50 Best Films of the 90s – Part 7: The Big 3! (With Bonus Features Top 10 in 70s, 60s, 50s, and 40s)

Sebelumnya, part 1part 2part 3part 4part 5, part 6.

Mohon maaf atas keterlambatan yang harus dialami untuk edisi terakhir dari seri dekade 90 ini. Akhirnya, kita sampai juga di edisi terakhir untuk seri 50 film terbaik di era 90 versi AwyaNgobrol ini. Tentu menyimak urutan mundur dari bagian pertama hingga keenam ada beberapa film yang mungkin belum sempat disimak oleh pembaca setia blog ini yang secara tidak langsung menjadi ajang rekomendasi tontonan yang saya anggap layak. Jika disimak ada film seperti “Center Stage” atau “The Match Factory Girl” yang memang tidak begitu terkenal di publik semoga memberikan ketertarikan untuk menyimaknya. Sedangkan ada beberapa film yang popular seperti “Pulp Fiction” atau “The Matrix” hadir di daftar saya bukan perantara karena popular, namun tentu karena memang saya sendiri menyukainya. Maka dengan ini mari kita simak daftar tiga film terbaik versi AwyaNgobrol di era ini. Jangan sampai dilewatkan juga daftar film pilihan saya dari dekade ke dekade di akhir postingan ini. Selamat menyimak!

#3

“THE THIN RED LINE”

(Terence Malick, 1998, US)

Ketika sebuah neraka diputarbalikan, atau setidaknya diparagrafkan ke dalam sebuah narasi dengan intipan mata berbeda, di sini ada paradoks yang muncul, mungkin hendak meredam sebuah filosofi sederhana saja; neraka itu adalah surgawi juga. Rasanya ada begitu banyak nada melakoli yang dikepung dalam setiap intimasi aspek perang yang dihadirkan film ini. Dalam sentuhan seorang Malick, sebuah retorika dimunculkan: mengapa perang ini harus terjadi di alam seindah ini? “The Thin Red Line” boleh jadi merupakan film perang terbaik yang pernah saya simak. Begitu banyak keindahan yang begitu menggugah. Pun, ketika deretan “voice-over” bergema sepanjang film, ada sisi meditatif yang selalu terasa penuh dengan iringan kepedulian yang mendalam. 30 menit terakhir film ini masih terpatri sebagai pengalaman menyimak sinema paling menghantui sampai saat ini.

#2

“THROUGH THE OLIVE TREES”

a.k.a “Under the Olive Trees”

(Abbas Kiarostami, 1994, Iran)

“Through the Olive Trees” merupakan film pamungkas dari “Trilogi Koker” yang dimulai dari “Where is the Friend’s House” (1987) dan “Life, and Nothing More” yang bertengger di posisi ke 9 daftar saya. Film pertama berkisah tetang seorang anak yang berkelana mencari rumah temannya karena ingin mengembalikan buku pelajaran teman sebangkunya. Di film kedua, Kiarostami dalam bentuk alter-ego, menceritakan kisah sutradara dari “Where is the Friend’s House” yang berkelana bersama anaknya ke daerah Koker yang baru saja terkena gempa untuk sekedar mengetahui apakah kedua anak pemeran utama dari “Where is the Friend’s House” tersebut selamat atau tidak. Sedangkan “Through the Olive Trees” juga memuat alter-ego Kirostami lagi, dimana kini muncul lagi sosok karakter sutradara yang kemudian menemui sebuah cerita dibalik salah satu adegan dalam “Life and Nothing More”, yaitu seorang lelaki, Hossein,  yang uniknya memilki sisi yang menarik tentang kisah cinta dan kondisi hidupnya di balik pembuatan sebuah adegan dalam “Life, and Nothing More”. Satu hal yang begitu menarik melihat “Life…” atau “Through…” tentu adalah bagaimana Kiarostami mengemas fakta dan fiksi ke dalam balutan sisi hingga sisi itu membentur dan meninggalkan jejak yang begitu menarik. Hanya saja dalam “Through…” Kiarostami memainkan sisi magis pada konsepsi fiksinya sehingga memunculkan sebuah kepedulian yang begitu membuat penasaran. Kiarostami begitu sempurna memoles romantisme sederhana dan sopan dalam film ini. Saya baru menyimak enam film dari sutradara ini dan menganggap “Trilogi Koker” yang terbaik. Trilogi ini cocok untuk acuan berkenalan dengan karya sutradara ini.

