Film Sepekan: Menengok Pernikahan Edward-Bella Hingga Mencinta Like Crazy

Minggu ini tentu dunia menjadi saksi pernikahan paling bersejarah kedua setelah William dan Kate beberapa bulan silam, yaitu Edward dan Bella. Sedikit ingin menebarkan hiperbolisasi. Ya, begitulah, saya memiliki kesempatan untuk menyimak seri keempat dari drama (komedi?) dari Twilight ini. Dengan masuknya Bill Condon  di kursi sutradara, tidak pula sempat membuat saya menimbun ekspektasi berlebih, serendah mungkin, hingga dengan secara mengejutkan saya memercayai bahwa seri keempat ini adalah film terbaik dari sekian yang ada. Lini akting tampil begitu baik, barisan musik pendamping seperti biasa selalu berada di atas filmnya. 

Meskipun tiap sudut masih menyimpan warisan terdahulu: adegan berlebihan ataupun kalimat-kalimat menyunggingkan senyum karena rasa hambar yang tersaji, atau mungkin terlalu manis hingga tak tahan untuk dikunyah. Dalam sisi ini gampang sekali untuk mengolok seri ini, entah adegan ranjang yang mengocok perut karena terlihat konyol, (tapi hei, mungkin True Blood bisa dijadikan referensi bagaimana sadisnya vampir itu, Edward mungkin akan diejek sebagai yang paling lembut).  Asal tahu saja, ketika menyimak film ini seorang bapak tak hentinya bertanya pada istri di sampingnya (yang sepertinya penggemar berat seri ini), “Mah, ini kok begini, ini kok begitu, aneh film ini,” meskipun cukup mengganggu, namun telah berhasil memberikan hiburan tersendiri. Untuk tahun ini, Breaking Dawn (B-), mencetak nilai tertinggi dari seri terdahulu di buku saya.

Minggu ini saya juga bergelut dengan film-film di tahun kemarin yang baru berhasil disimak sekarang. Ada Made in Dagenham (B), jenaka, dengan barisan pemainnya yang menarik, terutama Sally Hawkins. Tidak terlalu istimewa memang. Namun, setidaknya mampu membuat saya mengetikkan jari di atas tuts laptop dan mencari sejarah atas kesaman upah perempuan ini.

Sebagai penggemar Peter Weir, The Way Back (B+) lama bertengger di rak, namun niat menyimak baru kukuh minggu ini. Menyesal karena ternyata saya begitu menyukai film ini. Barisan pemain yang tampil menawan. Dari Collin Farrel hingga Saorsie Ronan tampil meramaikan ensemble cast yang tampil cemerlang. Terasa melelahkan melihat perjuangan mereka, Weir, seperti dalam Master and Commander… juga tak henti menapaki sisi puitis dalam alam luas yang dibidik: gurun, tebing, hingga kebun teh. Cukup fasih mengumbar meditasi, meskipun ending pertemuan itu rasanya lebih baik dihapus saja. Selain The Way Back, sisi meditatif pula terasa pada dokumenter Nostalgia for the Light (B+), menubrukkan sisi astronomi, geologi, hingga intrik politik yang dikemas dalam penceritaan memori. Suatu kali, saya sempat mengobrol dengan seorang teman mengenai alien, tentang kondisi apakah kita percaya atau tidak, hingga menyerempet pada persoalan keyakinan tentang dunia lain di luar bumi ini. Nostalgia for the Light, ketika memunculkan metafora, atau apalah itu teori bahwa segala hal yang kita lalui ini hanyalah bentuk “lampau”, sementara “sekarang” itu hanya bentuk rekaan dalam otak kita, benar memberikan sebuah sisi kontemplasi. Film seperti ini yang selalu berhasil membuat saya merenung, sambil memilah sisi makro dan mikro dalam ruang yang lebar. Selalu menyimpul pada ketidakpastian.

The Princess Montpensier (B-) adalah film yang sempat berkompetisi di Cannes tahun lalu dan luput dari perhatian saya. Jika dilihat, tidaklah menyuguhkan sisi yang menarik, seperti kebanyakan film epik-period yang didandani dengan kostum yang wah serta perang di sana-sini. Menceritakan tentang si Putri dalam lingkaran pria-pria yang mencintainya. Sumbu letupannya tersiram air, tanpa ledakan di sepanjang film.

Nah, dua film terakhir yang saya simak memiliki kemiripan, tentang anak muda yang terburai dalam gejolak cinta. Klise sekali bukan. Jika kritikus mempertanyakan keabsahan seorang Lone Scherfig setelah sukses lewat An Education dua tahun silam, One Day (B-) memunculkan pertanyaan jika itu hanya kebetulan saja. Tentu, karena One Day lebih mirip seperti film yang diangkat dari novel Nicholas Sparks dan ditempatkan pada barisan beriiringan dengan koleksi Miley Cyrus atau Amanda Seyfriend. Ringan, iya. Mengharu-biru, lumayan. Anehnya saya tidak terganggu dengan aksen Anne Hathaway yang on-off seperti ketika melihat trailernya, cukup menikmati saja. Chemistry? Bolehlah. Nampak sebagai film yang akan cepat dilupakan. Satu lagi, skor dari Rachel Portman cukup menawan. Jadi, peraih MVP untuk film yang saya tonton sepanjang minggu ini jatuh ke Like Crazy (A/A-), versi lebih muda dari Blue Valentine, lebih ringan dari Blue Valentine, memiliki kejujuran yang sama. Dalam budget yang begitu minim, Like Crazy begitu impresif. Sinematografinya memesona, siapa sangka hanya menggunakan kamera Canon DSLR dengan harga yang murah, sudah berhasil memotret raut wajah dan adegan dengan baik. Jika kemudian skripnya terjadi dengan serbuan improvisasi, maka Anton Yelchin dan Felicity Jones hadir dengan penampilan yang tidak bisa dipisahkan dari urutan pujian.

Demikian untuk ulasan minggu ini. Untuk long list sudah di-update kembali. Jujur, semakin hari, daftar top ten saya semakin bergeser satu demi satu. Yang tetap bertahan di ingatan, itu yang akan bertengger.

Selamat menonton!

Advertisements

2 thoughts on “Film Sepekan: Menengok Pernikahan Edward-Bella Hingga Mencinta Like Crazy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s