3rd Annual AwyaNgobrol Awards: The Nominees – Part 1 (Craft/Technical Category)

Setelah kemarin saya berikan film-film pilihan saya di tahun ini, maka sekarang saatnya saya mengumumkan nominasi dari ajang penghargaan “this-is-so-fun-to-do” alias AwyaNgobrol Awards yang sekarang menginjak tahun ketiganya. Jadi bagi yang belum sempat mengenal edisi sebelumnya, saya memiliki dua kategori, yaitu kategori utama yang mengadopsi Oscar dan kategori spesial yang lebih mengarah pada sub-kategori yang saya gabungkan dari berbagai kategori khusus di ajang-ajang sejenis, dengan catatan, tahun ini ada beberapa kategori yang dihapus. Untuk tahun ini film yang masuk kualifikasi adalah film-film yang disimak pada rentang 1 Januari-25 Desember 2011.

Untuk tahun ini sedikit berbeda karena kategorinya akan diumumkan dalam tiga postingan berbeda, dilengkapi dengan ulasan mengapa saya memilih nomine tersebut.

Untuk edisi sebelumnya bisa dilihat di sini: Nominees and Winners (2009), Nominees and Winners (2010).

Sekarang, mari kita mulai dengan memberikan apresiasi pada craft/technical category. Inilah pilihan saya tahun ini.

______________________


Best Art Direction/Production Design

  • Antxon Gomes, “The Skin I Live In”
  • Christian Marti and Jose Pedro Penha, “The Strange Case of Angelica”
  • Jack Fisk and Jeanette Scott, “The Tree of Life”
  • Jacques Arhex, “The Illusionist”
  • Simon Beresford & Sophia Showdhury, “Another Year”

Jika Oscar masih tetap memakai istilah “art direction” dalam kategori ini meskipun yang diberikan penghargaan adalah production designer dan set decorator-nya (art director hanya dihitung jika tidak ada production designer di daftar crew). Memang banyak yang mengusulkan agar kategori ini diganti menjadi “best production design” meskipun sebenarnya nama “art direction” cenderung lebih familiar.

Pilihan saya untuk tahun ini tentu tidak terlepas dari bagaimana piawainya sang set decorator dan production designer menciptakan ruang yang menangkap atmosfir yang bisa dibidik dengan menawan oleh sang sinematografer. Dalam The Skin I Live In, Gomes memesona, karena, well, Almodovar selalu memanjakan mata dengan selera warna pastel, kemudian terbentuk kesan putih dalam aspek ekperimental ruang operasi tersebut. Sementara dalam The Strange Case of Angelica, lihat bagaimana bentuk kamar Isaac terlihat, atau bagaimana deretan foto dipajang, hingga bahkan kursi panjang tempat Angelica dibaringkan begitu menarik perhatian ketika dipotret. Ada pula Jack Fisk, teman setia Malick dalam menciptakan set (coba ingat betapa memesona set pada Days of Heaven itu), bersama Scott membentuk sudut-sudut yang begitu sempurna dipotret oleh Lubezki. Dalam bentuk berbeda, saya terkesima pada goresan cat air dalam The Illusionist yang mewakili animasi di sini. Oscar mungkin sulit menominasikan animasi (meskipun dalam ballot saya pribadi art direction dalam “Ratatouille” dan “Wall-E” mungkin pilihan jawara saya  di tahun rilisnya). Detail yang ditampilkan Arhex pada tampilan Edinburgh di era 50-an begitu menawan. Terakhir dari sisi kontemporer, Another Year begitu sulit untuk dilupakan. Interior dapur, meja makan, kursi di halaman, begitu sederhana, meskipun ruang terlihat sempit namun nada yang ditampilkan begitu selaras dengan deret gambar menarik. Rasanya ingin berkunjung ke rumah mereka.

Honorable mentions: Saya menyukai detail pangggung pada “PINA” termasuk pemilihan tempat untuk tari tersebut ditampilkan. Sementara “Jane Eyre” hadir dengan ornamen klasik yang tak kalah detailnya. Kemudian “Heartbeats” hadir seperti meminjam energi Almodovar. Di lain hal “Midnight in Paris” mengesankan dengan set tiga abad berbeda, sementara “Mission Impossible: Ghost Protocol” mengesankan saya dengan aspek futuristik itu.