#1

THREE COLORS: RED”

a.k.a “Red”

(Kryztof Kieslowski, 1994, France/Poland/Switzerland)

Unik jika melihat posisi dua teratas saya di era ini; dua-duanya adalah sebuah trilogi. Seperti film di posisi kedua, “Red” merupakan film pamungkas dari “Trilogi Tiga Warna”. Kemunculan warna dalam trilogi ini mengambil warna dari bendera Perancis. Seperti yang kita pernah pelajari di sejarah, merah menandakan “fraternity” atau “persaudaran” dalam filosofi warna bendera tersebut. Ketika dalam “Blue” Juliet Binoche terseok-seok berjuang mencari “kebebasan” (liberty), sedangkan di seri kedua, “White” sang karakter utama mencari “persamaan” (equality) atas cinta yang telah ia berikan dan korbankan, maka di seri terakhir, sama seperti film sebelumnya dimana warna begitu dominan, kini warna merah membalur di setiap sisi. Mulai dari poster, café, beberapa ornamen, dan sebagainya. Mengapa saya memilih “Red” sebagai yang terbaik, tentu tidak dipungkiri karena “Red” menjadi kulminasi dari kedua filmnya, terbaik dari trilogi ini. Dalam “Red”, konsep persaudaraan itu tersimpan begitu manis dalam beberapa momen, termasuk hubungan kedua karakter utama film ini. Dibalut dengan sinematografi yang begitu menawan, tidak bisa dielakkan “Red” telah mencuri hati saya. Selain menjadi film pamungkas “Trilogi Tiga Warna” ini, “Red” juga sekaligus menjadi pamungkas untuk “Trilogi Tiga Kota” (Paris, Warsawa, dan Geneva), dan juga membuncahkan sebuah ending favorit saya sepanjang masa. Sebuah ending yang menunjukkan konsepsi sebuah “fate”, dan menghadirkan sebuah persepktif: dalam kreasi seorang Kieslowski, sinema itu penuh dengan kejutan, begitu pula kehidupan. Ketika sisi “Blue” dan “White” akhirnya bertemu di “Red”, saya masih ingat bagaimana terpukaunya saya dengan ending film ini, jika itu terkesan hiperbolik mungkin, saya hanya bisa merangkumnya dengan sebuah hiperbolisasi pula: sungguh saya benar mencintai film ini!

Recap:

  • 01. Three Colors: Red (Krzysztof Kieslowski, 1994, France)
  • 02. Through The Olive Trees (Abbas Kiarostami, 1994, Iran)
  • 03. The Thin Red Line (Terrence Malick, 1998, US)
  • 04. Chungking Express (Wong Kar-wai, 1994, Hong Kong)
  • 05. Unforgiven (Clint Eastwood, 1992, US)
  • 06. Drifting Clouds (Aki kaurismaki, 1996, Finland)
  • 07. Rushmore (Wes Anderson, 1998, US)
  • 08. Rosetta (Jean Pierre & Luc Dardenne, 1999, Belgium)
  • 09. Life and Nothing More (Abbas Kiarostami, 1993, Iran)
  • 10. Eyes Wide Shut (Stanley Kubrick, 1999, US/UK)
  • 11. Raise the Red Lantern (Zhang Yimou, 1991, China)
  • 12. L.A. Confidential (Curtis Hanson, 1997, US)
  • 13. Magnolia (Paul Thomas Anderson, 1999, US)
  • 14. Taste of Cherry (Abbas Kiarostami, 1997, Iran)
  • 15. Trainspotting (Danny Boyle, 1996, UK)
  • 16. Schindler’s List (Steven Spielberg, 1993, US)
  • 17. Breaking the Waves (Lars von Trier, 1996, Denmark)
  • 18. Happy Together (Wong Kar-wai, 1997, Taiwan)
  • 19. Crash (David Cronenberg, 1996, Canada/US)
  • 20. Ed Wood (Tim Burton, 1994, US)

