15 Best Films of 2011 (So Far)

Di paruh pertama tahun ini saya mengumpulkan lima belas film yang telah saya simak dari awal Januari lalu. Kriterianya, film yang bisa masuk ke dalam daftar ini adalah film yang rilis di negara asalnya setidaknya di tahun 2010. Beberapa film yang rilis di tahun 2009, namun baru saya simak tahun ini (semisal The Maid) tidak saya masukkan.

Berikut daftar 15 film pilihan saya untuk paruh pertama tahun ini.

#15

“THE FIGHTER”

Directed by David O. Russel

Saya menyebutnya tipikal film penuh dentuman. Secara literal juga bisa. Bum-kedibum-bum. Amy Adams tampil dengan sisi berbeda, bergulat dengan para wanita yang tak kalah sengitnya. Namun sisi persaudaraan yang ditampilkan oleh Walberg-Bale adalah magnet film ini.

#14

“I SAW THE DEVIL”

Directed by Kim Jee-woon

Selalu mengasyikkan menyimak kisah balas dendam seperti ini. I Saw the Devil tanpa pengecualian. Dihadirkan oleh dua bintang utama yang tampil memikat, film ini terlihat begitu, apa itu sebutannya, ya, fun! 

#13

“OF GODS AND MEN”

Directed by Xavier Beauvois

Peraih Grand Prix di Cannes tahun lalu ini menceritakan tentang tujuh biarawan yang terbunuh secara misterius di Algaria pada 1996 silam. Begitu apik menampikan sisi humanisme.

#12

“HANNA”

Directed by Joe Wright

Memang ada beberapa hal yang terlihat digampangkan dalam film ini, seperti misalnya adegan ketika tiba-tiba saja si Hanna bisa mengoperasikan komputer. Namun apa yang menarik adalah di balik penindasan substansi yang Joe Wright lakukan, ia tengah menampilkan sebuah pameran stylistic, kejar-mengejar yang menyerupai Jason Bourne, lengkap dengan slow motion di sana-sini, namun memiliki karakterisasi yang subversif seperti Kick-Ass. Joe Wright , saya tunggu film aksi selanjutnya!

#11

“LAST NIGHT”

Directed by Massy Tadjedin

Blogger dan kritikus yang saya sering ikuti pendapatnya semuanya membenci film ini. Well, memang ada goal yang sang sutradara tidak berhasil sampaikan, namun Last Night merupakan bentuk talkie drama yang meski tak sampai memberikan sebuah cerita baru, terlihat begitu nyaman untuk disimak. Review lengkap di sini.

#10

“TRUE GRIT”

Directed by Coen Brothers

Extravaganza nikmatnya menyimak film koboi seperti ini ditampilkan dengan sentuhan yang minim nuansa khas dari Coen Bersaudara. Hasilnya, begitu sederhana dan begitu menyenangkan.

#9

“ANOTHER YEAR”

Directed by Mike Leigh

Begitu hangat menjumpai pasangan dalam film ini sepanjang empat musim berbeda. Tipikal seorang Mike Leigh, kehangatan selalu mengalir dari setiap karakter yang ia reka. Begitupun dengan yang satu ini.

#8

“THE ILLUSIONIST”

Directed by Sylvain Chomet

Menunggu lama untuk menyimak Sylvain Chomet setelah Triplets of Belleville, lewat The Illusionist, Chomet, dengan skrip dari mendiang Jacques Tati, memberikan sensasi nostalgia pada bentuk gambar-gambar rupawan yang minim dialog. Begitu artistik. 

#7

“MILDRED PIERCE”

Directed by Todd Haynes 

Miniseri garapan Todd Haynes ini mempertemukannya dengan Kate Winslet sebagai sosok baru seorang Mildred Pierce. Total durasi yang mencapai enam jam tak ubahnya sebuah kenikmatan mengawasi gerak-gerik perjalanan hidup ibu rumah tangga ini. Lengkap dengan kamera yang terlihat selalu mengawasi dari jauh, ekspresi Kate Winslet tertangkap begitu sempurna.

#6

“THE ARBOR”

Directed by Clio Barnard  

Sebuah dokumenter yang dibalut dengan rekaan drama. Bercerita tentang mendiang Andrea Dunbar, dramawan yang meninggal tragis ketika masih berumur 29 tahun. Alih-alih membuat dokumenter biasa, sang sutradara meramunya dengan begitu berbeda, seperti misalnya membuat panggung reka di halaman rumah. Sang sutradara melakukan audio interview kepada para narasumber selama 3 tahun, namun seluruh yang kita lihat di film ini adalah barisan aktor yang melakukan lip synch terhadap apa yg diucapkan narasumber asli. Lebih mengagumkan lagi ketika melihat begitu sinkron dan sempurnanya impersonisasi gerak bibir hingga tarikan napas yang ditampilkan oleh para aktor ini. Dokumenter yang begitu unik.