______________________

Best Cinematography

  • Andrew Reed, “Cold Weather”
  • Emmanuel Lubezki, “The Tree of Life”
  • Helene Louvart, “PINA”
  • Manuel Elbarto Claro, “Melancholia”
  • Yukontorn Mingmongkon and Sayombhu Mukdeeprom, “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives”

Salah satu craft yang saya paling sukai dan sering cermati karena tentu mata harus dimanjakan dengan bidikan gambar tersebut. Jika Claro dalam “Melancholia” terampil menyuguhkan gambar-gambar menawan di kala malam (dan juga slow-motion itu), Mingmongko dan Mukdeeprom tak kalah menawan memberikan kesan hijau, gelap, misteriusnya sudut dari hutan dalam “Uncle Boonmee…”. Sementara Louvart (PINA) menyorot gerak hingga begitu terlihat cantik, dan Lubezki (The Tree of Life) memesona dengan tampilan suburban yang dibidik. Sedangkan Reed (Cold Weather), dengan budget yang minim, berhasil bersanding dengan empat rivalnya sebagai salah satu yang terbaik tahun ini.

Honorable mentions: Saya menyukai fotografi dalam “Drive” (adegan dalam elevator itu!), warna pastel yang kentara dalam “Heartbeats” dan “The Skin I Live In”,  aspek meditatif dan puitis dalam “Nostalgia for the Light”, sementara “Martha Marcy May Marlene” menyimpan fotografi misterius, sendu di beberapa sudut.

______________________


Best Costume Design

  • Michael Kaplan, “Burlesque”
  • Michael O’Connor, “Jane Eyre”
  • Paco Delgado, “The Skin I Live In”
  • Sonia Grande, “Midnight in Paris”
  • Xavier Dolan, “Heartbeats”

Pemilihan warna dari Dolan (Heartbeats) tak dipungkiri menjadi salah satu yang menonjol dalam film tersebut. Pun dengan Delgado (The Skin I Live In) yang banyak bermain dengan warna. Sementara pemilihan Grande mendandani barisan cast dalam “Midnight in Paris” juga menarik, terutama pemilihan setelan necis pada pemain prianya. Jika Kaplan (Burlesque) terampil memamerkan desain haute couture modern di panggung, O’Connor (Jane Eyre) setia menampilkan desain itu pada tampilan klasik.

Honorable mentions: Saya menyukai desain 80-an pada “The Fighter” dan desain 50-an dalam “The Help” yang begitu mengingatkan dengan seri “Mad Men”. “PINA” muncul dengan desain yang menyatu dengan gerak tari, sedangkan “We Need to Talk about Kevin” menarik dalam mendandani Tilda Swinton pada aspek before and after. Kemudian ada “Drive” yang tampil seksi meskipun terlihat lusuh, siapa yang kini tidak tertarik memiliki jaket itu?

______________________

Best Film Editing

  • Aaron Katz, “Cold Weather”
  • Bahman Kiarostami, “Certified Copy”
  • Chris King and Gregers Sall, “Senna”
  • Hank Corwin, Jay Rabinowitz, Daniel Rezende, Billy Weber, and Mark Yoshikawa, “The Tree of Life”
  • Jon Gregory, “Another Year”

Bahman Kiarostami begitu sabar mengulur cerita, hingga memotong dengan cerdik misteri itu menjelang akhir. Sementara lima sekawan di balik “The Tree of Life” memamerkan potongan cepat dan singkat yang dipadukan dengan bidikan statis pula. Kerja King dan Sall dalam “Senna”patut diberi tepuk tangan karena memilih arsip footage yang lamanya 15.000 jam tersebut menciut menjadi porsi yang kita simak di layar, dengan storyline yang menggugah. Gregory membuat “Another Year” terlihat hangat dengan sabarnya memotong cerita ke dalam empat musim, dan Katz menghadirkan kecermatan itu, mumblecore+plot, seperti ini uniknya.

