3rd Annual AwyaNgobrol Awards: The Nominees – Part 2 (Picture/Acting/Writing Category)

Setelah saya berikan daftar nominasi untuk bagian pertama yang memuat sisi teknis, sekarang saya berikan bagian kedua yang memuat film, akting, dan skrip. Ketika saya melihat daftar nominasi yang dipilih, tentu terbersit harapan jika setidaknya ada pilihan saya yang nantinya berhasil diakui oleh Oscar. Namun, tentu bisa dilihat jika kemungkinan itu kecil sekali. Dari barisan nomine akting, masing-masing memiliki satu nomine yang kemungkinan besar akan mendapatkan nominasi Oscar tahun ini, dengan catatan satu nomine di kategori aktris terbaik telah menjadi nomine Oscar tahun lalu. Kategori Best Actor dan Actress adalah kategori yang saya pilih dengan melalui perdebatan alot (caileh!), hingga membuat saya melihat potensi lain yang dimiliki dari masing-masing nomine. Sementara,  di kategori Adapted Screenplay, boleh dikatakan kategori yang paling kurus, minim skrip yang begitu menarik perhatian saya. Baiklah, ini dia pilihan saya kali ini.

__________________

Best Picture

  • “Another Year”
  • “Certified Copy”
  • “Cold Weather”
  • “Jane Eyre”
  • “Martha Marcy May Marlene”
  • “Marwencol”
  • “My Joy”
  • “Nostalgia for the Light”
  • “Senna”
  • “The Tree of Life”
Untuk nominasi Best Picture, seperti biasa, mengikuti daftar sepuluh besar film pilihan saya yang sebelumnya sudah saya umumkan, dan tentu jawara untuk kategori ini sudah pembaca ketahui. Untuk melihat alasan saya memilih sepuluh film tersebut, silakan baca di sini.

__________________

Best Director

  • Clio Barnard, “The Arbor”

Barnard menghadirkan sebuah sisi menarik. Mereka-ulang drama panggung itu, mengarahkan para aktor dengan sempurnanya lewat keapikan gestur dan kesempurnaam mimik dalam memeragakan dialog tersebut.

  • Aaron Katz, “Cold Weather”

Menghadirkan kejenakaan dan kesegaran itu dengan apik. Ketika mengarahkan, Katz menemukan momentum dengan pas. Ia begitu tahu bagaimana setiap adegan harus terjadi. Katz menulis ide, juga memotong tiap bingkai itu dengan mengesankan.

  • Abbas Kiarostami, “Certified Copy”

Berhasil mengubah keyakinan awal dari tutur kata tersebut menjadi puzzle yang diiringi teka-teki pula. Begitu apik mengarahkan Binoche, menempatkan kamera, tentu saja memutar-balik perspektif.

  • Mike Leigh, “Another Year”

Seperti biasa Leigh selalu menggali sisi familiar tersebut dengan rendah hati. Selalu terampil menjerat hati, bahkan pada karakter paling menyebalkan sekalipun kita masih tetap ingin memeluknya. Leigh memotret ekspresi dan ruang dengan sempurna.

  • Terrence Malick, “The Tree of Life”

Proyek ini begitu ambisiusnya. Bagaimana? Berhasil. Jika misalnya telah provokatif menyulut debat panjang, filmnya sendiri telah menghadirkan energi grande tersebut tentang berbagai aspek yang panjang dibincangkan. Lewat film ini, Malick membuktikan kembali bahwa bahasa gambar kadang di atas tuturan kata.

Honorable Mentions: Asghar Farhadi dalam “A Separation”, Weerasethakul yang telah dengan ikoniknya menghadirkan ikan lele dalam “Uncle Boonmee…”, Nicholas Winding Refn yang memperbarui genre lama dan menampilkannya dengan seksi dalam “Drive”, Sergei Loznitza yang rumit dan bertumpuk dalam menghadirkan “My Joy”, serta Patricio Guzman yang menangkap gambar, kemudian merenungi memori dengan memikat dalam “Nostalgia for the Light”.

