Crème de la crème: Best Costume Design of the Decade (2000-2009)

Sebelumnya sudah kita bahas mengenai aktor pendukung, sekarang giliran para desainer yang akan dibahas dalam postingan kali ini. Departemen yang satu ini banyak menyumbangkan kesan ikonik pada sebuah film, biasanya kita teringat pada sebuah adegan ketika kostum dikenakan oleh si aktor sehingga menyatu pada karakter yang ada di layar. Berikut adalah lima terbaik selama kurun waktu sepuluh tahun yang mewakili sisi kontemporer, fantasi, hingga puluhan dekade lalu semasa kerajaan masih memimpin. Ini dia lima desainer yang paling berhasil menarik perhatian saya. 

Para desainer tersebut adalah…

  • Eiko Ishioka and April Napier, The Cell (2000) 

Tarsem Singh mengandeng Eiko Ishioka untuk film fantasi, psyco-thriller ini tentu sebuah bentuk yang pas mengingat bagaimana Ishioka dengan ikoniknya membetuk desain avant-garde di Bram Stoker’s Dracula yang kemudian mengantarkannya meraih Oscar. Dalam The Cell, Ishioka mendandani Jennifer Lopez dengan begitu menariknya, menyatukan aspek fantasi hingga kepekaannya dalam menarik unsur alam—penggunaan kesan burung yang membingkai mata Lopez misalnya. Jika sinematografinya terlihat memekakkan mata, desain kostum yang tertampil semakin membuatnya cantik.

Costume design dalam The Cell:

  • Patricia Field, The Devil Wears Prada (2006)

Wakil dari sisi kontemporer hadir dalam deretan kostum yang digagas oleh Patricia Field dalam salah satu komedi terlaris di tahun rilisnya ini. Field begitu cermat mendandani seorang Anne Hathaway dalam balutan merek terkenal macam Chanel hingga Dolce & Gabbana. Sementara dengan begitu lugas mendandani Meryl Streep sebagai Miranda Priestly dengan sentuhan ikonik sehingga tak nampak sebagai karikatur seorang Anna Wintour.

Costume design dalam The Devil Wears Prada:

  • Eiko Ishioka, The Fall (2007)

Berusaha untuk hanya memperbolehkan satu nama dalam lima besar, namun apa daya jika kali ini hadir kembali nama Eiko Ishioka dalam film arahan dari Tarsem Singh lagi. Sama seperti The Cell, kali ini Ishioka mendandani para pemain dalam narasi fiktif penuh petualangan mengelilingi penjuru dunia tersebut. Sinematografinya menyatu dengan sentuhan warna berani yang Ishioka hadirkan, lengkap dengan tatanan haute couture yang begitu mengesankan; imajinatif.

Costume design dalam The Fall:

  •  William Chang, In the Mood for Love (2000)

Beringsut ke dekade 60-an kita menemukan William Chang yang kali ini berada di Hong Kong, mendandani Maggie Cheung dan Tony Leung dengan sentuhan dekade tersebut. Motif berganti-ganti pada cheongsam yang dipakai oleh Maggie Cheung ataupun motif dasi yang dipakai Tony Leung, keduanya menyatu pada cerita, atmosfer yang disajikan pada film tersebut.

Costume design dalam In the Mood for Love:

  • Milena Canonero, Marie Antoinette (2006)

Oscar yang diraih Canonero begitu pantas jika melihat bagaimana film ini mendandani seorang Kirsten Dunst. Memotretnya dengan memberikan warna menyolok, kadang uraian rumit yang menunjukkan betapa piawai sang pembuat, serta warna yang menyatu dengan ekspresi seorang Antoniette yang muda, polos, dan menyiratkan kesan kaya, begitu mewah.

Costume design dalam Marie Antoinette:

Runners-up:

  • Bright Star (2009)
  • Far from Heaven (2002)
  • Moulin Rouge! (2001)
  • Punch-Drunk Love (2003)
  • The Royal Tenenbaums (2001)

Crème de la crème: Eiko Ishioka (The Fall). Eiko Ishioka meninggal dunia akhir Januari lalu dengan meninggalkan satu karya terakhirnya dalam mendandani para pemain di Mirror Mirror—kembali lagi bertemu dengan Tarsem Singh setelah tahun lalu turut serta mendandani pemain Immortals. Pilihan terakhir lainnya sebenarnya berujung pada karya Ishioka lainnya, The Cell, namun lewat The Fall-lah kemudian karya terbaik dari desain garmen begitu memikat tersaji dalam kejeniusannya meyatukan fantasi dan energi alam. Lihat bagaimana begitu uniknya Ishioka mendandani Charles Darwin dalam The Fall dengan warna merah bersinar, bulu lebat dengan motif bulu merak tersebut. Begitu manis jikalau Eiko Ishioka tak mungkin lagi kita lihat karyanya, namun sempat terpatri dalam The Fall sebagai yang terbaik di dekade kemarin.

***

Pada postingan berikutnya, Crème de la crème akan membahas mengenai para pendukung wanita terbaik sepanjang sepuluh tahun kemarin. Nantikan saja.

Advertisements

2 thoughts on “Crème de la crème: Best Costume Design of the Decade (2000-2009)

  1. Tapi anehnya kolaborasi Eiko Ishioka dan Tarsem Singh belum pernah membuahkan nominasi Oscar di Best Costume Design. Padahal kostum di semua film Tarsem Singh itu eye-popping banget.

  2. Iya sayang sekali. Sebagian karena pengaruh film-filmnya yang tidak begitu mendapat perhatian ketika dirilis dan cenderung divisive, semisal The Fall. Tapi sepertinya tahun ini banyak yang mnejagokan Mirror Mirror untuk memberikannya posthumous nomination sih. Mudah2an dapet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s