“Bincang Blogger” Episode Perdana: Dari Bioskop Hingga Sasha Grey

Dari Bioskop Hingga Sasha Grey

Kuta. Minggu sore di awal April.

Tidak seperti biasanya Bali seperti ini. Lebih tepatnya di awal April yang entah sejak awal minggu lalu selalu diguyur hujan. Dari gerimis hingga kuyup basah. Rasanya selalu muncul seperti sebuah rutinitas yang punya jadwal tayang sendiri. Tidak hari ini. Saya mendapati langit hendak balas dendam seharian. Dengan seringai angkuh yang begitu melegakan, rasanya harus mengucapkan terima kasih pada terik matahari yang menyunggingkan kesan begitu menarik di senja ini. Indah. Meski sebenarnya harus mendapati badan berkeringat siang tadi. Menerobos hiruk-pikuk jalanan kota Denpasar yang padatnya seperti menantang Jakarta.

Dengan sedikit menggeloyorkan kaki, lalu menyeruput es teh tarik yang masih tersisa setengah gelas, tangan saya asyik mengetik tanpa arah di atas tuts laptop. Sambil sesekali terbahak. Sesekali serius. Sesekali berceloteh. Sesekali terpukau atau geleng-geleng tiap kali melihat orang yang lewat di Pantai Kuta ini. Saya tentu tidak sendiri. Ada sesuatu yang menyebabkan saya duduk di kursi batu panjang ini yang dirindangi oleh pohon palem tinggi. Ada meja bundar besar di depannya yang menjadi tempat favorit setiap orang yang bertandang di sore hari ini. Untungnya saya bisa mendudukinya lebih dulu.

Sebenarnya ini adalah sebuah ide yang dari dulu ingin saya wujudkan. Pertemuan para blogger film. Menikmati sepoi angin sore sambil melihat orang lalu lalang di pantai Kuta, di belakang Discovery Shopping Mall ini, ada lima kawan yang tengah sibuk dengan aktivitasnya pula. Mereka para blogger yang saya undang untuk berbincang mengenai remeh-temeh dunia film. Dalam kacamata seorang blogger. 

Tiko, yang bernaung lewat Labirin Film, si calon dokter berkacamata ini tengah sibuk mengetik. Bukan di laptop, tapi di blackberry-nya dengan serius. Tidak mau ikut campur. Setahu saya ia memang anak yang super aktif. Mungkin masalah kampus, pikir saya. Di sampingnya ada Suby, yang katanya pernah menggila lewat Gila Sinema, lalu bercerai dan kini berkeluh-kesah lewat Curhat Sinema. Ia tengah sibuk menelepon, sambil sesekali meminum teh botol yang nyaris habis itu. Entah berbicara dengan siapa. Di sebelahnya, ada Haris, pemilik SayaCeritaFilm. Ia terlihat serius membersihkan kacamatanya dengan kain perca mungil. Nampaknya terkena debu yang seliweran di jalanan tadi, pikir saya asal. Duduk berdekatan dengan Haris, ada Radit, yang terkenal lewat Raditherapy, rasanya orang yang paling bisa menikmati suasana di sore hari ini. Tekun menyimak tiap orang yang lalu lalang, terutawa wanita-wanita cantik, dengan sesekali menyisip kopi panas bermerk itu. Terakhir, ada Amir, yang kita kenal lewat Amir at the Movies, terlihat asyik sendiri menyesap jari-jarinya yang belepotan dengan minyak dan sambal dari potongan paha ayam KFC. Dibarengi dengan meneguk coke dinginnya dengan begitu menggoda. Rasanya tenggorokan ini ingin pula menikmati kesegaran yang terlihat di sana. Tapi lupakan. Di tengah aktivitas sendiri itu ada senda gurau yang sempat menimbulkan nada tertawa dan sedikit menyerempet serius pula. Tapi tak ada yang lebih menarik daripada obrolan kita tentang film. Untuk itulah kita bersantai di sini.

Saya memulainya dengan melemparkan pertanyaan yang kini riuh dipikirkan para pecinta film, “lama juga ya polemik distribusi film ini. Agak kesal kalau lihat situs 21 Cineplex, film yang muncul itu terus. Kalau di sini apalagi. Sudah filmnya kadang jadul pula. Sialnya pas ada waktu untuk nonton, filmnya tiba-tiba udah hilang. Kesal kadang,” gerutu saya dengan memamerkan nada curhat yang kental. Tiko tersenyum, “ngaruh gak sih buat kamu, Tik?” tanya saya kemudian.