__________________

Best Actor

  • Ryan Gosling, “Blue Valentine”

Bersama Michelle Williams menceritakan sebuah rumah tangga, tentang masa muda, tentang cinta, tentang gundah. Jika Williams menyulut dengan “ayo berubah”, maka Gosling bertahan, membela diri, membariskan emosi dengan piawai.

  • Woody Harrelson, “Rampart”

Menujukkan karakter yang kurang disukai ini dengan menghadirkan wilayah yang membuat kita runut menyadari sisi manusia. Harrelson memamerkan dimensi karakter tersebut, hingga ke dalam sudut anarkis ataupun rapuh itu.

  • Andreas Lust, “The Robber”

Kita melihat Lust minim berbicara, menarik minat penyimak dari kepiawaian mengolah ekspresi. Bahkan hanya dengan melihat gestur atau mendengar deru napasnya ketika berlari, Lust telah menceritakan tentang karakter tersebut.

  • Peyman Moaadi, “A Separation

Begitu mengesankan hingga seperti melihat sosok ayah sendiri yang berjuang pada kondisi terjepit dan tetap berusaha untuk tampil baik di depan sang anak. Moaadi menciptakan ayah yang tak sempurna hingga kita peduli melihatnya.

  • Brad Pitt, “Moneyball”

Sebagai Billy Bane, Pitt merangkul sosok ini. Ketika muda ia memilih, membuang kesempatan yang sama besarnya, gagal. Dalam sisi ego akan obsesi, tersimpan sisi kebapakan itu. Adegan di toko musik tersebut merupakan sebuah highlight!

Honorable Mentions: Sebelumnya saya sempat skeptis kategori ini akan menghasilkan daftar yang sengit, sampai akhirnya saya kebingungan memilih lima terbaik. Berikut enam lagi yang sempat saya pertimbangkan: ada Kevin Spacey dalam “Margin Call”, Peter Mullan di “Tyrannosaur”, Andi Serkis dengan mo-cap-nya di “Rise of the Planet of the Apes”, boleh dikatakan aktor mo-cap terbaik saat ini (hei, King Kong, hey Gollum!). Sementara Michael Fassbender lewat “Jane Eyre” nyaris mencetak rekor untuk masuk nominasi selama 3 tahun berturut-turut, sementara Rob Brydon “The Trip” dan Brendan Gleeson “The Guard” menghadirkan kejenakaan itu.

_________________

Best Actress

  • Juliette Binoche, “Certified Copy”

Dengan semangat playful tersebut Binoche mengolah keingintahuan penyimak dengan energi yang ia tampilkan. Satu kesempatan ia terlihat ceria, satu kesempatan menggulirkan sisi misterius itu. Pintar sekali mengolah teka-teki, tanpa harus mengumbar rahasianya dengan terburu-buru.

  • Lesley Manville, “Another Year”

Jika memang filmnya sendiri menghadirkan barisan pemain yang begitu memukau, tak kalah lihainya mengolah karakter, maka Manville seketika menjadi perhatian tiap kali muncul di kamera. Ekspresinya brilian. Gesturnya sempurna.

  • Tilda Swinton, “We Need to Talk About Kevin”

Boleh dibilang Swinton saat ini memegang rekor sebagai satu-satunya yang pernah masuk nominasi selama tiga tahun berturut-turut setelah menang di tahun 2009 dan menjadi runner-up di tahun kemarin. Kali ini, sebagai ibu yang tidak kharismatik ini, Swinton mengukuhkan kembali betapa hebatnya membentuk sebuah karakter. Dalam kekelaman yang ada, sempat pula tersimpan kejenakaan itu.

  • Mia Wasikowska, “Jane Eyre”

Penampilan seperti ini urung dilirik sebagian orang karena terlihat pasif, namun Wasikowska begitu terampil dalam wajah halus itu menciptakan Jane Eyre. Gayanya mengolah akting mengingatkan akan seorang Jullian Moore di awal kemunculannya.

  • Michelle Williams, “Blue Valentine”

Bersama Ryan Gosling menceritakan sebuah rumah tangga, tentang masa muda, tentang cinta, tentang gundah. Jika Gosling menyulut dengan “masa bodo”, maka Williams berontak, menuding, membariskan emosi dengan piawai.

