50 Best Films of the 90s – Part 3: #40-#31

Simak juga Part 1, Part 2. Sekarang mari kita lanjutkan countdown-nya!

#40

“SENSE AND SENSIBILITY”

(Ang Lee, 1995, UK)

Jika ingin berbicara tentang film ini, tentu akan banyak yang akan muncul dari mulut saya. Tentu, mengingat skrip film ini menjadi penentu kelulusan saya menyelesaikan masa kuliah. Sejak pertama kali selesai menyimak film, saya selalu menyukai bagaimana sisi sensitif seorang Ang Lee mengolah pergolakan kakak-beradik ini dengan begitu menarik. Emma Thompson, mungkin nampak terlalu tua untuk memainkan peran Elinor, namun ia tak bisa dielakkan telah memberikan penampilan yang sulit dilupakan. Bagaimana ia menyimpan rasa kerinduan dan juga memendam rasa cintanya seperti menunggu hal yang tak pasti. Adegan terakhir ketika segala penungguan itu terbongkar, selalu membuat saya terkesima. Sedangkan, Kate Winslet, meraih nominasi Oscar pertamanya lewat film ini, memunculkan bibit yang meyakinkan dari setiap ekspresi dan gerak yang ia tampilkan sebagai Marrianne.

#39

“FALLEN ANGELS”

(Wong Kar-wai, 1995, Hong Kong)

Salah satu sineas terbaik di era ini, Wong Kar-wai, banyak bereksperimen dengan menyuguhkan sisi stylistic yang begitu erat dihubung-hubungkan dengannya atau boleh dibilang seperti tengah menyelami era baru dari aliran Antonioni. “Fallen Angels” yang tak dapat dipisahkan sebagai pendamping “Chungking Express” lebih gelap dari film sebelumnya. Seperti biasa, narasi seorang Kar-wai tak pernah begitu dihiraukan, ia lebih suka memotret ruang untuk menghadirkan pengenalan orang-orang sekeliling kota untuk menghadirkan sebuah atmosfir. Saya selalu menyukainya.

#38

“THE TRUMAN SHOW”

(Peter Weir, 1997, US)

Salah satu penampilan favorit saya dari seorang Jim Carey, selain “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”, di sini akan lebih nyaman melihatnya tanpa ekspresi komedik berlebihan yang fasih kita temukan. Dalam konstruksi dunia reka “Truman Show” yang diwasiti Peter Weir, ada sisi yang sangat menarik ketika memunculkan sebuah ide dan sebenarnya mengkritik reality show yang sering kita temui. “The Truman Show” begitu eksperimental, ambisius, dan tentu menarik.

#37

“THE MATCH FACTORY GIRL”

(Aki Kaurismaki, 1990, Finland)

Film pertama saya ketika berkenalan dengan Aki Kaurismaki yang kemudian menarik untuk melihat karya-karya beliau. “The Match Factory Girl” adalah sebuah perkenalan yang mengesankan. Film ini, black comedy, menghadirkan Iris, wanita pekerja di pabrik korek api yang kemudian kita tahu menjadi tulang punggung keluarga, yang malangnya lebih tepat menjadi objek eksploitasi. Sementara ia memendam kesendirian dan kesedihan yang mendalam meskipun kita tidak pernah begitu jelas melihatnya. Seperti karya Kaurismaki lainnya, film ini tak ketinggalan dengan kelucuan yang aneh, namun kali ini minim dialog.

#36

“TITANIC”

(James Cameron, 1997, US)

Mega blockbuster di era 90 dan juga sepanjang masa, sebelum akhirnya disingkirkan oleh karya lain dari sang sutradara juga, “Titanic” adalah sebuah guilty pleasure yang akan tanpa henti tetap kita tengok ketika ribuan kali dipertontonkan di layar televisi (oleh salah satu stasiun televisi nasional kita). “Titanic”, ya jika melihat dialognya terkadang ingin membuat tertawa, namun apa yang membuatnya begitu mengesankan adalah kepiawaian James Cameron menghadirkan cerita klise menjadi begitu menarik dengan bombardir efek yang mengagumkan.

#35

“MILLER’S CROSSING”

(Joel Coen, 1990, US)

“Fargo” mungkin menjadi karyanya Coen Bersaudara yang meraih atensi paling meriah di dekade ini, namun saya memilih “Miller’s Crossing” sebagai karya terbaiknya di era ini. Meskipun ketika itu hanya Joel Coen yang muncul di kredit sebagai sutradara, boleh dibilang Coen Bersaudara hadir dengan segala pengetahuannya mengenai pakem gangster, namun seperti biasa tetap khas dengan mengesankan sebuah tema gangster yang dikemas hanya ditemui dari kreasi seorang Coen Bersaudara. Dilengkapi dengan iringan musik dari Curtel Burwell dan bidikan sinematografi dari Barry Sonnenfeld, filmini adalah gangster dalam sisi yang khas. Kocak , aneh, seperti yang sering kita temui dari sineas ini.

