Review: Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2

“Dongeng ini berakhir. Namun, ia akan tetap didongengkan.”

Selalu ada sisi yang tertinggal ketika menyimak sebuah seri yang beranjak dewasa seiring dengan keluguan yang pernah ikut berubah pula. Tentu, saya akui, Harry Potter adalah pop culture yang tumbuh tak jauh dari diri saya. Ijinkan saya bercerita sejenak, saya—yang tidak pernah membaca bukunya sama sekali ini—pertama kali mengenal sosok Harry Potter itu dulu dekade silam ketika saya masih mungil dan masih berlangganan majalah Bobo yang tiap Rabu pagi akan tergeletak menggiurkan di meja setelah pulang sekolah. Dari artikel yang dibahas oleh Bobo tersebutlah saya mengenal begitu gempitanya reaksi orang terhadap buku ini. Muncul filmnya, terdapat foto masih mungil sosok Daniel Radcliffe. Lalu, lihatlah satu dekade kemudian. Wajah mungil tersebut telah tumbuh seiring dengan para penggemarnya juga. Entah itu Emma Watson. Entah itu Rupert Grint. Mereka telah bermunculan menjadi sosok yang berbeda. Tampil di sampul majalah terkenal. Diburu para penggemar. Tentu buah dari apa yang ia perankan; Harry, Hermione, dan Ron yang begitu melekat. 

Simak bagaimana transisi itu muncul dalam aspek petualangan yang bergemuruh dengan menggempur kata “epik” ke dalam sebuah edisi akhir petualangan panjang. Lihat bagaimana masa awal ketika Chris Columbus mengenalkan kita pada visualisasi dunia sihir, sekolah Hogwarts yang hanya menjadi imajinasi bias pada pembaca bukunya ditampilkan begitu saja. Sorcerer’s Stone begitu melekat, tanpa visualisasi awal ini, kita tidak akan melihat bagaimana lugunya tiga karakter utama ini di layar. Lalu melompat ke seri akhir, hadirlah David Yates yang kemudian merangkum dan mengakhiri saga ini.

Begitulah. Deathly Hallows Part 2 adalah sebuah klimaks yang menggembirakan. Lihat saja bagaimana kita merangkul semuanya pada satu kesempatan saja; menakjubkannya visual, begitu kocaknya adegan, indahnya sinematografi, megahnya pertempuran, hingga yang begitu menggugah adalah tergeraknya beberapa sisi untuk mengundang emosi. Maka, sulit rasanya meminta lebih untuk sebuah pengakhiran. Bahkan ketika melihat sosok mereka pada selang 19 tahun kemudian, bolehlah kita diingatkan, begitu manis rasanya melihat dongeng. Bahkan jika sadar bahwa ini hanya dongeng semata. Ingat saja, akan tetap ada ribuan anak yang setia untuk mendengar didongengkan sebelum tidur.

Ibarat sebuah surat yang dikirim sebagai bentuk ucapan selamat tinggal, Deathly Hallows Part 2 adalah manifestasi bait kata yang rupawan. Sejenak tersadar—setidaknya saya—bahwa kita seperti begitu mengenal Severus Snape, Dumbledore, hingga Voldemort sekalipun. Satu hal yang menarik adalah melihat Snape yang telah memunculkan salah satu karakter paling kuat di sepanjang delapan filmnya. Di seri terakhir ini, rahasia itu terbongkar. Bahkan kali ini terlihat begitu menarik karena dari balik sisi misterius itu terlihat kasih sayang yang tersembunyi. Jarang melihat aktor yang konsisten pada karakter seperti ini. Tentu saja, Alan Rickman pantas mendapat tepuk tangan.

Selain melihat sajian visual yang begitu mengagumkan. Seperti misalnya melihat cercahan ala kembang api yang begitu riuh atau baku hantam yang tiap sisi tak pernah ketinggalan menampilkan koreografi aksi menarik. Selalu ada sisi yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap seri Harry Potter. Pernahkah sadar bahwa saga ini ibarat sebuah platform bagi barisan aktor dan aktris terbaik yang dimiliki negeri Inggris? Mulai dari Emma Thompson, Gary Oldman, Imelda Staunton, Miranda Richardson dan beberapa nama lagi sempat ada di barisan ini. Namun kali ini, kita melihat Maggie Smith dalam setiap tingkah heroiknya, meninggalkan sisi yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, tampil begitu mengesankan. Bahkan tak lupa menyimpulkan sunggingan senyum dalam dialog yang jenaka. Di sisi lain, Bellatrix yang begitu-kita-benci-namun-selalu-penasaran-dengan-aksi-nya ini tampil menegaskan kembali begitu piawainya Helena Bonham Carter mengemas karakter quirky. Sedangkan di satu hal, ada Ralph Fiennas dalam gestur yang sempurna menciptakan sosok Voldemort. Perhatikan bagaimana bentuk euforia-nya ketika ia berhasil membunuh Harry—yang mana adegan ini sempat membuat penonton di bioskop tertawa—begitu jenaka hingga muncul sebuah argumen bahwa ia tak ubahnya juga manusia yang kegirangan tiap kali mendapat sesuatu yang diinginkan. Selain itu, kita juga menemui sosok transisi yang dikemas dalam sebuah sisi yang lucu, sosok yang tidak pernah kita sangka, ia akan begitu berperannya pada tiap sisi. Nellville Longbottom, sosok kikuk penuh guratan sial dan sering menjadi olok-olok yang kita lihat pertama kali ketika masih mungil, pernahkah terbersit kelak menjadi sosok berani yang akan menceramahi makhluk tak berhidung itu kemudian? Secara sentilan teori, itu tidak mungkin. Namun, dalam guratan jenius seorang J.K Rowling, Longbottom munculmenjadi sosok heroik yang tumbuh seiring masa yang ia lalui. Di situlah kita mengerti bahwa sosok yang kita temui bukanlah sosok yang pernah terlihat dalam besutan Chris Columbus lagi. Ia telah dewasa. Seperti mengingatkan pula, penggemarnya pun kini telah tumbuh dewasa.

Sebagai penutup. Sedih rasanya karena tak akan ada lagi cerita kita menggerutu di deretan antrian panjang bioskop sambil menyinggung nama “Harry Potter” lagi.  Kisahnya telah usai. Tapi lihatlah, saya rasa pembaca bukunya akan setuju bahwa jarang kita menemui sebuah adaptasi dari buku yang selalu konsisten dan menampilkan versi filmnya dengan pantas untuk diterima. Sebuah panggung hiburan selama sepuluh tahun yang akan sulit dilupakan. Selamat tinggal seri Harry Potter. [B+]

Advertisements

2 thoughts on “Review: Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s