50 Best Films of the 90s – Part 5: #20-#11

Sebelumnya, part 1, part 2, part 3, part 4. Mari membuka tabir 20 besar. Ini dia…

#20

“ED WOOD”

(Tim Burton, 1994, US)

Salah satu biopik favorit saya sepanjang masa, lengkap sebagai film terbaiknya Tim Burton dan penampilan Johnny Depp terbaiknya sampai saat ini. Ed Wood kita kenal sebagai sutradara yang dinobatkan terburuk sepanjang masa, namun ketika Tim Burton mengambil kenyataan tersebut, ia tidak lantas menghadirkan sebuah lelucon yang ingin mengolok-olok seorang Ed Wood, malah ini seperti sebuah “love letter” yang penuh dengan lika-liku menarik dan uniknya menimbulkan sisi simpati terhadap seorang Ed Wood. Dia punya ambisi dan niat untuk membuat sebuah film, meskipun selalu berakhir dengan kecaman. Sekarang, karya-karya Ed Wood mungkin telah mempunyai penggemar tersendiri, dengan status cult-nya. Dan, jika melihat film ini, pasti akan terbersit betapa mengagumkan koleksi film Johnny Depp di era ini, mulai dari film ini, “Edward Scissorhands”, bahkan “Dead Man”, menampilkan seorang Depp dengan kemampuan akting mumpuni. Di era 2000-an, ehm, tolong stop menjadi bajak laut lagi!

#19

“CRASH”

(David Cronenberg, 1996, Canada/US)

Satu-satunya film yang mendapat rating NC-17 di daftar saya. Kontroversial ketika dirilis. Adegan seksual explisit hingga dilarang untuk tayang di Inggris sana. Seperti “Naked Lunch”, David Cronenberg selalu terampil mengadaptasi buku yang kesannya unfilmable menjadi sesuatu yang muncul orisinil, tentu tidak pernah kita lihat sebelumnya. Jadi ceritanya begini, “Crash” (yang sempat membuat Cronenberg geram karena judulnya dipakai film peraih Oscar itu), bercerita tentang jenis paraphilia, yakni kenikmatan seksual ketika melihat atau berada pada kecelakan mobil. Sebuah cerita yang mengundang kecaman keras. Namun, mengenyampingkan semua kenyentrikan itu, “Crash” adalah sesuatu yang jarang ada, orisinil, dan itu mengapa saya menyukai karya Cronenberg. Kita tunggu tahun ini, Cronenberg akan mengadaptasi “A Dangerous Method” yang sudah nangkring sebagai most anticipated saya tahun ini.

#18

“HAPPY TOGETHER”

(Wong Kar-wai, 1997, Hong Kong)

Film terbaik ketiga dari seorang Wong Kar-wai bagi saya ini, memunculkan sebuah kondisi yang berbeda dari sebagain besar filmnya, yaitu dua karakter utama di film ini Ho (Leslie Cheung) dan Lai (Tony Leung) telah menjadi seorang pasangan, tanpa pertemuan unik yang biasanya selalu muncul di setiap karyanya. Namun, di satu sisi, “Happy Together” menjadi salah satu karya Wong Kar-wai yang paling dewasa ketika mengobservasi konsep kebahagian dari sepasang lelaki ini dalam naik turun hubungannya jauh dari Hong Kong, berkelana ke Argentina dan saling menyakiti di negeri orang. Keseluruhan film ini dibidik dengan saturasi warna biru ketika malam. Jangan lupa, film ini juga menghadirkan suara Caetano Veloso menyanyikan “Cucurrucucú, paloma.” Sebuah lagu yang akan mengingatkan pada salah satu adegan di “Talk to Her”. Film ini mengantarkan Kar-wai meraih predikat Best Director di Cannes.

#17

“BREAKING THE WAVES”

(Lars von Trier, 1996, Denmark/Sweden/France)

Seri pertama dari “Golden Heart Trilogy” dari seorang Lars von Trier, menyusul “The Idiots” (belum sempat saya tonton) dan “Dancer in the Dark”, sama-sama memunculkan sebuah kecintaan yang berlebihan hingga menimbulkan pengorbaan yang selalu membuat miris. Menjadi hit ketika filmnya dirilis di Cannes, menjadi film yang mengenalkan ke dunia internasional, dan memulai tuduhan “misogynist “ itu pula. Sama seperti “Dancer in the Dark” yang menampilkan penampilan memukau seorang Bjork (penampilan wanita nomor 1 saya dekade 2000), “Breaking the Waves’ merupakan sebuah pertunjukan bagi akting luar biasa dari seorang Emily Watson. Hati dari film ini.

