50 Best Films of the 90s – Part 2: #50-#41

Kalau sudah sempat membaca edisi pertama kemarin, tanpa banyak berkomentar lagi, mari kita mulai penghitungan mundurnya untuk sepuluh film pertama di daftar 50 film terbaik versi AwyaNgobrol. Ini dia…

#50

“EDWARD SCISSORHANDS”

(Tim Burton, 1991, US)

Boleh dibilang, tidak ada satupun film Tim Burton di era 2000-an yang begitu mengesankan. Mungkin yang sedikit menarik hanya “Big Fish”, meskipun tidaklah bagus pula. Era 90 menjadi tempat dimana kita bisa mengenal seorang Tim Burton dengan segala keanehan dan kenyentrikan yang dimiliki di setiap filmnya. Bahkan, Batman kreasinya juga saya sukai.  “Edward Sccissorhands” menjadi sebuah film yang begitu unik, tentu memamerkan sisi berlawanan dari energi suram yang pekat dengan sutradara ini. Film ini bermain dengan warna pastel yang manis, namun menyimpan ironi yang tragis. Lengkap dengan salah satu penampilan ikonik dari seorang Johnny Depp.

#49

“PRINCESS MONONOKE”

(Hayao Miyazaki, 1997, Japan)

Mengenal Hayao Miyazaki, tentu tidak akan pernah terlepas dalam balutan imajinasi yang muncul setiap kali kita menyimak filmnya. Jarang kita menemui karyanya dalam konstruksi animasi yang lekat dengan unsur komikal atau kartunis yang ikonik. Namun, apa yang selalu tidak lepas dari karya-karya seorang Miyazaki adalah keseruan yang selalu tampil di setiap narasinya. “Princess Mononoke” menjadi film keduanya yang meraih atensi internasional. Animasi terbaik di era ini.

#48

“BARAKA”

(Ron Fricke, 1992, US)

Melihat “Baraka” seperti melihat dunia lain yang rasanya ingin kita hidupi, sampai mungkin sebenarnya dengan hiperbolisasi tersebut, ini adalah dunia yang telah kita pijaki. “Baraka” merupakan satu-satunya dokumenter di daftar saya, tentu tidak terlepas dari bagaimana sisi non-naratif ini bercerita dengan begitu mengagumkan hanya dengan menampilkan dunia elok alam semesta yang kita tiduri ini. Elok nian. Sungguh.

#47

“THE MATRIX

(Andy & Larry Wachowski, 1999, US)

Sejak pertama kali menyimak film ini, dulu sekali, hingga seringnya diputar di televisi, sampai pada terakhir kali saya menyimak film ini sebulan lalu, “The Matrix” tetap menjadi sebuah sinema aksi yang begitu memikat. Sekuel film ini tentu merusak kesan yang ditampilkan pendahulunya, namun, ketika “The Matrix” berdiri sendiri, entah itu “Reloaded” atau “Revolution”, mereka tak ada pantasnya disandingkan dengan karya yang pertama. Memang, film seperti ini terlihat menarik jika ditempatkan dengan mengenyampingkan kesan substansial yang tentu mengundang iringan cibiran. Namun, sinema itu menyimpan sebuah kata rahasia bernama: asyik. Dan ketika kata itu telah muncul setiap kali menyimaknya, ia punya tempat tersendiri di sini.

#46

“STRICTLY BALLROOM”

(Baz Lurhmann, 1991, Australia)

Ketika menyimak film ini, tentu saya telah menyimak “Moulin Rouge!” yang lima belas menit pertama film tersebut benar-benar mengetes ketahan kita terhadap film musikal tersebut, jatuhnya, menyukainya atau seketika membencinya. “Strictly Ballroom” pun begitu. Ia memang mengetes penyimaknya dengan konsep “amburadul” yang menunjukkan keplausibilitasan yang minim dan lengkap dengan tingkah slapstick yang bisa mengundang senyum atau alih-alih mengundang rasa kesal. Sebagai debut dari Baz Lurhmann, saya menganggap ini salah satu film yang begitu solid. Nampak serasi bersanding dengan “Moulin Rouge!”, seperti bagaimana “Romeo + Juliet” bersanding dengan “Australia”. Film ini membuktikan Lurhmann memang peka dengan ornamen dansa, musik, dan tawa.

