Film Sepekan: Ada Anehnya Angelica, Sementara Steve Carell Mengaku Klise?

“What a cliché,” ucap Steve Carell dalam Crazy, Stupid, Love (C+) ketika dalam satu adegan yang menyunggingkan senyum setelah adu mulut yang jenaka dengan istri serta wanita yang sempat ditidurinya, sang istri meninggalkannya dan seketika itu turunlah hujan. Sepertinya karakter yang diperankan Steve Carell, Cal, mengerti dengan situasi tersebut, adegan dramatis yang fasih kita simak terjadi dalam film pop atau opera sabun. Hujan mengguyur. Dramatis. Mungkin kita sering pula melihatnya terjadi pada aset negeri kita. Putri yang Ditukar misalnya. Namun satu hal yang menarik, apa yang diucapkan oleh Cal tersebut telah memberikan sebuah gambaran pada film ini secara keseluruhan. Boleh dibilang film ini begitu menghibur, sebagai tujuan utamanya, telah menghadirkan adegan “berlebihan” yang tak luput mengumbar tawa tanpa henti.  Tidak ada yang baru memang. Sebenarnya lebih menarik untuk menyimak kiprah pemainnya. Selain Analeigh Tipton yang cukup mengagetkan karena dia termasuk finalis ANTM Cycle 11, senang melihat kiprahnya di dunia perfilman, meskipun sisi aktingya belum begitu maksimal. Sementara Ryan Gosling tampil berbeda memberikan variasi sendiri atas “body of work”-nya saat ini yang muncul pada film di luar ranah indie seperti sebelumnya. (padahal sebenarnya saya sempat lupa jika saya mengenalnya pertama kali lewat The Notebook).

Selain Crazy, Stupid, Love, tontonan dalam seminggu ini juga diikuti oleh The Strange Case of Angelica (A-), perkenalan pertama saya pada sutradara Manoel De Oliveira yang membuat saya tertarik untuk menyimak karya-karya sebelumnya. Film ini sendiri berkisah tentang seorang fotografer yang pada suatu saat harus memotret seorang wanita bernama Angelica yang telah meninggal. Dalam konsepsi absurd yang ditampilkan, muncullah rasa cinta sang fotografer terhadap sosok Angelica ini. Filmnya tidak bercerita banyak, namun berhasil mematri kesan aneh yang terbesit jenaka.

Minggu ini juga diikuti dengan menyimak The Robber (B), film dari Austria yang bersaing di Berlinale tahun lalu. Berdasar atas kisah nyata seorang  atlet lari yang sekaligus merupakan perampok bank. Diangkat dari sebuah novel, premis yang disajikan terbilang menarik. Sunyi memang. Minim dialog dengan konsisten menghadirkan adegan yang memiliki struktur yang memesona. Lihat bagaimana dalam satu adegan perampokan menghadirkan ketegangan tersendiri hingga adegan kejar-kejaran memberikan sebuah sisi menarik. Sayang, hingga film berakhir, tidak ada banyak cerita yang tersaji. Terasa begitu dingin.

Masih dari kancah Berlinale, peraih Beruang Emas tahun ini, “Nader and Simin, A Separation” (A-), merupakan tampilan akting bravura yang begitu runut menghadirkan kekaguman pada begitu kayanya skenario film ini mengukuhkan sebuah karakterisasi. Rasanya, ketika pergumulan begitu sengit hadir, Asghar Farhadi piawai merangkai hingga kita tidak terjebak pada sebuah prasangka hitam dan putih. Begitu menggugah. Hingga jika terasa kesan sentimental seperti digerus dengan paksa, kita mengerti bahwa semua terjadi karena begitu jujurnya sebuah narasi diceritakan. Sungguh menarik karena salah satu film favorit saya tahun ini, Tuesday, After Christmas juga menghadirkan cerita yang sama: perceraian. Namun dalam urgensi yang berbeda dan titik alasan yang berbeda pula. Keduanya menghadirkan penampil terbaik tahun ini.

Sebenarnya minggu ini ditutup dengan menyimak “Water for Elephants” (C-). Bolehlah saya mengatakannya dua jam yang begitu sia-sia. Hiburan yang ingin dicari seperti redup seiring dengan momen-momen tidak menarik yang ditampilkan. Ah, sudahlah. Ada baiknya melirik film-film yang saya rekomendasikan disimak beberapa minggu sebelumnya. Seperti Drive (B+), yang tentu berteriak tentang “style over substance”, hal yang sering terhempas jika menyimak karya Quentin Tarantino. Namun, boleh dibilang Drive memberikan sisi berbeda dalam mengartikan kata “seksi”. Ada sinergi menarik ketika seorang Ryan Gosling dipadukan dengan sinematografi menawan, slow motion, dan dikemas dengan lantunan lagu yang menarik. Jelas terlihat bahwa film ini lebih menonjolkan seorang Nicholas Winding Refn sebagai seorang sutradara dibanding sisi lainnya. Sementara satu film yang masih terngiang hingga saat ini adalah Midnight in Paris (B+), semakin diingat semakin ingin rasanya menyimak lagi. Tidak terlepas dari bagaimana Allen menampilkan tokoh-tokoh terkenal ke dalam cerita yang ia tampilkan. Barisan penampil yang susah dilupakan (terutama Marion Cottilard dan Corey Stoll), hanya saja Rachel McAdams menjadi penampil yang terlemah di sini. Entah. Pendekatan yang ia tampilkan pada skrip yang ditulis Allen ini seperti berjalan dalam haluan berbeda.

Sementara The Kid with A Bike (A-), menjadi entri kesekian dari Dardenne Bersaudara yang memboyong piala kembali dari Cannes. Tidak ada yang baru memang dari film terbarunya ini. Bahkan jika diperhatikan, film terakhirnya ini termasuk filmnya dengan tema yang paling tipis, namun menyimpan kehangatan yang mengalahkan film terdahulu mereka. Untuk sementara saya menempatkannya sebagai film terbaik keduanya setelah Rosetta (pilihan no. 8 saya di era 90-an).

Untuk long list sudah di-update dengan entri terbaru dari Nader and Simin, A Separation, The Robber di beberapa sisi teknis dan aktor, dan juga The Strange Case of Angelica berhasil masuk di beberapa entri pula. Berikut update untuk long list di sini dan grade di sini.

***

Advertisements

2 thoughts on “Film Sepekan: Ada Anehnya Angelica, Sementara Steve Carell Mengaku Klise?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s