Review: The Tree of Life

“Kesedihan Dalam Tuturan Grande

Ketika menyimak The Thin Red Line, muncul sebuah bentuk baru sinema yang sebelumnya begitu konstan saya simak, sehingga naratif yang Malick hadirkan ketika itu membuka siluet baru pada sebuah jenis lain dalam menuturkan cerita. Masih tersimpan jelas bait tersebut terpatri, atau bagaimana dramatasi terkesan hiperbolis namun menyimpan nada puitis pada tiap pertempuran yang dihadirkan pada The Thin Red Line. Kadang berpikir terlalu dalamkah pikiran prajurit tersebut sehingga pepohonan bertumbuk dan mengilahkan sebuah energi aneh yang mengarah ke sisi melankoli? Pun ketika akhirnya dihidangkan The New World, ceritanya familiar. Kisah Pocahontas yang tak begitu ringannya seperti pendekatan Disney. Ada begitu lebarnya narasi dalam ketidakaktifannya muncul, begitu kontradiktif sehingga terpatri pula bagaimana visual mampu menceritakan lebih seksama dibanding rentetan dialog. Cukup di situ. Tidak juga. Mari kemudian pertemukan pada debut seorang Malick lewat Badlands, disusul oleh Days of Heaven. Film yang disebutkan terakhir, adalah bentuk kesenangan visual yang tidak pernah luput melempar kamera pada sudut yang menawan, merekamnya, lalu menghadirkan dalam kelihaian editing memadu-padu tiap gambar beriringan dengan rapi dengan narasi yang diceritakan. 

Jika keempat film terdahulunya telah mengenalkan pada sebuah bentuk berbeda pada bagaimana sinema terkesan aneh dan tidak begitu statisnya. (ah, mungkin berkat Malick pula saya mengerti bahwa ada sinema jenis lain pula yang kita sebut Antonioni, Tarkovsky, Bergman, atau Tarr yang menguji dengan bentuk yang berbeda, unik, dan otentik). Pada film yang paling ditunggu ini—film yang boleh dikatakan terlampau lama disimpan di meja editing—tak dipungkiri telah menghadirkan bentuk sinema unik tersebut yang setidaknya muncul begitu jarang pada ranah yang disambut oleh publik seperti ini. Komentar mengutub tentu telah menjadi situasi yang diprediksi sebelumnya, namun ekspansi pada keberanian memunculkan sisi perdebatan itu, begitu mahal harganya.

The Tree of Life, menyimak judulnya sudah bisa dirasakan bagaimana sisi film ini akan menyinggung religi. Namun, sebenarnya lebih kompleks. Kita melihat cerita muncul dari sebuah kontemplasi dari sosok Jack (Sean Penn). Ia mengingat, mengenang, dan merenungkan sisi kronologi ketika ia masih kecil, konflik dengan sang ayah, mempertanyakan kenapa ayahnya begitu pemarah. Merenungi kenapa ibunya begitu penuh cinta. Mengapa masa kecilnya seperti itu. Hingga pada kontemplasi kronologi pada pandangannya akan kemunculan hal yang lebih besar; alam ini seperti apa terbentuknya.  Bisa dilihat, The Tree of Life begitu bisu akan narasi, begitu tak peduli dengan alur, ia terlalu riang menggunting tiap narasi lewat potongan gambar. Sebentar melaju pada gambar statis, memaksa untuk menyimak sebuah visual yang mengerutkan kening. Sebentar muncul dengan gerakan gambar bergoyang, menyoroti sang karakter dari belakang, atau begitu setia mengawasi raut wajah karakter tersebut.

Tree of Life tentu terlihat sangat ambisius—pada beberapa kesempatan seolah menantang Stanley Kubric. Dalam narasi yang ia tampilkan, muncul pertumbukan bermacam pertanyaan yang seolah menjadi pertanyaan personal dari Malick sendiri. Alih-alih kita seperti terdampar dalam balutan beberapa paham yang menguji sisi kepercayaan yang ada. Tidak. Tree of Life tidak pernah muncul menceramahi pada tiap sisi religi yang ia tampilkan, bahkan ketika muncul asal-asul alam—oh lihat, mengapa engkau muncul wahai para dinosaurus—hadir sebagai keunikan sendiri yang mencoba mengumbar kronologi. Boleh silakan mengerutu untuk apa. Namun, lihat dalam setiap kontemplasi, pernahkah tersudut di pojok sebuah ruang sepi lalu merenung mengapa bumi itu bundar, seperti itu pula fragmen remeh-temeh yang sebenarnya menyimpan jawaban yang begitu rumit, namun lebih menarik ketika dijawab dengan guyonan semata.

Jika misalnya beberapa unsur kosmik yang muncul begitu eksentrik memunculkan ketidakmengertian, atau mungkin banyak yang mengusut proyek eksperimental ini begitu tanpa tujuan (tapi coba, pertanyakan mengapa Malick mengutip Book of Job pada opening filmnya. Mungkin ada hal yang tersimpan di sana). Mari, lebih nikmat kita bergumul dengan keluarga yang dikomandani oleh Brad Pitt ini. Di sini muncul apa yang menjadi begitu menariknya menikmati karya seorang Malick. Seperti mendengar alunan simfoni, mengalir dari barisan gambar yang beriringan, begitu menariknya melihat keluarga ini. Si Ibu, pada satu kesempatan berlarian dengan anak-anaknya yang mengejar sambil menjulur-julurkan seekor kadal di tangan. Di sisi lain, ada begitu mungil dan menggemaskannya sesosok bayi di hamparan taman, polosnya hingga tidak tinggal diam menghadirkan senyum tersungging. Atau ketika muncul hal yang begitu dramatis, Si Ayah geram pada anaknya, terjadi konflik yang mempertanyakan sisi individual tersebut. Bahkan, ketika Jack dengan begitu polosnya masuk ke rumah orang dan mencuri, menjadi salah satu masa yang masih saja dipikirkan oleh Jack ketika ia telah tumbuh menua.

Pada akhirnya, Malick tidak begitu saja membiarkan kita bergolak pada berbagai pendekatan yang hendak ia pertanyakan. Entah itu metafisika, entah itu teologi, atau mungkin scientology sekalipun. The Tree of Life adalah karya dengan guratan artistik mumpuni. Perlu dijelaskan lagi bagaimana kamera dari Emanuel Lubezki di sini? Lengkap ketika muncul diringi oleh musik mengalun dari Alexandre Desplat. Begitu pula dengan efek visual rupawan dari Douglass Trumbull (dulu sempat mengolah efek pada 2001: A Space Odyssey).

Sekarang, jika ada yang bertanya dengan skeptisnya, film ini sebenarnya tentang apa, sih? Saya cukup menjawabnya dengan begini: kesedihan seorang saudara yang dipaparkan dengan kontemplasi yang besar, luas, sebut saja, grande. [A]

Advertisements

3 thoughts on “Review: The Tree of Life

  1. sya suka banget film ini …hidup ini terasa begitu menyentuh ketika alam yang sedang bercerita …..!!!!

  2. simbolisasinya mengenai hidup mengena banget yah.. kalo nga biasa nonton film jenis ini udah males ketika ada frame cerita dinosaurus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s