Review: Ceremony

Mengejar Cinta, Katanya…

Melihat Ceremony, seperti melihat kombinasi tangan lihai Wes Anderson dan Noah Baumbach dipadupadankan menjadi inspirasi untuk menceritakan sisi baru dari sebuah narasi berdialog, hanya saja tak ubahnya akan diselingi dengan komentar sebagai replika dari Rushmore. Dalam kapasitas yang dibubuhi oleh semangat campur-aduk dan serta-merta alur komik yang dikecap manis, dipinjam dari Anderson kemudian diselingi dengan emosi yang dibawa Baumbach, Ceremony tidak bisa menghadirkan dengan rapi. Beberapa adegan, bolehlah dilihat canggung, terlebih, tidak ada niat mengetes kita untuk peduli pada karakter yang terjadi sepanjang narasi berlangsung. 

Bercerita tentang Sam, (diperankan Michael Angarano. Ketika menyimak film ini saya merasa déjà vu, entah pernah mengenal pemeran utama film ini di mana, hingga akhirnya saya tersentak, ia adalah aktor cilik di salah satu film favorit saya sepanjang masa. Lihat potongan adegan ini). Sam, lelaki muda 20-an, penulis buku cerita anak yang sayangnya tidak pernah diterbitkan, memiliki tingkat kepedean yang tinggi, diceritakan jatuh cinta pada wanita yang lebih tua, Zoe (diperankan Uma Thurman). Pada suatu kondisi, ketika ia tengah berkelana dengan temannya entah untuk apa,  secara kebetulan mereka terjebak pada sebuah acara di pinggir pantai yang ternyata merupakan salah satu rangkaian dari pesta pernikahan dari Zoe. Sampai di situ maka akan sedikit teringat dengan interaksi Jason Schwartzman-Olivia Williams dalam Rushmore, kejar-mengejar yang dipotret dalam ruang yang lebih sempit.

Sam yang begitu mencintai Zoe, terlihat santai saja mendapati bahwa wanita yang ia ingin miliki hendak dipinang seorang pria yang ada di atasnya, dari sisi materi hingga perbandingan postur tubuh yang lebih tinggi yang sempat terdengar lewat benturan dialog di film ini. Entah jika kita berniat peduli dengan motivasi Sam mengejar semua itu dalam waktu yang singkat. Mengambil jurus “perang cemburu” yang berhasil menarik Zoe kembali, namun tetap saja, di mata Zoe, itu hanya sebuah main-main saja. Tidak ada masa depan di sana. Di sisi lain, ada pula sentuhan bromance yang meruncing ketika sang sahabat Marshall mengetahui rahasia hubungan mereka. Niatnya mungkin menarik dua sisi yang bertabrakan, namun tidak memedulikan hal ini pun rasanya tidak masalah. Hadirnya sebagai pemanis saja.

Ceremony tentu sempat memamerkan beberapa momen yang mampu mengajak untuk melihat sisi menarik dari tingkah laku seorang Sam. Bahkan dari pembawaan seorang Sam, dengan rasa percaya diri tinggi ia telah memberikan sisi yang menarik untuk ditelurusi, dibalik itu, ia sebenarnya mengaburkan keresahan yang ia temui. Tapi begitu kentara hal-hal yang mampu membuat sebal dengan sajian yang ditampilkan. Ada adegan slapstick bertebaran yang sayangnya gagal mengumbar tawa. Beberapa sentuhan yang masih canggung. Apalagi sentuhan editing yang belum rapi. Sebagai karya perdana, begitulah Max Winkler terlihat terbata-bata. Sebaliknya, malah terpikir, Wes Anderson kelak harus mengajak Michael Angarano di filmnya. Ia punya bakat untuk menjadi perhatian. Sebuah karakter unik dalam pakem bum-kedibum-bum. Silakan artikan sendiri. [C]

“Ceremony” (US release date: April 8, 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s