#45

“CENTER STAGE”

a.k.a “Actress”

(Stanley Kwan, 1992, Hong Kong)

“Center Stage” atau dikenal juga dengan judul “Actress” boleh dibilang salah satu biopik menarik yang pernah saya simak. Bukan hanya karena bagaimana narasinya dituturkan dalam pakem yang berbeda, namun bagaimana ia berhasil menempatkan para pemerannya ke dalam sebuah medium yang ikut terlibat di dalamnya memberikan atmosfir berbeda. Maggie Cheung, tampil begitu memikat memainkan legenda Ruan Lingyu, primadona film bisu yang terekam dalam berbagai keluh kesah konflik yang ia alami seorang publik figur. Bukan hanya cerita itu, “Center Stage” begitu apik menghadirkan selipan wawancara di setiap selang menitnya, menghadirkan perspektif berbeda bagi objek yang diceritakan di sini. Biopik yang menarik.

#44

“THE INSIDER”

(Michael Mann, 1999, US)

“The Insider” masih tetap bertahan sebagai film yang menghadirkan penampilan terbaik dari seorang Russel Crowe, dan mungkin film favorit saya dari seorang Michael Mann. Apa yang begitu menarik dari “The Insider” sebenarnya? Ketika itu dilontarkan, sekilas terbesit duet Russel Crowe dan Al Pacino muncul sebagai aspek kuat yang menghidupi film ini. Mann begitu ampuh mengemas court drama menjadi sebuah teror psikologi dengan atmosfir yang sungguh tak dapat dipungkiri begitu mengumbar aspek yang terasa menghantui.

#43

“THE WHITE BALLOON”

(Jafar Panahi, 1995, Iran)

Menyimak sinema dari negeri Iran selalu saja menampilkan suasa yang entah dari mana datangnya begitu hangat sekali. Seperti ketika melihat drama anak-anak ini. Ceritanya sederhana saja tentang seorang anak yang mengidamkan sebuah ikan mas. Dalam setiap bingkai, Panahi memotret ekspresi lugu para pemain cilik yang berbakat ini seperti melihat sebuah masa yang kita tinggalkan di masa kecil dulu. Lugu sekali.

#42

“THE AGE OF INNOCENCE”

(Martin Scorsese, 1993, US)

Dulu saya selalu menganggap bahwa sutradara sohor ini hanya lihai memainkan narasi pada karakter-karakter berkelamin lelaki untuk menjadi pengemudi sentral filmnya. Sampai ketika saya menyimak “Alice Doesn’t Live Here Anymore” dan film ini yang bertolak belakang dengan apa yang Scorsese terkenal akan olahannya. Dalam “The Age of Innocence”, Scorsese begitu terampil meramu sebuah perspektif dari kacamata wanita dengan dekorasi kemasan yang begitu menyimpan guratan feminim, sepertinya simbolisasi bunga yang menghiasi sepanjang film ini. Dilengkapi dengan duo spektakuler, Daniel Day Lewis dan Michelle Pfeifer, “The Age of Innocence” begitu mengesankan dalam kekuatan para penampilnya.

#41

“GATTACA”

(Andrew Niccol, 1997, US)

Salah satu film fiksi ilmiah terbaik di era ini tidak dengan sederhana hanya mengandalkan desain set yang futuristik, lalu menempelkan istilah antah-berantah dengan semena-mena. “Gattaca” membawa sebuah sanjungan dan analitika konsep jiwa manusia atau boleh dibilang manusia seutuhnya. Dibalik sains yang digusung, entah futuristik yang ingin direka, “Gattaca” sebenarnya menarik ketika menggelitik konsep kerinduan, kesepian, dan keinginan yang dimiliki manusia itu. Bukan sains-nya, tapi jiwanya. Dihadirkan oleh trio Ethan Hawke, Uma Thurman, dan Jude Law, “Gattaca” sebuah film yang begitu sayang jika hanya dilirik saja.

Recap:

  • 41. Gattaca (Andrew Niccol, 1997, US)
  • 42. The Age of Innocence (Martin Scorsese,1993, US)
  • 43. The White Balloon (Jafar Panahi, 1996, Iran)
  • 44. The Insider (Michael Mann, 1999, US)
  • 45. Center Stage (Stanley Kwan, 1992,  Hong Kong)
  • 46. Strictly Ballroom (Baz Lurhmann, 1991, Australia)
  • 47. The Matrix (Andy & Larry Wachowski, 1999, US)
  • 48. Baraka (Ron Fricke, 1994, US)
  • 49. Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997, Japan)
  • 50. Edward Scissorhands (Tim Burton, 1991, US)

to be continued in part 3

Advertisements

3 thoughts on “50 Best Films of the 90s – Part 2: #50-#41

  1. dari posisi 50 sd 41 baru edwardnya tim burton,insider,sma the matrix doang yg udah di tonton nice list

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s