AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 9 [#11-20]

Sebelumnya, part 1part 2part 3part 4part 5part 6part 7, dan part 8.

Tidak terasa ini sudah merupakan bagian kesembilan dari rentetan penghitungan mundur ini. Berarti sebentar lagi kita akan mengetahui siapa saja yang akan mengisi daftar terbaru di sepuluh besar. Namun sebelum sampai ke edisi pamungkas, mari kita simak dua puluh besar untuk kali ini. Boleh dibilang sekilas untuk edisi kali ini, ada beberapa film yang amat dipengaruhi oleh ornamen musik. Yang satu berada pada ranah komikal, yang satunya lagi menggunakan musik untuk menciptakan atmosfir, sedangkan yang satunya lagi menggunakan musik sebagai obsesi. Tidak ketinggalan barisan film dengan visual yang mumpuni. Dari yang memadukan unsur puisi hingga adegan-adegan nyelekit di layar. Ada pula, salah satu film coming-of-age terbaik dekade ini versi saya, yang sudah saya simak berkali-kali. Berikut selengkapnya. 

100 Films of 2000s – #11-20:

#20

“WHAT TIME IS IT THERE?”

 (Tsai Ming-liang, 2001, Taiwan)

Boleh dibilang karya Ming-liang yang paling bisa dinikmati banyak orang. Dalam sentuhan absurditas yang dikemas, atau bentuk penggambaran lain dari kesendirian, What Time Is It There? tetap meninggalkan beberapa pertanyaan yang mempersilakan kita menjawab sendiri. Namun, yang membekas adalah begitu sepi namun sekaligus lucunya Ming-liang tinggalkan pada adegan-adegan yang tidak perlu mengumbar banyak dialog.

#19

“ADVENTURELAND”

(Gregg Mottola, 2009, US)

Satu hal yang begitu sulit dilepaskan ketika saya menyimak film ini hingga berkali-kali adalah karena begitu hangatnya masa transisi remaja itu terselip. Tentu, jika ditanya, dulu saya tidak pernah mengenyam yang namanya summer job ketika masih sekolah. Namun aspek frustasi akan keinginan menuju jenjang yang lebih tinggi tergambar dengan mengesankan lewat tangan Mottola. Film ini meninggalkan kesan nostalgia yang meskipun tak selalu persis seperti yang saya alami, namun memiliki energi yang sama.

#18

“UNDER THE TREE”

(Garin Nugroho, 2008, Indonesia)

Memang perlu diakui, film seperti ini akan memunculkan sisi dua arah, terlebih dengan simbolisasi yang seperti memojokkan sang sutradara, seolah egois, maksudnya hanya dia sendiri yang mengerti. Misalnya adegan kepala ditutup oleh kardus yang simboliknya begitu kentara. Namun, di balik itu semua, Under the Tree adalah potret sepenggal kisah cerita masyarakat Bali yang jarang saya lihat dalam bentuk seperti ini (atau mungkin tidak pernah sama sekali). Begitu sarat dengan sisi misterius, namun tetap menyimpan sisi jenaka pula.

#17

“LUST, CAUTION”

(Ang Lee, 2007, Hong Kong/China/US)

Mengutub ketika filmnya dirilis. Termasuk juga disebut sebagai karir bunuh diri bagi seorang pendatang baru seperti Tang Wei yang berperan begitu mengesankan dan berani. Lust, Caution di mata saya, masuk ke dalam barisan film terbaik yang pernah dibuat Ang Lee. Perbincangan muncul ketika filmnya dirilis, banyak yang mengaitkannya dengan Wong Kar-wai. Lihat cheongsam-nya, atau Tony Leung contoh yang paling mengena. Namun, Ang Lee selalu piawai dalam mengemas energi dramatis secara perlahan hingga memupuknya pada kulminasi emosi akhir.

#16

“HUNGER”

 (Steve McQueen, 2008, UK)

Ada bentuk sinema ekstrim yang menggambarkan kisah nyelekit di depan layar. Seperti halnya film ini. Tumpuan visual yang  begitu mengagumkan hingga terkadang berpikir dialog pun tak perlu diumbar di sepanjang film. Hingga ketika rentetan gambar-gambar yang mewakili tiap detail cerita dialihkan pada sebuah gambar statis 17 menit (terdiri dari 2 shot), adegan percakapan tersebut, kita tengah dihantarkan memasuki panggung pertunjukan seorang Michael Fassbender dan kejelian McQueen mengemas sebuah sinematik yang tidak biasa. Tidak akan terlupakan.

