam dulu, saya anehnya sempat membenci Pete Sampras karena selalu menang, atau Lindsay Davenport juga yang selalu menang di masa jayanya, sementara kesal kalau Venus Williams kalah, atau momen bahagia luar biasa ketika Angelique Widjaja memenangi Wimbledon kategori junior waktu itu. Hal-hal itu selalu berhasil membuat saya tersenyum kalau mengingatnya. Dasar anak kecil!

Saya juga ingat dulu, Bapak pernah dengan antusias bicara dengan temannya mengenai begitu sukanya saya dengan tenis, begadang hingga dinihari, bla bla. Hingga pernah saya ditawarkan untuk ikut les, namun ironisnya, hingga detik ini saya belum pernah sekalipun merasakan seperti apa bermain tenis itu. Menyedihkan, bukan?

Sedikit memori masa kecil bisa juga mempengaruhi ketertarikan pada film. Begitu yang saya rasakan ketika membaca bahasan Nathaniel R (The Film Experience) mengenai sepuluh momen tenis paling mengesankan bertepatan dengan ulang tahun ke 25-nya Novak Djokovic. Nath mengurutkan sepuluh momen tenis yang paling dia sukai di film dengan menempatkan Annie Hall di peringkat pertama. Berikut daftar lengkapnya;

  1. Annie Hall
  2. Match Point
  3. Blow Up
  4. Strangers on Train
  5. Clueless
  6. A Room With a View
  7. Bon Voyage Charlie Brown (And Don’t Come Back!!)
  8. Bridesmaids
  9. The Witches of Eastwick
  10. Wimbledon 

Yes, Wimbledon! Termasuk guilty pleasure. Jika membuat daftar yang sama, saya akan memasukkan The Royal Tenenbaums dan The Squid and the Whale ke dalam daftar. Dengan Blow Up menempati posisi puncak. Seperti yang saya tulis di sini ; “Coba dengarkan suara bola tenis itu bertubrukkan dengan senar raket, kemudian dibalikkan lagi oleh orang di seberang sana, begitu seterusnya; padahal tidak ada siapapun di depan kita. Coba beri tahu saya, apa yang Engkau rasakan?

Commentary tersebut mengacu pada adegan akhir dari Blow Up. Coba baca review Roger Ebert yang sudah memasukkannya dalam Great Movies. Pada paragraf ke-11, Ebert menjelaskan mengenai ending film tersebut. Jika takut spoiler, silakan ditonton dulu filmnya.

Anyway, happy birthday, Novak!

Dan… jika ada yang tertarik mengajak saya bermain tenis, that’d be lovely. 😀

 (Photo Credit: Universal Pictures)

Advertisements

One thought on “Momen Tenis Berkesan Dalam Film dan Secangkir Memori

  1. Gw mpe umur 30 ini baru mulai belajar maen tenis! (Sebelumnya maniak badminton) jadi ga ada kata terlambat buat belajar..:D
    Awalnya kacau balau, bola banyakan keluar lapangan (bahkan mpe lewat jaring ke rumah orang wkwkwk) untung pelatih gw sabar n selalu bilang.. Ga pa pa.. Pukul sesukanya! Jangan ditahan! Alhasil setelah belajar 2 bulan.. Gw berhasil menjadi seorang pemain tennis yang cukup baik (baca:bolanya bisa balik ke lapangan hahaha) so ayuk belajar tennis.. no time for say its too late!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s