AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 1 [#91-100]

Ini adalah bagian pertama untuk seratus film yang saya sukai di dekade 2000-an yang kembali saya berikan mengingat sebelumnya saya sudah pernah memberikan edisi dekade 2000-an namun dalam bentuk sepuluh film terbaik dari tahun ke tahun. Untuk edisi kali ini, tentu akan menjadi representasi film-film yang saya sukai sepanjang tahun 2000 hingga penghujung 2009, diurutkan secara keseluruhan.

Menjadi sebuah tantangan, karena kali ini berusaha sejujur mungkin mengurutkan tiap film dari sisi sejauh mana saya menyukai film tersebut, dengan mempertimbangkan tingkat apresiasi pada nilai seni, hingga pada ranah personal sekalipun. Saya mengakui bahwa sebuah film bisa memiliki kesan berbeda terhadap seseorang, jadi agar tidak salah anggapan, daftar seratus film ini adalah daftar dari satu sosok individu yang diposisikan untuk memilih seratus film yang paling ia sukai. Entah itu ranah mainstream, film yang berbau arthouse, atau bahkan sisi guilty pleasure (meskipun sebenarnya hal ini tidak perlu ditakuti untuk diakui). Jadi, silakan dibaca postingan ini, hingga edisi akhir nanti sebagai pendapat dari satu sosok penikmat film dan tentu daftar ini tidak menggambarkan film-film paling berpengaruh di era ini. Hanya pendapat sederhana dari sesosok penggemar film. 

Sekedar berbagi, saya benar-benar mengalami kesulitan awalnya untuk menciutkan daftar ini menjadi seratus film saja. Jumlah kandidat yang masuk diciutkan menjadi 300 film. Lalu dipilih kembali menjadi 200. Hingga terpilihlah 100 film terakhir ini. Jika melihat daftar terdahulu, tentu ada perbedaan yang jauh. Mengurutkan film dalam satu kurun tahun tak seperti mengurutkan film dalam sepuluh tahun bersama. Itulah mengapa bisa dilihat beberapa film berguguran, yang sebelumnya masuk, bahkan sempat bertenggaer di posisi tinggi, ketika melihat daftar ini malah tidak masuk sama sekali. Kuncinya adalah waktu. Hal yang paling ampuh untuk menilai kehebatan sebuah film. Sekedar berpuitis, film yang menakjubkan bagi saya adalah film yang bisa tetap bertahan menampilkan kekaguman, ketika kita menyimaknya di selang waktu berbeda. Bahkan, tetap terngiang hingga sekarang.

Di daftar terbaru ini, ada beberapa film baru yang masuk, ada beberapa film lama yang tetap bertahan.

Kita mulai penghitungan mundurnya, sekarang!

100 Films of 2000s –  #91-100:

#100

“THE WRESTLER”

(Darren Aronofsky, 2008, US)

Sebelum mendapat atensi begitu gempita lewat Black Swan, kita melihat Aronofsky yang piawai mengumbar momen-momen dramatis dalam Requiem for a Dream, atau bahkan usahanya membaurkan sisi sains dalam The Fountain, namun dalam film ini ada sisi yang ditanggalkan. Mulai menggerakkan kamera secara naturalistik. Kembalinya Mickey Rourke tak lepas dari peran sutradara ini.

#99

“THE LORD OF THE RING: THE FELLOWSHIP OF THE RING

(Peter Jackson, 2001, NZ/US)

Peter Jackson tentu menjadi sutradara yang tepat untuk membuat epik yang satu ini. Dalam kesan kolosal yang sarat dengan ornamen grande; tata ruang yang detail, alam hijau yang indah, hingga pemilihan latar yang seolah mengajak berkelana sambil berlibur, tampillah epik satu ini yang secara langsung mengeksplorasi keindahan New Zealand ke dalam kamera. Jika kita lihat belum ada yang bisa menandingi keepikkan yang diciptakan Peter Jackson (sampai saat ini), maka seri pembuka adalah hidangan yang paling mewah kita pernah santap.

#98

“HEAD-ON”

(Fatih Akin, 2004, Germany)

Bisa dibilang kedua karakter di film ini terlihat eksentrik. Dalam aspek mencari kebebasan tersebut tergurat niatan ekstrim yang hendak memutusnya sebagai kematian saja. Seperti aspek bunuh diri yang berulang kali ingin dilakukan karakter wanita dalam film ini, hingga niatnya meyakinkan seorang pecandu alkohol untuk berikrar menjadi suaminya, bahkan, jika akhirnya kebebasan itu harus berakhir tidak seperti yang diharapkan. Sibel Kikelli tampil memukau di sini.

