We Need to Talk About Cannes: The Tree of Life, Lars von Trier, Kirsten Dunst, dan Prediksi Oscar!

Terence Malick akhirnya meraih pernghargaan tertinggi, Palem Emas di festival perfilman paling riuh di dunia, Festival de Cannes tahun ini. Ini juga menjadi pertama kalinya Malick kembali mempertontonkan filmnya di festival ini, setelah 32 tahun lalu ia juga sempat bertandang ke festival ini lewat Days of Heaven dengan menggondol  Prix de la mise en scene atau Best Director di festival ini. Ada yang menarik ketika melihat reaksi orang tentang kemenangan film ini. Ada yang beranggapan ini sudah diprediksi, sebaliknya ada yang menganggap ini sebuah kejutan. Tentu, jika mengikuti secara rutin dari hari ke hari mengenai festival ini, boleh dibilang kemenangan ini sedikit mengejutkan, karena mengingat Olivier Assayas selaku anggota dewan juri sempat berkomentar ketika ditanya Sight & Sound, bahwa ia merupakan satu-satunya orang yang menyukai film tersebut dan berargumen kalau The Tree of Life sulit untuk menang. Meskipun sebenarnya, perkataan seorang juri belum tentu mewakili seluruhnya. Hal yang juga menjadi kendala adalah film ini mengutub, menempatkan orang yang menyimaknya pada dua sisi berseberangan membuat banyak orang beranggapan film ini tidak mungkin meraih penghargaan utama. Namun, siapa yang tahu isi pikiran para juri tersebut, bukan? Secara profil, The Tree of Life, terlalu besar untuk dilupakan. 

Perhatian yang diberikan pada film ini, entah puja-puji atau orkestrasi ketidaksetujuan beberapa orang mengingatkan dengan kondisi Apocalypse Now yang gegap gempita, dilobi terus oleh Presiden Festival Cannes kala itu agar filmnya cepat diselesaikan agar bisa untuk dipertontonkan, kemudian mengundang sedikit kontroversi dengan komentar Francis Ford Coppola yang mengkritik media, dan akhirnya meraih Palem Emas pula, meskipun harus berbagi dengan The Tin Drum. Dengan kemenangan Malick—yang lebih memilih bersantai di sofa empuknya di rumah ketimbang menghadiri malam penghargaan—tentu saya menyimpan rasa senang pula mengingat dia salah satu sutradara yang saya sukai. Selamat, Om Malick!

Di kategori lain, Nicholas Winding Refn meraih penghargaan Best Director untuk tahun ini. Drive, film terbarunya yang dibintangi Ryan Gosling, nampaknya menjadi entri paling “ringan” untuk festival ini, mendapat sambutan yang hangat oleh para kritikus. Uniknya, Refn sendiri telah mengutarakan keinginannya membuat sekuel film ini. Refn salah satu sutradara yang menjanjikan. Tengok saja Bronson, yang menampilkan Tom Hardy dengan urat “gila”, salah satu karyanya yang saya sukai, bisa disimak bagaimana dia mengolah sisi brutal yang nyelekit dengan tingkat kekerasan yang membuat ngilu. Coba pula simak Valhalla Rising, film yang tak kalah brutalnya dalam kisah negeri Viking.

Untuk runner-up, atau Grand Prix, tahun ini diterima oleh dua film, yaitu Once Upon a Time in Anatolia—yang nampaknya akan memanjakan mata dengan sinematografi yang begitu elok—dan film terbaru dari Dardenne Bersaudara, The Kid with a Bike, menjadi film kesekian yang diikutkan di festival ini dan tak pernah sekalipun selama Dardenne bersaudara mengikuti festival ini pulang dengan tangan hampa. Pasti meraih tropi. Bahkan mereka adalah satu dari enam sutradara (termasuk Francis Ford Coppola dan Emir Kusturica) yang pernah meraih Palem Emas sebanyak dua kali sepanjang pagelaran Cannes berlangsung. Dari beberapa review menyebutkan bahwa filmnya kali ini tak jauh berbeda dengan tipikal filmnya, jadi ingat saja The Son atau The Child.

Sedikit di luar dugaan jika konsesus favorit Le Havre dari Aki Kaurismaki—yang saya harapkan untuk menang juga—ternyata tidak meraih satu tropi, meskipun sehari sebelumnya telah diakui oleh para kritikus dunia untuk meraih salah satu penghargaan FIPRESCI.

