AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 10 [#1-10]

Sebelumnya, part 1part 2part 3part 4part 5part 6part 7, part 8, dan part 9.

Akhirnya kita sampai juga pada rentetan pamungkas untuk sepuluh bagian seratus film pilihan saya di dekade 2000. Sebuah kenikmatan sendiri berbagi kepada para pembaca semua yang sudah setia mengikuti dari bagian awal untuk edisi ini. Sebagian mungkin sudah mengetahui film apa saja yang akan masuk di daftar terakhir ini karena beberapa film di sepuluh besar sebelumnya masih tetap bertahan di sepuluh besar. Namun tentu yang membedakan adalah posisinya saja. Jika sedikit jeli, ada empat film yang mengisi kursi kosong di daftar ini setelah empat penghuni sebelumnya tercantum di bagian sebelumnya. Untuk kali ini saya tidak akan merangkum seperti bagian-bagian sebelumnya. Silakan dibaca saja langsung. Ini dia! 

100 Films of 2000s – #1-10

#10

“THE ROYAL TENENBAUMS”

(Wes Anderson, 2001, US)

Karena dalam tiap sudut jenaka, ada getir yang aneh terasa, bahkan ketika cerita hidup dipermainkan layaknya dongeng tak bermakna, tiap tawa yang diumbar adalah sebuah barisan hiperbolis yang unik. Maka, begitulah Wes Anderson selalu setia menghadirkan nuansa komikal yang terilustrasi layaknya komik. Dunia yang ia ciptakan terkesan sinis, atau penuh racauan, atau mencoba terlalu polos. Namun, dalam tiap detail yang hadir entah adegan penuh unsur imajinatif yang mengeyampingkan logika, atau adegan ekstrim yang seolah tercipta untuk dibaca sebagai adegan komik, Anderson selalu terlihat orisinil.

#9

“WALL*E”

(Andrew Stanton, 2008, US)

Karena tidak ada yang lebih rupawan dari cerita dua robot ini dalam guratan animasi begitu indahnya, maka saya sebut WALL*E sebagai sebuah energi masterpiece yang diciptakan dengan ambisi mumpuni. Saya tidak akan pernah bosan untuk berkoar lagi: tak ada satupun film yang membuat saya keluar bioskop dengan suasana yang aneh dan berpikir tengah menonton film paling menakjubkan yang pernah ia simak di layar besar. Karena 45 menit berjalan tanpa dialog itu adalah keindahan mahadahsyat-nya. Maka saya akan mencoba berlakon arogan: “Ah, 50 tahun lagi saya tidak yakin Pixar punya film yang bisa melebihi keindahan WALL*E.”

#8

“DANCER IN THE DARK”

(Lars von Trier, 2000, Denmark)

Karena dalam setiap orkestrasi yang tersaji, seperti merenggut ranah hati dan dengan kejamnya mengobrak-abrik isi, tercipta sebuah sinema yang tak ada duanya. Maka Dancer in the Dark adalah bentuk duka yang ditemukan lewat sinergi yang unik; lagu, koreografi, pergerakan kamera, terkesan begitu manipulatif sehingga sulit untuk mengeja apa yang sebenarnya von Trier telah manipulasi. Kalaupun jawabannya adalah hati, maka saya relakan itu terjadi. Melihat Selma adalah sebuah keunikan. Melihat Bjork adalah sebuah; kapan engkau berakting kembali?

#7

“JUNEBUG”

 (Phil Morrison, 2005, US)

Karena jika kita pernah menyadari tidak semua film yang selalu bertindak berbeda adalah sebuah bentuk guratan menarik. Terkadang cerita yang berulangkali diceritakan bisa membentuk delta yang terasa lebih menarik ketimbang lautan lepas ide yang ada di seberang sana. Maka, Junebug adalah sebuah penemuan yang begitu cermat bermain pada rumus ini; barisan dialog, pembentukan karakter, dan adegan yang selalu berhasil menjerat hati. Sebut saja saya tertawa melihatnya. Sebut saja saya terpukau melihatnya. Dan pada satu kesempatan sebut saja saya begitu terharu luar biasa melihatnya. Hingga rasanya tak terhenti memikirkan seorang Ashley. Maka, simaklah keajaiban yang saya temui. Coba perhatiakan line-reading yang sampai saat ini tak pernah terlepas dari ingatan saya:

Madeline: “I was born in Japan.”

Ashley: “…You were NOT.”

Seketika menyimak eskpresi itu ingin rasanya merampas Oscar dari tangan Rachel Weizs dan memberikannya langsung ke tangan Amy Adams.

#6

“THE NEW WORLD”

(Terrence Malick, 2005, US)

Karena dalam tiap butir tetesan embun yang terlihat, saya tidak pernah mengira tersimpan energi puitis, begitupun dengan dedaunan yang tertiup, hingga jernihnya air pun tak pernah terbersit sisi puitis itu. Maka, pada sentuhan yang magis ini kita mengenal Malick. Ia begitu mencintai bentuk manusia hingga sejarahnya, sehingga terkadang ada sisi lain yang luput dicantumkan pada tiap buku sejarah. Bukan. Bukan bagaimana manusia beradaptasi dengan alam, namun seperti apakah ranumnya alam telah mengubah mereka. Nikmati saja bagaimana suguhan gambar seperti tengah melukis bait-bait puisi.