Honorable Mentions: Ada Olivia Colman dalam “Tyrannosaur” yang memamerkan beragam emosi, sedangkan Elizabeth Olsen dalam “Martha Marcy May Marlene” terlihat dingin, menyembulkan bakat baru di perfilman Hollywood. Viola Davis dalam “The Help”, Saorsie Ronan dalam “Hanna” dan duo wanita di “Melancholia” yang tak bisa dipisahkan Charlotte Gainsbourg dan Kirsten Dunst.

__________________

Best Supporting Actor

  • Oliver Maltman, “Another Year”

Apa yang menarik? Di satu sisi, Maltman tidak disodorkan peran yang luar biasa mengumbar emosi. Hanya karakter muda kebanyakan di fase pertama menginjak usia tiga puluh tahun. Dalam tingkat biasa itu terlihat begitu alami, hingga perhatikan bagaimna ekspresi kosong nan penuh pertanyaan yang kikuk ketika ia mendapati Mary mengumbar ekpresi kekaguman itu. Di layar Joe mungkin tidak ditempatkan untuk sadar, tapi Maltman berhasil menceritakannya lewat mata itu.

  • Nick Nolte, “Warrior”

Memikat sejak pertama kali muncul. Nolte menghadirkan sisi kesadaran dan penyesalan itu dengan begitu memikat. Seorang bapak, melihat dua jagoannya bertarung, jikapun diandaikan itu sebuah kisah masa kecil, Nolte duduk di sana, mengharukan.

  • Kiefer Sutherland, “Melancholia”

Bersinar lebih mengilap dibanding dua wanita di sekitarnya. Awalnya terumbar emosi dari sisi amarah yang kental, kemudian di paruh kedua terlihat keringkihan akan kesenangan sains itu.

  • Noah Taylor, “Submarine”

Kalaupun jenis ayah seperti ini langka ditemukan, kecuali dunia ini dipimpin seorang Wes Anderson dengan penerus tahtanya seorang Richard Ayoade. Mungkin saja. Lewat bentukan karakter unik ini, Taylor menjelma sebagai sosok ayah yang kadaluarsa di mata istrinya, namun gigih berusaha menjadi inspirasi bagi sang anak.

  • Hugo Weaving, “Oranges and Sunshine”

Setiap kali Weaving muncul, selalu menarik perhatian. Pada sosok lugu yang ia berikan, tersimpan begitu hebatnya raut muka mengoyak emosi. Kita peduli dan kita iba.

Honorable Mentions: Persaingan ketat di kategori ini. Saya menyukai Bruce Greennwood di “Meek’s Cutoff”, Bryan Cranston di “Drive”, Raul Castillo di “Cold Weather”, Brad Pitt di “The Tree of Life” yang bercerita banyak dengan ekspresi, minim dialog, sementara, Shahab Hoseini begitu berkesan sebagai suami penuh amarah dalam “A Separation”.

__________________

Best Supporting Actress

  • Amy Adams, “The Fighter”

Karena jika melihatnya selalu teingat dengan Ashley di Junebug yang lugu dan penuh keriangan, atau raut wajah lugu penuh ketidakpercayaan diri dalam Doubt. Kali ini, matanya membelalak, nakal dan menggoda. “Jambak! Jambak!” seru kita ketika melihat aksi pergumulan sengit itu.

  • Sareh Bayat, “A Separation”

Begitu terampil mengoyak opini, awalnya dari gesturnya meyakinkan bahwa sang majikan begitu keterlaluan, kemudian berbalik memberikan menyulut prasangka. Pada kondisi ini, Bayat berhasil menghadirkan sisi manusia itu sebenarnya.

  • Jessica Chastain, “The Help”

Sepertinya dalam kondisi prolific yang disandangnya, Chastain tengah mencoba meyakinkan publik bahwa—mari kita meminjam perkataan Syahrini—dia itu adalah “sesuatu”. Tidak perlu banyak, cukup penampilannya di sini saja, sudah memikat dengan energi komikal yang ia tampilkan.

