AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 2 [#81-90]

Sebelumnya, part 1.

Setelah kemarin menyimak bagian pertama dari penghitungan mundur seratus film pilihan saya di dekade 2000an, sekarang kita lanjutkan kembali. Sepuluh film di urutan kali ini cukup beragam, meskipun saya akhirnya melihat ada dua film yang memiliki setting di negara yang sama, hanya saja yang satu produksi Hollywood, satunya produksi Bollywood. Film lainnya kita bisa melihat salah satu film paling unik sekaligus provokatif di dekade ini. Ada juga film peraih Palme d’Or. Film yang menghadirkan komedi dalam bentuk berbeda, serta ada pula film yang menampilkan salah satu karakter paling memorable dekade ini.

Silakan disimak selengkapnya. 

100 Films of 2000s – #81-90

#90

“SUGAR”

(Anna Boden & Ryan Fleck, 2008, US)

Ketika melihat Sugar, film dari duo sutradara Half Nelson, saya mengira bahwa film ini hanya akan memotret sisi olah raga yang ditampilkan, ternyata bercerita lebih dari itu. Sugar tak hanya memberikan sebuah narasi tentang perjuangan pemain baseball dari Dominika yang bersaing agar terpilih berlaga di Amerika sana, meningkatkan taraf hidup, namun ada lapisan cerita yang diberikan tentang aspek imigrasi dengan begitu sederhananya. Begitu hangat selesai menyimak film ini.

#89

“PUBLIC ENEMIES”

(Michael Mann, 2009, US)

Dari sekian filmnya Michael Mann di dekade ini, Public Enemies merupakan yang paling membekas. Dibalut dengan barisan akting yang menyudut pada sebuah kepiawaian (simak Marion Cottilard), Public Enemies berderu dengan gaduh pada tembak-menembak yang berdesing tanpa henti. Ada yang memang tidak menyukai gaya Mann dalam menggunakan kameranya, tapi bagi saya, sungguh menarik.

#88

“DEVDAS”

(Sanjay Leela Bhansali, 2002, India)

Jika ingin menyimak bagaimana koreografi tari dan lagu dengan indah ditampilkan, tak ada yang bisa mengelak dengan Bollywood. Saya mengenal Bhansali ketika ia sempat menyandingkan Salman Khan dengan Aishwarya Rai dalam Hum Dil De Chuke Sanam yang memulai kekagugam saya pada Aishwarya Rai, meraih Best Actress di perfilman Bollywood kala itu, meskipun sebenarnya saya lebih mengakui penampilannya di Taal lebih baik. Muncullah Devdas dalam bentuk yang begitu epik. Menyandingkan Rai dengan Madurhi Dixit dan primadona Shahrukh Kan. Ini film yang begitu terlihat mewah. Seperti melihat ruang yang begitu luas dengan ornamen mahal. Grande.

#87

“HAPPY-GO-LUCKY”

(Mike Leigh, 2008, UK)

Bagi sebagian orang, Poppy akan hadir sebagai sosok yang menyebalkan, namun terkadang dalam aspek yang menjengkelkan tersebut ia terlihat begitu riil, hingga mungkin merasa iri mengapa ia bisa memiliki tawa sebanyak itu. Kehebatan Leigh dalam menciptakan Poppy adalah sebuah tepuk tangan tersendiri. Dengan skrip yang kuat, ditambah dengan barisan cast yang mumpuni, Happy-Go-lucky sulit untuk dilupakan. Sally Hawkins sebagai Poppy adalah salah satu karakter paling mengesankan di dekade ini.

#86

“THE DARJEELING LIMITED”

(Wes Anderson, 2007, US)

Selalu menarik melihat road movie, bahkan ketika ada unsur quirky seperti ini. Sentuhan Wes Anderson selalu menjadi favorit saya. Lewat The Darjeeling Limited ada keluarga unik yang kembali diceritakan. Namun, satu yang begitu membekas, Wes Anderson begitu pintar menarik penontonnya untuk berlibur ke Udaipur sana.

#85

“THE CLASS

(Laurent Cantet, 2008, France)

Merasa kesal, sebentar tersenyum, kemudian tertawa, dan bahkan murka terkadang melihat tingkah laku para murid di film ini. Dalam karyanya yang penuh dialog ini, Laurent Cantet memotret interaksi antara guru dengan murid dengan begitu menarik. Bahkan, serasa berada di kelas yang sama, menempuh emosi yang sama seolah ingin rasanya secara hiperbolis berlagak sebagai seorang guru dan menimpuk salah satu murid dengan penghapus. 

#84

“BORAT: CULTURAL LEARNINGS OF AMERICA FOR MAKE BENEFIT GLORIOUS NATION OF KAZAKHSTAN”

(Larry Charles, 2006, US)

Seorang teman yang lebih dulu menyimak film ini, menyebutnya sesuatu yang tidak layak untuk disimak. Namun, sebaliknya, Borat ternyata sebuah bentuk sinema baru yang membuat saya terpingkal-pingkal hingga menahan sakit perut melihat setiap gerak-gerik nyeleneh dari si Borat ini. Untuk setiap tawa yang diumbar, Sacha Baron Cohen pantas menerima tepuk tangan.

#83

“SILENT LIGHT”

(Carlos Reygadas, 2007, Mexico)

Dalam opening yang begitu menguji kesabaran; 6 menit opening film ini diisi oleh adegan matahari terbit dari gelap kemudian memerah. Sementara kemudian berlanjut pada ruangan makan sebuah keluarga yang terlihat sunyi, cerita ini dimulai. Ada sentuhan religi, kesetian, dan cinta yang merangkum kehidupan secara general. Tentu, tidak akan pernah bosan melihat gambar-gambar indah di film ini.

#82

“DOGVILLE”

 (Lars von Trier, 2003, Denmark)

Lars von Trier memang provokator sejati. Pun ketika ia merilis Dogville yang begitu eksperimental dan sekaligus begitu unik. Setting cerita yang seperti berada di atas panggung, memberikan sebuah terobosan yang begitu berbeda di dekade ini. Tidak heran jika sebagian orang membuncah amarahnya selesai menyimak film ini. Ya, von Trier memang begitu esksploitatif.

#81

“CHILDREN OF MEN”

(Alfonso Cuaron, 2006, US)

Begitu banyak cerita film yang memusatkan pada kisah dunia yang katanya akan mencapai kiamat, sementara Cuaron menghadirkan sisi lain, mengarahkan manusia sebagai pihak yang andil dalam terbentuknya kondisi tersebut. Membaurkan berbagai situsiai sosial dan juga politik. Begitu banyak adegan yang sulit dilupakan dari film ini. Adegan kejar-kejaran di mobil yang berakibat pada terbunuhnya salah satu karakter, atau adegan long take bayi menangis itu contohnya, begitu berkesan.

***

Sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok. Jangan lupa ikutan kuisnya ya!

Advertisements

4 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 2 [#81-90]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s