#15  

“THE BEST OF YOUTH”

(Marco Tullio Giordana, 2003, Italy)

Opus ini, bercerita begitu panjang hingga mendekati enam jam durasi. Tetang keluarga. Tentang masa remaja yang dimulai dengan begitu ringkas petualangan yang diberikan. Tentang memilih jalan hidup. Lalu kembali lagi ini tentang keluarga. Dalam setiap jengkal cerita yang muncul, begitu mengalir hingga terkadang tak terasa durasi yang begitu panjang telah terlampaui. Mungkin akan terbersit sedikit egoisme, mengapa si A harus begini, atau mengapa si B tak bersama yang ini, pada dasarnya telah menjadi bukti bahwa sang sutradara berhasil menarik kepedulian kita terhadap tiap karakter di film ini.

#14

“THE BEAT THAT MY HEART SKIPPED”

 (Jacques Audiard, 2005, France)

Audiard sering dihubung-hubungkan sebagai versi Perancis dari seorang Scorsese. Perbandingan itu semakin kentara ketika A Prophet dirilis di akhir dekade ini. Audiard lewat film ini begitu terampil membangun cerita mengenai mimpi dan talenta yang terhenti. Jelas tersimpan energi seperti genre Amerika kental yang sering digusung Scorsese. Namun, lewat pengawinan artistiknya sinema Perancis, terlahir sajian yang begitu menarik ini. Tiap kali melihat tangan sang karakter menirukan gestur ketika bermain piano, inilah sisi magis yang selalu ingin kita simak dari sebuah sinema.

#13

“BRIGHT STAR”

(Jane Campion, 2009, UK)

Rasanya tak ada yang bisa menggabungkan visual dengan puisi seindah apa yang Campion sajikan di sini. Dalam tiap bait kata-kata yang mengalir, tersimpan sisi melankoni yang begitu serasi. Bahkan ketika dalam sudut yang teramat dihanyutkan oleh kiasan, atau problematika romansa yang tak berujung manis, pada tiap barisan gambar indah yang tersaji, Campion telah menyuguhkan makna puitis itu.

#12

“MOULIN ROUGE!”

 (Baz Lurhmann, 2001, Australia)

Extravaganza musik di era ini tak lepas dari peran Baz Lurhmann yang dengan beraninya mengaransemen ulang lagu, lalu menautkannya pada setiap adegan komikal, kocak, hingga nomor-nomor yang begitu menyimpan energi musikalitas kental lengkap dengan sentuhan teatrikal “amburadul”-nya yang khas. Dengar, sejenak menyimak tembang dari The Sounds of Music melantun, lalu beralih ke rendisi dari lagu-lagu Madonna, sampai terdengar Nirvana hingga Queen dalam aransemen tango yang unik. Pemilihan musik paling berani dekade ini. Nicole Kidman sebagai Satine merupakan salah satu karakter paling berkesan dekade ini.

#11

“MORVERN CALLAR”

(Lynn Ramsay, 2002, UK)

Jika di era 90 saya menganggap Chungking Express adalah film yang paling bisa mengharmonisasikan pilihan lagu yang terputar pada tiap adegan dengan sempurna hingga menghadirkan sensasi yang berbeda, maka di era ini saya memberikannya pada film ini. Bercerita mengenai seorang wanita yang ditinggal bunuh diri oleh pacarnya ketika Natal, uniknya sang mendiang memberikan mixtape yang diperuntukkan agar didengar oleh sang pacar. Di sinilah kekuatan tiap lagu menciptakan atmosfir menarik. Kita mendengar “Spoon”-nya Can, alunan gamelan jawa yang misterius, atau bahkan melihat adegan mutilasi yang diiringi “I’m Stickin with You”-nya The Velvet Underground. Dalam sisi eksistensial seorang Morvern Callar (yang diperankan dengan begitu memukau oleh Samantha Morton), Ramsay telah mengenalkan sebuah bahasa baru dalam menikmati film.

***

Sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok untuk daftar sepuluh besar terbaru. Jangan lupa ikutan kuisnya ya! Kuis diperpanjang hingga 29 Juli. Ayo buruan!

Advertisements

One thought on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 9 [#11-20]

  1. Ah, Moulin Rouge. Kenapa juri Oscar begitu kejam dg tidak memenangkan film ini? Salah satu film musikal terbaik yg pernah dibuat. Sinematografi cantik, akting brilian dan nomor-nomor yg aneh tapi memorable 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s