Review: The Raid

“Begitu brutal, begitu menyesakkan”

Sulit memang belakangan ini menikmati film dengan hingar-bingar yang riuh jika sudah masuk dalam dunia Twitter tanpa harus menyimpan ekspektasi tinggi. Tentu saya mengacu pada bagaimana isi timeline saya—mayoritasnya pencinta film—bergumuruh memuji film ini hingga ada yang dengan sigap ‘mencaci’ tiap review yang mencoba mengerdilkan film ini. (Hei, Opa Ebert, mengapa kaududuk di pojok sana?). Ini menunjukkan bahwa The Raid memiliki pendukung garis keras yang modelnya; “Senggol dikit, bacok!” 

Mari tinggalkan hiperbolisasi paragraf pertama tadi, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk menyimak The Raid meskipun harus menunggu seminggu sampai akhirnya diputar di kota saya. Benar, film yang memaksa adrenalin untuk bekerja tidak seperti biasanya. Cepat, bam-bim-bum, dar-der-dor, debam! Begitu riuhnya hingga melihat teriakan penonton begitu menyenangkan sekali. Lalu muncullah kisah klasik yang akan dipaparkan seperti susunan silsilah kerajaan—ditempatkan pada posisi pusat—bagi yang menyukai seni mengkritisi; plot. Bagaimana plotnya? Sebut saja begini, rombongan penegak hukum masuk ke sarang harimau, dar-der-dor, mati, bum-bam-bum, mati. Ada twist, ah, penonton sudah tahu kok arahnya ke mana. Ada dialog kering yang lebih terdengar ngena pada pakem Hollywood, hingga pada logika paling remeh; ngapain coba itu orang tinggal di rumah susun, eh apartemen, kalau ternyata isinya para penjahat semua? Boleh dikatakan ini merupakan fragmen dari obrolan singkat bersama tiga orang teman penyuka film yang selalu rajin membahasnya sehabis keluar bioskop dengan begitu antusias.

Sekarang pertanyaannya adalah; are you not entertained? Saya rangkum begini saja; The Raid meyuguhkan adegan aksi mumpuni, mengejutkan, dengan paduan musik dan koreografi aksi yang memesona, begitu gampang untuk menanggalkan kritisi akan apa yang sudah dipaparkan tadi. Tentu ada sedikit harapan jika Gareth Evans memiliki kelenturan menulis yang lebih dari yang kita lihat—tak elak mengingatkan dengan James Cameron, bukan, bukan Michael Bay—sehingga boleh jadi aksi ini akan terlihat mulus sempurna. Namun, tidak semua menyukai stroberi bukan? Begitu pula tak semua orang menyanjung durian atau jengkol, bukan? Maka The Raid adalah film yang tersaji untuk memuaskan pencinta aksi seperti ini. Begitu brutal, begitu menyesakkan, hingga duduk manis di kursi bioskop seperti begitu antimainstream rasanya, jika tidak pantat ini meloncat, kaki ingin menendang, mulut teriak, mengikuti sumpah serapah kebun binatang di layar.

Jika misalnya aksi kadang terlihat begitu berlebihan, jangan sedih, ada kejenakaan yang terhimpit dalam beberapa adegan aksi, tertawa saja, padahal sebentar lagi potongan kematian sadis akan muncul. Para pemain muncul sesuai dengan porsinya, maksudnya tidak ada yang perlu tampil mengesankan karena bukan itu yang dijual, aksi silakan ditampilkan. Namun, di balik itu, MVP dari barisan pemain ini adalah seorang Ray Sahetapy. Ketika ia muncul, magnet seperti tidak mau lepas melihat bagaimana ia memainkan seorang bajingan yang di atas kertas tertulis satu dimensi. Namun Om Ray menghadirkannya dengan ketrampilan memainkan gestur, menyulut perangai lihat-saya-pembunuh-berdarah-dingin dengan sempurna, namun tak lupa menyentuh sisi jenaka dengan memainkan intonasi selaras dengan ekspresi yang tak kalah menariknya. Well, siapapun yang akan memerankan karakter Tama Riyadi di versi Hollywood-nya nanti, satu hal yang saya yakini—meminjam ucapan Emily di The Devil Wears Prada—“You have some very large shoes to fill. I hope you know that.” [B+]

Advertisements

3 thoughts on “Review: The Raid

  1. gue udah nonton 2x dan tetap terhibur. dan satu emosi positif yg gw rasakan selain senang dan tegang excited adalah : ada rasa bangga terselip di dalamnya setiap selesai nonton film ini dan baca perkembangannya di luar negeri sana. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s