“Gak juga sih,” ucapnya singkat sambil buru-buru menghabiskan jus alpukatnya yang masih tersisa, “yang bermasalah kan film-film yang didatangkan oleh 6 studio besar Hollywood, jadi ya pasti keluar DVD-nya juga. Pengen sih nonton film-film itu di big screen, tapi saya gak mau terlalu mempermasalahkan dari segi kegiatan movie-watching saya pribadi.”

“Gak ngaruh banget.” Suby menimpali, “lha wong udah setahun gak liat film di bioskop. Bioskop di Solo suka telat banget nayangin film Holly. Udah gitu kualitas bioskopnya juga gak OK untuk tiket seharga lima belas ribu sampai dua puluh lima ribu. Mahal! Dahsyatnya suara dan lebarnya layar kalah sama bioskop di Jogja, padahal harga tiketnya lebih murah,” ucapnya dengan sedikit meninggalkan nada kesal.

Di lain hal, Radit datang dengan pendapat berbeda, “kalo ditanya nggak ngaruh sama sekali, berarti gue berbohong. Ya, pastinya berpengaruh walau nggak sampai depresi juga karena film-film holiwut ngilang. Pokoknya nonton jalan terus, entah itu ditutupi dengan nonton koleksi DVD, cari film mana yang belum sempat ketonton dan ke bioskop juga masih jalan terus. Kan masih ada beberapa film luar yang cukup berkualitas tayang di bioskop, termasuk juga film Indonesia, walaupun kalo inget bioskop pasti inget sama film-film yang terpaksa nggak tayang karena masalah kisruh pajak itu. Sambil bayangin gimana maknyusnya nonton Black Swan, Rango, Battle: Los Angeles, sama Sucker Punch di layar lebar,” ccapnya bersemangat. Lalu kembali menyisip kopinya yang masih mengepul.

Dengan sedikit mengusap meja membersihkan remah ayam krispi tersebut, Amir berseloroh ringan, “harus diakui pengaruhnya cukup besar. Sangat besar, malah,” sambil mengelap bagian yang berminyak di meja dengan tisu, ia melanjutkan, “akibat adanya kisruh film tersebut, kunjungan ke bioskop murni hanya untuk menyaksikan film-film Indonesia terbaru. Itu pun sangat jarang karena saya membatasi diri untuk tidak menonton film-film Indonesia yang tidak berkualitas. Memprihatinkan,” ia tersenyum kecut, “selain menyaksikan film Indonesia di layar lebar, yah, sayangnya saya harus mencari alternatif lain untuk menyaksikan film-film yang berasal dari luar negeri. Jalan yang salah, namun ya,  mungkin cuma itu jalan untuk dapat menikmati film-film tersebut,” katanya dengan meninggalkan tawa ringan.

Haris tersenyum. Lalu memasang kacamatanya. Mendesah pelan, “jika pertanyaan ini diajukan dua tahun lalu, dengan mantap saya akan menjawab sangat berpengaruh karena menonton bioskop itu seperti ritual. Bahkan dalam seminggu bisa nyaris setiap hari menonton film di bioskop. Akhir-akhir ini saya mulai kehilangan selera untuk mengunjungi bioskop, karena bagi saya, bioskop hanya salah satu medium saja, karena toh saya bisa menikmati film secara lebih leluasa di rumah melalui perantara home-video. Saya sekarang memang cenderung tidak terlalu mengejar ke-up-to-date-an dalam film-film yang ditonton dan lebih suka berburu film-film lama yang belum saya tonton sebelumnya.”

Saya meresapi jawaban mereka. Meskipun, bagi saya, sebenarnya terasa tidak begitu berpengaruh karena film musim panas yang saya nantikan belum juga keluar, namun kekhawatiran itu tidak bisa saya elakkan muncul juga. Was-was rasanya jika tidak berhasil menyimak beberapa film di layar lebar. Melanjutkan obrolan tadi, saya kemudian melontarkan pertanyaan berikutnya yang sedikit bernada serius, “pendapat kalian tentang polemik distribusi ini bagaimana?”

Haris menjawab, “boleh dibilang saya tidak ambil pusing dengan kisruh distribusi film ini. Jadi saya tidak terlalu tertarik dengan permasalahan ini. Saya memang kurang memiliki informasi yang memadai. Akan tetapi ini tidak memusingkan saya sama sekali karena mungkin saya sudah jarang ke bioskop dan sedang berselera dengan film-film yang relatif lama dan tidak tayang di bioskop,” ucapnya dengan sedikit tertawa.