  • 21. Se7en (David Fincher, 1996, US)
  • 22. JFK (Oliver Stone, 1992, US)
  • 23. Howards End (James Ivory, 1992, UK)
  • 24. Three Colors: Blue (Krzysztof Kieslowski, 1993)
  • 25. Before Sunrise (Richard Linklater, 1995, US/Austria/Switzerland)
  • 26. Babe (Chris Noonan, 1996, Australia)
  • 27. Pulp Fiction (Quentin Tarantino, 1994, US)
  • 28. Notting Hill (Richard Curtis, 1999, UK)
  • 29. Election (Alexander Payne, 1999, US)
  • 30. All About My Mother (Pedro Almodóvar, 1999, Spain)
  • 31. The Sixth Sense (M. Night Syamalam, 1999, US)
  • 32. The Piano (Jane Campion, 1993, NZ)
  • 33. Three Colors: White (Krzysztof Kieslowski, 1994, Poland/France)
  • 34. Life is Sweet (Mike Leigh, 1990, UK)
  • 35. Miller’s Crossing (Joel Coen, 1990, US)
  • 36. Titanic (James Cameron, 1997, US)
  • 37. The Truman Show (Peter Weir, 1997, US)
  • 38. The Match Factory Girl (Aki Kaurismaki, 1990, Iran)
  • 39. Fallen Angels (Wong Kar-wai, 1995, Hong Kong)
  • 40. Sense and Sensibility (Ang Lee, 1995, UK)
  • 41. Gattaca (Andrew Niccol, 1997, US)
  • 42. The Age of Innocence (Martin Scorsese,1993, US)
  • 43. The White Balloon (Jafar Panahi, 1996, Iran)
  • 44. The Insider (Michael Mann, 1999, US)
  • 45. Center Stage (Stanley Kwan, Hong Kong)
  • 46. Strictly Ballroom (Baz Lurhmann, 1991, Australia)
  • 47. The Matrix (Andy & Larry Wachowski, 1999, US)
  • 48. Baraka (Ron Fricke, 1994, US)
  • 49. Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997, Japan)
  • 50. Edward Scissorhands (Tim Burton, 1991, US)

Bonus Features

Selesai sudah untuk hitungan mundur dari film terbaik di era 90 versi saya untuk kali ini. Era 90 begitu menarik dan sangat sayang untuk dilewatkan. Nah, dengan berakhirnya edisi kali ini, tentu tidak afdol tanpa menyebut beberapa nama yang pantas disebut sebagai yang terbaik dalam penampilannya di film. Untuk wanita saya memilih Irene Jacob (Red & The Double Life of Veronique), Gong Li (Raise the Red Lantern), dan Reesse Witherspoon (Election) sebagai tiga penampil terbaik di dekade ini. Sedangkan untuk pria saya memilih Ralph Fiennes (Schindler’s List), Johnny Depp (Ed Wood), dan Tony Leung (Happy Together) sebagai yang terbaik. Untuk sutradara, Abbas Kiarostami, Wong Kar-wai, dan Kryztof Kieslowski menjadi pilihan saya dengan koleksi film-film terbaiknya di era ini.

Maka dengan postingan ini, berakhir sudah rangkaian edisi dekade 90 ini. Mungkin jika memang saya masih ada kesempatan, tahun depan akan mencoba untuk mengulik film-film di era 80-an. Namun saya tidak ingin berjanji muluk-muluk dulu. Sebagai gantinya, saya berikan daftar dari dekade ke dekade, sepuluh film pilihan saya. Untuk dekade 00s sudah bisa di simak edisi pertahunnya (page di atas) dan dekade 90 melalui postingan ini lengkapnya. Sedangkan untuk dekade selanjutnya mulai dari dekade 80 sampai dekade 40 memuat 10 film dari tiap dekade yang saya sukai, dan boleh lah dibilang itu merupakan 73 film favorit saya sepanjang masa (so far), dengan catatan akan di-update sewaktu-waktu. Untuk daftar ini saya masukkan di page yang bisa disimak di sidebar bagian atas atau silakan klik link di bawah ini:

Awya’s Top 10 Films by Decade

Terima kasih untuk semua yang telah ikut mendukung seri ini dan terima kasih yang sudah bersedia menyimak tiap postingannya. Sampai jumpa di edisi dekade berikutnya (pada waktu yang belum ditentukan), haha. 😀

Advertisements

3 thoughts on “50 Best Films of the 90s – Part 7: The Big 3! (With Bonus Features Top 10 in 70s, 60s, 50s, and 40s)

  1. “Nyalakan Fireworks” jdeer.. jdeer…
    Wah akhirnya selesai pagelaran era 90′
    Pilihan yang ngak diragukan lagi buat jadi panduan nyari film (i’m totally blind)

    Saya terharu When Harry Met Sally ada dinomor 2 era ’80, mudah mudahan tetap bertahan dipagelaran era 80 selanjutnya….

  2. Wah, ternyata ada yg 90’s, baru ngeh setelah ditampilin di depan.
    Nggak ada filmnya Kusturica, Underground, apa kurang suka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s