AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 5 [#51-60]

Sebelumnya, part 1part 2, part 3, dan part 4.

Jadi, rencana untuk posting dua kali kemarin tidak terlaksana. Untuk bagian kelima inilah dia. Di bagian kelima ini, kalian akan menyimak entri pertama dari film yang dibuat oleh sineas Indonesia, yang pada kesempatan ini begitu mengesankan di mata saya. Dilanjutkan oleh duo bintang yang paling ditunggu setelah film mereka meledak luar biasa di era 90, kini tampil dalam sisi dewasa. Ada pula film yang dikemas begitu solid dengan mengambil sisi setelah tragedi 11 September. Kisah keluarga dalam tiga generasi, serta kisah keluarga antara wanita dengan anjingnya tersayang. Berikut selengkapnya. 

100 Films of 2000s – #51-60:

#60

“FIKSI.”

 (Mouly Surya, 2008, Indonesia)

Sebut saja saya cukup terkejut menyimak film ini, karena melihat sineas Indonesia yang ada di belakangnya. Sentuhan genre yang diakrabi dengan sentilan berani dalam mengupas gerak-gerik penghuni rumah susun. Terus terang bagi saya, Mouly Surya merupakan salah satu sineas Indonesia paling menjanjikan di mata saya saat ini.

#59

“REVOLUTIONARY ROAD

(Sam Mendes, 2008, US)

Tahun 2008 lalu, film ini adalah film paling saya tunggu-tunggu mengingat untuk pertama kalinya duo Titanic ini disandingkan kembali di layar lebar. Banyak yang kecewa karena filmnya tidak segempita yang telah dinantikan. Mendes tentu dikenal lewat kisah suburban American Beauty, tahun 1999 silam. Dalam Revolutionary Road mengulik sisi kelam rumah tangga suburban itu kembali. Lebih suram dan begitu depressing.

#58

“OCEAN ELEVEN”

(Steven Soderbergh, 2001, US)

Dengan kekhasan yang mengalir cepat, aksi barisan bintang yang disatukan dalam satu bingkai tontonan seperti ini, lengkap dengan dialog cerdas dengan elemen menipu di beberapa bagian, Ocean Eleven adalah hiburan dalam tingkat yang paling mengesankan. Bayangkan bagaimana Soderbergh masih lekat memunculkan kharisma semua bintang utamanya. Pesta tontonan yang begitu menggiurkan.

#57

“EVERYONE ELSE”

 (Maren Ade, 2009, Germany)

Dalam lingkup yang tidak lebar, menyimak sisi hubungan orang dewasa—atau yang hendak dewasa—begitu sempurna jika dihadirkan dengan sisi naturalistik seperti ini. Tiap gerak tubuh, raut muka, dan dialog membaur membentuk orkestrasi yang begitu dekat. Rasanya kita begitu mengenal mereka berdua. Maren Ade mengemasnya dengan teramat apik.

#56

“YI YI”

(Edward Yang, 2000, Taiwan)

Dalam ruang seorang Edward Yang, keluarga adalah potret paling mendekati untuk menjadi representasi kehidupan itu seperti apa. Dalam Yi Yi unsur-unsur yang begitu akrab, entah itu masa saling jatuh cinta ketika remaja, tentang lugunya masa kecil, hingga kematian, diceritakan dalam sudut tiga generasi berbeda. Begitu hangat.

#55

“VOLVER”

(Pedro Almodovar, 2006, Spain)

Kesan melodrama dalam Volver tentu lekat jika mengingat ada Almodovar di belakangnya. Satu hal yang paling menarik adalah seorang Penelope Cruz. Ia memiliki energi yang khas yang seakan membuat kita berpikir jika saja Raimunda tidak diperankan oleh seorang Cruz, magis itu tidak akan pernah terasa. Lihat saja bagaimana adegan Raimunda bernyanyi, di situlah letak sentuhan Almodovar yang begitu menakjubkan.

#54

“25th HOUR”

(Spike Lee, 2002, US)

Spike Lee mengambil setting paska tradegi 11 September tersebut tentu memiliki peran yang begitu signifikan terhadap skripnya yang begitu solid. Jarang melihat sisi psikologis seseorang yang akan masuk ke ruang penjara diceritakan dalam layar. Dengan memberikan sentuhan American Dream, Lee seperti mengajak terbangun kembali setelah tragedi yang mengguncang warga Amerika tersebut.

#53

“THE CIRCLE”

 (Jafar Panahi, 2000, Iran)

Selalu suka melihat sebuah cerita yang membuka sisi lain dalam sebuah negara atau setidaknya memaparkan dengan lugas di balik itu semua. Panahi memotret kisah terkungkungnya para wanita di Iran dengan memberikan beberapa cerita dari sisi berbeda, namun muncul seperti tengokan sekilas, tanpa perlu diselesaikan. Begitu efektif, karena terkadang hal seperti ini lebih menarik jika tidak diselesaikan. Miris rasanya melihat nasib para wanita tersebut.

#52

“TIME OUT”

(Laurent Cantet, 2001, France)

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang yang berbohong selama belasan tahun kepada keluarganya dan semua orang, pura-pura mengenai profesi pekerjaannya, namun tidak bekerja sama sekali, Laurent Cantet mengemasnya dalam kurun delapan bulan saja, namun mengupas kebohongan tersebut dengan sentuhan sepi (berbeda dengan The Class yg begitu ribut). Sampai ketika kita merasa penasaran untuk apa lelaki ini harus menyimpan kebohongan tersebut, ada guratan iba yang tersimpan. Ending film ini mengundang beragam perspektif.

#51

“WENDY AND LUCY

(Kelly Reichardt, 2008, US)

Melihat kemiskinan yang disorot lewat seorang Wendy, ada gejolak kasihan yang terpendam. Reichardt bertutur sederhana saja, seperti memberikan kisah seorang wanita yang hidup dengan anjingnya tanpa konflik yang begitu bombastis. Tidak secuil pun terasa eksploitatif.

***

Sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok. Jangan lupa ikutan kuisnya ya!

Advertisements

5 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 5 [#51-60]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s