Review: The Green Hornet

Kocaknya Amburadul, Ceritanya Pun Begitu

Rasanya begitu mudah untuk mengatakan ini klise. Oh itu klise. Dan ya, ini memang klise. Tentu, saya ajukan frase tersebut pada film yang saya review di sini. Meskipun akan terbanting oleh argumen yang datang: kapan pernah melihat seorang superhero yang tidak ada tampang superheronya? Meskipun kemudian akan muncul argumen lagi: memang tampang seorang superhero itu seperti apa? Muncullah argumen lagi: seperti Peter Parker lah misalnya. Seperti Bruce Wayne lah kharismanya. Seperti Clark Kent lah tentunya. Sampai di situ maka tidak aneh jika rasanya melihat Britt Reid, dalam rekaan Michel Gondry kali ini mengundang ribuan petisi dari berbagai sisi, hei, kau sunguh bukan titisan seorang superhero! Maka, dimana letak kata klise yang saya sebutkan tadi ketika melihat suguhan superhero yang jenisnya tidak biasa ini? Sang superhero mulutnya besar, ocehannya serempak dengan bunyi petasan di tahun baru Imlek. Lagaknya konyol berbanding terbalik dengan pakem superhero yang fasih dengan kata culun atau brutal dengan kesan cool yang dipamerkan Bruce Wayne, atau kesan mewah, seperti haus energi selebritas (baca: narsis) yang diberikan Tony Stark. Britt Reid, dia hadir dalam kekonyolan anak gedongan yang hidup dengan harta melimpah, seketika muncul untuk tampil narsis pula, dengan topeng, dan berhuru-hara melawan komplotan gembong kriminal, yang konyol (atau bodohnya) sungguh mampu ditertawakan. 

Maka, dari penjelasan itu saya tarik dulu kata klise tersebut. Di atas kertas, apa yang dijanjikan oleh Britt Reid ini, benar menjanjikan. Lalu prekteknya? Tidak lebih dan tidak kurang, alias benar adanya, isi sinema ini begitu klise. Lihat, itu baku hantamnya sering kita simak dalam sinema aksi yang sarat adrenalin. Lihat, kocaknya, atau keinginannya mengocok perut sering kita temui pada sinema aksi yang tampil pede dengan narasi amburadul dan tetek bengek fantasi tawa yang muncul. (coba ingat bagaimana adegan pertengkaran Reid dan Kato di sini, bum-bim-bum, pukul sana pukul sini, berbagai ornamen dipakai untuk memukul lawan, humoris bukan?). Lalu coba lihat bagaimana juga sang penjahat digambarkan di sini. Mereka hanyalah karikatur pelengkap eksistensi si superhero saja, dan mereka (pasti) akan kalah. Kemudian, kembalikan pada adegan awal film ini, dan oh, Reid berhenti berhura-hura ketika Bapaknya meninggal, ah menyedihkan sekali (huh?). Dan ah, sering sekali kita temui premis seperti ini (huh?).

Lalu, coba simak orang di balik superhero cerewet ini. Ada Seth Rogen yang juga bertanggung jawab di balik naskah. Kembali mengocok perut setelah sukses mengumbar tawa pada cerita remaja, “Superbad” yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal ketika menyimaknya. Berbeda di sini, naskah terlihat begitu berlebihan, garamnya kebanyakan. Kadang dalam kekonyolan seorang Reid, rasanya ingin sekali menyumpal mulut orang ini. Jangan lupakan referensi pop culture juga hadir membumbui. (hey, superhero ini tahu film Twilight lho). Di lain hal, menyedihkan rasanya melihat sentuhan Michel Gondry yang begitu minim di sini. Meskipun terkadang sekuen-sekuen menarik mengingatkan sekilas, namun tak seutuhnya meyakinkan.

Kalau ingin sekedar tertawa, “The Green Hornet” mampu menyajikan itu, meskipun rasanya ketumpulan arah cerita begitu kentara sehingga rasanya tidak penting si Lebah Hijau ini siapa, Kato entah siapa pula, karena mereka sama sekali tidak menyimpan chemistry yang kita inginkan. Jauh ketika dalam “Superbad” hal itu begitu mumpuni terlihat. Kalau boleh mengoceh hal yang remeh-temeh, adakah yang bisa meyakinkan saya untuk apa Cameron Diaz sebenarnya ada di film ini? Lalu, kemunculan James Franco memunculkan lelucon konyol pada seorang Christoph Waltz yang tampil kartunis dengan energi penjahat berlabel kelas satu tapi kelakuan kelas dua, ini sungguh tidak penting. Dan untuk mengakhiri sebuah tawa renyah yang  film ini berikan dalam beberapa kesempatan, terlampau jauh untuk mengakuinya sebuah suguhan yang mengasyikkan. Oh, ya, sebelum terlupa, film ini semakin meyakinkan saya, (seperti apa yang saya pikirkan ketika menyimak Initial D juga), Jay Chou, (ehm) rasanya lebih baik menyanyi dan bermain piano saja.

Grade: [C]

 

Advertisements

2 thoughts on “Review: The Green Hornet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s