AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 7 [#31-40]

Sebelumnya, part 1part 2part 3part 4part 5, dan part 6.

Untuk bagian ini, tak disangka jika dipenuhi oleh berbagai jenis period drama. Mulai dari film dengan barisan penampil yang banyak dan berdesakan, film yang diangkat dari novel terkenal, film heroik dengan settingnya yang kebanyakan di atas laut, hingga film dengan kisah cinta terlarang yang kontroversial ketika dirilis. Tidak ketinggalan ada pula kisah thrilling dalam ranah arthouse, ada kisah keluarga dengan segala masalahnya, hingga bentuk keasyikkan kisah wanita dalam aspek balas dendam. Berikut selengkapnya. 

100 Films of 2000s – #31-40:

#40

“THE SQUID AND THE WHALE”

(Noah Baumbach, 2005, US)

Ketika itu, Baumbach memberikan cerita film ini kepada Wes Anderson agar digarap menjadi sebuah film, tepatlah Anderson menolak dan menegaskan Baumbach untuk menyutradarainya sendiri dengan Anderson di kursi produser. Meskipun punya gaya yang begitu mirip, sentuhan Baumbach terlihat begitu tepat untuk film ini, tanpa harus menghadirkan sisi menyerempet ranah “tak-riil” yang kadang begitu kental disentuh Anderson. Dalam durasinya yang tidak melampaui 90 menit, film ini begitu rapat menyorot kisah keluarga tak sehat ini, bahkan hingga menampilkan implikasi pada anak yang terjebak dalam kisah perceraian. Jeff Daniels, Laura Linney, dan Jesse Eisenberg tampil mengesankan.

#39

“UZAK”

(Nuri Bilge Ceylan, 2002, Turkey)

Dibalut dengan fotografi yang begitu menawan. Perhatikan onggokan kapal besar yang terpaut dengan putihnya salju, atau perhatikan detail burung berterbangan di salah satu bidikan gambar, Ceylan hadir begitu memanjakan mata. Terlepas dari itu, Uzak (atau Distant) adalah potret kesendirian yang dibalut dengan konflik sisi cinta dan keluarga. Sebuah cerita tentang sepi.

#38

“ERIN BROCKOVICH

(Steven Soderbegh, 2000, US)

Dalam runut kepiawaian seorang sutradara, bagi saya, lewat film ini Soderbergh begitu lihai mengemas tiga kekuatan sentral yang hadir; kharisma sang bintang, keseksian narasi, hingga kedalaman sisi politis. Dalam drama politik seperti ini, Soderbegh menempatkan sang diva pada tiap bingkai yang begitu memesona.

#37

“WERCKMEISTER HARMONIES”

(Bela Tarr, 2000, Hungary)

Jika menyimak film ini, akan terbersit sebuah pengalaman lain dalam menyimak film, setidaknya kita bisa mengerti bahwa sebuah film juga memiliki tata bahasa (grammar) yang dihidupkan dan memiliki bahasa interpretasi sendiri. Pada aspek yang terlihat setia: shot panjang, atau shot jauh, seperti hadir mengawasi, ini adalah bentuk sinema yang langka.

#36

“PRIDE AND PREJUDICE”

(Joe Wright, 2006, UK)

Karena melihat fairytale adalah sebuah kesenangan tersendiri, maka Pride & Prejudice garapan Joe Wright adalah bentuk visualisasi yang diimpikan pembaca novelnya. Pride & Prejudice saya simak pertama kali ketika mendapat tugas kuliah, mengamati bagaimana Joe Wright melukis detail yang Jane Austen ceritakan, ada energi magis, tiap kali apa yang telah kita lahap di buku, tertumbuk pada sebuah visual yang begitu kita bayangkan: “Ah, benar seperti ini bayangan saya ketika membaca bukunya!”

#35

“THE SON”

(Dardenne Brothers, 2002, Belgium)

Lihat betapa terampilnya potret wajah sebagai ruang ekpresi diekspos: amarah, rasa sedih, hingga rasa sesal muncul dengan apik. Bahkan, hal-hal unik antara sisi kebencian dan rasa bersalah membaur menjadi sebuah aspek pengenalan yang begitu menggunggah. Cerita sentral antara seorang bapak yang memperkerjakan seorang anak yang dulu membunuh anak sang bapak ini, menampilkan sisi unik manusia dengan jujur.

#34

“BROKEBACK MOUNTAIN”

(Ang Lee, 2005, US)

Bahkan, ketika cerita dramatis kekalahannya di Oscar sampai saat ini masih gencar disinggung, Ang Lee telah menjawabnya di penghujung dekade, tidak apalah tidak memang, toh film ini lebih dikenang kini. Dalam cerita cinta terlarang ini, coba perhatikan bagaimana Ang Lee membungkusnya dengan apik. Balutan sepi pada fotografi indah. Narasi drama yang mengalir biru. Hingga konflik bathin yang tersimpan pada tiap raut muka. Tentu, empat pemain utama (masih muda pula) ini tak akan tertandingi jika melihat mereka diarahkan dengan menawan. Dua wanita; Anne Hathaway dan Michelle Williams. Dua lelaki: Jake Gylenhall dan Heath Ledger. Untuk yang terakhir, meskipun kini ia telah tiada, namanya akan tetap dikenang sebagai salah satu penampilan terbaik dekade ini.

#33

“GOSFORD PARK”

(Robert Altman, 2001, UK)

Rasanya tidak ada sutradara lain sepiawai Altman dalam mengemas barisan panjang para pemain dalam sebuah film, namun tetap menghadirkan kesan karakterisasi yang kuat. Dalam Gosford Park, pada setiap timbunan dialog yang tersemat, ada intrik yang terburai. Pada setiap raut muka yang tertangkap, ada aspek psikologi tersaji. Coba perhatikan adegan ketika salah satu karakter di film ini bermain piano dan bernyanyi, di situlah magis Altman membaurkan barisan pemain hingga tersimpan kesan hangat yang menarik.

#32

“MASTER AND COMMANDER: THE FAR SIDE OF THE WORLD”

(Peter Weir, 2003, US)

Dalam setiap cerita yang familiar; drama sejarah, epik, perang, ataupun aspek heroik, sering rasanya terhimpit pada keklisean. Namun, menggunakan kata itu tak akan terwakili ketika akhirnya muncul film ini, pada setiap detail yang disebutkan tadi, muncul keunikan magis seperti tangan Weir tengah dikerubuti puitisnya napas dari Malick. Indah.

#31

“KILL BILL VOL. 1”

(Quentin Tarantino, 2003, US)

Seperti melihat menariknya sebuah hiburan, Tarantino telah memiliki magnet khusus bagi yang memujinya. Dalam setiap tebasan ekstrim, atau dalam tiap bentuk kekerasan yang ditubrukkan, style berada di atas segalanya. Regangkan badan, karena terkadang substansi hendak istirahat sejenak. Seperti sinema ini.

***

Sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok. Jangan lupa ikutan kuisnya ya!

Advertisements

4 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 7 [#31-40]

  1. di part ini banyak yang saya suka dari kill bill,pride and prejudice,erin,hingga vaforite saya brokeback mountain saya suka sekali listnnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s