“Sedikit enggan berkomentar mengenai masalah politik di negara ini,” gerutu Amir. Memberi penekanan pada kata politik dengan kedua tangannya membentuk tanda petik. Saya tertawa kecil. Ia pun melanjutkan, “kalau menurut saya, dua pihak sih sebenarnya wajib melakukan introspeksi diri. Yang satunya dituding tidak membayar pajak puluhan tahun, sementara pihak satunya lagi tidak memiliki perhatian khusus untuk mengayomi para penikmat film di negeri ini. Masalah ini sebenarnya sudah lama terbentuk sih. Udah banyak yang mencium juga sebenarnya. Menjadi semacam bom waktu yang akhirnya meledak di tahun ini. Akibatnya, yah, seperti yang dapat dirasakan sekarang.”

 “Kalo bener tuh ada yang nunggak setoran,” Suby menyambar dengan bersemangat, “ya mereka harus tuntaskan kewajiban dong! Paling gak dicicil. Udah dapat keuntungan gede, giliran kewajiban malah ogah. Cih! Enak banget mereka!” ucapnya menyindir. Lalu dengan nada diplomatis ia melanjutkan dengan jenaka, “kita jangan mau didikte lah. Pemerintah juga harus mengimbanginya dengan pengelolaan pungutan secara bijak, terutama demi kemajuan film nasional. Minimalkan juga tuh pungutan terhadap film nasional!”

Saya terbahak mendengar seloroh jenaka dari Suby sebelum akhirnya Tiko menimpali, “dengan perkembangan film nasional sekarang, saya malah semakin berharap akan muncul jaringan bioskop baru. Yang ada di pikiran saya, akan jauh lebih tepat dan bermanfaat jika jaringan bioskop baru yang muncul tersebut bisa memiliki ciri khas tertentu, seperti bioskop film klasik atau bioskop film animasi, dan lain-lain. Maksudnya adalah agar persaingan yang terjadi tidak akan seperti Blitz dan 21 yang sudah ada karena tiap bioskop memiliki fokus film yang berbeda satu sama lain. Dengan tetap mengedepankan tempat menonton yang nyaman dan menyenangkan, saya rasa bioskop-bioskop tersebut akan memiliki banyak peminat.”

Saya merasa senang mendengar pendapat mereka mengenai masalah ini. Setidaknya ada kawan yang juga peduli dengan kondisi yang terjadi. Dengan itu pulalah sebuah pertanyaan yang juga ingin sekali saya tanyakan mengenai perfilman negeri ini, akhirnya saya lontarkan.

“Nah, kalau ngomong soal bioskop dan perfilman Indonesia” ucap saya semangat, “itu kan lumayan terdengar munculnya berita bintang porno yang mau main di film Indonesia. Saya juga sempat membaca postingan dari Suby tentang hal tersebut. Jujur awalnya gak percaya mereka beneran main di sini. Coba deh sekarang berandai-andai sebagai seorang  Sora Aoi atau Sasha Grey, kira-kira apa sih yang mereka pikirkan sampai mau main di film tersebut?”

Sejenak hening. Nampak saling mencari jawaban.

“Kalau saya Sasha Grey, pemikiran saya untuk akhirnya menerima tawaran tersebut adalah uang, fame, dan first class treatment!”  jawab Tiko dengan diikuti tawa kecil.

“Hm… tantangan kali yah?” respon Haris, “seorang bintang porno membintangi film yang tidak mengharuskan beradegan porno tapi sangat dinantikan. Meski harus melakukan syuting di negara yang relatif kecil, tapi karena alasan tadi, disamping faktor fee yang besar, mereka dengan senang hati bermain di film-film gagal Indonesia itu,” ucap haris. Diakhiri dengan seruputan panjang pada jus jeruknya yang nampak belum sempat tersentuh.

Amir merespon, “err.. money? Kalau saya Sasha Grey saya sih gak akan mau menghancurkan reputasi filmografi saya setelah diisi dengan film karya seorang Steven Soderbergh. But hey! Mungkin saya sekarang sedang butuh banyak uang dan film horor yang ditawarkan ke saya tidak mengharuskan saya untuk tampil dalam adegan ranjang super panas seperti yang biasanya dibayar. Uang banyak, tapi cuma melakukan hal yang ringan. Not bad. Mengapa harus saya tolak?” selorohnya seandainya menjadi seorang Sasha Grey. Senyum kami mengembang mendengarnya.

