A Bunch of Gems: Awya’s Best Films of 2011

“What a year!”, begitu riuh yang saya dengar lewat gemuruh maya di internet tentang etalase film-film di tahun ini. Boleh jadi demikian, saya pun begitu merasakan hal tersebut hingga rasanya untuk memilih sepuluh saja begitu sulitnya. Jika tahun lalu saya memilih lima belas film untuk honorable mention, maka tahun ini saya memilih enam belas film. Sebelum beranjak ke daftar tersebut, mari coba saya menengok ke belakang selama setahun ini. 

Dari panasnya persaingan bioskop musim panas, “X-Men: First Class” menjadi film favorit saya di antara lemahnya film-film musim panas yang beredar tahun ini (bukti sebagai tahun dengan akumulasi box-office terkecil sejak 15 tahun silam bisa dilihat). Sementara “Mission Imposible: Ghost Protocol” adalah kejutan di akhir tahun yang menyumpal keraguan saya akan Brad Bird (masih menjadi animator favorit saya dari Pixar), telah berhasil menghadirkan suasana fun yang selalu diinginkan di dalam bioskop.

Jika melihat dari ranah festival, boleh dikatakan tahun ini tahun kurang menggembirakan bagi saya mengingat auteur-auteur yang saya sukai filmnya tidak begitu meninggalkan kesan tahun ini. Mulai dari “Melancholia” yang saya sukai di beberapa aspek teknis dan masih merasa bagian pertama dari film ini begitu lemah. Sementara “The Skin I Live In” juga saya kagumi dari sisi teknis, namun kejenakaan dan keanehan itu belum berhasil menarik hati saya. Terakhir adalah kekecewaan saya terhadap “We Need to Talk about Kevin” yang, well, saya harapkan akan mengulang kemenawanan “Morvern Callar”, namun magis itu hilang, seperti menonton film orang lain, bukan Ramsay.

Di balik itu, saya begitu senang karena tahun ini menyimak sebelas dokumenter dan semuanya begitu saya sukai, hingga rasanya sulit untuk meninggalkan “Tabloid” dan “Project Nim” dari daftar ini. Saya juga ingin sedikit menyinggung jika film yang saya pertimbangkan adalah film yang minimal rilis secara internasional (world premiere) pada 2010. Maka, dengan berat hati saya harus menyingkirkan “Daddy Longlegs” yang baru saya sadari telah premiere di Cannes tahun 2009 lalu, padahal film ini sebenarnya masuk sepuluh besar saya di daftar awal.

Baiklah, mari kita mulai dengan enam belas honorable mention yang diurutkan secara alfabetis.

[Honorable Mentions]:

“THE ARBOR” Menjadi tontonan paling kreatif dan unik selama setahun ini. Berhasil memberikan gaya baru dalam menyajikan sebuah dokumenter. Rekonstruksi drama panggung itu, begitu fasihnya para cast menampilkan ekspresi dan mimik selalu meyakinkan kita seolah melihat orang aslinya.

“ARRIETTY” Debut penyutradaraan dari Hiromasa Yonebayashi ini begitu menarik ketika setidaknya kita bisa melihat Studio Ghibli masih menyelipkan generasi baru untuk meneruskan jejak Miyazaki ke depan. Arrietty tentu menjadi salah satu adaptasi yang begitu mengesankan. Imajinatif, penuh dengan hati.

“BLUE VALENTINE” Memotret kisah rumah tangga yang berumur masih hijau. Begitu depresif terkadang, begitu manis tak lupa menyelip. Diperankan oleh dua pelakon yang begitu menjanjikan, film ini akan diingat oleh penampilan bravura mereka.

“DRIVE” Begitu seksi hingga bahkan kejar-kejaran dengan polisi bisa menjadi produk candu baru. Nicholas Winding Refn memoles Drive dalam sentuhan yang begitu menarik. Terutama mengukuhkan Ryan Gosling sebagai bintangnya. Balutan musik, fotografi, berakhir dengan sebuah sinema yang mengesankan.