#97

“GRIZZLY MAN”

 (Werner Herzog, 2005, US)

Melihat sosok seperti Timothy yang memberikan seluruh hidupnya untuk mencintai beruang, bahkan hidup ingin seperti beruang pula adalah potret yang berbeda dari rasa cinta, namun sebenarnya memiliki esensi yang sama pada potret kesukaan yang normal kita simak. Bahkan, ketika ironisnya kecintaannya tersebut berakhir pada kematiannya di tangan beruang tersebut, dalam dokumenter ini, Timothy memberikan sebuah keindahan lain dari video yang ia rekam sendiri. Ada nilai keindahan yang begitu menggugahnya melihat dedikasi pria ini terhadap apa yang ia percayai. Ia cintai.

#96

“PUNCH-DRUNK LOVE”

(Paul Thomas Anderson, 2002, US)

Setelah mengumbar banyak sentuhan absurd dalam Magnolia, di film berikutnya ini, PTA tetap memunculkan sisi itu, hanya saja dibalut dalam nuansa romantisme. Dalam penampilan terbaik dari komedian Adam Sandler ini, ada yang bersedia menanyakan ke sosok Barry Egan, mengapa ia begitu suka memakai setelan biru?

#95

“ELEPHANT”

(Gus van Sant, 2003, US)

Seri kedua dari Death Trilogy seorang Gus van Sant ini, boleh dibilang film yang paling saya sukai. Terlihat eksperimental dengan memainkan banyak long take dan turut mengawasi karakter dari belakang. Dalam narasi yang minim dialog seperti ini, van Sant mengemas gambar sebagai medium paling tepat untuk menceritakan mencekamnya kronologi pembunuhan masal di sekolah tersebut.

#94

“28 DAYS LATER”

(Danny Boyle, 2002, UK)

Bisa dibilang, film terbaik Danny Boyle di dekade ini. 28 Days Later menampilkan suasana yang mencekam dengan begitu runut. Dalam setiap perjalanan mereka menjauhi para zombie, Boyle menciptakan adegan-adegan yang membuat tubuh terkejut. Bahkan, tersimpan banyak bidikan kamera yang begitu menarik, termasuk ending dari film ini.

#93

“BILLY ELLIOT”

 (Stephen Daldry, 2000, UK)

Dalam Billy Elliot tentu tersimpan dongeng klasik tentang meraih mimpi. Jadi, ingat bagaimana bapak atau ibu guru di sekolah pernah berujar, “gantunglah cita-citamu setinggi langit”, yang seharusnya dibarengi dengan; “cita-cita yang benar-benar engkau senangi tentunya”. Billy Elliot berbicara tentang itu, menampilkan ironi dan benturan pilihan sang karakter utama. Begitu inspiratif.

#92

“2046”

(Wong Kar-wai, 2004, Hong Kong)

Film kedua Wong Kar-wai di dekade ini, juga merupakan kelanjutan dari film sebelumnya, In the Mood for Love, hanya saja kini muncul nuansa futuristik. Dibintangi kembali oleh Tony Leung , namun kali ini ditemani oleh Zhang Zi Yi yang tampil menawan, 2046 mungkin tidak mencapai sisi monumental film pertamanya, namun tetap sebuah hidangan yang seksi

#91

“YOU, THE LIVING”

(Roy Anderson, 2007, Sweden)

Bahkan, jika kita mengerti begitu anehnya dunia yang diciptakan Roy Anderson dalam You, the Living, tak bisa dielakkan jika nuansa humor yang tercipta tidaklah mengenyam sisi nyata. Hanya saja ketika Anderson begitu uniknya membalut setiap sketsa adegan dalam sudut yang absurd, ada sisi kelucuan yang begitu anehnya menarik untuk dilihat.

***

Demikian untuk bagian pertama. Silakan berkunjung kembali besok untuk bagian kedua.

Ayo, jangan lupa juga untuk mengikuti kuis AwyaNgobrol di sini. Kemarin, saya menerima banyak sekali respon karena kuisnya terlihat ribet—hingga membuat saya menangis di pojokan sambil makan Hokben (#apeu)—sebenarnya sederhana saja. Silakan dilihat saja poin pertanyaannya: pertama, pilih 5 film yang paling kalian sukai dan kedua kirim 1 gambar dari film yang kalian sukai dengan alasannya. Begitu saja. Semoga tidak terlihat ribet lagi. Ditunggu partisipasinya ya!

Advertisements

2 thoughts on “AwyaNgobrol’s 100 Films of 2000s – Part 1 [#91-100]

  1. Memilih 5 favorite saja juga sebuah *PENYIKSAAN* Kak Awya, apalagi yang ngak terbiasa buat list gituan. Sama Sama dilematis :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s