Flm Sepekan: We Need to Talk about Pina, Almodovar’s and Snowtown

Kita mulai rangkuman film sepekan ini dengan bertemu Pina (B+/B), dokumenter dari Wim Wenders yang semakin memperkaya sisi eksekusi berbeda dalam menceritakan sebuah dokumenter—setelah sebelumnya melihat The Arbor yang unik pula—dengan menghadirkan tarian sepanjang durasi berlangsung. Sebuah tontonan yang berhasil memanjakan mata dengan fotografi yang menawan. Paduan warna yang beragam hingga selaras dengan tarian kontemporer yang diperagakan. Cukup berani Jerman mengirim film ini berlaga di kancah Oscar, mengingat dokumenter sulit meraih perhatian. Namun, untuk sementara Pina masih melenggang masuk shortlist, andil dari komite eksklusif sepertinya berperan besar jika film ini berhasil masuk ke lima besar. 

Kadang menyimak sebuah film tanpa membaca resensinya hanya dengan mengandalkan bahwa beberapa orang merekomendasikan bahwa film itu bagus bisa memberikan pengalaman menonton tersendiri. Hal ini yang saya alami ketika menyimak Snowtown (B), film dari Australia yang meraih Special Mention pada International Critic’s Week di Cannes tahun ini. Terlihat sadis, hingga saya baru mengetahui ketika film berakhir bahwa berdasar atas kisah nyata pembunuhan berantai yang terjadi di Snowtown. Fotografi yang sendu diiringi dengan lantunan score yang terdengar misterius berhasil menghantui sepanjang durasi. Terlebih melihat keluguan sang karakter yang terpaksa menjelma from good to evil ini digambarkan dengan begitu apik.

Melanjutkan film dari festival Cannes, saya akhirnya menyimak We Need to Talk about Kevin (B/B-), bisa dibilang sebuah kekecewaan. Sebagai penggemar berat Morvern Callar (posisi 11 di dekade 2000-an), film ini kehilangan sentuhan Ramsay pada Morvern Callar yang terlihat simbolis dengan nada melankoli namun memberikan aspek misterius yang begitu memesona tersebut. Saya tidak tahan mendengar pilihan lagu di film ini. Meskipun boleh diakui Tilda Swinton begitu menawan seperti biasanya. Editing cepat dan pendek dalam film ini bersaing dengan The Tree of Life sebagai yang paling apik. Andai saja pembuka film ini (yang nuansanya terasa seperti menyimak Morvern Callar) berlangsung sampai akhir, mungkin akan muncul impresi berbeda.

Di lain hal, saya kadang mengutuki diri sendiri karena meskipun telah menyimak nyaris seluruh karya Pedro Almodovar namun tetap saja bergunjing masalah sisi “kebetulan” yang terjadi. Hello, he’s a master of artsy soap-drama, y’all. Begitu yang terjadi dengan The Skin I Live In (B), siap-siap harus mendeteksi yang mana sebenarnya berisi hubungan dekat dan seperti apa twist yang akan muncul. Meskipun demikian, seperti biasa, retina kita akan begitu suka menyimak gambar yang Almodovar berikan. Bahkan, aspek erotis yang tersaji terlihat manis dan jenaka secara bersamaan. Adegan orang menyanyi kembali lagi muncul. Tidak secantik ketika kita mendengarkan Cucurrucucu Paloma dalam Talk to Her atau semagis ketika melihat Raimunda bernyanyi (Volver) memang, namun tetap bumbu pelengkap yang akan terasa hambar jika tidak disertakan.

Sebelumnya saya juga sempat memberikan nilai untuk beberapa film di Twitter. Ada The Help (B), Margin Call (B-), Tyrannosaur (B), Martha Marcy May Marlene (B+)—namun sepertinya akan naik menjadi (A-)—kemudian ada Win Win (B) dan My Joy (A/A-).

Untuk Long List sudah di-update kembali, namun untuk Special Category tidak lagi disertakan karena beberapa sub-kategori akan mengalami perubahan. Untuk top ten list tahunan sudah dimulai dari kemarin dengan kategori musik terlebih dahulu. Silakan disimak kelanjutannya hingga akhir tahun nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s