Review “The Avengers”: Hiburan yang Luar dan Biasa; atau Luar Biasa?

“Hiburan yang Luar dan Biasa; atau Luar Biasa?”

Katanya sih filmnya luar biasa. Demikian siluet mata membaca. Sekarang coba seperti ini; mengapa harus ‘luar’ dan mengapa harus ‘biasa’, lalu mengapa harus ‘luar biasa’ yang disematkan? Yang biasa adalah; blockbuster pembuka musim panas tidak pernah jauh dari sisi seperti ini, superhero, aksi teknologi mahacanggih, baku hantam cepat yang berlomba menemukan kesan ikonik, terbungkus dalam produk yang ditunggu, lalu boom, rekor box-office masuk entri dan mungkin menyalip film lain terdahulu. Lalu sekarang coba masukkan kata ‘luar’ akan muncul ‘luar biasa’, maksudnya ‘ini di luar dari ranah biasa lho’, ‘kalau yang itu biasa maka ini di luar dari itu’, ‘kalau luar itu maksudnya tidak, maka ini tidak biasa’, ‘begitu, ini istimewa, ini di luar dari biasa, ini tidak biasa; ini luar biasa.’

Saya selalu suka memulai sebuah paragraf dengan aksen hiperbolis seperti di atas. Hei, jangan menghakimi, salahkan sinetron kita yang mengajarkan bagaimana sisi itu begitu asyik untuk digunakan. Kalaupun bukan sebuah bentuk ‘berlebihan’, maka coba saya contohkan seperti ini; ada enam superhero, mereka berbeda, mereka setidaknya punya penggemar sendiri, bahkan memiliki film tersendiri, kemudian disatukan, yada-yada-yada, pasti akan ada baku hantam yang epik namun ribut tak terarah, yada-yada-yada, pasti akan terlalu panjang karena banyaknya sang pahlawan yang ditampilkan, yada-yada-yada, pasti akan nihil unsur hiburan, silakan tidur, Kawan. The Avengers terampil menyumpalnya dengan suguhan ini; sang pahlawan wanita piawai juga menendang musuh, atau dalam debat panjang antarsuperhero tersebut menyembul dialog dari seorang Thor yang memaksa rahang terbuka, lalu tenggorokan mengatur nada dengan volume keras, terbahak-bahak, hanya dengan tanpa bersalahnya ia memuntahkan ‘adopted’ dari mulutnya. Lalu, tawa itu hadir kembali di selang-seling hingga pada sebuah kondisi yang kadang sering kita imajinasikan; kalau si superhero ini bertemu dengan yang ini, bagaimana jadinya, ya? Hal itu hadir sepanjang film, dari paling dasar ketika penggemar seorang Captain America berlagak sok-kenal-sok-dekat dengan idolanya semasa kecil, hingga puncaknya ketika dalam satu bingkai hadir Sang Dewa mengomeli Si Monster Hijau dan terjadilah adegan paling mendekati parodi selingan di sela obrolan antarteman yang terwujud dengan begitu jenakanya. Sampai di situ, maka perang epik yang hadir bolehlah dikatakan sedikit mengingatkan dengan perang epik pada seri Transformers terakhir. Teknologi canggih, gedung yang berantakan, manusia kalang-kabut, lalu monster besar yang entah sebenarnya apa itu menjadi santapan utama para superhero ini. Sebuah hiburan yang begitu luar biasa. Demikian saya katakan.

Lalu mari sekarang coba kita ibaratkan ini adalah sebuah lapangan basket, siapa MVP kali ini? Sejak awal saya mengira Tom Hiddleston sebagai Loki akan mencuri sinar dari yang lain, namun sayangnya salah, dia tak semenarik bagaimana sebelumnya berhasil mencuri kilatan di Thor. Tony Stark? Ah, biasalah seperti yang kalian lihat dalam Iron Man, berlimpah dialog lucu, tapi tidak ada yang baru, meskipun bukan berarti tidak menarik juga. Maka, kali ini saya terkesan pada dua sosok; pertama, Black Widow yang sedikit mengejutkan ketika sisi kelamnya digali, meskipun tanpa flashback dan lebih mengandalkan dialog, Scarlett Johansson dengan menyakinkan—semeyakinkannya dia memukul, menendang, dan menyikut para musuh—seperti itu pula sosok Black Widow tampil menjadi salah satu yang menarik—ya, Scarlett Johansson adalah satu dari sekian aktris yang disebut ‘biasa’ yang selalu meraih keyakinan saya bahwa dia di luar dari sekadar ‘biasa’. Yang kedua, adalah Hulk. Melegakan karena akhirnya Mark Ruffalo muncul dengan sosok Hulk yang berbeda. Jika Eric Bana merangkul Hulk garapan Ang Lee dengan polesan sisi depresif dalam karakternya, sementara Edward Norton membentuk Hulk sebagai sosok yang tangguh dalam kerentanan yang sebenarnya tertampil, maka Mark Ruffalo menarik sisi lain dalam aspek cara berbicara si aktor yang khas, bagaimana mengatakannya, woebegone, atau nampak sedih dan tak bergairah, menunjukkan sosok Bruce Banner yang siap dan terkontrol dalam memerawaki seorang Hulk.

Jadi, silakan mengunjungi bioskop terdekat untuk menyimak mereka semua. Sekarang!

[B+/A-] 

Advertisements

One thought on “Review “The Avengers”: Hiburan yang Luar dan Biasa; atau Luar Biasa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s