50 Best Films of the 90s – Part 4: #30-#21

Sebelumnya, part 1, part 2, part 3. Countdown dilanjutkan!

#30

“ALL ABOUT MY MOTHER”

(Pedro Almodóvar, 1999, Spain)

Sudah diketahui bahwa Pedro Almodovar adalah sutradara yang paling mengerti perempuan, dan tentu para aktrisnya. Tidak bisa dipungkiri jika “All About My Mother” yang memenangkan anugerah Film Berbahasa Asing di Oscar ini seperti sebuah penghargaan bagi para wanita. Seperti biasa, Almodovar selalu lihai dengan warna dan tentu yang sering menyimak karyanya, selalu ada sisi kebetulan, atau boleh dibilang jalan pintas yang menghubungkan setiap narasi, tanpa harus tampil manipulatif. Karena itulah, “All About My Mother” menjadi salah satu favorit saya dari sutradara ini, (meskipun “Talk to Her” masih yang terbaik bagi saya). 

#29

“ELECTION”

(Alexander Payne, 1999, US)

Dalam sebuah penampilan terbaik seorang Resse Witherspoon sampai saat ini, “Election” adalah sebuah black comedy yang mengkritisi sistem pemilihan dalam skala yang lebih luas hanya dengan menyinggung skala kecil dari sisi itu. Tersebutlah salah satu karakter ikonik, Tracy Flick yang dimainkan dengan begitu memikat oleh Reese Witherspoon dengan segala ambisinya untuk menjadi seorang pemimpin di sekolahnya yang menyebabkan gurunya memendam benci luar biasa. Jenaka. Banyak momen yang membuat tertawa.

#28

“NOTTING HILL”

(Roger Michell, 1999, UK)

Hei, saya tahu di sana ada yang mengernyitkan dahi, a what? Notting Hill? Iya, ini “Notting Hill”, tema romkom yang begitu popular dan mungkin terkesan klise. Tidak bagi saya, “Notting Hill” begitu penuh dengan sisi yang selalu membuat saya tak pernah bosan menyimaknya. Semua itu sebenarnya bergerak pada kosmik fairytale yang digusung, jujur saya pernah berkhayal, jika kelak ingin sekali membuat sebuah cerita tentang selebritas dan konsep manusia biasa yang hadir mewarnai cerita. “Notting Hill” tanpa pengecualian.

#27

“BEFORE SUNRISE”

(Richard Linklater, 1995, US)

Salah satu dwilogi terbaik sepanjang masa ini, diperkenalkan 15 tahun lalu lewat pertemuan dua sejoli di negeri orang, dengan limpahan dialog manis dan cerdas, hingga momen-momen klasik yang membuat tersenyum melihatnya (terutama adegan peragaan menelepon itu). Meskipun saya mengganggap “Before Sunset” masih ada setingkat di atas film ini, namun siapa yang bisa mengelak untuk terkesima melihat bagaimana sebuah nasib begitu elok mempertemukan dua sejoli ini.

#26

“PULP FICTION”

(Quentin Tarantino, 1994, US)

Salah satu film paling berpengaruh di era 90 dan mungkin masih tersisa sampai sekarang, “Pulp Fiction” tidak dipungkiri memunculkan aksen baru dalam perfilman independen sana, plot terbolak-balik dengan bantuan dialog yang cerdas dan kocak, lengkap dengan momen-momen ikonik sepanjang masa, Tarantino akan selalu disandingkan dengan fenomena ini. Dan sampai sekarang, masih penasaran bukan sebenarnya apa yang ada di dalam koper tersebut?

#25

“BABE”

(Chris Noonan, 1995, Australia)

Saya menyimak film ini ketika sekolah dasar dahulu dan terakhir menyimak untuk kesekian kalinya beberapa minggu lalu. Masih sama, begitu menyukainya dan selalu terharu melihatnya. Dalam “Babe” tersimpan cerita anak-anak yang begitu khas dan dengan sopannya menuturkan fairytale tersebut tanpa harus menodai sisi fantasi yang anak-anak ciptakan ketika menyimak film ini. Tentu, ini sesuatu yang mengesankan. Saya yang berumur sebelas tahun menyukai film ini. Sepuluh dekade kemudian ia tetap mengaguminya.

#24

“THREE COLORS: BLUE”

a.k.a “Blue”

(Krzysztof Kieslowski, 1993, France/Poland)

“Blue” merupakan rentetan pertama dari trilogi warna ini. Sesuai dengan judulnya, film ini menghadirkan kesedihan dan kerapuhan seorang istri musisi yang mengalami tragedi kecelakan sehingga kehilangan keluarga tercintanya. Dari trilogi ini, “Blue” merupakan seri yang paling menonjolkan kekuatan musik (seperti The Double Life of Veronique) untuk menghadirkan mood dan memperhatikan dengan seksama depresi yang dihadirkan oleh sang tokoh utama (diperankan Juliette Binoche). Oh, jika menyimak film ini, pasti terpesona dengan score-nya yang menggelegar.

