My 5+ Best Scenes/Sequences of the Year

Well, mungkin sudah sempat menyimak daftar pilihan saya untuk penghargaan “iseng” yang saya kreasikan untuk edisi kali ini yang mana untuk satu kategori yaitu “scene/sequence of the year”  belum saya umumkan. Itu dikarenakan saya ingin memaparkannya mengapa saya menyukai adegan tersebut, serta belum adanya keputusan adegan yang mana yang sebenarnya saya paling kagumi (dua teratas saya bersaing ketat). Akhirnya keputusan diambil, maka inilah dia daftar scene/sequence favorit saya di tahun 2010. Adegan-adegan paling diingat yang telah berhasil menimbulkan keasyikan dalam menyimak film atau bahkan memaparkan kepiawaian sutradaranya mengemas sebuah adegan menjadi begitu memorable.

Ini dia scene/sequence yang paling memikat saya di tahun 2010:

SPOILER ALERT!

(Postingan ini mengandung spoiler, jadi bagi yang belum menyimak beberapa film yang terdapat di postingan ini, lebih baik jangan membaca agar tidak mengurangi kenyamanan menonton).

Oke, saya memberikan 12 adegan dalam nominasi saya, namun pada kondisi terakhir, hanya ada lima adegan yang saya pertimbangkan untuk saya pilih sebagai yang terbaik. Maka sebelumnya saya akan menyinggung beberapa adegan yang tidak berhasil masuk ke lima besar. Kita mulai dari “The ‘Imma be” Moment” dalam film “The Other Guys” yang memunculkan sekuen musikal yang kocak, terlihat klise memang, namun dengan iringan lagu Black Eyed Peas itu, sekuen ini telah memunculkan kegilaan yang dilakukan dua sahabat ini. Ada juga ending dari “Lebanon” yang terlihat begitu melegakan setelah dalam baku hantam yang menegangkan, akhirnya terdampar pada kebun bunga matahari yang kemudian membuat kita menyadari bahwa inilah maksud dari poster film ini. Ada juga adegan kemarahan Eduardo Saverin dalam “The Social Network.” Boleh dibilang, ini salah satu dari minimnya adegan yang memunculkan emosi dalam film yang dingin emosi ini. Disitulah ketika Saverin akhirnya marah tentang sebuah pengkhianatan atau persahabatan yang telah mereka lalui. Di satu sisi, ini juga menjadi momen ketika Sean Parker bungkam dengan bualan yang ia punya, serta Zuckerberg terlihat kehilangan.

Ada juga “The Deer Crash” dalam “A Prophet” yang menjadi satu-satunya adegan yang merujuk pada judul film ini. Sebuah bidikan yang kontemplatif sekaligus estetis. Kemudian “The Final Dinner Party” yang begitu jenaka dalam “Dogtooth” menjadi puncak kenyelenehan keluarga ini. Suara gitar merdu, berdampingan dengan gerak tubuh ala “Flashdance” yang sangat tidak sinkron. Miris namun humoris. Jangan juga lupakan farewell-nya Andy kepada para mainannya yang begitu menyentuh dalam “Toy Story 3”. Terakhir Tentu saja jangan lupakan salah satu opening film yang begitu mengesankan dalam “The Social Network” yang mengumbar kepiawaian Aaron Sorkin, dan line-reading paling memorable tahun ini dari mulut seorang Rooney Maara.

Sekarang, kita sambut, inilah 5 adegan/sekuen yang paling saya sukai di tahun 2010:

#5

“The Black Swan Transformation”

(Black Swan)

Tentu kita masih meragukan apakah Nina Sayers benar-benar bisa terlihat keji menarikan Angsa Hitam dengan spirit yang selalu dianjurkan sang guru. Sampai akhirnya pada sebuah kondisi yang mengguncang emosinya, Nina begitu percaya diri menari, tatapan matanya keji, lantas berhasillah ia menjelma menjadi angsa hitam keinginannya. Dalam adegan cepat dan bertubi-tubi penuh ketegangan ini, Aronofsky terampil mengolah ritme, hingga pada puncaknya, ia tidak pernah kehilangan kendali mengontrol kapan saatnya transformasi itu dimunculkan. Sekaligus, efek visualyang dihadirkan begitu terlihat bersih dan rapi.