#16

“SCHINDLER’S LIST”

(Steven Spielberg, 1993, US)

Saya tidak bisa berbohong jika saya terharu luar biasa menyimak film ini, terutama ending film ini, meskipun banyak yang menuduh manipulatif. Saya berada dalam sisi kekaguman ketika menyimak film ini. Epik. Bukan hanya karena jalinan cerita yang ditampilkan dengan begitu menarik, namun bagaimana Spielberg juga menyisipkan sisi teknikal yang selalu sulit dilupakan, tentu kemunculan gadis cilik berjubah merah yang menjadi kontras warna dengan detail hitam putih sepanjang film ini menjadi sesuatu yang sulit dilupakan. Begitu menarik ketika Spielberg menghadirkan sisi tersebut, karena sejenak kita diajak untuk memperhatikan sosok yang tidak bercerita secara sentral, namun mengajak untuk melihat inti secara keseluruhan. Jangan lupakan pula penampilan Ralph Fiennes yang menjadi karakter paling memorable di film ini.

#15

“TRAINSPOTTING”

(Danny Boyle, 1996, UK)

Salah satu film paling depressing yang pernah saya simak sampai saat ini adalah juga karya terbaik dari seorang Danny Boyle. Banyak momen mengejutkan yang begitu menghadirkan suasana tidak mengenakkan ketika menyimaknya. Adegan masuk ke dalam WC yang menjijikkan, adegan suntik-menyuntik  yang mengerikan, hingga kematian bayi yang begitu miris. Di balik itu, “Trainspotting” adalah sebuah sinema yang mengesankan. Boyle memunculkan kepiawaiannya. Pergerakan kamera yang akrobatik, editing yang mumpuni, hingga tentu berbagai momen yang subversif menjadi sebuah kesan tersendiri. Satu lagi, saya suka ending film ini.

#14

“TASTE OF CHERRY”

(Abbas Kiarostami, 1997, Iran)

Film ini adalah film pertama saya berkenalan dengan Abbas Kiarostami, memunculkan sebuah guratan yang sulit ditebak ketika selesai menyimak film ini. Kemudian saya menyimak “The Wind Will Carry Us” yang memiliki kesan hampir sama dengan film ini. Pengambilan gambar yang panjang dan dari jarak jauh pula. Tentu, ada sisi kebosanan yang muncul ketika mengikuti perjalaan si Badii, orang ini mau bunuh diri saja kok ribet? Hingga mungkin kita tidak sadar bahwa sebenarnya Kiarostami memang bercerita melalui sebuah kebosanan itu, menghadirkan sebuah testimen bahwa seberapa peduli kita dengan kebosanan yang Badii alami sehingga memutuskan untuk melakukan bunuh diri dengan cerewet, memilih-milih orang yang berhak membantunya, dengan sebuah cara yang tidak biasa pula. Menyimak “Taste of Cherry” akan memunculkan interpretasi berbeda. Begitupun ketika film ini berakhir, Kiarostami menyerahkan jawabannya pada kita.

#13

“MAGNOLIA”

(Paul Thomas Anderson, 1999, US)

Salah satu film paling ambisius di era 90 datang dari sineas muda, Paul Thomas Anderson dengan film berdurasi 3 jam, lengkap dengan bravura editing dan extravagansa para pemain. Apa yang menarik dari “Magnolia”? Tentu terletak dari bagaimana kemasan cerita yang dipisah dalam fragmen yang berbeda, dengan sebuah benang merah yang bersambungan, lengkap dengan problematika yang variatif. “Magnolia” berkesan pada momen-momen absurd yang ditampilkan, sebut saja adegan menyanyi bersama tersebut atau hujan kodok di akhir cerita.

#12

“L.A. CONFIDENTIAL”

(Curtis Hanson, 1997, US)

Bagi saya, “L.A. Confidential” adalah thriller terbaik sejak “Chinatown”. Cepat dan menyimpan suspense tanpa henti. Menarik melihatnya karena dua hero di film ini berasal dari Australia dan menjadi awal perhatian publik pada mereka, Russel Crowe dan Guy Pierce. “L.A. Confidential” mungkin tidak menghadirkan sesuatu yang baru dari genre ini, ada naratif tradisional yang dihadirkan, termasuk bagaimana adegan demi adegan dibongkar untuk memunculkan sebuah kejutan. Namun, itulah yang membuat kita menyukainya.

