“Bincang Blogger” Episode 1, Bg.2: Dari Kisah Blog Hingga Super 8

obrolan sebelumnya…

Dari Kisah Blog Hingga Super 8

Angin sore sesekali menyapa dengan deruan kencang hingga menggeraikan rambut dengan lembut. Terik semakin mereda dan sebenarnya telah beranjak dengan cepat meninggalkan sore ini. Ada sentuhan merah di kejauhan sana ketika memandang nun jauh ke arah horison pantai. Sementara, tawa masih tersisa meninggallakan remah-remah obrolan mengenai Sasha Grey dan Sora Aoi, masih tersimpan beberapa pertanyaan yang hendak saya lontarkan di pertemuan ini. Seperti rasanya meredam rasa kikuk pada pertemuan pertama ini. Untunglah mereka begitu bersahabat, pikir saya. Maka, saya lontarkan pertanyaan yang ingin melihat lebih dekat blog mereka masing-masing.

“Sekarang kan untuk blogger film sudah menjamur tuh. Banyak sekali ternyata yang giat membuat review tiap harinya. Kalau boleh tahu, kapan sih pertama kali membuat blog film dan kenapa?”

“Saya mulai itu di Februari tahun 2010,” jawab Tiko, “ya untuk cari teman-teman sesama pecinta film. Soalnya saya gak pernah kenal orang-orang yang gila film banget baik di keluarga dan pergaulan.”

“Film pertama yang di-review apa?” tanya saya kemudian.

Tiko berpikir sejenak. Mengingat-ingat.

“Film yang pertama kali di-review itu Broken Embraces. Dipilih karena ya memang waktu itu habis nonton film itu,” Tiko menyunggingkan senyum.

“Kalau saya, At the Movies itu blog film pertama saya secara utuh,” ujar Amir bersemangat.

“Dulu saya mulai review film awalnya sebagai bagian dari tugas kuliah yang lama-kelamaan terasa lebih seru kalau dilakukan di luar jam kuliah. Hasilnya, saya sering menulis review film saya lewat notes di Facebook atau di Forum Movies-nya Kaskus. Trus, akhir tahun 2009, seiring dengan sering mendapatkan tugas untuk review film di Flick Magazine, saya akhirnya mulai mengumpulkan tulisan-tulisan review film saya dalam satu wadah. Jadilah At the Movies yang tulisan pertamanya mengenai Top 10 Movies of 2009 pada akhir Desember 2009,” Amir nyengir kuda.

“Kalau film pertama yang di-review apa toh?” tanya saya. Sedikit memainkan aksen Jawa.

“Wah. Kalo film yang benar-benar pertama untuk di-review… mungkin sudah lupa yah,” ia sedikit mengingat-ingat dengan tidak pasti, “tapi kalau di At the Movies, film yang pertama kali saya review itu adalah The Blind Side. Tidak ada alasan khusus. Mungkin karena waktu itu baru saja selesai nonton, dan bertepatan dengan momen film tersebut banyak dijagokan di ajang Oscar, jadi review film-nya saya tulis di blog,” jelasnya, diakhiri dengan tegukan pada coke-nya.

Sementara Radit punya cerita berbeda.

“Kalo Raditherapy sendiri awalnya bukan blog film. Gue soalnya mulai nge-blog 2004 kalo nggak salah. Lebih ke curhat-curhat nggak jelas,” Radit terkekeh, “ya, pokoknya nggak ada kaitannya sama film. Isinya puisi, curhatan, catatan harian, karena gue suka design, kadang juga pamer coretan gue di blog. Lewat blog ini gue belajar buat ngungkapin diri lewat tulisan, plus belajar nulis sedikit demi sedikit,” ujarnya. Sempat terbersit niat untuk menanyakan perihal puisi tersebut, karena dalam pandangan saya tak pernah terpikir seorang Radit akan mencurahkan hatinya lewat puisi. Mungkin memang dasarnya saya yang belum mengenal blogger yang satu ini.

