Review: Last Night

“Apa yang mereka lakukan malam itu?”

Sebenarnya kalau boleh dikatakan, Last Night adalah fragmen dari ruang besar yang sering ditemukan dalam cerita epik sebuah jatuh-bangun cerita percintaan. Entah jika menyebutnya ke dalam korelasi terdekat kita; realitas mungkin. Benar adanya bahwa fragmen seringkali menempatkan orang yang pernah terlibat dalam kondisi itu—meski hanya sekelebat saja—akan terpikir untuk mencari sisi yang bisa untuk ditelusuri. Last Night adalah proyeksi dimana kecemburuan adalah bumbu paling menyengat yang uniknya begitu gombal untuk selalu dijadikan alasan sebuah hubungan menuju kulminasi konflik. Begitu ketika Joanna (Keira Knightly), meredam rasa cemburu melihat sang suami, Michael (Sam Worthington) terlihat akrab dengan koleganya, Laura (Eva Mendes). Segala keingintahuan pun bermunculan, mulai dari kenapa Michael tak pernah menyinggung mengenai Laura jika ia rekan kerjanya, hingga prasangka apakah ia telah selingkuh dengan koleganya tersebut. Tidak ada hal yang depresif layaknya melodrama kelam sebuah rumah tangga muda yang bergejolak jadi runyam. Tidak ada tampar-menampar, piring pecah, atau gelas melayang. Last Night seperti pakaian kasual yang begitu santai menuturkan aspek kecemburuan.  Adu pendapat. Menempatkan film ini sebagai wujud dari kepekaan penonton untuk mengukuhkan indera pendengar pada rentetan dialog yang bergulir sepanjang film. Di situ terletak setiap detail dari sejarah hubungan mereka. 

Maka, setelah kita melihat mengapa kecemburuan bisa muncul, tidak lengkap tanpa menyinggung sisi paling berdekatan dengan itu, kita sebut saja selingkuh. Maka pertanyaan menguak ketika Michael dan Laura bepergian berdua untuk urusan bisnis, meninggalkan Joanna seorang diri di apartemennya. Bertemu kemudian dengan Alex (Guillaume Canet), ternyata sebuah cinta tua yang tidak pernah terlupakan. Dari obrolan pula kita mengerti bahwa mereka masih menyimpan kisah yang tidak terselesaikan, karena masih tersimpan guratan semai kasih sayang di sana. Bisa saja kita melihat Alex sebagai sosok yang kaku, dimana semangat perjuangan yang klise untuk mempertahankan semua itu tidak dimiliki, dengan sedikit meminjam serpihan “mungkin jika Alex tidak seperti A, pasti ia sudah bersama Joanna” atau “ah, kalau saja Alex mengambil langkah B, pasti ia akan bahagia dengan Joanna”. Sebut saja pengandaian, meski sebenarnya tidak layak juga disebut dalih dari ketidaksuksesan hubungan mereka. Di satu sisi, ketika kita berusaha menganalisa dengan teori, tidak bisa mengelak bahwa Last Night menghamburkan teori di setiap kali dialog dituturkan. Hingga sebenarnya film ini meminta penyadaran, mereka semua makhluk pintar, sehingga teorinya pun dibuat serumit mungkin, padahal sederhana saja dan tak ada rumus pasti pula.

Debut penyutradaran dari Massy Tadjedin yang sekaligus menggarap skenarionya ini menempatkan kekuatan dialog ke dalam setiap bingkai, lalu menyorot ekspresi ke dalam sebuah teman bercerita. Terlihat mengikuti pakem film Eropa, pemilihan Knightley sebagai Joanna dan Worthington sebagai Michael adalah bentuk dimana chemistry tidak terbaui, mungkin pula itu yang sedang dicari. Sedangkan ketika dengan Canet, Knightley menemukan chemistry itu. Begitupun dengan sisi Worthington-Mendes dengan guratan ketidakpastian dan ketakutan yang hendak mereka lakukan, tersimpan dalam sisi yang pas.

Last Night, sekilas akan mengingatkan dengan Closer, jika menilik pada hamburan dialognya. Namun sebenarnya tidak pula. Meskipun sekilas terlihat seperti dentuman seks, ketidaksetiaan, dan kecemburuan, Last Night sebenarnya ada dalam segmen paralel yang sedang memeriksa sebuah masa kenapa kisah yang satu bisa tidak terjadi seperti yang diinginkan, dibalut dalam sebuah pertemuan, kisah Joanna dan Alex. Di samping itu juga mencari sebuah keingintahuan, mengapa tidak dipertemukan sebelumnya, sehingga rasa nyaman bisa saja mereka rasakan, dalam kisah Michael-Laura. Tidak heran jika kemudian pertanyaan akan muncul, mungkinkah si Joanna bersama kembali dengan Alex? Atau akankah Michael menjalin hubungan dengan Laura? Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Silakan perhatikan saja. Meskipun ketika melihat gambar tiba-tiba menghitam, jawaban untuk semua yang telah kita lihat, ditutup rapat kembali.  [B/B+]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s