Review: “Black Swan”

Ini Hanya Dongeng Seorang Balerina

Menarik melihat kiprah seorang Darren Aronofsky. Coba perhatikan bagaimana sutradara yang gemar dengan kekerasan ini memulai perkenalannya di dunia sinema. Memulainya lewat Pi (sayangnya belum sempat saya simak), sebuah thriller hitam putih yang membuatnya dilirik oleh Sundance Film Festival hingga menganugerahinya sebagai Debut Penyutradaraan Terbaik kala itu. Baru lewat “Requiem for A Dream” sosok sutradara ini begitu meraih perhatian. Film kontroversial yang mengundang decak kagum dan cacimaki secara bersamaan, Aronofsky sepertinya telah memulai perjalanannya sebagai sutradara dengan status film divisive. Begitu pun ketika muncul lewat “The Fountain”, ketika ia mengolah Hugh Jackman dalam lakon terbaiknya sampai saat ini, memadukan unsur futuristik dengan kedalaman rohaniah yang tentu memunculkan kebingungan publik, entah apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan. Sampai kemudian muncul “The Wrestler”, filmnya yang secara mengejutkan tampil begitu dewasa dan terlihat paling humanis. Menggandeng Mickey Rourke sebagai pegulat yang kesepian. Menyulap bagaimana kameranya membidik setiap adegan dalam sisi naturalistik—yang kemudian diakui oleh Aronofsky sendiri terinspirasi oleh Dardenne Brothers—“The Wrestler” tampil sebagai fitur panjangnya yang menghadirkan keterlibatan hati yang selama ini nihil ditemukan di film-film sebelumnya.

Maka, menariknya adalah, setelah sempat tampil begitu dewasa, Aronofsky kembali muncul pada fitur yang terlihat “muda”—jika tidak ingin menyebutnya “prematur”—dengan menanggalkan sisi substansi dan bermain lihai untuk mengolah style dan aspek estetis yang dapat kita lihat di sepanjang film. Muncullah sosok Nina Sayers. Ia terlihat lugu, namun penuh dengan ambisi. Terlihat mencurigakan ketika ia terpilih untuk menjadi penari utama sebuah pertunjukkan besar. Sebenarnya apa alasan ia terpilih? Bukankah ia menolak ketika bibir pelatihnya menempel dengan paksa di bibirnya? Cukup sampai di situ. Aronofsky sebenarnya ingin mengingatkan; lihat judulnya, ini sebenarnya tak ubahnya sebuah fairytale.

“Black Swan” adalah wujud terampil seorang sutradara. Aronofsky lihai mengarahkan sang sinematografer (Matthew Libatique) untuk menghadirkan bidikan naturalistik yang juga sempat dihadirkan dalam “The Wrestler” oleh sinematografer Maryse Alberti. Pun, coba perhatikan bagaimana Aronofsky menghadirkan gambar-gambar fokus pada beberapa sisi; lihat seberapa banyak ia menampilkan gambar kaki seorang Nina Sayers ketika menari. Seperti hendak menghadirkan sebuah hal yang kita tahu; menjadi penari balet itu menyakitkan.

Sampai empat fitur panjang yang saya simak dari sutradara ini, maka tak berlebihan rasanya jika menyebutnya sebagai sutradara yang lihai “mengoyak” pelakonnya. Lihat Ellen Burtsyn. Lihat Hugh Jackman. Lihat Mickey Rourke. Dan Lihat Natalie Portman dengan penampilannya yang begitu memikat. Dalam setiap rengekannya kita melihat begitu lugunya Nina Sayers. Ah, rapuh sekali balerina ini. Sampai pada akhirnya kita melihat penjelmaannya menari angsa hitam. Lihat. Lihat. Dan lihat. Perubahan mencolok itu muncul. Nina Sayers begitu mengerikan.

“Black Swan” mungkin tidak akan meninggalkan sebuah kepedulian yang sempat dengan memikat dihadirkan dalam “The Wrestler”. Namun, kita tetap bisa terkesima, kapan terakhir kali dibuat begitu mendebarkan dengan sebuah ending film seperti “Black Swan” ini, heh?

Grade: B+

Advertisements

One thought on “Review: “Black Swan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s