Review: “Never Let Me Go”

Sudah Pedulikah Dengan Hidup Mereka?

Pernah mendengar sebuah mercon yang dihentakkan oleh anak-anak di penghujung tahun, menunggu agar terdengar suara keras yang menantang jantung berdetak dan hati marah jika dikejutkan, tapi ajaibnya tiba-tiba mercon itu tidak meletup? Mengecewakan bukan? Setidaknya jika mengambil sudut pandang anak-anak tersebut.

Tak ada bedanya jika menyebut film ini pun begitu. Lihat saja pajangan yang dihadirkan oleh etalase film ini; adaptasi novel yang meraih pujian dunia. Mari coba meminjam falsafah sebuah majalah; sampulnya begitu menggiurkan, tapi begitu jugakah isinya?

Mark Romanek tentu memikul beban yang begitu berat ketika harus menghadirkan sebuah novel terkenal—dipuji pula—ke dalam medium berbeda yang dalam batasan “normal” konsumsi bioskop hanya boleh dikungkung pada durasi 120 menit saja. Ia juga harus menampilkan isi sebuah novel, atau setidaknya jalinan runut yang dihadirkan dengan bantuan Alex Garland sebagai orang yang bertanggung jawab mengolah dialog dan jalinan cerita. “Never Let Me Go”—ijinkan saya meminjam falsafah sebuah majalah lagi—tak ubahnya barisan karakter yang bertindak sebagai model pada barisan artikel dalam sebuah majalah, namun ia tak pernah memiliki daya tarik yang menginginkan pembaca menengok artikel itu. Dingin. Hingga rasanya telah melewatkan durasi tanpa pernah ingin mengikuti apa dan mengapa atau bagaimana dan karena apa atau siapa dan dimana, semua yang telah kita perhatikan itu berjalan.

Dalam dunia dystopia yang dihadirkan, kita diberikan tiga karakter yang terlibat jalinan cinta segi tiga—dipaparkan dalam tiga dekade berbeda pula—yang sebenarnya cukup berhasil menjadi daya tarik film ini. Romanek menggandeng tiga pelakon muda menjanjikan di sinema saat ini; Carey Mulligan, Andrew Garfield, dan Keira Knightly. Mereka terdidik dalam sekolah yang begitu ketat, muncul dalam kedisplinan yang terisolasi. Lihat saja bagaimana ketika ketiga karakter utama ini tak mengerti bagaimana memesan makanan di sebuah kedai. Di paruh jalinan cerita dekade ketiga, kita menemukan mereka telah berada dalam bentuk yang rapuh. Menarik ketika mereka berkumpul kembali—dalam setting yang romantis (dan dramatis) di sebuah pantai—segala gejolak kecumburuan itu diungkapkan. Pada akhirnya memunculkan sebuah jalan pintas baru, keinginan menjadi manusia seutuhnya.

Pada penglihatan kita ke arah tiga karakter di film ini, kita tahu mereka rapuh, makhluk yang mencari tempat berpaling agar setidaknya tidak hanya menunggu giliran ajal saja. Toh mereka sebenarnya memiliki hati. Toh mereka sebenarnya membangun emosi. Jadi mengapa mereka dianaktirikan sebagai “produk” donator semata, toh mereka tak ubahnya  berbentuk manusia pula? Hingga akhirnya kenyataan itu dihadirkan, sayangnya meninggalkan letupan yang tak begitu menggiurkan.

“Never Let Me Go” begitu terseok-seok ingin mengguncang bahu kita yang belum tersadar; “Hei, lihat, tidakkah kau tersentuh melihat hidup para manusia buatan ini?” Sepanjang film ini berjalan, ia masih tetap menguncang bahu kita agar kita tersadar, setidaknya meneteskan air mata—namun tetap saja tidak terasa.

Namun, pada akhirnya, jika (mungkin) kita sempat menggenggam tisu, melihatnya basah, janganlah heran jika seketika kita tersadar; “Heh, tangisan ini sebenarnya untuk siapa?”

Grade: C+

Advertisements

3 thoughts on “Review: “Never Let Me Go”

  1. film ini ok lah,,, bukan.. “super awesome” hahaa…. emg ga sefenomenal novelnya,, tapi ttep menarikk.. hohoo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s