#34

“LIFE IS SWEET”

(Mike Leigh, 1990, UK)

Mike Leigh selalu membuat film yang sama. Tapi di situlah letak mengapa sutradara ini begitu disukai. Ketika “Naked” menghadirkan sisi gelandangan yang begitu suram dan penuh hal yang miris, “Life is Sweet” hadir dengan sederhana menceritakan kehidupan sebuah keluarga di musim panas tanpa plot yang begitu menyasar, mengalir seperti melihat sebuah kehidupan sehari-hari. Lesley Manville tampil selalu memikat di setiap karya Mike Leigh. Sulit rasanya melihat film ini tanpa merasakan sebuah kehangatan keluarga.

#33

“THREE COLORS: WHITE”

a.k.a “White”

(Krzysztof Kieslowski, 1994, Poland/France)

Dalam trilogi warna ini, “White” memunculkan sebuah narasi yang berbeda dari dua film sebelumnya. Kali ini, meskipun ada sosok wanita juga (Julie Delpy), namun sebenarya karakter utama film ini adalah seorang lelaki yang begitu cintanya pada sang istri, berbeda negeri dan berbeda bahasa pula. Ketika sang istri memutuskan untu bercerai, kecintaan sang suami bergejolak hingga kita dihapadkan pada runtutan kisah yang cepat dan tidak diduga. Ending film ini selalu saja membuat kita menghela napas aneh. Kecintaan ini sesak.

#32

“THE PIANO”

(Jane Campion, 1993, NZ)

Jane campion begitu produktif di era ini, sebut saja “An Angel at My Table, dan “The Portrait of the Lady” yang sayangnya tidak begitu mendapat perhatian. Sementara “The Piano” merupakan art-house hit yang menjadi perhatian luas, termasuk lirikan Oscar pula. “The Piano” menghadirkan keindahan yang luar biasa. Serunut dengan karakter bisu itu, filmnya hadir dalam sensitas bisu yang menggugah. Banyak gambar memikat. Banyak momen menarik.

#31

“THE SIXTH SENSE”

(M. Night Syamalam, 1999, US)

Sekarang, sangat mudah untuk mencacimaki sutradara ini. Lengkap dengan deretan Razzie yang sering mengikutkan namanya. Maka coba lewati satu dekade sebelumnya, ketika ia menggempur dunia dengan karya horor yang membuat saya ketakutan luar biasa ketika dulu menyimak sewaktu kecil. Sekarang, tidak semenakutkan itu memang, namun “The Sixth Sense” tetap menjadi sebuah karya yang saya sukai. Begitu banyak momen yang saya sukai, terutama adegan terakhir di mobil, melihat ekspresi Toni Collete yang secara pribadi mungkin bisa saya berikan piala Oscar hanya karena adegan itu saja. Begitu menyentuh namun juga miris dan menakutkan. Entahlah apakah sutradara ini hanya kebetulan saja membuat film ini, saya masih menunggu ketika dia bisa membuat film yang berhasil saya sukai seperti ini lagi.

Recap:

  • 31. The Sixth Sense (M. Night Syamalam, 1999, US)
  • 32. The Piano (Jane Campion, 1993, NZ)
  • 33. Three Colors: White (Krzysztof Kieslowski, 1994, Poland/France)
  • 34. Life is Sweet (Mike Leigh, 1990, UK)
  • 35. Miller’s Crossing (Joel Coen, 1990, US)
  • 36. Titanic (James Cameron, 1997, US)
  • 37. The Truman Show (Peter Weir, 1997, US)
  • 38. The Match Factory Girl (Aki Kaurismaki, 1990, Iran)
  • 39. Fallen Angels (Wong Kar-wai, 1995, Hong Kong)
  • 40. Sense and Sensibility (Ang Lee, 1995, UK)
  • 41. Gattaca (Andrew Niccol, 1997, US)
  • 42. The Age of Innocence (Martin Scorsese,1993, US)
  • 43. The White Balloon (Jafar Panahi, 1996, Iran)
  • 44. The Insider (Michael Mann, 1999, US)
  • 45. Center Stage (Stanley Kwan, Hong Kong)
  • 46. Strictly Ballroom (Baz Lurhmann, 1991, Australia)
  • 47. The Matrix (Andy & Larry Wachowski, 1999, US)
  • 48. Baraka (Ron Fricke, 1994, US)
  • 49. Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997, Japan)
  • 50. Edward Scissorhands (Tim Burton, 1991, US)

to be continued to part 4…

Advertisements

4 thoughts on “50 Best Films of the 90s – Part 3: #40-#31

  1. wah yg ini lmyn sya ska sense&sensblty,sixth sense, the piano da truman show …ada titanic jga ya ha ha nice list!

  2. Truman Show : sosok Truman mewakili sisi lain seorang manusia yang mempertanyakan eksistensinya di dunia. sosok yang tidak menerima begitu saja dunia, hanya karena ia telah merasa nyaman berada di dalamnya. namun sosok yang menentang takdir. sosok yang tak mau diatur begitu saja oleh sang “pemilik dunia”.

    recomended : stranger than fiction (will ferrell)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s