50 Best Films of the 90s – Part 6: #10-#4

Sebelumnya, part 1part 2part 3part 4, part 5. Mari membuka tabir sepuluh besar. Sepuluh film paling saya sukai, kadang me-rangking film ini membuat frustasi.

#10

“EYES WIDE SHUT”

(Stanley Kubrick, 1999, US/UK)

Film terakhir dari mendiang Stanley Kubrick ini dirilis empat bulan setelah kematiannya. Mengundang kontroversi hingga harus berjuang di meja editing agar tidak diganjar rating paling ditakuti (NC-17), mengundang banyak asumsi, jika mungkin Kubrick masih hidup kala itu, dia kan membiarkan filmnya meraih rating itu. “Eyes Wide Shut” muncul mengingatkan gaya yang selalu menghiasi karyanya, ada shot lebar yang senantiasa menghadirkan pandangan lebar pada ruang (lantai hingga atap), atau tracking shot yang mengikuti karakter dari belakang. Ada banyak sentuhan artistik yang hadir. Begitupun dengan penggunaan cahaya yang rapi memadukan merah dan biru. Di balik itu semua, ini adalah sisi sensualitas yang diberikan oleh Tom Cruise dan Nicole Kidman pada sebuah kontemplasi sebuah pernikahan. Yang sebenarnya berkonflik pada kontemplasi saja. 

#9

“LIFE, AND NOTHING MORE…”

a.k.a “And Life Goes On”

(Abbas Kiarostami, 1991, Iran)

Seri kedua dari “Koker Trilogy” yang diberikan Kiarostami ini mengambil sisi cerita dari film pertamanya “Where is the Friend’s House” yang mengambil cerita ketika daerah Koker dilanda gempa, dan diceritakan sutradara dari film pertama berkelana dengan sang anak untuk mengetahui nasib dua anak pemeran utama di “Where is the Friend’s House”. Pada satu sisi, “Life, and Nothing More…” adalah sebuah narasi sederhana yang runut mengintai perjalanan sang sutradara dan anaknya ini, namun di satu sisi film ini ternyata juga menghadirkan sebuah racikan unik antaran konsepsi fakta dan fiksi. Di beberapa kesempatan begitu hangat dan jenaka.

#8

ROSETTA”

(Jean Pierre & Luc Dardenne, 1999, France/Belgium)

Dari sekian karya Dardenne Bersaudara yang telah saya simak, “Rosetta” adalah karya terbaiknya. Fasih memang melihat bagaimana film-film dari duo ini bercerita dengan tema yang hampir selalu sama: kaum orang miskin. Film ini bercerita tentang Rosetta, gadis remaja yang hidup di trailer dengan ibunya yang pemabuk dan pemalas, sedangkan kita menyimak Rosetta sebagai sosok pejuang keras dan melalukan segala hal untuk menghasilkan uang. Seperti biasa, penggunaan kamera “hand-held” pada setiap filmnya memiliki maksud yang mendasar: sebagai cara kita melihat jiwa sang karakter, di lain pihak menempatkan mata kita untuk berada pada posisi bagaimana Rosetta memandang dunia sekitarnya. Dalam gaya naturalistik yang memotret ekspresi wajah dengan begitu frontal, “Rosetta” hadir begitu jujur.

#7

“RUSHMORE”

(Wes Anderson, 1998, US)

Energi yang selalu muncul ketika menyimak karya seorang Wes Anderson adalah seperti adanya permen dengan puluhan kilo pemanis yang dibubuhkan di dalam filmnya. Tidak mengherankan jika sutradara ini memiliki penggemar mengkutub. “Rushmore” boleh dibilang sebagai salah satu film “coming-of-age” favorit saya sepanjang masa. Sebuah satir mengenai politik dan narisme yang dibalut dengan hiperbolisasi dan keunikan nyeleneh yang jenaka. Jason Schwarztman ikonik menjadi Marck Fincher, sementara Bill Murray dan Olivia Williams terseret dalam konflik cinta segitiga yang aneh. Jenakanya seperti membaca absurditas kelucuan komik.