  • Elle Fanning, “Super 8” 

Jika sempat terkesima dengan penampilannya di “Somewhere”, maka coba lihat bagaimana Fanning membuat kisah alien ini terasa hidup. Rautnya mengolah ekspresi membenturkan energi muda yang penuh dengan talenta itu. Jika kini ia sudah pernah diarahkan oleh Fincher, Cameron Crowe, JJ Abrams, Sofia Coppola serta Francis Ford Coppola, siapa berikutnya? Tetap selektif, saya begitu tertarik melihatnya diarahkan Stephen Daldry.

  • Mary Page Keller, “Beginners”

Tatapannya sinis. Senyumnya terlihat palsu. Geraknya mengherankan, kadang terlihat jenaka. Dalam setiap keakrabannya berkelakar dengan sang anak, lihat matanya, ada kesedihan yang begitu berat ditutupi.

Honorable Mentions: Mirela Oprisor dan Maria Popistasu dalam “Tuesday, After Christmas”, Vera Farmiga yang menjadi hal paling menarik dalam “Source Code”, Sally Hawkins yang “menyebalkan” dalam “Submarine” dan Sarina Farhadi begitu lugu dan mengharukan dalam “A Separation”.

__________________

 Best Adapted Screenplay

  • Hayao Miyazaki and Keiko Niwa, “Arrietty”
  • Joel & Ethan Coen, “True Grit”
  • Moira Buffini,  “Jane Eyre”
  • Steven Zailian and Aaron Sorkin, “Moneyball”
  • Sylvain Chomet, “The Illusionist”

Tahun ini Sorkin kembali lagi merangsek di kategori ini, namun kali ini berduet dengan Zailian menghadirkan dialog-dialog cerdas dan rumit dalam “Moneyball”. Sementara Coen Bersaudara menceritakan kembali “True Grit”, minim nuansa khas-nya, namun menghadirkan nostalgia. Jika Chomet setia menceritakan nostalgia juga, nuansa melankoli dari adaptasinya terhadap skrip dari Jaques Tati tersebut, maka Miyazaki dan Niwa menghadirkan cerita buku anak-anak popular dengan santun, imajinatif, dan mengharukan. Terakhir, Buffuni hadir dengan menyegarkan “Jane Eyre” tanpa menghilangkan kesan klasiknya.

Honorable mentions: Ada beberapa yang sempat menjadi pertimbangan, termasuk aspek nyeleneh dan jenaka yang dihadirkan Almodovar dalam “The Skin I Live In”, cerita masa muda dalam “Submarine” yang jelas nama Ayoade akan disematkan dengan Wes Anderson. Sementara “The Way Back” juga menarik, meskipun saya harus mengganggap ending tersebut tidak pernah terjadi. Naskah Butterworth dalam “Fair Game” dan sisi seksi dari Amini dalam “Drive” juga sempat menjadi pertimbangan.

__________________

Best Original Screenplay

  • Aaron Katz, “Cold Weather”
  • Abbas Kiarostami, “Certified Copy”
  • Asghar Farhadi, “A Separation”
  • Mike Leigh, “Another Year”
  • Woody Allen, “Midnight in Paris”

Katz menjejali karakter dengan dialog menarik, pop culture itu (Sherlock Holmes itu, Star Trek itu), hingga memusatkan narasi pada adegan yang mengumbar senyum (adegan pembelian cerutu itu!), hingga kemudian menghadirkan kehangatan dalam obroan kakak-adik tersebut. Maka kemudian ada Allen, menyatukan fantasi, mempertemukan tiga abad berbeda, dengan percakapan antar-penulis legendaris tersebut, jenaka, hey, ada Hemingway! Sementara Farhadi menelaah drama yang begitu rapatnya hingga mampu menghadikan dimensi yang kompleks. Sedangkan Leigh berhasil mengajak kita ingin memeluk karakter yang ada, hangat, begitu meneduhkan, kemudian Kiarostami mengundang kita untuk menebak, dengan cerdiknya mengulur teka-teki.

Honorable Mentions: Trio Radulescu, Baciu, dan Muntean dalam “Tuesday, After Christmas” dan trio Cianfrance, Delavigne, dan Curtis dalam “Blue Valentine” memikat dengan dialog saling “hantam” tersebut. Sementara Logan, menampilkan “Rango” dengan jenaka, orisinil, dan berbeda. Jika Mills begitu sederhana menampilkan dialog-dialog tersebut dalam “Beginners”, maka Loznitsya apik menghadirkan “tak-sederhana” itu dalam “My Joy”. 