Honorable mentions: Saya menyukai bagaimana “127 Hours”, “The Fighter”, dan “Hanna” memompa adrenalin dalam fase yang diberikan. Sementara “Blue Valentine” menawan menampilkan aspek before & after itu. “My Joy” dengan cermat berhasil membingungkan pikiran.

______________________

Best Make Up & Hair

  • “Harry Potter and the Deathly Hallows Part II”
  • “Insidious”
  • “The Way Back”

Ketiga film di nominasi ini mengesankan karena salah satunya terletak pada orang-orang di ruang rias. Jika “Insidious” menyeramkan dengan makhluk-makhluk yang hadir, maka seri Harry Potter membentuk perang pamungkas dengan detail kusam pada penghuni Hogwarts serta tampang menakutkan dari Voldemort. Sementara “The Way Back” menampilkan perubahan kronologis itu.

Honorable mentions: Riasan dalam “The Fighter” serta tata rambut para wanita itu benar-benar meyakinkan. Begitu pula dari sisi klasik dalam “True Grit” dan “Jane Eyre” juga menarik perhatian saya.

______________________

Best Original Score

  • Cliff Martinez, “Drive”
  • Dustin O’Halloran, “Like Crazy”
  • Keegan DeWitt, “Cold Weather”
  • Sylvain Chomet, “The Illusionist”
  • Tom Rowlands and Ed Simmons, “Hanna”

“Drive” dan “Like Crazy” membekas karena pemilihan musik yang dilengkapi dengan soundtrack pilihan yang cermat. Jika score dari Martinez terdengar lebih misterius, maka O’Halloran menguak sisi mendayu dengan aksen pop. DeWitt menyelaraskan atmosfir “Cold Weather” dengan melodi yang khas. Sementara Chomet menghidupkan “The Illusionist” lebih banyak dengan iringan score-nya yang melankolis, sebaliknya Rowlands dan Simmons membuat “Hanna” terasa menggelegar.

Honorable mentions: Saya menyukai karya Dario Marianelli di “Jane Eyre” meskipun tak semenarik musiknya di “Atonement”.  “127 Hours” di tangan A.R. Rahman terkesan meditatif dan muda secara bersamaan. “The Skin I Live In” memiliki sentuhan melodi yang misterius dan elegan secara bersamaan. “True Grit” mengalun merdu dengan hymne yang tersaji. Sementara score dalam “Snowtown” terdengar suram dan menakutkan.

______________________

Best Original Song

  • “Chanson Illusioniste” from “The Illusionist”
  • “If I Rise” from “127 Hours”
  • “Star Spangled Man” from “Captain America: the First Avenger”
  • “The Living Proof” from “The Help”
  • “Welcome to Burlesque” from “Burlesque”

“If I Rise” tentu terdengar sendu, coba selaraskan dengan filmnya sendiri, sedangkan “Welcome to Burlesque” mewakili lagu kabaret dari filmnya. “Chanson Illusioniste” terdengar manis. Jika ‘The Living Proof” terdengar sendu, khas ballad untuk merangkum isi cerita, maka “Star Spangled Man” berisi semangat heroik.

Honorable mentions: Tentu tak lengkap tanpa menyebut “I Haven’t Seen the Last of Me” dan “Express” (Burlesque), serta “I See the Light” (Tangled) dengan melodi khas dari Menken. “Me and Tenesse” (Country Strong) menghadirkan kehangatan genre musik ini.

______________________


Best Sound Editing 

  • “Hanna”
  • “Mission Impossible: Ghost Protocol”
  • “Rango”
  • “Rise of the Planet of the Apes”
  • “Transformers: Dark of the Moon”

Jika “Mission Imposible: Ghost Protocol” begitu seduktif dengan desain dan kreasi bunyi untuk gadget futuristiknya membuat telinga gatal, maka “Transformers: Dark of the Moon” bombastis memamerkan bunyi robot, pertumbukan dalam perang epik tersebut. Pun “Rise of the Planet of the Apes” juga menghadirkan suasana tersebut (hey, suara kera itu!). Jika “Hanna” terampil dengan bunyi pistol, baku hantam, dan panah, maka “Rango” selaras dengan ceritanya, unik, desain bunyi jatuhnya air, atau bahkan pertarungan sengit tak lepas dari desain unik efek bunyi yang dikreasikan.