#6

“DRIFTING CLOUDS”

(Aki Kaurismaki, 1996, Finland)

Dari permukaan, “Drifting Clouds” seperti sebuah tematik popular mengenai perjuangan seseorang melepaskan keterpurukan ekonomi dalam hidupnya. Sebuah identias yang sering difilmkan hingga pada detik dimana kesuksesan itu muncul. Namun, “Drifting Clouds” bisa dilihat tengah mengulik sebuah dramatisasi naik turun hidup berumah tangga, atau dengan kata lain bagaimana sebuah pasangan berjuang untuk meraih kebahagian yang sama. Dengan narasi kelucuan yang terkesan aneh yang selalu ditampilkan Kaurismaki, film ini berhasil pada kondisi kekakuan yang ditampilkan dan adegan yang hiperbolik pula. Dalam sebuah bingkai yang sederhana seperti ini, tidak mengherankan jika Kaurismaki disebut sebagai minimalist masterpiece. Ending film ini begitu menggugah.

#5

“UNFORGIVEN”

(Clint Eastwood, 1992, US)

Salah satu film western favorit saya sepanjang masa, sekaligus salah satu pemenang film Oscar terbaik yang pernah ada, bertumpu pada kekuatan seorang Clint Eastwood. Dia adalah komandan di sini. Dia aktornya pula. Pada satu sisi, “Unforgiven” adalah cerita tradisional yang dikemas dengan suspensi yang tidak terkesan tua, namun bercita rasa klasik. Jika masih deskripsi itu tidak berujung, singkatnya, film ini memberikan apa yang saya ingin simak dari sebuah film koboi. Semua elemen yang kita temui dalam film western tersusun apik. Selebritas, kepemimpinan, hingga sederhananya konsep pahlawan yang muncul mengalahkan musuh-musuhnya begitu menarik. Mungkin, ketika kita sekarang lelah menemukan nama Clint Eastwood selalu bersanding dengan Oscar, meskipun pada filmnya yang biasa-biasa saja, namun dulu, lewat film ini, ia memang pantas meraih semua itu.

#4

“CHUNGKING EXPRESS”

(Wong Kar-wai, 1994, Hong Kong)

Sulit menghentikan film ini tanpa terbawa semangat playful yang dimunculkan oleh film ini. Kesensitifan Kar-wai memilih lagu pada setiap adegan menjadi sebuah keasyikkan yang begitu menarik setiap kali melihat karakter-karakter di sini diiringi oleh lagu-lagu tersebut. Terutama lantunan “Califonia Dreamin” yang akan selalu disandingkan dengan film ini. Jika ingin membandingkan, “Chungking Express” adalah romansa yang berbanding terbalik dengan “In the Mood for Love”, yang satu menggusung sisi penuh semangat, yang satu menyuguhkan guratan melankoni. Meskipun beberapa kesan khas semisal adegan slow motion selalu menemani, “Chungking Express” paling berhasil pada kelincahan editing dan cepatnya kamera bergerak memotret sisi-sisi unik dari tingkah laku karakter di sini. Dianugerahi predikat sebagai sutradara dengan romantisme unik, ya, mungkin karena itu pula, meskipun Kar-wai tidak pernah dengan jelas mengarahkan kita pada ending yang bahagia, “Chungking Express” terkesan begitu segar sekali.

Recap:

Oops.. tiga besarnya mana? Sabar. Nanti akan dirilis di postingan selanjutnya. Untuk sementara kita lihat dahulu 47 film yang sudah terpilih:

  • 01. TBA
  • 02. TBA
  • 03. TBA
  • 04. Chungking Express (Wong Kar-wai, 1994, Hong Kong)
  • 05. Unforgiven (Clint Eastwood, 1992, US)
  • 06. Drifting Clouds (Aki kaurismaki, 1996, Finland)
  • 07. Rushmore (Wes Anderson, 1998, US)
  • 08. Rosetta (Jean Pierre & Luc Dardenne, 1999, Belgium)
  • 09. Life and Nothing More (Abbas Kiarostami, 1991, Iran)
  • 10. Eyes Wide Shut (Stanley Kubrick, 1999, US/UK)
  • 11. Raise the Red Lantern (Zhang Yimou, 1991, China)
  • 12. L.A. Confidential (Curtis Hanson, 1997, US)
  • 13. Magnolia (Paul Thomas Anderson, 1999, US)
  • 14. Taste of Cherry (Abbas Kiarostami, 1997, Iran)
  • 15. Trainspotting (Danny Boyle, 1996, UK)
  • 16. Schindler’s List (Steven Spielberg, 1993, US)
  • 17. Breaking the Waves (Lars von Trier, 1996, Denmark)
  • 18. Happy Together (Wong Kar-wai, 1997, Taiwan)
  • 19. Crash (David Cronenberg, 1996, Canada/US)
  • 20. Ed Wood (Tim Burton, 1994, US)