#11

“RAISE THE RED LANTERN”

(Zhang Yimou, 1991, China)

Sebelum kita mengenal Zhang Yimou dengan kegemarannya menceritakan martial art di era 2000, karyanya di era ini sungguhlah berbeda. Meskipun masih sensitif menghadirkan simbolik warna sebagai teman naratifnya, sebut saja film ini atau “To Live”, Yimou begitu rapi bercerita. Dalam “Raise of the Lantern” yang memenangkan Oscar sebagai film asing terbaik kala itu, muncullah Gong Li dalam lika-liku statusnya sebagai istri muda bangsawan kaya berjuang dengan istri lainnya untuk meraih perhatian sang bangsawan. Dalam konstruksi apik tampilan warna merah yang muncul sepanjang film, Gong Li muncul sebagai salah satu penampil terbaik di era ini. Ekspresinya memunculkan ambisi, namun lemah ketika ia ternyata kesepian dan malah menemukan cinta pada anak si bangsawan. Uniknya, melihat film ini saya teringat dengan “Berbagi Suami”, namun dalam aspek yang lebih kaku dan mengerikan.

Recap:

  • 11. Raise the Red Lantern (Zhang Yimou, 1991, China)
  • 12. L.A. Confidential (Curtis Hanson, 1997, US)
  • 13. Magnolia (Paul Thomas Anderson, 1999, US)
  • 14. Taste of Cherry (Abbas Kiarostami, 1997, Iran)
  • 15. Trainspotting (Danny Boyle, 1996, UK)
  • 16. Schindler’s List (Steven Spielberg, 1993, US)
  • 17. Breaking the Waves (Lars von Trier, 1996, Denmark/Sweden/France)
  • 18. Happy Together (Wong Kar-wai, 1997, Hong Kong)
  • 19. Crash (David Cronenberg, 1996, Canada/US)
  • 20. Ed Wood (Tim Burton, 1994, US)

  • 21. Se7en (David Fincher, 1996, US)
  • 22. JFK (Oliver Stone, 1992, US)
  • 23. Howards End (James Ivory, 1992, UK)
  • 24. Three Colors: Blue (Krzysztof Kieslowski, 1993)
  • 25. Before Sunrise (Richard Linklater, 1995, US/Austria/Switzerland)
  • 26. Babe (Chris Noonan, 1996, Australia)
  • 27. Pulp Fiction (Quentin Tarantino, 1994, US)
  • 28. Notting Hill (Richard Curtis, 1999, UK)
  • 29. Election (Alexander Payne, 1999, US)
  • 30. All About My Mother (Pedro Almodóvar, 1999, Spain)
  • 31. The Sixth Sense (M. Night Syamalam, 1999, US)
  • 32. The Piano (Jane Campion, 1993, NZ)
  • 33. Three Colors: White (Krzysztof Kieslowski, 1994, Poland/France)
  • 34. Life is Sweet (Mike Leigh, 1990, UK)
  • 35. Miller’s Crossing (Joel Coen, 1990, US)
  • 36. Titanic (James Cameron, 1997, US)
  • 37. The Truman Show (Peter Weir, 1997, US)
  • 38. The Match Factory Girl (Aki Kaurismaki, 1990, Iran)
  • 39. Fallen Angels (Wong Kar-wai, 1995, Hong Kong)
  • 40. Sense and Sensibility (Ang Lee, 1995, UK)
  • 41. Gattaca (Andrew Niccol, 1997, US)
  • 42. The Age of Innocence (Martin Scorsese,1993, US)
  • 43. The White Balloon (Jafar Panahi, 1996, Iran)
  • 44. The Insider (Michael Mann, 1999, US)
  • 45. Center Stage (Stanley Kwan, Hong Kong)
  • 46. Strictly Ballroom (Baz Lurhmann, 1991, Australia)
  • 47. The Matrix (Andy & Larry Wachowski, 1999, US)
  • 48. Baraka (Ron Fricke, 1994, US)
  • 49. Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997, Japan)
  • 50. Edward Scissorhands (Tim Burton, 1991, US)

to be continued in part 6

Advertisements

5 thoughts on “50 Best Films of the 90s – Part 5: #20-#11

  1. Wah dahsyat, Magnolia yg notabene jagoan saya pun tidak tembus top ten…
    Hm sepertinya Bela Tar (lupa judulnya) ada di list terdahsyat.
    Satu lagi Opa Malick

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s