“HANNA” Dulu skeptis jika seorang yang piawai memoles drama period seperti Joe Wright bisa menghidupkan koreografi aksi seperti ini. Kemudian Hanna muncul di kuarter pertama awal tahun, terbukti sutradara ini memang mampu. Ada Saorsie Ronan yang memesona, ditemani oleh iringan dari The Chemical Brothers yang menggelegar.

“THE ILLUSIONIST” Surat cinta manis untuk mendiang Jaques Tati dalam bentuk artistik dan alur yang begitu melankoli dihadirkan oleh Sylvain Chomet yang mengadatasi skrip asli dari sosok yang sering disebut sebagai versi Perancis dari Chalie Chaplin ini. Penuh nostalgia, hingga rasanya ingin menyimak Mon Oncle dan Play Time kembali.

 “THE KID WITH A BIKE” Masih sama seperti film-film Dardenne sebelumnya, memotret kemiskinan dari sudut seorang anak kecil—seperti dalam The Son sebelumnya—yang tentu menyimpan hati yang besar. Adegan menjelang film berakhir berhasil menampar rasa kaget.

“LIKE CRAZY” Kisah tentang dua sejoli yang begitu gilanya ini tentu akan menyambut kesan yang berbeda di sebagian orang. Dalam konteks gila atau begitu cintanya tersebut, boleh saja menggangap mereka begitu hijau, belum matang tentang hidup sebenarnya. Kemudaan itu seperti terbayar ketika melihat adegan penutup.

“MONEYBALL” Sebenarnya tidak seperti film olahraga kebanyakan yang hanya memiliki sisi from zero to hero, film ini bercerita tentang Billy Bane, tentang sosok yang terseok dan gagal di masa muda. Kini menuntun sisi berbeda tentang keyakinan, ambisi, dan kecintaannya pada sang anak.

“PINA” Cantik, berwarna, artistik, semakin memperkaya dokumenter menawan tahun ini. Bersanding dengan The Arbor dalam memberikan aspek baru dalam menceritakan dokumenter. Menceritakan seorang seniman yang aktif mengawasi gerak tubuh dan mengolahnya dalam tarian kontemporer.

“RANGO” Unik sekali seperti temuan baru yang segar dalam animasi digital yang belakangan hanya dirajai oleh Pixar dan Dreamworks. Sepertinya saya akan setia menantikan jika Gore Verbinski berniat membuat animasi lagi.

“A SEPARATION” Sinema Iran selalu memesona saya karena begitu piawai menampilkan kisah-kisah humanis yang tentu menyulut hati untuk terlibat di dalamnya. Begitupun dengan karya Asghar Farhadi yang dipenuhi dengan barisan penampilan memukau ini.

“THE STRANGE CASE OF ANGELICA” Film pertama saya berkenalan dengan Manuel De Oliveira ini merupakan sebuah keasyikkan sendiri. Sisi absurd, kejenakaan yang tak biasa seperti ini selalu menjadi sebuah tontonan yang menarik.

“TUESDAY, AFTER CHRISTMAS” Jarang melihat film yang mengangkat tema seperti ini hadir tanpa berujung menghakimi dan membombardir dalam lingkup yang super-dramatis. Film ini menyudut pada sebuah potret yang harus dilihat dengan lebar, dari dua mata yang bersamaan, bukan menyudut.

“UNCLE BOONMEE WHO CAN RECALL HIS PAST LIVES” Misterius dengan aksen mistis yang kental, Joe mengukuhkan diri sebagai auteur kebanggan Asia saat ini. Jika misalnya tiap aspek sufi yang ditampilkan kadang terasa familiar, maka ada kesamaan di sana. Ikan lele itu sebuah highlight!

“WARRIOR” Tipikal buddy-movie dengan energi bromance yang disudutkan sebagai antitesis. Ketiga karakter utama tersebut satu darah, maka melodramanya benar memang klise, namun rela rasanya menerima keharuan itu.