Honorable mentions: Bunyi alien dan kereta api dalam “Super 8”, dentuman pesawat pada “X-Men: First Class”, tembakan membabi-buta dalam “True Grit”, bunyi-bunyi menakutkan dalam “Insidious”, dan efek sihir pada “Harry Potter and the Deathly Hallows Part II” adalah desain bunyi yang saya juga sukai.

______________________

Best Sound Mixing 

  • “Hanna”
  • “Martha Marcy May Marlene”
  • “Mission Impossible: Ghost Protocol”
  • “The Robber”
  • “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives”

“Hanna” dan “Mission Impossible: Ghost Protocol” sama mengombinasikan efek bunyi dengan paduan score dan dialog dengan rapi, keduanya bisa terdengar menonjol pada beberapa kesempatan, sedangkan “Uncle Boonme…” menampilkan atmosfir hutan lewat bunyi, tahu dengan cermat ketika sepi harus dihadirkan atau bunyi serangga diperdengarkan. Sama dengan “Martha Marcy May Marlene” yang mengambil pendekatan menghantui dengan kesan sepi, diriingi score yang misterius. Kemudian “The Robber” hadir dengan paduan yang atmosferik dengan deru napas itu, bunyi helikopter itu, kemudian di satu kesempatan ada deru terengah-engah berlari, lalu dipadu alunan opera mengiringi.

Honorable mentions: Kombinasi misterius dan gelap dalam “Snowtown” membuat bergidik jika mendengar perbaduan score dengan dialog itu. “127 Hours” memadukan suara air, udara dan sesaknya terjebak di dalam ruang sempit. Sementara “The Tree of Life” membekas dengan perpaduan opera, sedikit sentuhan Desplat, dan suara dinosaurus itu masih terngiang. Sedangkan “Transformers: Dark of the Moon” dan “Rango” memadukan desain kreasi bunyi dan score dengan apik, sehingga terasa sinematik.

______________________

Best Visual Effect

  • “Harry Potter and the Deathly Hallows Part II”
  • “Mission Imposible: Ghost Protocol”
  • “Rise of the Planet of the Apes”
  • “The Tree of Life”
  • “Transformers: Dark of the Moon”

Efek yang memesona dalam seri terakhir Harry Potter adalah yang terbaik dari serinya, sementara “Rise of the Planet of the Apes” mengagumkan dengan motion capture-nya serta baku hantam di jembatan tersebut. “The Tree of Life” menampilkan sensasi yang mengingatkan dengan filmnya Kubrick. Sementara itu Bay akan selalu diingat dengan efek bombastis dari seri Transformers, “Mission Imposible: Ghost Protocol” hadir dengan efek dengan energi futuristik.

Honorable mentions: Efek dalam “X-Men: First Class”, efek epik di negeri kerajaan dalam “Thor”, dan “Super 8” masih membekas dengan ledakan kereta api itu. 

______________________

Sudah. Segitu dulu untuk bagian pertama ini. Skor sementara, “The Tree of Life” memimpin dengan empat nominasi, disusul oleh “Cold Weather”, “Mission Impossible: Ghost Protocol”, “The Illusionist”, dan “Hanna” dengan tiga nominasi masing-masing. Untuk bagian kedua akan masuk pada kategori film, akting, dan skrip. Sedikit bocoran, untuk kategori Best Actress terjadi persaingan sengit, saya masih kelimpungan siapa saja yang berhak masuk ke lima besar. Daftar contender-nya benar-benar bersaing ketat. Ditunggu saja ya.

Advertisements

One thought on “3rd Annual AwyaNgobrol Awards: The Nominees – Part 1 (Craft/Technical Category)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s