 “Gue juga baca postingan Mas Suby tuh,” sambung Radit, “well, menurut gue kalo Sora Aoi kemungkinan nggak mau kalah sama Miyabi dan Rin Sakuragi yang udah duluan main film di Indonesia. Di sana ada semacam persaingan di antara rekan seprofesi, kalo lo bisa kenapa gue nggak, walaupun kayaknya mereka udah tahu kalo filmnya jelek dan punya resiko didemo sama you-know-who,” Radit menyebutnya dengan ekspresi yang membuat tersenyum, “pokoknya bagi Sora Aoi, di CV-nya bisa ada film Indonesia, dia akhirnya bisa pamer ke Miyabi dan Rin. Kalo soal bayarannya gede, gue juga nggak tahu deh,” ucapnya. Ia menyisip kopinya sebentar, lalu kembali melanjutkan, “nah kalo Sasha Grey beda lagi nih, stres juga dia ya dari sebelumnya main di film Steven Soderbergh, kok bisa-bisanya sekarang beralih ke tangan kacrut produser kondang KKD alias KK Dheraj?” serempak kami menahan tawa mendengar ucapannya, “apa dia dibisikin sama Tera Patrick ya yang sebelumnya main di Rintihan Kuntilanak?” dengan sedikit menirukan tingkah perempuan genit, Radit berkata dengan kocak, “kalo lo bisa dapet 1 milyar tanpa harus capek berakting, goyang-goyang pinggul aja tanpa telanjang bulet, lo bisa dapet 1 Milyar. Katanya sih KKD bayar 1 M buat boyong Tera Patrick, percaya ngga lo? Kapan lagi kan cuma punya dialog tserimha kasyih bisa dapet 1 M! Kalo gue jadi Sasha, pasti gue embat!” ekspersi serta jawaban dari Radit membuat tawa saya menghambur lantang. Begitu pun dengan yang lainnya.

Nampak seperti sahut-sahutan petasan, Suby tidak mau kalah, ikut menimpali, “iya. Mereka pasti sebelumnya sudah tanya-tanya sama Tera Patrick dan Miyabi. Kira-kira jawaban Tera atau Miyabi begini,” dengan berbekal akting khas tante-tante sosialita, Suby memperagakannya dengan nada menyindir, “terima aja cyiiinnn! Bayarannya lumayan dan lo gak bakal disuruh cipokan, pamer puting, apalagi *******. Cukup buka mulut, wajah mesum, busungkan dada dan lenggaklenggokkan pinggul. Terus, siapa tau bisa liburan gratis ke Bali. Lumayan kan? Udah deh cyin, terima aja! Jangan lupa ungkapkan betapa terkesannya lo sama cowok-cowok Indonesia, biar filmnya laris!” seketika tawa kami tumpah ruah berbarengan bak petasan pula. Perbincangan ini telah menjadi panggung lawak saja seketika.

Tawa yang gempita itu seakan mencairkan suasana yang sejujurnya begitu terasa kikuk ketika pertama kali bertemu. Boleh dibilang ini merupakan kali pertama saya berbincang dengan mereka. Para blogger film yang selama ini terjalin lewat perantara kabel dan sinyal satelit saja. Ketika tawa mereda, saya coba untuk mengulik pertanyaan yang sebenarnya ingin saya sampaikan di awal, namun terasa begitu kikuk untuk dilontarkan.

Bersambung…

Next! Di bagian kedua dari episode perdana, para blogger agar berbincang tentang sejarah blog mereka, obrolan ringan tentang trailer film, dan tiga film musim panas yang mereka paling nantikan. Tunggu kelanjutannya!

AwyaNgobrol mengucapkan terima kasih kepada para blogger yang sudah bersedia menjawab pertanyaan yang diberikan. Para partisipan episode ini:

dan juga pada tempat bersenda gurau para blogger ini, Discovery Shopping Mall Kuta…

Advertisements

10 thoughts on ““Bincang Blogger” Episode Perdana: Dari Bioskop Hingga Sasha Grey

  1. aisshhh mantap feature nya jadi kebawa suasana, eniwe kalian ini berada pada tempat berbeda kan ya pas ngobrolinnya?? kok kerasa banget sedang sama2 ngobrolinnya dalam satu meja saling bertatap muka…ajaib narasimu kakak awya….

  2. @ Paman Suby: aishhh… itu tidak ada yang diedit sama sekali yah jawaban situ. emang aslinya emak2 sih ya. *ngakak

    @Radit: haha iya yang makan KFC itu gak bagi2 yah.

    @Mike @ Andy hey thank you sudah baca!

  3. Kenapa saya harus dapat peran tipikal sebagai pria tampan penggemar KFC? 😮

    Really like this! Great job, Ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s