50 Best Films of the 90s – Part 1: Introduction & Honorable Mentions

Maka saya akan memulainya dengan retorika waktu: seberapa lama ingatan impresi sebuah film itu mampu bertahan dari kikisan waktu? Pada dasarnya ketika memulai penghitungan mundur untuk film-film yang saya sukai di era 90 ini tidak luput dari masalah seberapa lamakah sebuah film akan cukup bertahan melawan konflik jaman dalam gempuran ke-modern-an naratif yang setiap tahunnya bermunculan. Maka, ada kalanya petuah “when you’re great, you are great”, ketika memang sebuah film bagus, maka yang namanya waktu bukanlah perkara yang bisa mengikis aspek luar biasa yang dimiliki film tersebut. Memang jika meminjam setidaknya konsep tersebut tidak akan sepenuhnya terbukti pada diri saya, karena pada sebuah kondisi, ketika era 90-an saja, saya masih kecil, masih sekolah dasar yang bahkan tidak mengerti sutradara itu sebenarnya apa. Namun, mengapa kemudian “prosa” itu muncul, jelas merunut pada kondisi ketika film lawas tetap terasa bagus meskipun ditonton pada jaman yang telah baru. Karena tentu saja, ada nilai yang terkandung dalam film tersebut yang tidak akan bisa dikalahkan oleh film pengikutnya. 

Ketika menyimak daftar akhir 50 film pilihan saya di era 90 ini, meskipun sebagian besar saya simak di era 2000, saya sempat tersentak mengetahui bahwa ada empat film yang ternyata saya simak ketika saya masih menginjak sekolah dasar, dan uniknya keempat film tersebut lolos dalam “tes waktu” yang saya bicarakan di awal tadi. Tentu ini merupakan sebuah keunikan sendiri karena setidaknya apa yang saya anggap sebagai “sinema bagus” ketika masih berumur jagung masih bertahan untuk saya anggap bagus pula ketika umur saya sekarang telah melewati dua dekade. Sehingga ini menyadarkan saya bahwa dalam setiap realitasnya, atau boleh dibilang ketika kita sibuk mengawati film sebagai sebuah kulminasi kepiawaian teknik, kelincahan pengolahan gambar, dan entah tetek bengek produksi film yang kini saya amati, ada satu hal yang basis dan begitu kentara, bahwa di satu sisi film itu memiliki bahasa universal. Ia tidak pernah memandang generasi. Kadang ia muncul sebagai kenikmatan bagi semua generasi. Maka senang rasanya saya memiliki empat film yang memberikan sebuah kesan seperti ini.

Berbicara era 90 rasanya akan membuahkan sebuah percakapan yang panjang. Pun ketika akhirnya saya menyimak ratusan film di era ini dari yang berbau popcorn kental sampai unsur seni yang begitu pekatnya. Boleh saya akui, era 90 adalah salah satu era terbaik di dunia perfilman, bersanding dengan era 70 dan era 50. Di era 90 ini kita bisa menyimak bagaimana wajah-wajah sutradara yang saat ini mengeyam banyak sanjungan untuk pertama kalinya muncul di kancah sinema dunia. Di era ini, sinema independen begitu sukses menjadikan sebuah peta persaingan di kancah Hollywood sana. Kita kemudian fasih mengenal nama Quentin Tarantino, Wes Anderson, Paul Thomas Anderson, Spike Jonze, Darren Aronofsky, David O. Russel, dan David Fincher, yang uniknya ketiga nama terakhir sama-sama bersanding menjadi nominator Oscar tahun ini. Nah, berbicara mengenai Oscar, tentu ini juga menjadi era dimana kita akhirnya mengenal seorang Harvey Weinstein dibalik segala kekuatannya dan kehebatannya menggelar kampanye yang dimulai dengan kesuksesan “The English Patient” dan “Shakespeare in Love” yang mendepak “Saving Private Ryan” di tahun pagelaran Oscar yang masih saja selalu dibicarakan tersebut. Kita tingggalkan Oscar, di era ini pulalah kita pertama kali berkenalan dengan sebuah studio yang konstan menghasilkan film-film yang bagi saya selalu bagus, bahkan setelah 15 tahun dari debutnya, tetap tidak ada yang mengalahkan. Ya, apalagi kalau bukan studio Pixar dengan “Toy Story”-nya yang kemudian dilanjutkan sampai seri ketiga yang berakhir tahun lalu dengan sebuah ending yang rasanya selalu membuat tergugah ketika mengingat saya menyimak film pertama mereka sudah lampau sekali. Pixar tentu akan tetap berkarya dengan inovasi yang mereka buat dan tetap hadir dengan cerita yang tak kalah bagusnya.