Radit melanjutkan, “nah sampai akhirnya gue berpikir, gue suka banget nonton film, kenapa juga gue nggak mencoba nulis review film, karena selama ini hanya nonton doang dan melihat review orang lain dari majalah atau situs-situs film luar. Pengen juga bisa berbagi perasaan dan penilaian gue soal film yang habis gue tonton. So, akhirnya gue beranikan diri mem-publish review pertama gue di tahun 2008, emang nggak seaktif sekarang, malah sehabis review pertama di 2008, gue lanjut review film lagi di Januari 2009, Pintu Terlarang. Renggang ke review selanjutnya pun cukup lama, yakni April 2009,  filmnya Gran Torino. Semenjak itu gue mulai lebih rajin menulis blog,” ceritanya. Menarik mendengarnya.

Haris tak mau kalah. Coba simak ceritanya tentang perjalanan blogging-nya ini.

“Blog pertama itu judulnya Remembrance is Power yang pertama kali ditubuhkan pada tanggal 1 januari 2005. Review pertamanya adalah Arisan!, di-publish pada tanggal 23 Januari. Agak jauh dari postingan pertama yang berupa perkenalan. Sebenarnya sudah mulai suka menulis kembali perasaan soal film yang ditonton itu pada saat SD, saat pertama kali sudah bisa menggunakan mesin ketik. Komputer apalagi laptop, masih barang mewah saat itu. Awal muasalnya sih karena suka membaca tulisan Yan Widjaya, seorang reviewer senior kita, di majalah RiaFilm. Saat dia pindah ke majalah FILM, saya tetap mengikuti tulisan-tulisannya. Saya sangat suka dengan gaya tulisannya sehingga mulai ikut-ikutan menulis. Tentu saja tulisan-tulisan saya itu tidak ada yang membaca kecuali saya sendiri,” ujarnya dengan sedikit mengumbar tawa. Ia lalu melanjutkan, “tapi itu sudah sangat memuaskan bagi saya. Nah, di penghujung 2004, Friendster, situs jejaring sosial yang dulu dengan religius saya ikuti, membuka fasilitas blog. Sebelumnya memang saya telah mempunyai blog di Blogspot, akan tetapi hanya bersifat pribadi dan isinya hanya marah-marah saja. Di Friendster kebetulan saya berkenalan dengan banyak penggemar film juga. Nah, saya kebetulan mengikuti sebuah forum film dan juga sebuah milis film. Karena rekan-rekan di sana banyak yang menulis review, saya pun mulai tergerak untuk kembali menulis review. Akhirnya memutuskan untuk fokus di blog saya saja, daripada di forum dan milis. Blog saya bertahan sampai 3 tahun, dimana postingan terakhir adalah 18 Agutus 2008. Akan tetapi bukan berarti saya berhenti menulis review. Saya melanjutkan menulis review di jejaring sosial Multiply. Banyak suka dukanya juga saat membuka blog film tersebut. Akan tetapi yang saya kenang sampai sekarang adalah gara-gara blog tersebut jadi akrab dengan @ApatisVian aka Ahmad Sofyan dan tentu saja @DwiAdam aka Dederadam, sebagai pembaca setia blog,” ujarnya dengan meninggalkan tawa lagi, “nah, semacam sebuah fase, menulis review di Multiply pun kembali terlantar karena mulai malas-malasan. Dan terimakasih lagi-lagi dengan @DwiAdam yang sering melakukan RT review-review dari blogger di Twitter, mulai Mei 2010 saya pun membuka blog review film lagi, kali ini di WordPress yang alhamdulillah tetap berjalan dengan lancar hingga sekarang dan diharapkan sampai lima puluh tahun lagi,” candanya. Berhasil memunculkan senyum di bibir kami.

Kontras dengan jawaban dari Haris, Suby menjawab dengan singkat, padat, dan merayap (mohon jangan disalahkaprahkan sebagai cicak).

“Pertama bikin blog film itu Oktober 2007. Niatnya sih cuma sekedar berbagi pengalaman nonton saja. Ada hasrat dalam diri yg begitu bergelora untuk berbagi apa yang kita tahu dan yang kita rasakan. Oooohhh…,” ujarnya lengkap dengan ekspresi berlebihan yang spontan mengumbar tawa, “terus, kalo reviu pertama, yakni Grindhouse, di-posting tanggal 24 oktober 2007. Gak ada alasan khusus,” Suby menutupi ceritanya.