________

(setelah menyimak enam belas film yang masuk dalam honorable mentions, sekarang saatnya saya berikan, uh, sepuluh film terbaik pilihan saya tahun ini)

________

[Top Ten]

#10

“MY JOY”

Directed by Sergei Loznitsa

Terlihat sinis akan negeri komunis tersebut, rasanya negeri horor yang mengerikan. Dalam loncatan waktu dan kebingungan yang Sergei Loznitsa hadirkan, muncul beragam sensai unik. Mulai dari pelacur yang masih muda, polisi yang luar biasa menyebalkan, hingga waktu berganti ke dalam detail yang rumit dan membingungkan. Sinis memang, tapi fantasinya begitu menakutkan.

#9

“SENNA”

 Directed by Asif Kapadia

Memang pujian harus diberikan pada orang-orang di meja editing yang berhasil merangkai barisan arsip footage dari sosok kebanggaan Brazil ini. Begitu memesona karena Kapadia lihai merangkai cerita, lengkap dengan menggabungkan aspek kompleks dari sosok seorang Ayrton Senna. Entah itu perseteruannya dengan koleganya sesama team hingga aspek religinya yang malah menjadi bahan lelucon. Bahkan bagi orang yang awam tentang balap mobil seperti ini, Kapadia telah mengenalkan sosok kharismatik yang membuat kita percaya, mengapa jutaan orang mencintainya.

#8

“ANOTHER YEAR”

Directed by Mike Leigh

Kehangatan keluarga yang ditampilkan tidak mampu menggerus betapa mengesankannya film ini, bahkan ketika digempur oleh film-film baru sekalipun. Terkadang saya ingin rasanya memiliki kefasihan merangkai dialog seperti Leigh, atau menulis karakter yang menarik seperti dalam film-filmnya. Another Year yang dipisahkan oleh musim dalam penceritaannya ini, mengukuhkan kembali Mike Leigh sebagai auteur yang fasih mengolah dialog dan cermat memilih pemain.

#7

“MARTHA MARCY MAY MARLENE”

Directed by Sean Durkin

Selalu saja ada benih yang muncul lewat Sundance. Kali ini ada Sean Durkin dengan misteri yang dibungkus dengan aspek psikologi ditemani oleh sensasi menggembirakan melihat benih lain dari seorang rising star seperti Elizabeth Olsen. Jika Martha Marcy May Marlene pertama kali menjerat saya karena judulnya yang menarik untuk dilafalkan, maka filmnya kemudian meninggalkan sentuhan, mencengkeram, entah siapa yang seolah hadir menghantui dari belakang.

#6

“JANE EYRE”

Directed by Cary Fukunaga

Literatur klasik selalu menjadi hidangan favorit saya. Pun dengan Jane Eyre besutan Cary Fukunaga kali ini. Seringkali kita lihat dalam berbagi versi, terlalu familiar memang, namun Fukunaga piawai menyelaraskan suasana suram yang dikreasikan Emily Bronte. Apalagi pemainnya, Wasikowska dan Fassbender serasi sebagai Eyre dan Rochester.

#5

“MARWENCOL”

Directed by Jeff Malmberg

Potret yang memesona tentang hidup. Tentang masa ketika ajal sebenarnya telah bertamu, namun di balik itu menyimpan misteri tentang keunikan lain ketika sebuah seni tanpa sadar tengah diciptakan. Dokumenter ini memotret Mark Hogancamp yang mengalami koma setelah lima orang memukulinya ketika keluar dari bar, kehilangan memori, magisnya menciptakan seni selama terapi yang ia jalani. Debut dari seorang Jeff Malmberg yang diselesaikan dalam kurun waktu empat tahun ini, membidik cerita unik, aneh kadangkala,  dan dengan lihainya menampilkan sosok Mark dan kota fiktif Perang Dunia II-nya sehingga kita tahu dua sisi dari obsesi dan seni.