#23

“HOWARDS END”

(James Ivory, 1992, UK)

“Howards End” adalah salah satu film yang menampilkan kepiawaian akting seorang Helena Bonham Carter (yang lainnya “The Wings of the Dove”) dan tentu barisan pemain di sini bisa dilihat merupakan deretan akting yang mumpuni. Mulai dari Vanessa Redgrave dengan kesan nenek licik, hingga perpaduan Anthony Hopkins dan Emma Thompson yang gemilang, namun Helenan Bonham Carter muncul sebagai hati dari film ini.

#22

“JFK”

(Oliver Stone, 1991, USA)

Kontroversial memang ketika dirilis. Tudingan semua itu bermunculan bahwa tidak akurat lah, manipulatif, dan sebagainya. Bisa diterima semua pendapat itu. Namun, ketika menyimak “JFK” tanpa menjerumuskan konsep realita yang ada, sebagai penggemar courtdrama, ini adalah sebuah kenikmatan paling saya nantikan. Dilengkapi dengan sinematografi yang begitu mengesankan dari Robert Richardson yang mengantarkannya meraih Oscar dan tentu dengan begitu lihainya Stone mengolah aspek spekulasi dan konsep fakta dalam setiap investigasinya, sekuen courtroom terakhir di film ini adalah sebuah bravura.

#21

“SE7EN

(David Fincher, 1995, US)

“Seven” tentu begitu saya sukai ketika dengan seringnya menampilkan sisi favorit saya ketika menyimak sebuah film, yaitu hujan. Namun, tentu bukan hal tersebut yang paling mengesankan. Misteri dan terbongkarnya kasus yang selalu membuat menyimak film ini begitu menarik. Bagaimana Brad Pitt mengaduk emosinya, sementara Morgan Freeman muncul sebagai sosok yang kenyang akan berbagai kasus pembunuhan. Tapi tunggu dulu, perhatikan endingnya, karakter Morgan freeman sendiri ternyata tak pernah menyangka akan berakhir seperti itu.

Recap:

  • 21. Se7en (David Fincher, 1996, US)
  • 22. JFK (Oliver Stone, 1992, US)
  • 23. Howards End (James Ivory, 1992, UK)
  • 24. Three Colors: Blue (Krzysztof Kieslowski, 1993, France/Poland)
  • 25. Before Sunrise (Richard Linklater, 1995, US/Austria/Switzerland)
  • 26. Babe (Chris Noonan, 1996, Australia)
  • 27. Pulp Fiction (Quentin Tarantino, 1994, US)
  • 28. Notting Hill (Richard Curtis, 1999, UK)
  • 29. Election (Alexander Payne, 1999, US)
  • 30. All About My Mother (Pedro Almodóvar, 1999, Spain)
  • 31. The Sixth Sense (M. Night Syamalam, 1999, US)
  • 32. The Piano (Jane Campion, 1993, NZ)
  • 33. Three Colors: White (Krzysztof Kieslowski, 1994, Poland/France)
  • 34. Life is Sweet (Mike Leigh, 1990, UK)
  • 35. Miller’s Crossing (Joel Coen, 1990, US)
  • 36. Titanic (James Cameron, 1997, US)
  • 37. The Truman Show (Peter Weir, 1997, US)
  • 38. The Match Factory Girl (Aki Kaurismaki, 1990, Iran)
  • 39. Fallen Angels (Wong Kar-wai, 1995, Hong Kong)
  • 40. Sense and Sensibility (Ang Lee, 1995, UK)
  • 41. Gattaca (Andrew Niccol, 1997, US)
  • 42. The Age of Innocence (Martin Scorsese,1993, US)
  • 43. The White Balloon (Jafar Panahi, 1996, Iran)
  • 44. The Insider (Michael Mann, 1999, US)
  • 45. Center Stage (Stanley Kwan, Hong Kong)
  • 46. Strictly Ballroom (Baz Lurhmann, 1991, Australia)
  • 47. The Matrix (Andy & Larry Wachowski, 1999, US)
  • 48. Baraka (Ron Fricke, 1994, US)
  • 49. Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997, Japan)
  • 50. Edward Scissorhands (Tim Burton, 1991, US)

to be continued in part 5

Advertisements

5 thoughts on “50 Best Films of the 90s – Part 4: #30-#21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s