Di tengah obrolan itu, kini giliran saya yang dibongkar mengenai sejarah terbentuknya AwyaNgobrol. Maka tentu saja saya ceritakan bahwa sebenarnya AwyaNgobrol itu, yang bermula di bulan Juli 2008, awalnya hanyalah sebuah “tempat sampah” yang saya ciptakan untuk mengumbar, kalau istilah kerennya sekarang, momen-momen galau, begitulah kiranya. Isinya dulu adalah curhatan tidak jelas, seperti mungkin yang pernah dijalani Radit. Uniknya blog saya ini sebenarnya lebih condong ke blog yang banyak membahas musik. Bahkan dulu sempat menyertakan beberapa link download lagu terbaru, niatnya ingin mengikuti blog-blog musik seperti sejenisnya. Namun akhirnya terjerembab ke dalam film, yang akhirnya saya beranikan untuk belajar mereview. Film pertama yang saya review di blog ini adalah The Dark Knight yang heboh gegap gempitanya ketika itu.  Ada satu hal yang tidak sempat saya sampaikan mengenai sejarah blog film saya ini kepada mereka. Tentu karena sengaja agar salah satu dari mereka tidak ke-ge-er-an. Jadi sebenarnya saya menjadikan AwyaNgobrol menjadi blog film karena keranjingan menyimak review menarik dari Suby dulu. Ya, Gila Sinema adalah blog yang menginspirasi saya untuk menulis film. Sering berkomentar pula di blognya dengan nama samaran dan seterusnya. Jadi, sedikit sedih ketika Gila Sinema akhirnya ditutup.

Senyum saya melebar mendapati begitu beragamnya kisah terbentuknya sebuah blog film tersebut. Dalam satu sisi, saya pun menjadi saksi bagaimana kenikmatan dalam menceritakan isi kepala kita terhadap sebuah film begitu menyenangkan untuk dilakukan. Mendengar cerita mereka membuat saya senang.

Saya menyuruput es teh tarik yang sudah hampir habis. Lalu memikirkan sesuatu yang selama ini selalu membuat saya penasaran. Tentang trailer film.

“Begini nih. Beberapa hari yang lalu saya membaca komentar seorang blogger di luar sana kalau dia rela untuk tidak menyimak dua trailer dari film yang dinantikan, yaitu “The Tree of Life” dan “Melancholia” dengan tujuan untuk mendapatkan unsur “keperawanan” dalam menyimak film. Tentu mungkin untuk menghindari spoiler atau tampilan momen-momen terbaik yang biasanya sudah diumbar di trailer. Pernah gak sih kalian sampai segitunya?” tanya saya serius.

“Ha… saya tidak sefanatik itu!” ujar Haris sedikit histeris, “justru trailer adalah salah satu atraksi yang saya tunggu jika menonton di bioskop. Semenjak saya kecil. Bahkan saya sedikit kecewa jika pemutaran film tidak diawali dengan penampilan trailer sebelumnya.”

“Sering lihat trailer terbaru ya?”

“Cukup sering. Minimal seminggu sekali saya akan mencoba melihat gambaran film yang saya proyeksikan untuk ditonton nantinya. Bagaimanapun bagi saya sebuah trailer masih cukup krusial dalam menjadi pertimbangan untuk menonton sebuah film. Masalah spoiler, hmmm, itu hanya masalah perspektif,” katanya dengan mengumbar senyum penuh nada bijak.

“Kalau saya sih memang salah seorang penonton film yang seringkali masih perawan ketika menyaksikan sebuah film,” Amir menjawab. Meskipun sedikit menyimpan nada ambigu pula, “hm… bukan karena memang mengambil sikap atau apa sih. Memang tidak berniat mengetahui lebih banyak soal satu film selain dari deretan sutradara, pemain dan terkadang premis mengenai apa film tersebut. Karenanya, dapat dibilang saya bukan termasuk orang yang begitu terpengaruh dengan keberadaan sebuah trailer film. Mungkin menyenangkan untuk menyaksikan sebuah trailer, tapi tidak akan mempengaruhi saya terlalu banyak dalam kenikmatan atau rasa excitement dalam menyaksikan sebuah film.”

Sementara Tiko, punya pendapat tersendiri.

“Saya orangnya gak terlalu rajin mengecek trailer. Gak pernah terlalu terpengaruh trailer mana pun juga. Maksud saya di sini, pengaruh ke momen saat saya menonton filmnya. Mungkin karena mindset saya ketika menonton trailer itu adalah menarik atau tidak trailernya. Jadi bukan sebagai patokan terhadap isi dan kualitas film itu nantinya juga,” tutupnya.