Ada apa dengan Lars von Trier?

Sutradara nyentrik yang selalu haus perhatian ini, selalu ingin membuat heboh Croisette tiap kali ia diundang untuk mempertontonkan karyanya. Ketika Dancer in the Dark, ia tersenyum karena akhirnya meraih Palem Emas pertamanya, meskipun sekaligus meraih orkestrasi “boo” yang tak kalah antusias pula. Lewat Dogville kembali dituduh misogynist, lewat Antichrist ia membuat setidaknya empat orang pingsan, sempat melontarkan sebuah pernyataan bahwa ia adalah sutradara terbaik di dunia yang kemudian meraih respon tak kalah gencarnya dari media, sampai akhirnya filmnya meraih penghargaan olok-olok “anti-award” dari juri Cannes tahun tersebut. Lalu skenario yang banyak diambil media melihat kondisi Melancholia yang meraih sambutan antusias dan puja-puji (meski ada juga yang tidak sependapat), namun filmnya kali ini dianggap sebagai filmnya yang paling bisa dinikmati khalayak banyak. Bahkan seorang kritikus merasa aneh ketika mendengar komentar selesai menonton Melancholia ia malah merasa tersentuh dengan karya von Trier, tentu sesuatu hal yang langka yang pernah kita lihat dari karyanya. Maka, olok-olok mengenai Nazi dan Yahudi bergulir saja entah disengaja atau tidak, jika melihat dari video interview-nya, Kirsten Dunst jelas terlihat sangat tidak nyaman, seperti beruasaha agar von Trier berhenti bicara. Mulai dari leluconnya yang ingin membuat film porno—yang sudah menjadi obsesinya dari dulu, jadi jangan heran jika kelak itu terealisasi, bibitnya bisa dilihat dari opening Antichrist—kabarnya berdurasi empat jam dan candanya akan meng-kasting Charlotte Gainsbourg dan Kirsten Dunst. Sampai akhirnya pernyataan bahwa ia seorang Nazi itu pun muncul, meraih respon dari media, hingga menarik perhatian penyelenggara yang kemudian membunyikan ultimatum, yang lewat kuping terdengar manis, “persona non grata”, namun bermakna tidak manis. Orang yang tidak dihormati. Akibat dari pernyataannya itu, Lars von Trier dilarang untuk menghadiri Festival Cannes; untuk. selama. lamanya.

Entah jika  keputusan itu tunduk pada yang telah diumumkan. Setidaknya jika pihak penyelengara kukuh, kita tidak akan mendengar von Trier membuat festival ini heboh lagi. Namun, Venice atau Berlinale akan membuka tangannya lebar-lebat untuk sutradara ini.

Selamat, Kirsten Dunst!

Selain kegembiraan saya terhadap kemenangan The Tree of Life, kemenangan Kristen Dunst sebagai Aktris Terbaik adalah salah satu favorit saya. Saya selalu menganggapnya sebagai salah satu aktris underrated di Hollywood sana yang memiliki potensi besar. Saya suka dia di The Virgin Suicides dan Marie Antoinette. Bahkan perannya bersama Mark Ruffalo dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind begitu sulit dilupakan, terutama bagaimana dengan penceritaan karakternya yang terbatas, Dunst berhasil memberikan pengertian mengenai karakter yang ia perankan pada kondisi cintanya dengan si bos yang jauh lebih tua. Tentu, penghargaan dari Cannes ini begitu menggembirakan. Meskipun banyak yang menganggap inilah satu-satunya cara juri Cannes menganugerahi film Melancholia melalui kemenangan aktrisnya, karena melihat filmnya sendiri untuk merebut tropi utama sepertinya tidak diperbolehkan. Melihat komentar para juri setelah penghargaan berlangsung, para juri banyak ternyata yang menyukai Melancholia. Bahkan Olivier Assayas sendiri menganggap Melancholia sebagai film terbaik von Trier. Saya berasumsi, jika seandainya “persona non grata” itu tidak pernah ada, Melancholia adalah saingan terdekat The Tree of Life untuk meraih Palem Emas, atau setidaknya Grand Prix seperti sudah dikantonginya. 

Bagaimana dengan prospek Oscar?