__________________

Best Animated Feature

  • “Arrietty”
  • “The Illusionist”
  • “Rango”

Tahun ketika Pixar giginya menumpul seperti ini, saya menyimak tiga animasi yang begitu mengagumkan. Nostalgia yang mengharukan dalam “The Illusionist”, dibarengi oleh magisnya Studio Ghibli dalam “Arrietty”. Sementara “Rango” begitu unik, animasi digital yang menyegarkan.

Honorable Mentions:  Di kursi ini saya hanya mempertimbangkan dua animasi, yaitu “Tangled” yang menghadirkan sensasi khas Disney, dan “Winnie the Pooh” yang manis, meskipun durasinya begitu minim.

__________________

Best Documentary Feature 

  • “The Arbor”
  • “Marwencol”
  • “Nostalgia for the Light”
  • “Pina”
  • “Senna”

Jika “Senna” cermat menceritakan dengan runut lewat barisan arsip yang diedit dengan sempurna sehingga cerita tersaji dengan mengesankan, maka “The Arbor” bercerita dengan beda, mengandalkan para penampil untuk berakting dan lipsync. Sementara “PINA” menghadirkan kesan artistik dalam menghantarkan sosok seorang seniman, sementara “Marwencol” memunculkan tragedi menjadi tontonan sebuah penemuan seni. Dari barisan itu ada juga “Nostalgia for the Light” yang bercerita tentang memori, penuh renungan.

Honorable Mentions: “Project Nim” dan “Tabloid” adalah dua kontender yang paling dipertimbangkan untuk masuk kategori ini, selain “Inside Job”, “Waste Land”, dan “Cave of Forgotten Dreams” juga.

__________________

Best Non-English Language Film

  • “My Joy”
  • “A Separation”
  • “The Strange Case of Angelica”
  • “Tuesday, After Christmas”
  • “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives”

Jika “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives” mengukuhkan filmografi Joe tentang sisi yang unik, sederhana namun penuh tema mistis, terlihat berbeda, maka ada “My Joy” dan “The Strange Case of Angelica” yang mengumbar fantasi, yang pertama memotret negeri mengerikan, yang satu memotret kisah cinta yang aneh. Sementara “A Separation” dan “Tuesday , After Christmas” sama-sama bercerita tentang perceraian. Jika yang pertama bercerita begitu kompleks hingga sisi manusia itu tergali, maka yang kedua bercerita tentang bagaimana cinta itu terjadi dan kemudian diakhiri.

Honorable Mentions: “I Saw the Devil” dan “Au Revoir Taipe” adalah wakil dari Asia yang saya sukai. Ada juga “The Kid with a Bike” dari Dardenne Bersaudara dan “The Skin I Live In” yang premiere di Cannes tahun ini, bersama pula ada “Of Gods and Men” dari peraih Grand Prix Cannes tahun 2010 lalu.

__________________

Dengan ini, kategori utama (kategori yang berdasar dari Oscar) untuk AwyaNgobrol Awards tahun ketiga ini sudah diumumkan. Mari coba kita hitung total nominasi yang didapat bersamaan dengan kategori teknis sebelumnya. “Another Year” memimpin dengan tujuh nominasi, disusul oleh “The Tree of Life” dan “Cold Weather” dengan enam nominasi. Sementara “The Illusionist” mengumpulkan lima nominasi, kemudian disusul oleh “A Separation” dan “Certified Copy” mengumpulkan empat nominasi masing-masing.

Sampai di sini untuk nominasi bagian kedua. Untuk nominasi bagian ketiga, jika tidak ada aral melintang akan diumumkan akhir minggu ini. Jadi untuk yang ingin tahu apa saja poster terbaik, ensemble terbaik, hingga adegan terbaik versi saya, silakan ditunggu kelanjutannya.

Advertisements

2 thoughts on “3rd Annual AwyaNgobrol Awards: The Nominees – Part 2 (Picture/Acting/Writing Category)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s