Review: Blue Valentine

“Velentinenya Biru, Manisnya Mengelam”

Rasanya tidak salah jika impresi paling mengena ketika menyimak Blue Valentine adalah sebuah parade akting bravura. Jadi, sebenarnya rumus yang ampuh ketika mengemas sebuah sinema dengan aksen naturalistik dan sentuhan kamera yang senantiasa mengawasi seperti ini, kekuatan akting adalah sebuah argumen yang mendasar. Tidak bisa dipungkiri jika Blue Valentine akan terasa seperti sobat yang cocok bersanding dengan Everyone Else, atau versi kelanjutannya bisa jadi. Di lain hal, Blue Valentine adalah sebuah perjuangan. Bisa dirunut dari kronologi faktual yang ditempuh sang sutradara berbakat ini atau jika menilik resonasi fiktif, dua sejoli dalam konsep before and after sebuah jalinan rumah tangga. Lengkap dengan editing yang rapi, barisan momen yang membekas, Blue Valentine menguliti dua fase sebuah hubungan dengan mengesankan. 

Ini adalah drama rumah tangga yang lagi-lagi mengulik pesan ini: membangun rumah tangga itu begitu nian sulitnya. Tentu, melihat saja lebih gampang daripada menjalani itu semua. Begitu kiranya nyang ingin Cianfrance sampaikan melalui replika dari konsesus dan mengambil sejoli Cindy dan Dean ke dalam contoh yang kita simak dalam film ini.

Blue Valentine bercerita maju mundur. Diperkenalkan kita pada Cindy, mahasiswi kedokteran yang berasal dari keluarga yang meskipun masih utuh, namun tidak begitu nyaman. Kita diberikan kesaksian gambaran bagaimana gugupnya sang ibu menghidangkan makanan, sementara ayahnya marah seketika. Hingga Cindy lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang nenek yang semakin renta. Di satu sisi, kita menemui Dean, lelaki lusuh yang hidup bak “udah deh yang penting bisa makan”, dengan semangat yang muncul pada pekerjaan kasarnya, kita pada satu kesempatan mengetahui bahwa ia berasal dari keluarga broken home. Belum juga sampai pada kondisi itu, melangkah lagi ke awal, romantisnya, mereka berdua ini dipertemukan di sebuah panti jompo, lengkap dengan tingkah masa bodo Dean yang dalam konsep standarnya, suka pada pandangan pertama.

Blue Valentine terlihat kontras dalam dua sisi yang disampaikan secara struktural. Awalnya mengenalkan kondisi mereka setelah menikah, kelam. Sedangkan ketika mengenalkan kronologi pertemuan mereka, begitu manis. Tentu, hal ini menimbulkan kesan yang mendasar. Dalam setiap potongan editing, lompatan satu adegan di masa lampau ke adegan di masa rumah tangga, sebuah pertanyaan akan dengan retorisnya dimunculkan: masih ingatkah mereka dengan masa manis itu? Di sisi lain kita melihat konflik rumah tangga yang terjadi. Dean begitu setia untuk menggauli  barisan botol yang mampu memabukkan, ironisnya ia begitu sopan untuk mengakui, ia nyaman dengan hidupnya, ia nyaman dengan pekerjaannya, terlihat jelas nada tanpa ambisi tersebut. Sebaliknya, Cindy meminta lebih. Ia ingin tumbuh dan membangun pondasi ini bukan sekedar dari sebuah semen “kenyamanan” atau batu bata “saya nyaman” saja. Namun, ia ingin membangunnya bersama seorang pria, dewasa tentunya, yang tidak hanya merasa nyaman dengan mengecat tembok, atau lebih parahnya, menghamburkan uangnya untuk sebuah delusi mabuk saja. Cindy ingin seorang pria, yang dewasa. Bukan hanya sekedar Dean yang manis (lagi). Di lain pihak, tentu Dean berontak. Seyogyanya begitulah ia apa adanya. Manis pahitnya adalah sebuah bentuk yang sulit dipecahkan, meskipun ia sudah berusaha.

Sulit melihat rasanya mengelak jika Blue Valentine ibarat sebuah prosa yang mengulik dengan begitu jujur sisi kelam sebuah rumah tangga. Ada ketidakpuasan seksual, ada himpitan ekonomi, ada kecemburuan yang menggempur.  Kompleks.

Seperti yang saya singgung di awal paragraf, proses pengerjaan Blue Valentine menempuh waktu sepuluh tahun hingga akhirnya mampu diedarkan. Michelle Williams sendiri ditawarkan skrip film ini ketika ia masih berumur 21 tahun, kemudian dibarengi dengan Ryan Gosling yang menyetujuinya dua tahun kemudian. Penuh perjuangan karena himpitan biaya film ini tidak kunjung diproduksi, hingga baru berhasil direalisasikan ketika Williams sudah berusia 27 tahun.  Kini bisa dilihat, Blue Valentine menyandingkan dua akting bravura dari aktor dan aktris terbaik di generasinya saat ini. Senang rasanya melihat sebuah kedewasan seni peran dipertontonkan. Michelle Williams, mengesankan dalam Brokeback Mountain dan terakhir Wendy and Lucy, sedangkan Ryan Gosling konsisten pada karakter menantang lewat Half Nelson dan karakter uniknya dalam Lars and the Real Girl. Tidak bisa dipungkiri memang kenaturalan akting mereka berdua berperan besar di sini.

Terlepas dari itu, bisa dikatakan begitu banyak momen mengesankan yang bisa dipilah dan tetap mengesankan jika diingat. Adegan pengakuan kehamilan tersebut. Adegan Dean bermain ukulele dan Cindy yang berlenggak-lenggok tentu akan menyunggingkan senyum. Atau yang paling lucu adalah ketika Dean membuang cincin pernikahannya ke semak-semak, lalu seketika mencari-cari dimana cincin itu telah ia buang. Seperti melihat amarah sesaat yang menghujam, lalu seketika tersadar bahwa sebuah cincin itu teramat berartinya. Jujur dan menyentuh. Meskipun ia biru, tetap ia adalah narasi kemanisan Valentine. [A-]

Advertisements

4 thoughts on “Review: Blue Valentine

  1. Suka akting Ryan Gosling yang bisa nampilin sosok Dean yang beda jauh sebelum dan sesudah nikah.
    Nih film cocok jadi pelajaran buat orang yg belum nikah
    😀

  2. ini adlh slah satu film trbaik saya tahun ini! michele william sma ryan keren bngt aktingnya ko ryan ga msk nmnasi ya?

  3. saya agak ngerasa blue valentine agak dilupain oscar, ya well walaupun williams dapet noms. Gosling harusnya paling nggak dapet noms best actor, and well well well, oscar tidak selamanya sebagai petunjuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s