#5

“ALMOST FAMOUS”

(Cameron Crowe, 2000, US)

Karena pada tiap detik yang terwujud di bumi ini, tiap diri mempunyai kesamaan dengan pribadi di seberang nun juh di sana, entah itu sebagai sebuah tema atau energi saja. Maka, surat cinta yang Cameron Crowe telah buat pada masa remajanya adalah sebuah surat cinta yang anehnya seperti terpenggal dalam sudut mungil di setubuh saya. Karena ketika masa remaja begitu polosnya dipotret. Karena ketika masa remaja adalah onggokan kenangan yang begitu sulitnya dipisah. Maka perkenankan saya sedikit berulah: saya rasanya ingin memeluk film ini.

#4

“TALK TO HER”

(Pedro Almodovar, 2002, Spain)

Karena dalam setiap kontradiksi, entah sebutan yang tepat untuk mengenal kenyataan, Almodovar terlalu apik memoles bentuk maskulinitas-feminitas tersebut hingga tertumbuk dengan tampilan berbeda. Maka dalam tiap warna pastel, maskulinitas berbentuk lain, sedangkan dalam tiap umbar melankoli, feminitas berbentuk tak biasa pula. Ada Matador, ada “drama kebetulan”, ada tangis di mata lelaki, ada lantunan merdu sebuah tembang, ada film pendek hitam putih yang begitu unik, itu semua berbaris membentuk sebuah karya yang begitu indahnya. Kapan lagi bisa menyimak itu semua jika tidak Almodovar yang mengemasnya?

#3

“ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND”

(Michel Gondry, 2004, US)

Karena jika ada yang mengerti bagaimana magisnya sebuah cerita yang bertumpuk dan berlapis itu dibuat, seolah menjadi sebuah soal ujian yang terlampau rumit dan kusut, mungkin ini adalah pengecualian yang begitu tepatnya menjadi ornamen penjawab. Maka, coba saja perhatikan unsur tata ruang yang membangun cerita ini. Arsiteknya adalah si jenius Charlie Kauffman. Kemudian dibangun pada pondasi seorang Michel Gondry. Dipenuhilah oleh para penjelmaannya. Clementine yang begitu ikonik, Joel yang tak terlupakan. Tiap kali ditonton ulang, selalu muncul hal baru yang kita temui. Begitulah sebuah masterpiece bicara.

#2

“THE ASSASSINATION OF JESSE JAMES BY THE COWARD ROBERT FORD”

 (Andrew Dominik, 2007, US)

Karena saya begitu percaya bahwa kehebatan sebuah sinema bisa diukur dari sebuah adegan, namun memadukan segala penjuru kepiawaian yang ada hingga membentuk sebuah tontonan yang begitu mengagumkan. Maka, tidak akan saya pungkiri jika film ini menyimpan itu berulang kali. Dalam setiap gambar tersaji, bukan hanya perkara gambar indah yang terburai, namun lihatlah raut wajah betapa sempurnanya Robert Ford tercipta, atau betapa kharismatiknya Jesse James terlihat. Andrew Dominik telah menciptakan tiga kekagumam: Puisi. Drama. Keindahan.

#1

IN THE MOOD FOR LOVE

 (Wong Kar-wai, 2000, Hong Kong)

Karena saya percaya menyimak alasan saya di sini dan di sini tidaklah cukup mewakili kecintaan ini. Maka saya uraikan kembali. In the Mood for Love adalah etalase bagi diorama kisah yang begitu indah. Begini saja: ia didandani oleh cheongsam dan motif dasi yang teramat cantik. Lalu, diimbangi oleh bentuk slow-motion yang atmosferik. Dibidik dengan sudut yang begitu menarik: kedai mie, toko buku, koridor hotel, bahkan Angkor Wat, telah menyimpan misteri romansa yang terpatri dengan begitu menggugahnya. Ijinkan saya berujar seperti ini. Jika ia sebuah lukisan maka akan saya pajang di ruang tamu yang lebar sehingga tiap orang bisa mengagumi keelokannya. Jika ia sebuah foto, maka ia akan saya cetak pada resolusi paling tinggi dan memajangnya di foto album, lalu memamerkannya ke semua orang. Jika ia sebuah kartu ucapan, maka akan terpotret luka dan romansa dengan teduhnya sehingga tiap senyum yang dihadirkan oleh penerima kartu tersebut akan menjadi penawar kesepian yang dialami dua sejoli ini. Karena setiap momentum yang hadir menyimpan kesan yang terpahat seperti guratan para pengukir kayu. Silakan. Jika berminat, undang saya menyantap steak seperti dua insan di film ini, atau menyantap mie di kedai pada malam hari tepat ketika hujan mengguyur, atau undang saya menulis cerita silat sambil tertawa bersama sepanjang hari. Adakah yang tertarik?

***

Demikianlah untuk penutup sepuluh rentetan edisi dekade 2000 ini. Terima kasih untuk semuanya yang sudah setia menanti. Nantikan postingan berikutnya masih dalam rangkaian merayakan ulang tahun AwyaNgobrol. Jangan lupa ikuti kuisnya yang akan ditutup malam ini. Buruan!

Advertisements

2 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 10 [#1-10]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s