AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 8 [#21-30]

Sebelumnya, part 1part 2part 3part 4part 5part 6, dan part 7.

Baiklah sebelum memulai penghitungan mundur di bagian ini, ijinkan saya mengucapkan ini: Selamat Ulang Tahun AwyaNgobrol! Semoga di usianya yang menginjak 3 tahun ini bisa tetap bertahan sampai waktu yang lama. Kalau bisa ya sampai tua pun blog ini masih eksis dan masih memiliki pembaca yang rela mengisi waktu sejenak dengan membaca tulisan di sini. Demikian saja dulu, rentetan untuk perayaan 3 tahun blog ini akan berlanjut sampai penghujung bulan ini. Jadi silakan berkunjung selalu, ya. 😀

Balik lagi ke daftar. Nah, tinggal dua bagian lagi kita sampai ke bagian pamungkas dari daftar ini. Tapi sebelumnya, simak dulu sepuluh film di tiga puluh besar ini. Di bagian ini, dimulai dari kisah yang diangkat dari novel grafis, kemudian bisa juga disimak salah satu kisah hiburan mata-mata yang ditampilkan dengan aksen beda dan menarik. Sebuah black comedy yang menampilkan lanskap kota yang indah. Ada pula film yang berisi muatan kontroversial, namun menampilkan salah satu penampilan aktris terbaik dekade. Mau tahu film apa saja? Simak selengkapnya berikut ini. 

100 Films of 2000s – #21-30:

#30

“GHOST WORLD”

 (Terry Zwigoff, 2001, US)

Adaptasi novel grafis terbaik dekade ini nyaris hadir tanpa plot, cerita berkutat seperti menyimak diari harian dua gadis yang terpaku pada kebingungan paska menyelesaikan sekolah. Ada adegan unik. Ada senyum bertebaran. Ada Tora Birch dengan raut misterius. Ada Scarlett Johansen dalam salah satu penampilan terbaiknya. Simak saja.

#29

“THE BOURNE SUPREMACY”

(Paul Greengrass, 2004, US)

Karena dengan beraninya menggerus sisi familiar dalam aksen film Hollywood seperti ini, maka segala bentuk yang terjadi begitulah istimewa. Sang kekasih tak bertahan hingga akhir, ia mati di awal film. Greengrass tentu mengambil risiko dengan memberikan plot seperti ini, namun hasilnya, sebuah tahapan penempatan karakter seorang Bourne yang mengesankan. Amarah terpendam, memunculkan sisi balas dendam yang membuncah. Oh, jangan lupa kejar-kejaran di awal film, akan merasa kagum melihat begitu fasihnya Greengras mengekspos tiap sudut hiruk-pikuk Goa.

#28

LAST RESORT

 (Pawel Pawlikowski, 2000, UK)

Selalu menarik melihat kisah tentang imigrasi. Dalam film yang durasinya tak melebihi 80 menit ini, tersimpan kisah mengenai imigran Rusia yang bertandang ke London bersama anaknya untuk bertemu sang tunangan, namun terhambat oleh himpitan hukum. Diam-diam, tersaji energi menarik mengenai romantisme yang tersaji perlahan. Singkat, namun begitu membekas.

#27

“THE PIANIST”

(Roman Polanski, 2002, UK)

Ketika melihat Roman Polanski sedikit beralih dari genre yang lama ia geluti, muncullah The Pianist, formalitas dalam genre biopik khas yang sering kita simak. Namun, dalam tiap detail Polanski mengemasnya, The Pianist menghasilkan nuansa berbeda. Tiap adegan untuk menghindar dari Nazi atau terperangkap dalam Holocaust, Polanski tampil dengan kulminasi yang esktrimis namun tak lupa menghadirkan resonasi manusiawi. Semuanya membuncah dalam ending yang begitu melegakan.

#26

“SYNDROMES AND A CENTURY”

(Apichatphong Weerashetakul, 2006, Thailand)

Dalam perbandingan yang ditampilkan oleh Joe mengenai sisi lampau dengan modernitas di sini, tak dielakkan menampilakn sudut yang begitu menarik. Bahkan, dalam setiap sisi yang misterius, tersimpan sudut pertanyaan yang sebenarnya kita kenal. Hangat dan membumi.

#25

“RATATOUILLE”

(Brad Bird, 2007, US)

Dengan segala bentuk sisi menjijikkan yang muncul pada tikus, Brad Bird menyulapnya menjadi sebuah kisah unik penuh dengan guratan artistik. Tiap kali melihat adegan Anton Ego tersihir menyantap Ratatouille buatan Remy, selalu terbersit sisi menakjubkan sebuah cerita; mengkritisi itu adalah mencintai.

#24

“THE HURT LOCKER”

(Katryn Bigelow, 2009, US)

Senang rasanya sebagai penyimak setia ajang Oscar, di penutup dekade, tropi tertinggi diberikan kepada pemenang film terbaik Oscar dekade ini. Sederhana saja, karena orkestrasi yang begitu piawainya diterapkan Bigelow memunculkan energi maskulin dalam pengenalan karakter para pasukan di negeri penuh bom di sana-sini. Kita mungkin tidak pernah tahu apa yang mereka benar-benar rasakan, setidaknya dalam potret Bingelow, kita sejenak juga seperti merasakan.

#23

“IN BRUGES”

(Martin McDonagh, 2008, UK)

Selalu tak pernah bosan menyimak film ini berulang kali. Sisi kekocakan yang dengan apiknya dibalut dengan atmosfer begitu menghangatkan. Kota Bruges yang dijadikan persembunyian. Dalam komedi hitam yang digusung, McDonagh menghadirkan kelucuan yang tak pernah terlihat usang. Tidak akan bosan bahkan untuk mengulanginya berkali-kali.

#22

“THERE WILL BE BLOOD”

(Paul Thomas Anderson, 2007, USA)

Dalam karya yang disambut gempita oleh kritikus dari seorang Paul Thomas Anderson ini, Daniel Day Lewis tak akan terlupakan berkat pernampilan monumentalnya sebagai Daniel Plainview, salah satu karakter yang paling sulit dibaca yang pernah ada. Entah ia seorang putih atau hitam, atau abu-abu sekalipun masih perlu dipertanyakan. Kuat dan sulit dilupakan. I drink your milkshake!

#21

“BIRTH”

(Jonathan Glazer, 2004, US)

Dipetieskan oleh kritikus ketika dirilis, tentu tidak bisa dielakkan mengingat Birth menampilkan premis yang tidak biasa dan adegan yang mudah mengundang kecaman. Seorang janda yang sudah siap menikah kembali dengan pacarnya tiba-tiba saja didatangi seorang anak yang mengaku sebagai reinkarnasi dari suaminya yang telah meninggal. Menyimak bagaimana Nicole Kidman terobrak-abrik dalam kebimbangan yang mendalam, merupakan sebuah bentuk ketika sinema tak bisa lepas dari kekuatan si penampil. Penampilan Nicole Kidman terbaik dekade ini. Mungkin, jika Stanley Kubrick masih hidup, Birth adalah sinema yang begitu menarik untuk ia komandani. 

***

Sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok. Jangan lupa ikutan kuisnya ya! Kuis diperpanjang hingga 29 Juli. Ayo buruan! (*tetep promosi*) 😀

Advertisements

2 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 8 [#21-30]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s