  • 21. Se7en (David Fincher, 1996, US)
  • 22. JFK (Oliver Stone, 1992, US)
  • 23. Howards End (James Ivory, 1992, UK)
  • 24. Three Colors: Blue (Krzysztof Kieslowski, 1993)
  • 25. Before Sunrise (Richard Linklater, 1995, US/Austria/Switzerland)
  • 26. Babe (Chris Noonan, 1996, Australia)
  • 27. Pulp Fiction (Quentin Tarantino, 1994, US)
  • 28. Notting Hill (Richard Curtis, 1999, UK)
  • 29. Election (Alexander Payne, 1999, US)
  • 30. All About My Mother (Pedro Almodóvar, 1999, Spain)
  • 31. The Sixth Sense (M. Night Syamalam, 1999, US)
  • 32. The Piano (Jane Campion, 1993, NZ)
  • 33. Three Colors: White (Krzysztof Kieslowski, 1994, Poland/France)
  • 34. Life is Sweet (Mike Leigh, 1990, UK)
  • 35. Miller’s Crossing (Joel Coen, 1990, US)
  • 36. Titanic (James Cameron, 1997, US)
  • 37. The Truman Show (Peter Weir, 1997, US)
  • 38. The Match Factory Girl (Aki Kaurismaki, 1990, Iran)
  • 39. Fallen Angels (Wong Kar-wai, 1995, Hong Kong)
  • 40. Sense and Sensibility (Ang Lee, 1995, UK)
  • 41. Gattaca (Andrew Niccol, 1997, US)
  • 42. The Age of Innocence (Martin Scorsese,1993, US)
  • 43. The White Balloon (Jafar Panahi, 1996, Iran)
  • 44. The Insider (Michael Mann, 1999, US)
  • 45. Center Stage (Stanley Kwan, Hong Kong)
  • 46. Strictly Ballroom (Baz Lurhmann, 1991, Australia)
  • 47. The Matrix (Andy & Larry Wachowski, 1999, US)
  • 48. Baraka (Ron Fricke, 1994, US)
  • 49. Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997, Japan)
  • 50. Edward Scissorhands (Tim Burton, 1991, US)

 

to be continued in part 7

Advertisements

19 thoughts on “50 Best Films of the 90s – Part 6: #10-#4

  1. Hahaha… terlalu banyak list di atas yang belum pernah sya tonton.. atau lebih buruk, belum pernah saya denger. T_T

    semoga saja tiga besarnya gag ‘aneh-aneh’.

    Btw, tuker link blog ya.. thx…

  2. sampai sejauh ini belum ada penampakan toy story yg pertama, mungkin gak ya masuk 3 besar? kayaknya gak mungkin ya hahaha nebak2 sih mungkin di 3 besar ada the thin red line

  3. kok banyak melihat filmnya wong kar wai di list mu, aduh jd pengen nonton kalau punya bolehlah dipinjam hehehehhe

  4. Niken: blognya sudah di-link yah. salam kenal.

    Fariz: hihi, sebelum kecewa, toy story gak masuk. saya lebih suka yg kedua daripada yg pertama.

    Rizal: boogie night udah masuk honorable mention.

    Moan: belum nonton the ice storm nih. gak nemu2. shawsank gak masuk.

    Andy: oke.

  5. bang awya buknnya shawshank adalah slh stu yg bs bkn bang awya stnding aplaus slain pulp fiction dan mgnlia&shindlr list

  6. haha iya emang bener. saya sempat kepikiran tuh sama endingnya karena begitu “membahagiakan”. namun setelah saya pikir2 dan menonton lagi, saya malah merasa endingnya terlalu manipulatif. masih suka dengan beberapa momen. namun bukan jadi yang favorit lagi.

  7. The Unforgiven emang bagus banget. salut deh sama Clint Eastwood.
    Waa, ada Chungking Express. Kayaknya hampir semua orang yang nonton filmnya kebawa sama suasana yang tercipta dari aktingnya Faye Wong, chemistry dia sama Tony Leung, diiringi lagu California dreamin’. Emang top abis.

    Omong2, tukeran link mau ga mas/mbak? hehehe.
    Ini blog saya:

    http://bloggy-camo1620.blogspot.com/

    masih sepi.
    kabar2in ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s