AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 4 [#61-70]

Sebelumnya, part 1part 2, dan part 3.

Setelah kemarin mengisi blog dengan dua kali postingan untuk countdown film-film dekade 2000, sepertinya begitu pula untuk hari ini. Sekarang saya berikan daftar untuk bagian keempat (#61-70). Untuk bagian ini ada dua film yang menguji wilayah perspektif penonton. Memberikan kebebasan interpretasi sepenuhnya. Film pertama mengajak kita menelusuri karakter wanita yang secara perlahan mengaburkan sisi ingatan, sedangkan film satunya menguji kepekaan akan fungsi penempatan kamera di layar. Selain itu pula untuk bagian ini ada dua sutradara besar asal Hollywood sana, yang satu akhirnya meraih Oscar, yang satu lagi mengupas tema yang sensitif. Film lainnya, ada yang menyajikan pesta makan yang seksi, hingga petualangan remaja yang seksi pula. Berikut selengkapnya.

100 Films of 2000s – #61-70:

#70

“MUNICH”

(Steven Spielberg, 2005, US)

Jika Munich terlihat provokotif, maka saya mencoba melihat Munich dari sisi lain. Coba saya sampingkan unsur politik dan religi, film ini menggempur dengan sisi menarik sebagai sebuah produk thriller yang mengemas kepekaan kita melihat sisi psikis seorang teroris dalam tugas balas dendam tersebut. Berlatar belakang insiden besar di era 70, lanskap dan gambar yang tersaji begitu indah.

#69

“THE HEADLESS WOWAN”

(Lucrecia Martel, 2008, Argentine)

Kadang begitu menarik melihat film yang berhasil membuncahkan perspektif, apalagi ketika secara perlahan membangunnya pada penonton, lalu diam-diam membongkar, namun berhasil mematahkan semua yang telah terbangun. Martel, yang menyuguhkan kita sisi dari wanita di film ini, sebenarnya juga tengah menguji kita. Sama dengan yang terjadi dengan karakter utama di film ini, setelah film berakhir, rasanya kita juga telah hilang ingatan.

 

#68

“CACHE”

(Michael Haneke, 2005, France)

Tentu saja, Haneke kerap menipu kita dalam pergerakan kamera di film ini. Maka jangan luput diperhatikan bagaimana video di sini seolah terekam dalam lapisan sendiri. Entah siapa yang merekam, entah mengapa ia direkam, Haneke terlihat pintar mengelabui. Coba perhatikan mengapa kamera di film ini berakhir dengan seperti itu, merekam dengan lama dan statis, coba cari, mungkin rahasianya ada di ending tersebut.

#67

“CITY OF LIFE AND DEATH”

(Chuan Lu, 2009, China)

Terasa seperti membaca novel dari Oka Rusmini, lalu sekejap melihat bagaimana semuanya muncul di layar. Tentang wanita yang menjadi bentuk lain bagi para tentara Jepang, begitu mirisnya melihat para wanita itu. Dibalut dalam sinematografi hitam putih, banyak yang mengaitkannya dengan Saving Private Ryan bertemu dengan Schindler’s List, film ini memiliki tempatnya sendiri. 

#66

“THE DEPARTED”

(Martin Scorsese, 2006, US)

Penantian panjang seorang Scorsese untuk memegang piala Oscar pertamanya di kursi sutradara berbuah manis lewat film ini. Siapa sangka dengan energi seperti ini, bentuk komersialitas yang kental, tetap tersimpan sudut yang begitu menarik. Tentu, sebagai orang yang lebih menyukai versi Scorsese dari pada versi aslinya, The Departed adalah hiburan yang begitu mengasyikkan.

#65

“I AM LOVE”

(Luca Guadagnino, 2009, Italy)

Boleh jadi, kejutan paling menarik dari sinema Italia di dekade ini muncul menjelang penutup dekade. Guadagnino terlihat piawai mengemas Tilda Swinton, mengukuhkan aktris ini sebagai ratu film arthouse saat ini. Lihat bagaimana ia membentuk Swinton, tiap geraknya tersimpan sentuhan yang membuai. Warna pastel, sinematografi yang indah. Begitu seksi.

#64

“I’M NOT THERE”

(Todd Haynes, 2007, US)

Haynes memberikan sisi baru dalam menceritakan sebuah biopik dengan menghadirkan berbagai pemeran (tepatnya 6 pemain berbeda) dalam menceritakan fase perjalanan hidup sosok Bob Dylan. Sebuah konsep yang unik, sederhananya untuk mencegah hal klise bernama kebosanan. Penampilan Cate Blanchett sungguhlah luar biasa.

#63

“TOKYO SONATA”

(Kiyoshi Kurosawa, 2008, Japan)

Melihat film seperti ini, ketika rasa sepi begitu kental, sementara ada nada suram yang tersaji, seolah disisikan ke sebuah tempat yang membuat kita ingin segera berlari dari semua yang mereka alami. Tentulah rasa malu begitu sering kita jumpai jika berbicara tentang orang Jepang. Di balik segala sisi “tidak biasa” yang kita lihat pada cerita sebuah keluarga di Tokyo Sonata, entah kebohongan itu, entah kesunyian itu, entah ketidakhangatan itu, terjadi karena inginnya mengumbar lagu sedih sesuai judulnya. Tapi jangan salah, ending film ini menyimpan sebuah kesan yang begitu menarik. Kadang keajaiban itu tidak pernah ada. Ia terlahir apa adanya. Dengarkan saja dentingan merdu itu, karena kita tidak pernah tahu bakat luar biasa dari mana yang jemari mungil tersebut telah miliki.

#62

“Y TU MAMA TAMBIEN”

(Alfonso Cuaro, 2001, Mexico)

Jika coba mempersingkat dalam bahasa seorang Cuaron; jelajahi musim panas dengan cerita yang berbeda, sesuatu yang tidak pernah engkau rasakan, namun hati-hati, musim panas tersebut mungkin akan berujung pada sesuatu yang tidak akan seperti biasanya lagi. Begitu seksi mengumbar kegusaran remaja dalam petualangan seks-nya, Cuaron menarik gerak tubuh dengan jujur dan berani, sekaligus menghadirkan karakter Luisa, dalam sisi dewasanya, membentuk sebuah nada menarik di layar.

#61

“ONCE”

(John Carney, 2006, UK)

Sepertinya menyatukan film dengan sebuah lagu berdampak magis, karena itu pula menyimak Once adalah menjemput orkestra mewah yang terhimpit pada ruang indie. Hanya dengan iringan sederhana, terdengar begitu merdunya dua sejoli ini mengaitkan cerita.

Advertisements

4 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 4 [#61-70]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s