Film Sepekan: Dari “Scream 4” Hingga “Bad Education”

 Minggu pertama di bulan Juni.

Di minggu pertama bulan Juni, saya terpikir untuk menghabiskan beberapa waktu luang di luar rutinitas kerja dengan menyimak film, membaca buku, atau sekadar mendengarkan musik terbaru. Pilihan pertamalah yang begitu dominan saya lalukan. Namun terasa tak lengkap tanpa membagi pengalaman saya selama sepekan bersama film-film apa saja yang berhasil saya simak, entah dari bioskop maupun home video. Entah itu dari film terbaru atau beberapa reissue dan retrospeksi yang saya berhasil lakukan selama seminggu terakhir. Tentu, mengingat kemalasan untuk membuat review tunggal tiap filmnya bisa terobati dengan membuat artikel ini tiap minggunya. 

Review terakhir yang saya buat adalah Ceremony (C), pada 31 Mei lalu, silakan dibaca lengkapnya di sini. Satu yang menjadi sorotan saya adalah melihat karir Uma Thurman yang terseok pasca dwilogi Kill Bill, entah mengapa padahal bakat dia punya, namun selalu tidak tepat dalam memilih film. Sedangkan di sisi lain, lewat Ceremony saya teringat pada Michael Angarano, salah satu aktor cilik yang sempat menarik perhatian saya di Almost Famous, meskipun hanya berperan kecil. Melihat kemampuan beraktingnya seperti itu, saya jadi penasaran jika kelak dia dilirik oleh Wes Anderson, akan sangat menjanjikan.

Minggu ini saya menyimak ? (Tanda Tanya) (B-), karya terbaru dari Hanung Bramantyo yang sempat menuai kontroversi. Sungguh tidak mengerti di mana letak hal yang terasa perlu menuai kontroversi. Filmnya tak lebih dari cerita interaksi manusia, sedangkan agama hanya hadir sebagai kulit yang ingin menggambarkan mereka berbeda. Di beberapa bagian Hanung berhasil, di sisi lain tidak. Keputusan untuk mengakhiri film ini dengan ending seperti itu, boleh dibilang ketebak, karena seperti sebuah simpulan yang akrab dalam ranah sinema, sesuatu harus berkorban untuk sebuah kebaikan. Sampai saat ini, saya (tetap) lebih menyukai jika Hanung membuat film komedi daripada drama.

Di tengah lesunya bioskop kita, kehadiran Scream 4 (C+) cukup menghilangkan rasa kangen menyimak film di bioskop. Scream 4 menjadi sebuah tontonan yang mengasyikkan di bioskop, lengkap dengan teriak sana dan sini para penonton di dalamnya. Terlebih dari itu, tidaklah ada yang spesial. Namun, “don’t fuck with original” itu berhasil mengumbar tawa.

Hal yang cukup mengejutkan adalah ketika menyimak I Am Number Four (B-), salah satu film ketika nama Michael Bay ada di dalamnya dan saya cukup menikmati apa yang terpampang di layar. Sebut sajalah sebagai “Twilight rasa Michael Bay” atau apalah itu. Meskipun selalu saja ada adegan semisal “lho kok orang ini bisa tiba-tiba ada di sini, padahal kan..” atau “lho kenapa harus begini kan sebenarnya bisa begini…”, I Am Number Four tak lebih dari salah satu episode yang bisa dilihat dalam seri Smallville, lengkap dengan koleksi lagu-lagu yang dihadirkan, mulai dari yang teranyar seperti Adele hingga ranah indie semisal The Black Keys yang tentu mengingatkan dengan episode serial TV. Terlepas dari itu, I Am Number Four cukup menghibur, bahkan cukup berhasil membuat saya ingin menyimak kelanjutannya.

(Salah satu adegan di “I Am Number Four” yang menghadirkan lagu “Rolling in the Deep”-nya Adele. Entah mengapa dipakai lagu ini. Hanya karena ada lirik “there’s a fire starting in my heart” kah? Agak sedikit tidak cocok.)

Selain itu, di minggu ini saya cukup terkesima dengan perubahan Bradley Cooper—yang biasanya selalu terlihat cuek dan mengidap virus playboy pada sebagian filmnya—hadir dengan rambut kucel dan hidup tak terurus dalam Limitless (C), film yang bagian awalnya begitu menarik perhatian, terlihat suram dengan modus sci-fi—pil yang bisa membuat otak bekerja dengan sempurna—awalnya terlihat begitu menjanjikan, pintar dengan menghadirkan sebuah fantasi futuristik seperti ini. Sampai akhirnya momentum di awal terseret menjadi sebuah sisi yang berseberangan dengan “janji” yang dihadirkan di awal, Limitless membuka jurus baru: mempelajari narsisme hingga intrik politik. Pada ruang yang begitu luas dihadirkan, mulai dari pergulatannya dengan gangster, dengan sang kekasih, hingga interaksinya mengejar kekayaan dalam dunia bisnis, Limitless sebenarnya menawarkan sesuatu yang menarik, namun tidak sepintar itu.

Kita tinggalkan Limitless, ada beberapa film yang juga akhirnya saya simak melalui home video meliputi Burlesque (B), musikal yang fun meskipun terlihat begitu panjang pada sebuah cerita yang sebenarnya tidaklah baru. Namun, saya tertarik melihat Christina Aguilera meluangkan waktunya lebih banyak di dunia film, dia punya bakat pada genre seperti ini, atau mungkin komedi romantis seperti Jenifer Lopez. Saya tunggu lho film terbarunya, Mbak Christina. Selain Burlesque, saya juga menyimak William & Kate (B-), yang saya tahu film ini ada setelah melihat beritanya di sebuah stasiun TV sebelum perhelatan pernikahan akbar tersebut. Kisahnya yang mirip dengan dongeng ini, adalah salah satu guilty pleasure tahun ini.

Minggu ini saya juga menyimak karya Pedro Almodovar, Bad Education (B) untuk pertama kalinya, melihat penampilan Gael Garcia Bernal sebagai seorang waria, lucunya malah mengingatkan saya pada seorang Julia Roberts. Dengan isu yang digusung, Bad Education meraih rating NC-17 pada cerita pedofil dan gereja yang terlihat kontroversial itu. Bukan salah satu film terbaik dari Almodovar bagi saya.

Untuk reissue, minggu ini saya menyimak kembali Badlands (B+/A-), yang sebenarnya saya inginkan untuk ditonton berbarengan dengan retrospeksi karya Terence Malick lainnya, namun apa daya saya pending dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Reissue lainnya adalah untuk (kalau tidak salah hitung, keenam kalinya) saya menyimak kembali The Assasination of Jesse James by the Coward Robert Ford (A+), berhubung DVD originalnya mendapat harga miring di Gramedia. Ini salah satu dari (hanya) tiga film di era 2000-an yang saya beri nilai A+ (selain In the Mood for Love dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind). Masih indah. Endingnya dengan narator itu masih menjadi salah satu ending paling saya sukai sampai saat ini.

Itu saja bahasan untuk minggu ini. Simak ulasan beberapa film yang saya simak di minggu kedua pada postingan selanjutnya. Selamat menonton!

Advertisements

3 thoughts on “Film Sepekan: Dari “Scream 4” Hingga “Bad Education”

  1. wowoww… sip2… sayangny aq ga prnahnnton film2 yg jadul2,,, heheeuuu…. and btw i’m number four emng ckup kerenn…. gw bnget lah… hihiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s