Seperti biasa, setelah perhelatan Cannes, selalu menyerempet ke arah Oscar. Siapa kira-kira yang berpeluang. Untuk saat ini, The Tree of Life terlalu besar untuk dilupakan. Ya, film ini akan masuk ke sepuluh besar, berikut dengan Emanuel Lubezki di kursi sinematografi, Brad Pitt yang banyak dibicarakan, dan pujian pada aktor cilik, Hunter McCracken. Namun melihat Malick yang tidak begitu menonjol dalam komposisi aktingnya, nampaknya prospek untuk akting tidak begitu besar.

Di kategori Best Actress kita punya Kirsten Dunst yang untuk sementara meraih atensi publik dan juga Tilda Swinton yang juga banyak dibicarakan dalam We Need to Talk About Kevin. Kendalanya adalah, dalam pihak Dunst, ia akan selalu dihubung-hubungkan dengan kata Nazi dan Yahudi yang sudah terekam pada sosok sutradaranya, ingat Academy sungguh sensitif dengan hal ini (apa kabar Mel Gibson?), jadi tidak heran seperti Sasha Stone (AwardsDaily) memprediksi jika Dunst tidak mungkin meraih nominasi mengingat reputasi sang sutradara tersebut. Akan tetapi, saya kira Academy tidak akan terlalu memusingkan perihal ini. Mereka akan melihat Kirsten Dunst sebagai sebuah transformasi yang selalu disukai Academy untuk siap diakui, bintang Hollywood yang sudah puas mencicipi drama komedi romantis, kini saatnya berakting serius. Kirsten Dunst akan meraih atensi itu. Satu hal lagi, jika von Trier dengan tuduhan misogynist-nya berhasil membuat Emily Watson dalam Breaking the Waves (yang tidak dikenal dan merupakan debutnya di dunia film kala itu) meraih satu kursi di lima besar, bagaimana dengan Kirsten Dunst yang sudah dikenal luas khalayak banyak?

Sedangkan Tilda Swinton, sebenarnya agak sedikit takut ketika filmnya belum memiliki distributor, mengingat banyak yang menganggap filmnya bukan Academy-friendly. Bisa dikatakan begitu, ketika saya untuk pertama kalinya menyimak Morvern Callar beberapa minggu lalu, benar adanya karya Lynn Ramsay bukanlah tipikal sutradara yang akan mudah meraih atensi Academy. We Need to Talk About Kevin dianggap sebagai karya yang lebih accessible, selain itu diadaptasi dari novel sukses pula (coba bayangkan jika The Lovely Bones jadi dibuat oleh Lynn Ramsay, bukan Peter Jackson, pasti hasilnya tidak akan seburuk itu). Oscilloscope Laboratories telah membeli hak distribusi dan berencana untuk bertarung di award campaign pula. Jadi, dengan bantuan teriakan para kritikus dan puja-puji para blogger Oscar yang mendukung Tilda Swinton, kita lihat saja, tahun depan namanya akan berada di daftar lima nominasi tersebut. Ah, semoga saja. Dua tahun berturut-turut dengan akting spektakuler dipetieskan oleh Academy, semoga kali ini beruntung.

Demikian laporan pandangan untuk Cannes dan sedikit Oscar kali ini. Untuk beberapa prediksi Oscar di kategori lain, akan menyusul di postingan selanjutnya.

Advertisements

2 thoughts on “We Need to Talk About Cannes: The Tree of Life, Lars von Trier, Kirsten Dunst, dan Prediksi Oscar!

  1. “coba bayangkan jika The Lovely Bones jadi dibuat oleh Lynn Ramsay, bukan Peter Jackson, pasti hasilnya tidak akan seburuk itu)”

    Bener juga ini ya…

    Dari segi usia dan perjalana karir, si kirsten Dunst memang pas buat dapat attention tahun ini *bandingin dengan Reese Witherspoon di Walk The Line* *eh, Natalie Portman juga sama*

    itu Persona Non Grata itu diusir dari festival tahun itu doang atau buat selanjut-lanjutnya?

  2. Setahu saya dari beberapa sumber yang saya baca, “persona non grata” itu berlaku untuk selanjutnya, dengan kata lain von Trier tidak diperbolehkan mengikuti festival itu lagi.

    Iya. setelah menyimak Morvern Callar (which was quietly beautiful), jadi kebayang bagaimana bagusnya The Lovely Bones jika jadi disutradarai oleh dia. sayang rencana itu diurungkan. -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s