“Terus terang ya, saya tidak terlalu getol liat trailer,” ujar Suby dengan polosnya, “jadi ya menyikapinya biasa saja, karena paham banget kalo esensi trailer kan buat jualan, jadi umumnya dibuat semenarik mungkin buat pancing minat penonton. Terus, dari pengalaman, pernah kecewa gara-gara ekspektasi yang ketinggian. Trailernya boleh keren, tapi belum tentu filmnya juga bakal keren,” sungutnya.

Radit pun menimpali, “jujur gue gak pernah. Gue termasuk orang yang selalu rajin liat trailer-trailer film tapi gue punya aturan kalau nonton trailer cukup sekali atau dua kali, mungkin tiga kali kalo kepepet karena sesuatu hal, misalnya trailer Inception, ketiga kalinya gue pengen denger musik di trailernya doang tapi kegoda untuk liat lagi cuplikan-cuplikan filmnya. Sampai akhirnya gue donlod tuh musiknya,” Radit terkekeh, “pengaruhnya lumayan besar sih, ambil contoh trailer barunya “Green Lantern”, trailer yang pertama asli gue nggak kepengen nonton nih film karena liat trailernya yang biasa, tapi abis itu muncul trailer kedua, nah trailer ini justru membalikkan keadaan, gue jadi sangat tertarik pengen nonton,” ia tertawa lagi, “kalo soal takut sama spoiler, nggak pernah, lagian jujur gue orang yang gampang lupa sama apa yang gue liat di trailer. Jadi misalnya gue takjub atau ketawa sama adegan yang ada di trailer, gue akan ngelakuin hal yang sama ketika adegan tersebut muncul di filmnya… sama persis seperti pertama kali gue liat di trailer,” ucapnya mengajak kami memamerkan senyum.

Maka, dengan menyerempet ke arah obrolan mengenai trailer tersebut, tergiur untuk menanyakan mengenai film-film musim panas yang mereka nantikan. Meskipun rasanya harus bersedih mendapati kemungkinan untuk tidak menyimak film-film tersebut di bioskop negeri ini.

“Ada film musim panas yang paling dinantikan?” tanya saya memancing.

Radit nampak antusias.

Super 8!” tegasnya, “satu-satunya alasan awal gue nunggu film ini adalah JJ Abrams, orang sinting yang bertanggung jawab bikin gue cinta mati sama serial televisi macam Lost dan Fringe, yang isinya bener-bener bikin mikir lewat aksi-aksi fiksi ilmiah, misteri, dan hal-hal ngejelimet lainnya. Walau dia nggak nyutradarain langsung cerita yang dia tulis, Lost cuma episode pilot aja. Ditambah dia sukses bikin gue yang dulu nggak pernah suka sama Star Trek, di tangan dia, sekarang gue jatuh cinta sama Kapten Kirk, eh maksudnya Star Trek. Yah, saya penggemar baru Star Trek gara-gara Om JJ ini. Sekarang di “Super 8” dia dipasangin sama Spielberg yang duduk di bangku produser, lengkap sudah! Level nunggu film ini: 10,” ujarnya bersemangat.

“Terus, Don’t Be Afraid of the Dark, simpel karena ini horor dan di sana ada nama Guillermo del Toro, sekian!” ia terbahak, “juga termasuk Kung Fu Panda 2. Film pertama nggak pernah bosen untuk ditonton. Salah satu film yang paling banyak gue puter ulang dan selalu saja masih ngakak, dan gue suka ceritanya dan karakter-karakter di film ini, film kedua favorit dari Dreamworks Animation setelah How to Train Your Dragon. Walau gue tahu kadang sekuel nggak sebagus film pertama, tapi gue tetep penasaran sama aksi selanjutnya dari Po dan kawan-kawan… ciaaaat!” Radit mengakhiri dengan mengeluarkan kuda-kuda yang memaksa kami untuk memunculkan gempita tawa dan seruan menimpali.

Seperti mendapat hujaman antusiasme dari Radit, Haris pun tidak mau kalah membeberkan film yang ia tunggu.