#4

“The Hotel Corridor Fight”

(Inception)

Jadi tidak asing rasanya jika mengingat Inception, mengingat adegan monumental ini yang dibuat dengan kerumitan dan konsep terbolak-balik yang begitu mengesankan. Di sinilah Joseph Gordon Levitt tampil solo dan menjadi bintang pada lapisan mimpi yang sedang terjadi. Koridor hotel itu terbolak-balik, sedangkan sang aktor harus melawan musuh yang menyerang. Adegan gravitasi nol ini tentu akan sulit dilupakan. Lihat bagaimana set dekorasi dan kerumitan pembuatan ini dilakukan. Sampai pada pemilihan warna cokelat yang telihat futuristik dan mewah. Maka pantas rasanya angkat topi untuk Mr. Nolan.

#3

“The Make-Up Room Scene”

(Somewhere)

Ada beberapa adegan di film ini yang begitu saya sukai, termasuk simbolistik ending film ini pada sebuah mobil mewah, namun, yang paling memikat saya adalah adegan sepi di dalam ruang make-up tersebut. Kesepian yang muncul, ketika sang aktor ini menunggu wajahnya diolesi entah apa itu agar ia bisa nampak tua. Dalam satu kondisi ini, Sofia Coppola membiarkan kita melihat lelaki ini dari dekat. Lalu perlahan kita mendengar deru napas lelaki tersebut terhembus kemudian. Hembusan yang begitu berat. Entah apa yang ia pikirkan, namun apa yang kita tangkap dari adegan ini adalah atmosfir sebuah kesepian.

…..dan inilah dua adegan/sekuen yang paling saya sukai:

#2

“The Revelation (Ending)”

(The Ghost Writer)

Roman Polanski piawai memamerkan kemampuannya bercerita pada bentuk old-fashioned namun selalu terasa segar dan baru. Pun ketika melihat ending dari The Ghost Writer ini. Rahasia tersebut ditutup rapat-rapat, hingga kemudian perlahan dan cepat menyimpulkan narasi film ini hanya dengan durasi satu setengah menit saja. Hanya terdiri dari empat bidikan gambar, ending film ini begitu berkesan. The Ghost yang tidak bernama, menyerahkan sebuah kertas yang  berisi apa yang ia ketahui mengenai rahasia istri sang perdana menteri. Kertas itu beralih dari satu orang ke orang yang lain, hingga sampai di tangan sang istri. Ia membacanya, di kejauhan, The Ghost mengacungkan gelas berisi wine, kemudian berlalu pergi. Dengan tangan memegang bundelan kertas berisi rahasia tersebut, The Ghost menyeberangi jalan dengan tergesa, dan (bum!) mobil menabraknya. Kertas berterbangan.

Polanski akhirnya menjawab misteri dari tagline film ini: “read between the lies”, maka tambahkan “n” ditengah kata “lies”, jadilah “lines”. Rahasia itu tersimpan di barisan kalimat pembuka biografi itu. Di sinilah dalam ending ini Polanski menyimpulkan narasi film tersebut dengan apik. Pada satu sisi, The Ghost muncul dan memberitahukan rahasia yang ia ketahui kepada sasarannya, untuk sebuah kondisi, ini sebuah informasi. Namun, di satu sisi, Polanski mengoyak sisi humanisme ke dalam sebuah fragmen yang begitu menarik. Lihat saja jika ada yang menggerutu, ah, kenapa si penulis harus mati? Meskipun kondisi itu sebenarnya menunjukkan ada narasi simetris—kematian “ghost writer” yang asli juga tidak muncul di depan kamera di awal film—Polanski sebenarnya juga hendak berkelakar: orang baik tidak harus hidup. tapi ia bertahan. fakta yang bertahan. entah terkubur atau (bisa) terbongkar.

