AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 6 [#41-50]

Sebelumnya, part 1part 2part 3part 4, dan part 5.

Untuk di bagian keenam ini ada sepuluh film lagi yang mengisi. Dimulai dari film yang meraih kritik beragam ketika dirilis, mengekspos sisi perselingkuhan dan seksualitas dengan kental, sementara film berikutnya merupakan versi modern dari cerita lawas yang dimainkan dengan begitu berkesan oleh si pemeran utama. Ada film dengan aksen komedi “amburadul” yang mengocok perut tanpa henti, ada film yang memunculkan sisi kesepian dengan penuh kontradiksi. Tidak ketinggalan sineas besar Hollywood yang fasih merajai film-film komersil kini hadir dengan sentuhan Kubrick. Simak saja selengkapnya berikut ini.

100 Films of 2000s – #41-50:

#50

“CLOSER”

(Mike Nichols, 2004, US)

Salah satu film yang mengutub ini, tentu menghadirkan sisi menarik di mata saya. Melihat Julia Roberts berkata kotor, atau menyimak Natalie Portman tampil sensual (yang mana adegan telanjangnya akhirnya dipotong oleh sang sutradara sendiri), Closer adalah bravura acting. Dalam setiap kalimat terlontar ada hiperbolisasi, ada sisi ekstrim yang terasa tabu, meskipun hasilnya harus tertipu.

#49

“BRIDGET JONES’ DIARY”

 (Sharon Maguire, 2001, UK)

Menyimak Bridget Jones’ Diary adalah sebuah kenikmatan. Dalam sinema ringan yang mengajak menengok ranah fairytale, film ini mengumbar itu semua, lengkap dengan referensi sentuhan Jane Austen versi modern dari Pride and Prejudice. Renee Zellweger sebagai Bridget begitu mengesankan.

#48

“NO COUNTRY FOR OLD MEN”

(Coen Brothers, 2007, US)

Salah satu pemenang Oscar dekade ini yang menggembirakan. Dalam sentuhan Coen Bersaudara yang begitu lihai mengemas komedi hitam dengan selipan senyum ironi, film ini tidak sempat menghadirkan sisi itu. Alih-alih, guratan terkejar oleh sensasi horor yang ditampilkan oleh si antagonis. Sepi. Namun, berdesir.

#47

“BEFORE SUNSET”

(Richard Linklater, 2004, US)

Siapa bilang sekuel tidak bisa lebih baik dari film pertamanya? Meskipun di atas kertas pertanyaan itu selalu mengerucut pada sisi negatif, namun Before Sunset menghadirkan sisi pengecualian tersebut. Berhasil menghadirkan sisi yang lebih menarik dari seri pertama. Nostalgia yang begitu unik. Ah, ending film ini begitu berkesan.

#46

“SPIRITED AWAY”

(Hayao Miyazaki, 2002, Japan)

Dalam dunia Miyazaki, selalu ada keunikan yang begitu menariknya hingga terkadang terheran begitu kaya imajinasi yang dimiliki animator ini. Melalui Spirited Away, tertampil semangat gadis yang berjuang agar kembali ke dunia nyata setelah terjebak di dunia lain yang tidak ia kenali. Miyazaki selalu terampil menciptakan karakter wanita yang kuat. Senang, akhirnya Oscar bisa melirik film seperti ini.

#45

“AMORES PERROS”

(Alejandro Gonsalez Innaritu, 2000, Mexico)

Bagi yang sering mengunjungi blog ini, pasti tahu jika saya begitu tidak menyukai Babel yang terlampau manipulatif, sementara 21 Grams terlihat begitu melelahkan. Amores Perros adalah titik perkenalan bagi Innaritu ke seluruh dunia. Dalam rangkaian cerita berbeda, tersimpan benang merah yang membentur tanpa disengaja. Seperti melihat takdir di depan mata. Tangan manusia begitu piawai merangkai cerita. Seperti film ini.

#44

“YOU CAN COUNT ON ME”

(Kenneth Branagh, 2000, US)

Kehangatan keluarga adalah senjata paling ampuh yang paling berhasil menarik hati saya. Pun lewat duo menawan Mark Ruffalo dan Laura Lynney yang menghadirkan kisah kakak-beradik ini. Begitu sederhana kesannya, namun begitu hangatnya terasa.

#43

“LOST IN TRANSLATION”

(Sofia Coppola, 2003, US)

Kesan kontradiktif begitu kental. Tokyo yang teramat sibuk dan ramai malah menjadi titik kesendirian bagi karakter utama di film ini. Siapa yang tahu bisikian terakhir di ending film ini? kita tidak pernah tahu. Mereka yang tahu. Seperti rahasia yang akan kita kulum karena terlalu manisnya untuk dibagai ke orang lain. Begitu kiranya.

#42

A.I: ARTIFICIAL INTELLIGENCE

 (Steven Spielberg, 2001, US)

Permasalahan yang paling sering terdengar dari pembenci film ini adalah ending film ini. Di mata saya, keberanian Spielberg untuk mewujudkan ambisi Kubrick yang telah mengembangkan film ini dari tahun 70-an adalah sebuah apresiasi yang paling tinggi. Mungkin, jika kita berusaha melirik film ini dengan penuh sentuhan Kubrick, terkesan dingin. Di situlah mengapa tangan piawai Spielberg untuk merangkai robot menjadi begitu manusiawi tercipta dengan sempurna. Hasilnya, cerita ala boneka Pinokio yang paling menyedihkan di dekade ini.

#41  

“I HEART HUCKABEES

(David O. Russel, 2004, US)

Saya selalu punya istilah sendiri untuk jenis sinema seperti ini, selayaknya saya menyebut film-film Wes Anderson, yaitu film yang penuh dengan bum-kedibum-bum. Tiap kali muncul sisi aneh yang merenggangkan makna riil, terlempar tawa renyah yang tak hentinya terburai. David O. Russel mungkin baru begitu dikenal ketika The Fighter menghantarkannya meraih nominasi Oscar, namun lewat Three Kings di era 90 silam dan film ini, ia telah menegaskan begitu piawai mengemas komedi. Jika boleh memilih, inilah salah satu komedi terbaik dekade ini.

***

Sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok. Jangan lupa ikutan kuisnya ya!

Advertisements

2 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 6 [#41-50]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s