Kita tinggalkan Hollywood, mari beranjak ke perfilman di luar Amerika sana,  kita akan bertemu Krzysztof Kieslowski yang menjadi pemimpin di eropa sana. Ada Lars von Trier yang sukses dengan “Breaking the Waves”, bahkan Danny Boyle bersinar dengan “Trainspotting” di awal debutnya pula. Beralih ke Asia, kita bertemu dengan Wong Kar-wai, Takeshi Kitano, Tsai Ming-liang, Zhang Yimou dan Ang Lee yang kemudian merambah perfilman Hollywood. Namun tentu saja tidak lengkap tanpa diramaikan oleh Jafar Panahi dan Abbas Kiarostami yang menghasilkan karya-karya masterpicenya di era ini dari negeri Iran sana.

Di balik eksistensi sineas tersebut, maka kita juga diingatkan akan kepergian sineas favorit saya, Stanley Kubrick, yang tutup usia empat bulan sebelum film terakhirnya, “Eyes Wide Shut” dirilis.

Sebuah dekade yang begitu spetakuler boleh dibilang. Saya tidak akan menyinggung banyak nama lagi karena nampaknya terlalu banyak untuk diceritakan. Semoga commentary di 50 film pilihan saya nanti cukup mewakili kecintaan saya pada film tersebut.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, mungkin ada sebagian yang akan kaget dengan pilihan saya karena saya berusaha sejujur mungkin untuk menyatakan jika saya mecintai film tersebut apa adanya. Entah terlihat terlalu mainstream atau “popcorn banget”, saya menyukainya dengan segala keunikannya. Begitupun jika dianggap terlalu “obscure” dan terkesan “pretensius”, saya menyukainya dengan segala keunikannya. Ah, sudahlah. Biarkan daftar yang berbicara. Takut terdengar seperti defensif yang paranoid nantinya.

Maka sebelum saya memulai penghitungan mundur 50 film pilihan saya di era 90-an, sebagai pemanas, saya berikan 30 film yang sempat menjadi pertimbangan untuk masuk ke peringkat 50 teratas, menyingkirkan ratusan film lainnya. Namun apa daya, sebuah daftar tetaplah daftar, 30 film ini harus dengan rela saya singkirkan dari kursi 50 teratas. Mungkin, jika melihat sekilas, daftar honorable mentions dari saya ini sudah menunjukkan betapa menariknya era perfilman di tahun 90. Berikut daftarnya:

[Honorable Mentions]:

(in alphabetical order)

  • A Brighter Summer Day (Edward Yang, 1991, Taiwan)
  • American Beauty (Sam Mendes, 1999, US)
  • Beau Travail (Claire Denis, 1999, France)
  • Being John Malkovich (Spike Jonze, 1999, US)
  • Boogie Nights (Paul Thomas Anderson, 1997, US)
  • Daun Di Atas Bantal (Garin Nugroho, 1998, Indonesia)
  • Days of Being Wild (Wong Kar-wai, 1990, Hong Kong)
  • The Double Life of Veronique (Krzysztof Kieslowski, 1991, France/Poland/Norway)
  • The English Patient (Anthony Mingella, 1996, UK)
  • Fargo (Joel Coen, 1996, US)
  • Fight Club (David Fincher, 1998, US)
  • Forrest Gump (Robert Zemeckis, 1994, US)
  • Goodfellas (Martin Scorsese, 1990, US)
  • Groundhog Day (Harold Ramis, 1995, US)
  • Heavenly Creatures (Peter Jackson, 1994, US)
  • The Iron Giant (Brad Bird, 1999, US)
  • Jerry  Maguire (Cameron Crowe, 1996, US)
  • Naked (Mike Leigh, 1993, UK)
  • Naked Lunch (David Cronenberg, 1991, US/Canada)
  • Out of Sight (Steven Soderbergh, 1998, US)
  • Reservoir Dogs (Quentin Tarantino, 1992, US)
  • The Scent of Green Papaya (Tran Anh Hung, 1993, Vietnam/France)
  • The Silence of the Lambs (Jonathan Demme, 1992, US)
  • There’s Something About Mary (Peter & Bobby Farrelly, 1998, US)
  • Three Kings (David O. Russel, 1999, US)
  • Toy Story 2 (John Lasseter, 1999, US)
  • Twin Peaks: Fire Walks With Me (David Lynch, 1992, US)
  • Vive L’Amour (Tsai Ming-liang, 1994, Taiwan)
  • What’s Eating Gilbert Grapes (Lasse Hallstorm, 1994, US)
  • The Wind Will Carry Us (Abbas Kiarostami, 1999, Iran)

Silakan berkunjung kembali besok untuk melihat part ke-2 dari penghitungan mundur daftar 50 film terbaik di dekade 90 versi AwyaNgobrol.

to be continued in part 2

Advertisements

8 thoughts on “50 Best Films of the 90s – Part 1: Introduction & Honorable Mentions

  1. haha film2 kesukaan saya malah banyak yang di honorable mentions daaan ternyata ada the english patient hahaha baru dibahas kemaren ya. wah header nya schindler’s list nih, masuk top10 kah ntar? *nebak*

  2. cba di tbk ya yg msk list shindlr list,trainsptting,shawshnk rdmtion,pulp piction,magnolia, berhrp slepls on seattle msk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s