Super 8, X-Men: First Class, dan Harry Potter and the Deathly Hallow! Untuk judul pertama, nah ini karena faktor teaser trailer yang misterius dan juga faktor sutradaranya, J.J. Abrams. X-Men adalah salah satu film superhero favorit saya, jadi jelas saya tidak akan melewatkan setiap film yang berhubungan dengan X-Men. Sedangkan untuk Harry Potter, yah harus-wajib hukumnya ditonton. Bayangkan saja, sudah satu dekade saya mengikuti film ini di layar bioskop. Sebagai seri pamungkas, wajar jika saya harus menyaksikan film ini.”

Dengan sedikit kebingungan, Tiko memberikan versinya, “film musim panas ya? Hmm… saya gak tahu ini bener atau gak judulnya dan tanggal mainnya pasti pas summer atau tidak, Crazy Stupid Love, yang ada Julianne Moore. Harry Potter 7B. Terus, Immortals,” ucapnya singkat.

Lain halnya dengan Amir yang muncul seperti mengingatkan kami untuk kembali berpijak ke tanah, menyadari apa yang sedang terjadi di negeri ini.

“Oh. Film musim panas? Apakah kita benar-benar akan dapat menyaksikannya?” tanyanya dengan sedikit nada nyinyir.

Lalu melanjutkan, “ya, seperti tahun-tahun lalu, saya selalu menanti film-film dari Disney atau Pixar. Tahun ini saya ingin melihat Tigger di Winnie The Pooh. Saya juga tidak sabar ingin melihat Cars 2 setelah beberapa kali menyaksikan Cars dan merasa bahwa film tersebut sebenarnya sangat menghibur. Film lainnya adalah One Day-nya Lone Scherfig bersama Anne Hathaway dan Jim Sturgess. Punya firasat kalau film itu akan menjadi salah satu film favorit saya untuk tahun ini. Mudah-mudahan benar,” ucapnya kemudian.

Sementara dari saya sendiri, Harry Potter episode pamungkas tersebut adalah yang paling saya tunggu. Dan sayangnya terhentak mendengar ucapan Amir tadi yang sepertinya harus diakui akan begitu adanya. Menyedihkan.

Terakhir, hanya Suby yang belum sempat membeberkan film yang paling ia nantikan. Anehnya malah tersenyum penuh makna ketika saya secara khusus menanyakannya.

“Hayo, dijawab! Kalo sampean, film musim panas apa toh yang paling ditunggu?” tanya saya dengan nada bercanda.

Kami menunggu jawabannya. Dengan penuh ketegasan. Berulang kali berdehem-dehem palsu. Suby pun menjawab, “untuk pertanyaan ini,” ia berdehem lagi, “silakan dilihat di blog saya saja ya,” ujarnya memamerkan senyum tanpa rasa bersalah.

Spontan koor “huuuuuu” panjang bergema dari mulut kami, dan sedikit tindakan anarkis dengan pelemparan tisu ke muka Suby pun terjadi.  Tawa pun pecah mendapati Suby refleks menjauh menerima bombardir ketidakterimaan tersebut.

“Kok malah promosi blog sih!” gerutu salah satu di antara kami, dibarengi dengan tawa membahana dan toyoran ke badan Suby.

Senja memerah. Sebentar lagi akan beranjak menghitam. Di jauh sana, horison membentuk pemandangan yang begitu indah di Pantai Kuta sore ini. Dan tawa itu, masih juga terdengar riuh. Semoga masih terjadi di pertemuan selanjutnya. End.

_____________________________________________

Itulah akhir dari episode perdana Bincang Blogger kali ini. Mohon maaf atas lamanya rentang bagian pertama dan kedua ini. Untuk episode kedua nanti, yang diharapkan juga bisa terealisasi, saya akan mengusahakannya menjadi satu postingan saja, agar tidak terjadi delay seperti ini lagi. Semoga Anda menyukai episode perdana “Bincang Blogger” ini. Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya!

AwyaNgobrol mengucapkan terima kasih kepada para blogger yang sudah bersedia menjawab pertanyaan yang diberikan.

dan tentu Discovery Shopping Mall Kuta yang telah menjadi tempat menikmati senja…


Advertisements

3 thoughts on ““Bincang Blogger” Episode 1, Bg.2: Dari Kisah Blog Hingga Super 8

  1. asoyyyy bacanya, lanjut lagi ya bsok2 part 3 nya..eniwe latarnya diganti donk dari discovery shopping mall ke pasar kreneng pasti lebih seru…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s