#1

“The Rowing Race (Henly Royal Reggata)”

(The Social Network)

Salah satu adegan paling “nyeleneh” dari struktur cerita yang digusung “The Social Network” tentu saja adegan perlombaan dayung Henly Royal Reggata yang tersohor itu. Banyak yang menganggap ini adegan paling tidak sesuai yang dimasukkan ke dalam film ini. Ketika menyimak film ini pertama kali di Balinale, sungguh saya tersentak “hayo, apa ini, apa ini!”, mengingat naratif film yang sangat kontras dengan adegan yang ditampilkan. Namun, inilah adegan paling memorable dari sekian adegan berkesan yang tampil di film ini. Ketika banyak menganggap Aaron Sorkin adalah bintang di film ini, namun di sini, sang sutradaralah yang mengambil alih kebintangan dalam sekuen berdurasi singkat ini. Fincher memamerkan kepiawaiannya dalam waktu 90 detik saja.

Ia mengolah gambar dalam balutan yang begitu menawan, menjadikan adegan perlombaan dayung ini sebuah mainan mungil, atau boleh dibilang diorama yang dijadikan perspektiff mungil pada keseluruhan film ini. Tidak mengherankan jika ini kemudian mengingatkan kita pada “Citizen Kane”, yang Fincher akui memang menjadi inspirasinya. Adegan ini dibidik dalam fotografi tilt-shift sehingga kesan “mainan” yang muncul begitu membuat tersentak ketika pertama kali saya melihatnya (dan mungkin pertama kali saya lihat dalam film). Di satu sisi, gambar fokus dengan menggunakan tilt-shift itu mengesankan bahwa Winklevoss Bersaudara begitu tak peduli dengan sekitarnya. Audiens seperti melihat mainan, dan sang mainan tak peduli pula. Di adegan ini pula kekuatan editing Fincher terlihat. Dalam 57 bidikan gambar yang ada, Fincher terampil dengan rapi mengemas setiap bidikan ke dalam sebuah urutan cepat dan begitu mengesankan. Jangan juga dilupakan, bagaimana olahan baru “In the Hall of the Mountain King” dari Trent Reznor dan Atticus Ross memadu pacu adegan ini. Boleh dibilang, di sinilah kekuatan sinematografi, editing, dan perpaduan score yang paling berkesan, sehingga tiga komponen itu berpadu dengan begitu rapi.

Lalu apa hubungannya adegan ini dengan struktur ceritanya? Ini sebenarnya seperti sebuah perspektif, atau boleh dibilang kiasan dalam kondisi yang dialami oleh Winklevoss Bersaudara dan Divya Narendra yang juga menonton aksi mereka. Adegan ini punya jiwa yang dibayangi oleh kemenangan Zuckerberg. Mereka, yang terkungkung pada sebuah persepsi orang borjuis, kekalahan adalah sesuatu yang tidak wajib mereka miliki, sementara kemenangan adalah produk wajib yang harus mereka terima. Ironisnya, ketika mereka berada satu tingkat di bawah seorang Zuckerberg, dalam adegan ini, Zuckerberg tak perlu hadir melihat kekalahan mereka (lagi).

Silakan simak video sequence Henly Royal Reggata di bawah ini:

Itu dia adegan atau sekuen yang paling saya sukai dari film yang saya simak sampai penghujung 2010. Apa favorit kalian?

Advertisements

5 thoughts on “My 5+ Best Scenes/Sequences of the Year

  1. Kyaaaa! Favorit gw sebagian besar sama semuaa. Berhubung gw fans berat Inception, adegan gravitasi nol ini fave gw, selain adegan pas van mereka nyebur di slow motion, trs adegan dayung di TSN dan adegan kertas terbang di Ghost Writer. Gue suka adegan nari nya Michelle Williams diiringi gitar nya Ryan Gosling di Blue Valentine.

  2. Dari kelima adegan itu malah adegan nomer satu yang gak begitu saya amati. Karena emang saya sempet mikir ni adegan gak begitu nyambung, hehe

  3. Suka sekali dengan “Deer Crash”nya A Prophet..Buat saya jarang jarang drama kehidupan keras di penjara ini begitu “kontemplatif”
    Trus adegan Gitti mengacungkan pisau kepada istrinya Hans di Everyone Else keren juga looh.Love It Awya

  4. egh sy ikutan mbak inayah suka adegan ryan gosling main ukulele sambil nyanyi you always hurt the one you love, si michelle williams trus tape dance hehhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s