#4

“THE TREE OF LIFE”

Directed by Terrence Malick 

Kehadiran film ini di daftar saya sudah bukan sebuah rahasia lagi jika sempat membaca kekaguman saya sebelumnya. Proyek grande penuh dengan sisi personal ini terkadang akan dituduh bahwa Malick begitu memuaskan dirinya sendiri. Namun, Malick, dalam sisi yang mengutub ini setidaknya telah membuka ruang debat tentang bagaimana sinema bisa menghadirkan sisi yang begitu bedanya. Entah itu menggerutu mengapa harus ada dinosaurus, mengapa harus seabsurd ini, Malick telah dengan indahnya memotret sebuah puisi yang diapresiasi tidak dari bagaimana pintarnya sesosok berdeklamasi, namun dari piawainya ia mengukir itu semua dalam deretan foto yang memesona.

#3 

“NOSTALGIA FOR THE LIGHT”

Directed by Patricio Guzman

Bercerita tentang memori, bercerita tentang kesukaan itu tentang astronomi, film ini sempat membuat saya merenung tentang sisi ruang dan waktu. Jika dikatakan mengharukan, tidak juga. Patricio Guzman menghadirkan kedukaan itu dalam sudut melankoli yang puitis. Jadi, percayakah bahwa kita hidup dalam masa lampau, meminjam retorika dalam grammar itu, “present” hanya ada dalam pikiran saja? Saya kembali merenung.

#2

“COLD WEATHER”

Directed by Aaron Katz

Energi muda, energi 20-tahunan seperti ini selalu ingin saya pajang di tembok kamar agar terlihat segar dan jenaka tiap harinya. Katz, merangkai nuansa mumblecore tersebut dengan menyisipkan plot jenaka tentang dua pemuda yang menjelma sebagai Holmes dan Watson versi amatir, lengkap pula diracik Katz dengan bumbu “kebetulan” atau “wah-saya-tahu-maksud-kode-ini” khas film detektif yang muncul dalam pop culture sehari-hari. Memesonanya bukan di situ saja, namun Katz menghadirkan sisi lain dari film ini, yaitu hubungan kakak-adik yang berhasil membuat kita ingin memeluknya. Obrolan mereka di mobil itu sambil menguyah permen jelly mengingatkan ketika kita mengobrol santai dengan saudara sambil menguyah rujak mangga meskipun bercerita ngalor ngidul. Sederhana sekali, namun begitu hangat.

#1

“CERTIFIED COPY”

 Directed by Abbas Kiarostami

Ketika membuat daftar ini, posisi puncak ini yang paling gampang saya putuskan, bahkan tetap bertahan sampai penutup tahun setelah saya menempatkannya di posisi pertama enam bulan lalu juga. Jika sepanjang film kita dibuat teringat akan percakapan dalam Before Sunrise/Sunset, romantisme yang mengukir obrolan cerdas, maka tunggu dulu hingga Kiarostami membungkus rahasia mungil yang begitu besar efeknya ketika dari sebuah olesan lipstick, Binoche memeragakan ambiguitas dengan uniknya. Terlihat kesan Through the Olive Trees itu sejenak, romansa yang Kiarostami ukir hanya lewat pantulan cahaya mata. Lewat Certified Copy, mata dan gestur itu mengelabui. Tak urung untuk terus bertanya dengan sudut terpesona, siapa mereka sebenarnya?

Recap

10 Best Films of 2011:

  1. Certified Copy
  2. Cold Weather
  3. Nostalgia for the Light
  4. The Tree of Life
  5. Marwencol
  6. Jane Eyre
  7. Martha Marcy May Marlene
  8. Another Year
  9. Senna
  10. My Joy

Demikian rangkuman akhir tahun film pilihan saya kali ini. Simak kelanjutannya dalam AwyaNgobrol Awards yang nominasinya akan diumumkan secara terpisah dengan commentary masing-masing. Pertama adalah technical/craft category, kemudian disusul dengan acting/picture/screenplay category, dan terakhir adalah special category. Ditunggu saja.

Advertisements

10 thoughts on “A Bunch of Gems: Awya’s Best Films of 2011

  1. Yey Certified Copy pas bangeet bli..ada pesona yang selalu hadir pun ditonton berulang ulang..And ANOTHER YEAR..!!*Terharu

  2. APAAA?
    dan bahkan … the deathly hallows part II gak ada di list honorable mention, padahal kan part I nya taon lalu ada 😦
    tapi tetep seneng, ada warrior 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s