#5

“TUESDAY, AFTER CHRISTMAS”

Directed by Radu Muntean

Salah satu peneguh Romanian New Wave lagi. Tuesday, After Christmas mengukuhkan bentuk kesukaan saya pada jenis naturalistik seperti ini. Seorang lelaki mencintai dua wanita. Ia harus memilih salah satu ketika Natal berakhir. Oh, jangan lupa, film ini banyak menghadirkan long take.

#4

“COLD WEATHER”

Directed by Aaron Katz

Jadi, banyak yang menyebutnya “mumblecore dengan plot”. Cold Weather, film ketiga dari Aaron Katz ini memberikan sebuah formula baru dengan meminjam sebuah genre. Dengan energi yang dimiliki layaknya Sherlock Homes, separuh bagian film ini berganti menjadi penemuan misteri. Uniknya, dengan dana yang begitu minim, begitu mengagumkan melihat bagaimana sinematografi membuai dengan begitu indah, lengkap dengan original score-nya yang begitu enak didengar.

#3

“UNCLE BOONMEE WHO CAN RECALL HIS PAST LIVES”

 Directed by Apichatpong Wheerasethakul

Dalam aspek yang misterius, penuh dengan sentuhan sisi mistis, karya terbaru daru Joe ini begitulah eksperimental. Namun tetap saja, keunikan yang dihadirkan di sini tetap begitu hangat menghadirkan kondisi sekitar yang begitu sederhana terlihat sangat familiar. Satu hal, kapan lagi kita bisa melihat cerita putri dan ikan lele seperti ini, huh?

#2

“BLUE VALENTINE”

Directed by Derek Cianfrance

Bravura acting. Diperankan oleh dua penampil muda terbaik Hollywood saat ini. Diceritakan dengan dua narasi berdampingan. Baca review lengkapnya di sini.

#1

“CERTIFIED COPY”

 Directed by Abbas Kiarostami

Inilah film yang paling saya sukai sejauh ini. Magis seorang Kiarostami masih membaur meskipun meninggalkan Iran dan berkelana ke Eropa sana mempertemukan sebuah cita rasa yang mengingatkan akan kombinasi Before Sunrise dengan Before Sunset. Nyatanya, ketika film mengalun pada sebuah perkenalan dua sosok asing, perlahan tersimpan sesuatu yang membuat kita bertanya, “Hei mereka ini, sebenarnya sudah menikah, kan?”,  lalu seketika mengganti pertanyaan, “Tidak. Mereka sedang berakting saja, bukan?”, lalu kembali lagi menelusuri, “Argh. Apa sebenarnya hubungan mereka ini?”. Kembali lagi seperti menumpuk fiksi di atas fiksi, (mengingatkan dengan Through the Olive Trees), bahkan terasa sedikit menyentuh sisi In the Mood for Love pada sebuah interpretasi, Certified Copy begitu cantik duduk sebagai sebuah narasi penuh dialog. Namun jangan salah, ia menyimpan enigma. Begitu mengesankan.

***

Itulah lima belas film favorit saya sejauh ini. kita lihat saja apakah posisi mereka akan bertahan mengingat faktor waktu sampai enam bulan ke depan. Belum lagi ketika melihat ada The Tree of Life, Melancholia, A Dangerous Method, Meek’s Cutoff yang masih akan membentur di enam bulan ke depan. Oh, satu lagi Harry Potter!

Sampai berjumpa enam bulan lagi di daftar akhir penutup tahun ini. Tapi… masih lama. 😀

Advertisements

6 thoughts on “15 Best Films of 2011 (So Far)

  1. yaay ada The Fighter walau nyempil di belakang… kok saya jg ikutan penasaran sama Cold Weather ya? Genre nya mystery kah? Kok menyinggung sherlock holmes, sepertinya seru niih

  2. Wah jadi mau liat Tuesday, After Christmas. *penggemar long take*
    Setuju banget sama score-nya Cold Weather. Btw, score-nya gratis lo di website si Keegan DeWitt, yg bikin score film ini. *info mancanegara*

  3. wah ada i saw the devil disitu jadi seneng . setuju blue valentine di posisi 2 sementara michelle william kereen banget

  4. Tuhaaaaaaaaaannnnnnnnnn……..
    ada Of Gods and Men *peluk awya*

    setuju sekali, sodara awya.
    saya juga menantikan Harry Potter 7.2, dan punya angan2 bahwa seri pnutup franchise laris ini menjadi salah satu dari 10 film yang dinominasikan di oscar mendatang, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s